Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Niko Kaget Dengan Rencana Gila Elvano


Cheril lalu mengumpulkan semua keberaniannya untuk bertanya.


"Nik, kamu tau darimana aku berada di tempat hiburan itu?" Ucap Cheril kemudian.


"Dari Erik Nona ! Erik yang menelfon memberitahukan semuanya pada kami." Jawab Niko.


Oh, jadi Erik yang memberitahukannya.


"Terus bagaimana kamu bisa berada di kota ini?" Cheril kembali melempar pertanyaan.


"Ya, saya memang sudah pindah kemari. Sudah beberapa bulan malah." Niko masih menjawab santai.


"Terus apakah Vano juga tinggal di tempat ini? Dimana dia tinggal?" Tambah Cheril lagi.


"Eh, maaf Nona ! Jika Nona bertanya tentang saya, saya akan menceritakannya. Tapi kalau soal Vano, maaf saya tidak bisa menjawabnya !" Ucap Niko tegas


Cheril pun terdiam setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Niko.


"Apakah masih ada yang ingin Nona tanyakan?" Ucap Niko lagi.


Cheril kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Baiklah kalau begitu saya jalan dulu ya Nona !" Ucap Niko sekali lagi sekaligus mengakhiri percakapan itu.


Niko kemudian melangkah menuju ke arah mobil meninggalkan Cheril yang masih berdiri didepan pintu rumah sewa itu.


Dan segera masuk kedalam mobil lalu menghidupkan mesin mobil dan pergi dari sana.


Sementara Cheril masih berdiri ditempat hingga mobil Niko dan Elvano sudah tidak terlihat lagi.


Setelah itu Cheril pun memilih masuk kembali kedalam rumah untuk melanjutkan menonton acara televisi yang ia lihat sekilas tadi. Ia ingin melupakan sejenak semua kejadian yang baru saja menimpanya 2 hari ini. Apalagi memikirkan tentang Elvano yang tiba-tiba mengajaknya menikah. Sungguh kejutan yang sangat banyak yang ia dapatkan 2 hari ini.


-------------


Didalam mobil, Elvano sudah mulai melemparkan pertanyaan bertubi-tubi pada Niko untuk mengintrogasi dirinya.


"Kenapa kamu lama sekali tadi?" Ucap Elvano memulai perdebatan.


"Eh, ya kan kamu sendiri yang menyuruhku mengurus wanita itu." Jawab Niko santai.


"Tapi kenapa harus lama begitu?" Tanya Elvano lagi.


"Itu karna wanita itu terus melemparkan pertanyaan !" Jawab Niko apa adanya.


"Pertanyaan apa?" Bertanya lagi.


"Tentang darimana kita bisa tau ia berada di tempat hiburan itu."


"Terus kamu jawab apa?"


"Ya, apa adanya."


"Apanya yang apa adanya? Ceritakan dengan jelas !"


"Eh...." Niko sudah mulai kesal.


"Ya aku ceritakan pada dia bahwa Erik yang memberitahukan pada kita !" Niko menjawab dengan nada yang sedikit emosi.


"Heh ! Jawabnya jangan pakai emosi begitu !"


Elvano malah murka mendengar nada bicara Niko yang terdengar sedikit tinggi.


Ya, salah lagi. Memang kamu yang paling benar ya Tuan Muda.


"Maaf Tuan Muda !" Ucap Niko kemudian. Memang lebih baik mengalah, kalau tidak pasti akan jadi sangat panjang.


"Yasudah ! Terus apalagi yang ia tanyakan?" Lanjut Elvano lagi.


"Dia menanyakan tentang dirimu No." Jawab Niko jujur.


"Tentang apa?" Kali ini Elvano seperti lebih antusias.


"Dia bertanya dimana kamu tinggal !"


"Terus kamu jawab apa?"


"Ya, aku tidak menjawab nya."


"Kenapa tidak menjawab?"


Elvano malah melempar pertanyaan yang menurut Niko itu merupakan pertanyaan yang sungguh sangat konyol.


"Memangnya kamu mau aku menjawab apa?" Bukannya menjawab Niko malah kembali melempar pertanyaan.


"Ya, apa adanya !" Jawab Elvano santai


'Eh, apa ia masih waras? Bukannya dia sendiri tidak ingin Cheril tau tentang identitasnya yang sebenarnya?'


"Bukankah kamu tidak ingin dia tau tentang identitas mu?" Niko kembali melemparkan pertanyaan.


"Sebentar lagi juga dia akan tau !" Ucap Elvano dengan santainya.


"Maksud kamu?"


Niko jadi penasaran mendengar apa yang diucapkan oleh Elvano.


