Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Elvano kembali ke kota dimana ia dibesarkan


Hari ini Elvano kembali menempuh perjalanan panjang menuju ke kota di mana ia dibesarkan. Seperti pertama kali ia diajak oleh Ibu Anita menuju kediaman keluarganya, selama itu jugalah kurang lebih waktu yang harus ia habiskan untuk ia kembali ke kota XX menuju rumah di mana ia dibesarkan.


Hanya saja bedanya, ketika itu Elvano dan Ibu Anita hanya menggunakan jasa bis menuju kediaman keluarganya, kali ini Elvano justru kembali ke rumah Ibu Anita dengan menggunakan mobil pribadi milik keluarganya yang bisa dikatakan mobil mewah dengan harga milyaran rupiah.


Juga dengan penampilan barunya yang lebih berkelas dengan setelan jas.


Tidak tau kenapa, sejak dinobatkan menjadi Presdir, ia lebih suka menggunakan setelan formal sekali pun ia tidak sedang ke kantor.


Satu lagi perbedaannya, Elvano justru tidak dapat memejamkan mata selama perjalanan. Berbeda pada saat ia mendatangi kediaman keluarganya dinmana ia bisa tertidur di sepanjang perjalanan bersama Ibu Anita. Kali ini Elvano justru terus terjaga, mungkin karena ia tidur dengan nyenyak malam tadi, atau mungkin juga karena hatinya terlalu girang, berbalik pada waktu itu.


Beberapa saat kemudian mobil yang mereka tumpangi telah memasuki kota XX.


Elvano yang masih tetap terjaga melepaskan pandangannya dari layar handphonenya yang sedari tadi menemani Elvano di sepanjang perjalanan. Ia melemparkan pandangannya menyusuri seluruh kota melalui jendela mobil, seakan menikmati indahnya kota XX yang sudah beberapa waktu ia tinggalkan.


Indahnya kota ini ....


Gumam Elvano di dalam hati.


Sayangnya wajah Elvano yang berseri-seri tidak bertahan lama, raut wajahnya kembali berubah ketika teringat tentang Nona Cheril.


Iya, di kota ini jugalah hubungan mereka dimulai, tepatnya di taman yang baru saja ia lewati.


Taman bunga yang sudah menjadi saksi pertemuan pertama mereka.


Elvano memang sudah berusaha keras untuk melupakan Cheril, tapi tidak dapat ia pungkiri benih-benih cinta itu memang masih ada di dalam hatinya.


Tiba-tiba ia juga teringat dengan uang yang pernah diberikan Cheril untuk menolong ibunya dulu, ia pun memiliki pikiran untuk mengembalikan uang itu. Lagian perjanjian yang mereka buat juga sudah dibatalkan, Elvano semakin meyakinkan hatinya untuk mengembalikan uang itu.


Elvano yang sibuk dengan lamunannya tiba-tiba tersadar kembali ketika sopir menghentikan kendaraan mereka di depan sebuah bangunan mewah.


Loh ini di mana ....


"Pak, kita ada di mana?" Elvano bertanya pada sopir kelurganya.


"Ini Hotel milik keluarga Tuan Muda, biasanya Tuan Besar selalu menginap di sini ketika ke kota ini," jawab sopir menjelaskan.


"Tapi saya kan tidak ingin kesini," ujar Elvano sambil melirik ke arah hotel mewah di depannya bergantian melirik ke arah sopir


"Oh, maaf Tuan Muda, karena anda tidak memberitahukan tempat tujuan anda jadi saya pikir anda akan menginap di sini," Pak sopir meminta maaf.


Seketika Elvano pun menepuk jidatnya, ia baru sadar belum memberitahukan tujuannya. Tapi sepertinya ia cukup gengsi mengakui kesalahan itu.


"Yasudah, sekarang putar balik!" perintah Elvano.


Mobil yang sudah berhenti pun kembali distarter dan Sang Sopir memutar balik mobil mereka mengikuti instruksi dari Tuan Mudanya.


Para pegawai hotel yang sudah bersiap untuk menyambut kedatangan mereka pun terheran-heran melihat mobil itu kembali berputar balik, mereka sangat tau, mobil itu ada milik empunya hotel itu.


Ternyata hotel paling mewah di kota ini juga milik keluargaku ya.


Elvano memang belum tau keluarganya juga memiliki hotel mewah di kota ini, selain hotel, mall terbesar di kota ini juga pemiliknya tidak lain adalah Astra Investama Group. Elvano memang belum mendapatkan detail ada berapa banyak aset keluarga nya di kota ini, dan beberapa kota lainnya termasuk perusahaan yang ada di luar negeri. Yang ia sudah tau hanya seluruh aset di kota tempat di mana perusahaan inti berdiri yaitu tempat di mana keluarganya tinggal.


