Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Bab mix


Di kediaman keluarga Setiono, Ibu Winda mengoceh kesal.


Huuuh


Ibu Winda mengawali ungkapan hatinya dengan membuang nafas kasar.


"Anak ini sungguh keterlaluan. Ibunya belum selesai berbicara sudah dia matikan begitu saja!" Cerutu Ibu Winda.


"Lihat saja nanti. Aku marahin kalau sudah di sini."


Tanpa sengaja apa yang dikatakan oleh Ibu Winda malah didengar oleh Valencia. Dan parahnya, hanya kalimat terakhir dari Ibu Winda yang didengar oleh Valen. Putri pertama Ibu Winda itu malah salah paham. Ia begitu ketakutan saat mendengar ucapan Ibunya itu. Ia berpikir Ibunya itu hendak memarahi dirinya yang ketahuan berpacaran kemarin malam. Valencia yang baru hendak menghampiri Ibunya mengurungkan niatnya. Dan dengan terburu-buru gadis itu mebalikkan badannya menuju ke arah tangga hendak kembali ke kamarnya.


"Win, ada apa?" tanya William yang baru saja datang menghampiri Winda.


William berpikir Winda dan Valen sedang terlibat perdebatan. Sebab William tadi sempat berpas-pasan dengan Valen yang berjalan dengan sangat terburu-buru itu. Yang membuat mereka berdua hampir bertabrakan di dekat tangga.


"Eh, ini Wil, Putramu itu. Aku sedang ngobrol padanya di telepon, belum selesai aku berbicara, dia sudah mematikan ponsel begitu saja," ungkap Winda dengan wajah kesal.


"Oh begitu ya?" tanggap William dengan wajah datar.


Jadi tidak terjadi apapun dengan Winda dan Valen ya, tapi kenapa anak itu terlihat berjalan begitu terbubu-buru tadi ....


"Apanya yang begitu? Anak itu sangat keterlaluan. Akan aku memarahi dia jika pulang nanti!"


"Kamu ini Win, Kenapa memarahi nya? Nanti dia pergi lagi loh. Saat Vano tak di sini kamu malah terus merindukan anak itu. Bagaimana sih kamu ini?"


"Habisnya dia sungguh keterlaluan, Wil. Selalu saja bersikap seenaknya seperti ini,"


"Sudahlah! Mendingan kamu temui tuh Valen. Aku lihat Valen bertingkah sedikit aneh tadi. Coba kamu bicara pada nya, barangkali ada yang disebunyikan oleh anak itu," khawatir Tuan William.


"Oya? Ada apa dengan Valen? Apa terjadi sesuatu pada nya?"


"Ya, mana aku tau? Jika aku tau, aku tidak mungkin memintamu menemui dirinya. Bagaimana sih kamu ini Win?"


"Eh, benar juga ya? Hehehe. Baiklah! Aku akan menemui dia sekarang juga. Di mana dia sekarang?"


"Sepertinya di kamarnya. Tadi aku bertemu dengan nya di dekat tangga,"


"Baiklah, aku ke sana sekarang juga,"


Pembicaraan di antara Tuan William dengan Nyonya Winda pun berakhir sampai disana.


Ibu Winda kemudian melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar Valen.


-----


~ Kembali ke Villa ~


Usai menutup telepon, Elvano dan Cheril melanjutkan kembali obrolan mereka.


"Sayang, kenapa tidak membiarkan Ibu ke sini saja? Lebih ramai kan lebih seru," pendapat Cheril.


"Lah Sayang, kita kan sedang berbulan madu, yang benar saja membiarkan Ibu dan yang lainnya menyusul kemari?"


"Ya, tidak apa-apa juga sih. Lagian kan kita juga tidak ngapa-ngapain kan?"


"Ehem ....


"Memanngnya kamu mau diapakan sama aku? Hah?" goda Elvano sambil memperlihatkan senyuman genitnya.


Ah ... Ternyata aku salah bicara. Lagian kenapa juga sih aku mengatakan hal ini padanya. Huuh. Urusan bakal jadi panjang kalau seperti ini.


"Kenapa diam saja, Sayang?"


"Eh ....


Cheril mulai salah tingkah dan tak tau harus menjawab apa. Elvano pun menjadi semakin gemas melihat tingkah Cheril yang seperti itu.


"Aku ....


Cup!


Dan benar saja yang dipikirkan oleh Cheril. Urusan pun menjadi panjang.


Baru saja Cheril hendak menjawab, Elvano sudah mendaratkan bibir miliknya pada bibir milik Cheril. Dan memberikan sentuhan lembut di sana.


Cheril yang awalnya kaget serta membulatkan matanya perlahan juga membalas permainan Elvano yang kian lincah bermain-main di bibir ranum milik Cheril.


Begitulah mereka berdua saling terbuai dengan kecupan mesra yang mereka lakukan di tepi pantai.


Shinta yang tak sengaja melihat perbuatan kedua orang ini berlarian sangat kencang menuju ke arah pintu keluar Villa. Shinta yang berpikir Elvano dan Cheril akan terlibat perdebatan karena dirinya, hendak mencari Cheril untuk menjelaskan semuannya. Namun tak disangka ia malah mendapatkan kedua orang itu sedang bermesraaan seperti itu. Shinta pun sangat kaget dan tak kuasa menahan dirinya. Hingga ia lebih memilih meninggalkan Villa tersebut tanpa pamit terlebih dahulu.


Pak Jono yang melihat Dokter ini berlarian begitu terburu-buru pun mengetahui apa penyebabnya. Tanpa sengaja Pak Jono juga melihat aksi yang dilakukan oleh pasangan ini di tepi pantai saat mata Pak Jono melirik ke arah pantai. Dirinya pun paham, Dokter Shinta pasti sudah melihat semuanya. Pak Jono juga tak bisa berbuat banyak selain hanya mengasihani perempuan itu.