"Besok aku akan menikahi wanita itu !" Ucap Elvano


"APA?" Ucap Niko setengah berteriak sembari melototkan matanya.


Jelas Niko sangat kaget dengan kalimat yang diucapkan oleh Elvano barusan. Untung saja dia tidak jantungan.


"Kamu jangan salah paham ! Aku hanya ingin sedikit bermain-main dengannya saja." Ucap Elvano dengan wajah datar.


"Maksud kamu?" Niko semakin penasaran.


"Kamu tuli?" Ujar Elvano kemudian yang membuat Niko sedikit tersentak.


"Eh..."


"Ya, aku dengar yang kamu katakan. Tapi aku tidak mengerti apa maksudnya. Paham?" Lanjut Niko lagi setelah terdiam sesaat.


"Kamu tidak perlu banyak tanya ! Yang jelas aku sudah katakan padamu, aku hanya ingin sedikit bermain-main dengannya. Hitung-hitung untuk membalas rasa sakit hatiku padanya !" Ujar Elvano kemudian. Ia tidak sadar, secara tidak langsung dia juga sudah memberikan penjelasan pada Niko atas pernyataannya itu.


'Oh, jadi dia mau membalas dendam? Apa bisa? Bukannya dia sendiri masih sangat mencintai wanita itu?'


Gumam Niko didalam hatinya.


"Setelah ini kamu siapkan semuanya. Siapkan gedung yang sederhana saja. Dan jangan lupa sebarkan juga kartu undangan !" Elvano Kembali mengucap dengan sangat santai.


Niko jelas kembali tersentak dengan apa yang diucapkan Elvano.


'Dia pikir semudah itu apa? Sebarkan undangan? Bukannya undangan saja belum dicetak? Terus kira-kira bagaimana reaksi kedua orangtuanya? Apa Ibu Anita tidak diundang?' Niko tiba-tiba teringat pada Ibu Anita.


"No, apa kamu tidak ingin mengabari Ibu Anita tentang pernikahan ini?" Niko pun melemparkan pertanyaan itu.


"Tidak perlu ! Aku kan sudah mengatakan padamu, aku hanya ingin bermain-main saja dengannya." Jawab Elvano masih tetap dengan pernyataannya yang awal.


'Jadi dia serius dengan ucapannya?'


"Terus bagaimana dengan Tuan dan Nyonya Besar?" Tanya Niko lagi.


"Ya mereka harus tau. Kan pada akhirnya Cheril juga akan tinggal disana !"


"Apa mereka tidak akan kaget mendengar kamu akan menikah besok?"


Benar juga yang dikatakan Niko.


Elvano baru menyadari perbuatannya itu akan membuat kaget kedua orangtuanya.


Tapi ia juga tidak ingin menunda pernikahan itu.


"Tidak apa-apa, nanti aku coba jelaskan pada mereka pelan-pelan. Yang penting kamu urus soal gedung dan undangan saja. Soal kedua orangtuaku, aku yang akan mengurusnya !" Ujar Elvano kemudian.


Padahal dalam hatinya Elvano masih sedang memikirkan cara, bagaimana ia harus menjelaskan semua itu. Ia berharap kedua orangtuanya Tidak memiliki penyakit jantung. Ia malah takut mereka akan terkena serangan jantung setelah mendengar rencana gilanya itu.


Mobil yang ditumpangi oleh Elvano dan Niko sudah ntah berapa kali memutari trotoar disekitaran gedung Astra Investama Group, karna pembicaraan yang panjang itu membuat Niko beberapa kali melewatkan gedung Astra Investama Group yang membuatnya harus berputar ulang melewati putaran yang ada didekat rumah sewa Cheril.


Para pengawal saja merasa heran melihat mobil majikan mereka terus berputar di sana. Untung saja Cheril sudah masuk, jika ia melihatnya pasti ia juga akan ikut merasa heran.


"Eh Nik, kamu kenapa terus berputar-putar seperti ini?" Akhirnya Elvano pun bertanya karna merasa Niko sudah 4x memutari tempat itu.


"Eh.. Maaf ! Kamu sih terus mengajakku bicara. Aku jadi melewatkan gedung Astra Investama Group beberapa kali." Hehehe.


Ucap Niko cengengesan.


"Eh, kok aku yang salah? Makanya kalau menyetir itu konsentrasi Nik !" Jawab Elvano tak ingin disalahkan.


"Iya maaf ! Kali ini tidak akan terlewatkan lagi." Ucap Niko akhirnya. Ya kali ini memang salahnya dia.


Sesaat kemudian Mobil mereka pun sudah benar-benar memasuki halaman gedung Astra Investama Group.