
Sementara didalam ruangan ICU, Cheril ternyata sedang mengalami sesak nafas yang sangat hebat. Elvano pun terlihat sangat panik menyaksikan itu.
Elvano segera berlarian ke arah tempat tidur Cheril, dan menggenggam tangannya erat.
"Kamu kenapa Cheril? Kamu kenapa?"
"Sayang, kamu harus kuat.. Harus kuat.. Ada aku disini.. Jangan tinggalin aku.. AKU MOHON !"
Elvano terus berkata-kata dengan sangat panik. Ia juga sudah mulai terisak kembali.
Suasana haru benar-benar menyelimuti ruangan itu saat ini. Dokter dan para perawat di sana juga sudah ikut masuk dalam suasana itu. Mereka ikut meneteskan air matanya melihat Elvano yang begitu bersedih.
Saat-saat seperti ini memang selalu yang paling menyedihkan bagi mereka.
Sesaat kemudian Elvano sudah kembali beranjak menuju kearah Dokter.
"Dokter, Dokter harus menyelamatkan nyawa istri saya ! Saya mohon Dokter ! Saya mohon !
Ucap Elvano sambil berlutut dan menarik pakaian Dokter itu.
"Eh.. Jangan begini Pak ! Bangunlah ! Saya akan melakukan yang terbaik yang saya bisa Pak ! Saya harap Bapak bisa tenang dulu !" Ucap Dokter itu sambil memegang kedua bahu Elvano untuk membantunya berdiri.
Inilah kenapa keluarga pasien selalu dilarang masuk ketika ada pasien yang tiba-tiba Kritis seperti sekarang ini, karna mereka sudah pasti akan sangat panik. Dan tentu saja Dokter serta tim medis lainnya akan merasa sangat terganggu konsentrasinya.
Setelah Elvano terlihat tenang, Dokter itu melanjutkan pembicaraan.
"Jadi begini, tadi saya sudah memeriksa kondisi pasien. Pasien saat ini sedang masuk kedalam fase kritis yang sangat berat karna masa kritisnya yang masih belum berlalu, tiba-tiba dia malah mengalami sesak nafas seperti saat ini."
Mendengar itu tentu saja Elvano yang sudah tenang kembali panik.
"Dokter.. Saya mohon selamatkan istri saya ! Saya mohon Dokter ! Anda harus menyematkan nya ! Saya tidak akan bisa hidup tanpa istri saya !" Ucap Elvano dan ia kembali menarik pakaian kebesaran milik Dokter itu. Ia juga sudah mulai terisak kembali.
"Iya, iya ! Tapi tolong Bapak tenang dulu ! Dengarkan dulu penjelasan saya !" Kata dokter itu dengan raut wajahnya yang sedikit kesal karna Elvano terus bersikap panik seperti itu.
Akhirnya sesaat kemudian Elvano bisa tenang juga. Dan Dokter pun kembali melanjutkan pembicaraannya.
"Jadi begini, Ibu Cheril saat ini sedang membutuhkan perawatan lebih Pak. Ia membutuhkan alat bantu pernafasan yang biasanya kita sebut dengan Ventilator. Dan Sayangnya saat ini di rumah sakit ini semua mesin itu sedang terpakai." Ucap Dokter itu kemudian.
"Tapi bagaimana bisa ruang ICU tidak memiliki ventilator Dok?" Tanya Elvano dengan nada tinggi.
"Maaf Pak, itu dikarenakan di rumah sakit ini hanya ada 2 alat saja, dan saat ini sedang digunakan di ruangan NICU anak Pak !" Jawab Dokter sambil menundukkan wajahnya. Ia juga merasa miris, ya mau gimana lagi, rumah sakit ini memang tidak terlalu besar, dan alat itu juga sangat mahal.
Setelah terdiam sesaat Dokter Kembali melanjutkan pembicaraannya.
"Tapi saya sudah meminta perawat saya untuk mencari rumah sakit yang ada ventilatornya saat ini. Jadi kita tunggu kabarnya dulu ya Pak !" Ucap Dokter itu lagi.
Sesaat Elvano baru mengingat rumah sakit milik keluarganya. Sebuah rumah sakit terbesar di kota itu. Ya, disana pasti ada alat itu. Apalagi disana juga ada ruangan khusus yang memang sudah dilengkapi dengan segala fasilitas yang sangat komplit yang memang khusus diperuntukkan pada keluarga Setiono sendiri.
"Ada Dok.. Hubungi rumah sakit keluarga Setiono. Di sana pasti ada alat itu untuk Cheril. Katakan pada mereka Tuan Muda Elvano sedang membutuhkannya. Dan sekalian suruh mereka mempersiapkan segalanya sekarang juga !" Ucap Elvano kemudian.
Hanya dengan mendengar rumah sakit keluarga Setiono saja Dokter itu memang sudah tau rumah sakit yang dimaksudkan oleh Elvano.
Apa dia adalah Tuan Muda itu.. Wajahnya memang sangat tidak asing..