-----


Back to keluarga Setiono


Tok tok


Mendengar suara ketukan pintu membuat Valen kaget. Gadis itu sudah semakin ketakutan.


"Valen, apa kamu di dalam? Ibu masuk ya!"


Jegrek!


Lebih-lebih ketika Ibu Winda berhasil membuka pintu kamar yang tidak dikunci itu dan masuk ke dalam kamar nya.


"Ibu?" sapa Valen kaget.


"Iya, ini Ibu Valen. Kamu kenapa? Tadi Ayah bilang, kamu bersikap sangat aneh. Apa terjadi sesuatu padamu? Atau kamu sedang sakit?"


"Eh .... "


Valen mulai memutar kembali memorynya. Ia dapat mengingat dengan jelas saat ia bertemu dengan ayahnya di dekat tangga tadi. Ia tidak menyadari sikapnya yang seperti tadi malah mengundang perhatian ayahnya.


Ibu Winda yang sudah berada di hadapan Valen segera mengangkat tangannya untuk meraba kening putrinya itu.


"Tidak panas." Gumamnya pelan.


"Mana yang tidak nyaman Valen?" tanya Ibu Winda sedikit khawatir.


"Eh, Ti-tidak ada kok Bu. Valen baik-baik saja. Hehehe,"


Di dalam hatinya, Valen membatin keras,


Kenapa Ibu bersikap semanis ini ya, aku pikir Ibu akan memarahiku. Tapi syukurlah jika Ibu memang tidak melakukan itu.


Ibu Winda tidak langsung percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Valen. Karena ia juga dapat merasakan memang ada hal yang disembuyikan oleh Valen darinya.


"Katakanlah! Apa yang kamu sembunyikan dari Ibu?"


Ucap Ibu Winda dengan wajah yang sangat serius. Tatapan ibu dan anak ini saling bertemu untuk beberapa saat.


Suasana menjadi hening sejenak karena Valencia tidak dapat menjawab pertanyaan ibunya.


Deg deg deg


Jantung Valen juga berdegub tak beraturan.


"Ayo, katakan! Tidak apa- apa kok, Ibu akan menjadi pendengar yang baik," cecar Ibu Winda.


"Tapi Ibu harus janji tidak akan memarahi Valen," tegas Valen.


"Tentu saja, Ibu tidak akan melakukan itu. Ayo katakan!"


Setelah meyakinkan dirinya bahwa ibunya memang tidak akan memarahi dirinya, Valen pun memberanikan diri untuk berbicara,


"Ehem ... Baiklah, Valen akan mengatakannya."


Sementara Ibu Winda terlihat sangat barantusias untuk mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh Valen.


"Bu, Valen ...Valen sekarang sudah memiliki kekasih," ungkap Valen


Lalu putri pertama dari keluarga Setiono itu segera memalingkan pandangannya yang sebelumnya sedang menatap ibunya ke arah lain karena masih takut dimarahi oleh ibunya.


"Ehm? Jadi ini yang membuatmu bersikap seaneh ini?" tanggap Ibu Winda santai.


Dan Valen pun sedikit kaget saat mendapatkan ibunya yang bersikap sangat santai.


"Loh, Ibu tidak marah?"


"Ya, nngak lah Valen, kamu kan sudah dewasa, sebentar lagi kamu juga sudah akan wisuda. Jelas Ibu tidak akan melarangmu untuk menjalin hubungan. Ibu malah sangat berharap kamu bisa secepatnya menikah," jelas Ibu Winda sambil tersenyum lebar.


"Tapi, tadi waktu di ruang santai, Ibu berkata akan memarahi seseorang, bukannya Ibu akan memarahiku karena ketahuan kencan kemarin malam?"


Hahaha


"Jadi ini alasan utamanya kamu jadi bersikap seaneh tadi?"


Valen mengangguk kasar.


"Ya ampun Valen, makanya jangan hobi menguping. Apalagi hanya mendengar separuhnya saja. Tadi itu Ibu sedang berbicara pada Kakakmu, Vano. Dia memutuskan telepon begitu saja saat Ibu belum selesai berbicara. Ibu itu mengomeli dia. Bukannya hendak memarahimu,"


"Oh, jadi begitu? Hehehe."


Valen pun tersipu malu dan menggaruk lehernya yang tidak gatal.


"O iya Valen, seperti apa pasanganmu itu? Kapan-kapan undang dia ke rumah. Biar Ayah dan Ibu bisa berkenalan denagnnya,"


Ibu Winda mengalihkan topik ke arah yang lebih serius.


"Eh, i-iya Bu. Nanti akan Valen sampaikan ke dia,"


"Bagimana kalau 2 hari lagi? Kakakmu Vano juga ada di sini. Biar sekalian dikenalkan pada semua anggota keluarga kita," ide Ibu Winda.


"Ehm, baiklah! Valen akan coba bicarakan pada nya,"


"Baguslah!"


Pembicaraan antara Ibu Winda dan Valen berakhir hingga di situ. Setelahnya, Ibu Winda pun pamit dan keluar dari kamar Valen.


Sejujurnya, Ibu Winda dan Ayah Willliam sudah menyiapkan calon yang ingin mereka jodohkan pada Valen. Hanya saja Ibu Winda mengurungkan niatnya untuk menyampaikan itu saat mendengar Valen sudah memiliki pilihannya sendiri.


Karena merasa khawatir putrinya itu salah pilih, Ibu Winda memutuskan meminta Valen untuk mengundang laki-laki yang menjadi pilihannya itu ke ruamh supaya bisa dinilai keperawakannya oleh seluruh anggota keluarga mereka.