Tidak berapa lama kemudian mobil kembali menghentikan lajunya di depan sebuah rumah sederhana milik Ibu Anita. Sang sopir pun dibuat heran kenapa Elvano lebih memilih tempat ini dibanding dengan hotel tadi. Dia memang bukan sopir yang mengantar Ibu Anita pulang waktu itu, jadi tidak tau ini adalah Ibu Anita, yang bisa dikatakan ibu angkat dari Elvano.


Elvano turun dari mobil setelah pintu mobil dibukakan, ia segera berjalan menuju ke arah pintu rumah yang telah ia tinggal berbulan lamanya, lalu mengetuk pelan.


Tok tok tok


Mendengar suara ketukan Ibu Anita segera membukakan pintu. Ia cukup kaget melihat Elvano berdiri di depan pintu.


"Vano?!" Ibu Anita menatap Elvano dari atas ke bawah. Selain kaget ia juga merasa pangling dengan penampilan baru Elvano.


"Ibu ... Vano sangat merindukan ibu,"


"Ibu juga merindukanmu Vano,"


Sang Sopir mulai mengerti kenapa Tuan Mudanya lebih memilih kesini dibanding hotel mewah tadi setelah melihat Ibu Anita. Ia tau Ibu Anita adalah orang yang telah membesarkan Elvano. Semua pegawai di rumah tau tentang itu termasuk sopir itu.


"Ayo masuk Vano, Sopir kamu tidak disuruh masuk juga!" pinta Ibu Anita sambil melirik ke arah sopir itu yang turut menganggukkan kepalanya ketika Ibu Anita melihat nya.


"Biarkan saja Bu ... Vano masih ingin pergi setelah ini," jawab Elvano.


"Loh, mau kemana? Bukannya kamu baru saja tiba sudah mau pergi lagi?" tanya Ibu Anita cemberut.


Ia masih belum merasa puas dengan kehadiran Elvano, putranya itu sudah berkata akan pergi.


"Vano mau mencari Niko Bu ... Nanti malam Vano menginap di sini kok sampai hari Selasa sepertinya Vano di sini," jelas Elvano.


Ibu Anita pun tersenyum mendengar penjelasan Elvano. Selama 4 hari bisa bersama dengan Elvano sudah membuatnya merasa sangat senang.


Elvano kemudian masuk ke dalam rumah bersama Ibu Anita meninggalkan sopir di luar.


"Ibu masak apa hari ini?" tanya Elvano yang sudah merindukan masakan Ibu Anita


"Eh, Ibu belum masak, hanya ada tersisa sedikit sayuran tadi pagi saja di meja. Kamu sudah lapar ya Vano?"


"Iya, sedikit," jawab Elvano sambil memperagakan arti sedikit dengan jari tangannya.


"Lagian kamu juga, kenapa tidak bilang-bilang akan kemari?" protes Ibu Anita


"Karena Vano mau memberikan kejutan buat Ibu," Elvano menjawab jujur. Ia memang ingin membeli kejutan pada ibunya itu.


"Tapi konsekwensinya jadi harus kelaparan kan?"


"Tidak apa-apa, yang penting bisa membuat Ibu senang," Kata Elvano sambil merangkul leher Ibu Anita membuat ibunya tersenyum senang.


"Yasudah, kamu tunggu dulu Ibu masakin kamu sebentar!" tanggap Ibu Anita sambil melepaskan rangkulan Elvano dari lehernya.


"Vano bantu ya," Elvano menawarkan diri.


"Eh, jangan Vano, Biar ibu saja," Ibu Anita menolak.


"Tidak apa-apa Bu, sini Vano bantu!" Elvano memaksa


"Ibu bilang tidak yah ya tidak usah,"


Seketika Elvano terdiam.


"Kenapa kamu malah bengong?" Ibu Anita jadi bingung melihat wajah Elvano yang tiba-tiba berubah.


"Sejak kapan Ibu segalak ini? protes Elvano.


Ibu Anita pun tersenyum mengerti Elvano sedang memulai kekonyolannya.


Ternyata Tuan Muda masih belum berubah.


Gumam Ibu Anita di dalam hati.


"Ah, kamu ini Vano, Ibu kan memang dari dulu sudah galak begini ...," Ibu Anita mengikuti kekonyolan Elvano.


"Lagian apa kamu mau masak dengan berpakaian seperti itu?" ujar Ibu Anita sekali lagi sambil menatap Elvano dari atas ke bawah membuat Elvano juga melirik dirinya sendiri dari atas ke bawah.


Lalu Elvano pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal ketika menyadari setelan jas yang ia kenakan memang sangat tidak cocok untuk masuk ke dalam dapur.


"Baiklah, biar Vano menemani Ibu masak saja. Eiiit, kali ini Ibu tidak boleh menolak!" ancam Elvano.


Akhirnya Ibu Anita pun membiarkan Elvano melihat dirinya memasak.