Ucap Dokter itu dalam hati. Ia mencoba mengingat kembali dimana Ia pernah melihat Laki-laki yang ada dihadapannya ini. Ya, Elvano memang sudah beberapa kali diliput oleh media Massa dan juga media Cetak. Mungkin Dokter itu pernah melihat Elvano disana.
Saat itu Elvano juga sedang mengenakan pakaian santai, jadi dokter itu juga sangat sulit mengenalinya sebagai Tuan Muda yang biasanya tampil dengan sangat elegan didepan layar kaca.
"Maaf Pak, Apakah Bapak adalah Tuan Muda Elvano Setiono?" Tanya dokter itu ingin meyakinkan dirinya.
"Iya Dokter ! Saya adalah Elvano Setiono !" Jawab Elvano kemudian.
Dokter itu pun segera menundukkan tubuhnya ketika mendengar ucapan Elvano. Dan para perawat juga melakukan itu.
"Maaf Tuan Muda jika kami sudah lancang !" Ucap dokter itu kemudian.
Tentu saja dia panik, Tuan Muda itu bahkan tadi sempat berlutut dihadapannya, dan Dokter itu sendiri sempat sedikit membentak nya karna kesal Elvano tidak bisa tenang tadi.
"Sudahlah Dok ! Jangan dipikirkan lagi soal itu. Saat ini yang terpenting, selamatkan istri saya.. Tolong hubungi rumah sakit yang saya sebutkan tadi !" Ucap Elvano.
Ia malah sudah kembali panik ketika melirik kearah Cheril yang nafasnya tersengal-sengal.
"Baik Tuan Muda !" Jawab Dokter masih sambil menundukkan tubuhnya. Dan segera memberi perintah ada perawatnya untuk menghubungi rumah sakit keluarga Setiono sekarang juga sesuai dengan yang diperintahkan oleh Elvano.
Sesaat kemudian perawat yang tadi sudah memberikan instruksi untuk segera membawa Cheril ke ambulance yang juga sudah bersiaga. Waktu Cheril memang tidak banyak. Jika terlambat 1 menit saja nyawanya bisa saja melayang.
"Tuan Muda, Nona Muda harus tiba di rumah sakit itu dalam waktu paling lambat 30 menit. Jika terlambat 1menit saja maka ia akan kehilangan nyawanya." Ucap Dokter sebelum Cheril dibawa keluar dari ruangan.
Elvano memang sangat kaget mendengar itu. Namun bukan waktunya lagi untuk panik saat ini. Ia harus bergegas sekarang juga. Karna nyawa Cheril saat itu benar-benar sedang berada diambang Kematian.
"Baik Dok !" Ucap Elvano singkat lalu segera bergegas.
Kemudian para perawat segera mendorong tempat tidur yang ditempati Cheril keluar dari ruangan itu menuju rumah sakit rujukan dengan semua peralatan yang tertempel disekujur tubuh Cheril. Niko yang melihat kejadian itu pun segera menghampiri Elvano untuk mencari tau apa yang terjadi sebenarnya. Daritadi ia juga sudah ikutan panik melihat perawat yang mondar-mandir keluar masuk ruangan ICU itu. Dan Elvano pun menceritakan semuanya pada Niko. Setelahnya mereka berdua juga segera menyusul para perawat yang mendorong Cheril keluar menuju ambulance.
Saat itu Elvano memilih ikut dengan ambulance. Karna ia ingin tetap bersama dengan Cheril. Sedangkan Niko diperintahkan Elvano untuk jalan lebih dulu supaya ia bisa membuka jalan bagi ambulance agar ambulance itu bisa cepat tiba di rumah sakit rujukan.
Sirine pun mulai dibunyikan, hingga menciptakan suasana yang sangat menegangkan saat itu. Selain sirine, bunyi klakson juga terus berbunyi ketika Niko berusaha meminta kendaraan lain untuk segera menyingkir karna ambulance mau lewat.
----------------
Sementara di rumah sakit keluarga Setiono juga sudah terlihat semua dokter dan perawat disana sangat sibuk setelah mendapat telfon dari rumah sakit dimana Cheril dirawat sebelumnya.
Istri Tuan Muda pemilik rumah sakit itu sedang dalam kondisi gawat darurat bahkan lebih daripada itu. Ia sedang kritis.
Semua Dokter terbaik segera menyiapkan diri mereka dan para perawat terbaik juga dipersiapkan untuk menyambut pasien istimewa ini.
Mereka juga menyiapkan semua keperluan yang diperlukan untuk perawatan Cheril. Yang secara tidak langsung mengingatkan mereka pada kejadian 10 tahun silam. Dimana ketika Kakek Elvano yang tiba-tiba mengalami kritis.
Dan dalam waktu singkat semuanya pun telah dipersiapkan dengan sangat sempurna.
Tepat 30Menit kemudian, ambulance yang membawa Cheril beserta rombongan pun tiba di rumah sakit milik keluarga Setiono itu. Kemudian para petugas medis yang sudah bersiaga diluar segera memberikan pertolongan pada Cheril.