
"Oh iya.. Aku inget ! Kamu kan yang waktu itu ada di Perusahaan Indos Perkasa kan? Kalau tidak salah kata Billy waktu itu, kamu adalah kepala gudang siff dua di sana. Iya kan?"
Jimmy berkata sambil mengangkat satu telunjuknya, dan melemparkan pandangannya ke arah Elvano.
Elvano hanya sesekali melirik ke arah Jimmy dengan tatapan sinis.
"Eh, ngomong-ngomong kenapa kamu bisa bersama calon istriku? Tambah Jimmy yang membuat Elvano melotot seketika.
'Apa yang dikatakan tadi? Calon istri?
"Eh.." Cheril sedikit kesal dengan ucapan Jimmy yang seenaknya saja.
Jadi ayah belum membatalkan perjodohan itu ya.
"Maksud kamu apa?" Elvano bertanya dengan nada yang sedikit tinggi
"Heh ! Kepala gudang, asal kamu tau ya, Cheril itu adalah calon istriku, pemilik saham terbesar di Perusahaan Indos Perkasa cabang baru. Ngerti?"
"Ayah Cheril sudah menjodohkan Cheril padaku ! Tambah Jimmy
Oh, jadi ini orang yang di maksud Cheril. Pantas saja Cheril menolak.
Ciiiiiiiiih..
"Sombong sekali, padahal Cheril juga tidak mau dijodohkan dengan mu." Elvano bergumam pelan.
"Heh ! Kamu ngomong apa? Bicara yang keras jangan berbisik seperti itu. Mau menantang saya kamu? Hah?
"Jimmy.. Apa-apaan sih kamu? Lagian siapa juga yang calon istri mu? Aku kan belum menjawab mau menerima perjodohan itu atau tidak." Cheril tiba-tiba beranjak dari kursinya melihat Jimmy membentak Elvano.
"Kamu ! Berani-beraninya kamu lebih membela laki-laki ini daripada aku?"
Jimmy terlihat sangat marah, ia mulai mengangkat tangannya seolah hendak menampar Cheril membuat Elvano pun seketika beranjak dari tempat duduknya.
"Heh ! Laki-laki sombong, kamu dengar baik-baik, jika kamu berani sedikit saja menyentuh ujung rambut Cheril kamu akan berurusan dengan ku."
"Eh, kamu nantang aku?" Jimmy mulai murka.
"Asal kamu tau ya, laki-laki seperti mu sama sekali tidak pantas untuk Cheril !" Ucap Elvano setengah berteriak.
Untung saja pada waktu itu Restoran cukup sepi, jadi hanya ada mereka disana bersama beberapa karyawan restoran saja yang menyaksikan keributan tsb, mereka bahkan sudah bersiap untuk memanggil satpam jika keributan masih terus berlanjut.
"Kurang ajar, kamu memang mau menantang ku? Hah?" Jimmy sudah mengalihkan pandangannya ke arah Cheril dan melangkahkan kakinya ke arah Elvano.
"Eh, kenapa bisa jadi begini sih?" Cheril bergumam pelan. Tentu saja ia sangat takut akan terjadi baku hantam di antara kedua laki-laki itu.
Jimmy sudah berdiri sangat dekat dengan Elvano, ia sudah memegang kerah baju bagian depan Elvano dan mengangkatnya keatas.
"Heh, kamu sudah merasa hebat ya? Kamu sudah berani pergi dengan calon istri pimpinan mu, tapi masih berani melawan !"
Buk !
Satu pukulan mendarat dipipi kiri Elvano, terlihat darah sedikit mengalir dari sudut bibirnya.
"Aaaaah.."
Cheril berteriak histeris.
"Tolong hentikan Jimmy ! Aku mohon !" Ucap Cheril sambil mendekatkan kedua telapak tangannya diatas dada memohon.
"Kurang ajar, kamu masih berani membela dia? Hah?"
Kali ini Jimmy kembali mendekati Cheril, ia mulai memainkan ujung rambut Cheril, membuat gadis itu sangat ketakutan.
Buk !
"Aaaaaaah..
Cheril kembali berteriak histeris sambil menutup kedua pipinya dengan kedua tangannya.
"Sudah ku katakan padamu, jika kamu berani sedikit saja menyentuh Ujung rambut Cheril, kamu akan berurusan dengan ku."
"Ayo kita pergi dari sini ! Biarkan dia yang membayar semua makanan kita tadi !" Kata Elvano sambil menarik tangan Cheril dan memeluknya, mereka pun melangkah pergi dari Restoran mewah itu meninggalkan Jimmy yang masih memegang pipinya yang sakit.
Sedangkan didepan pintu Restoran sudah ada satpam yang hendak masuk, ia mendapatkan laporan dari karyawan di sana bahwa didalam restoran mereka telah terjadi keributan.
Setelah diselidiki oleh pak satpam tentang masalah yang baru saja terjadi, Jimmy pun diharuskan membayar semua kerugian yang dialami oleh pihak Restoran. Makanan yang belum dibayar oleh Elvano dan Cheril pun harus dibayarkan oleh Jimmy, padahal Jimmy baru saja memasuki Restoran itu, ia belum memesan apapun.
Jelas Jimmy sangat kesal dengan kejadian itu. Bukan karena uang yang sudah ia keluarkan, tapi karna harga dirinya yang sudah diinjak-injak.
"Aaaaaaah.. Kurang ajar ! Akan aku kasih pelajaran laki-laki itu." Jimmy berkata-kata seorang diri.
"Kamu juga Cheril, akan aku laporkan kejadian ini pada Ayah mu senin nanti !"
---------------------
Elvano dan Cheril sudah berjalan cukup jauh dari Restoran mewah itu, mereka tanpa sengaja menemukan sebuah taman kecil didekat sana, mereka pun memilih duduk disalah satu kursi pada taman itu.
Cheril duduk menghadap Elvano, ia merasa sedikit khawatir pada Elvano melihat wajah Elvano yang babak belur.
"Vano, kamu tidak apa-apa?"
"Eh, kamu panggil aku apa tadi?"
"Eh.." Pipi Cheril seketika memerah, ia baru menyadari dengan panggilan kecil yang ia berikan pada Elvano.
"Aku tanya kamu panggil aku apa tadi? Jawab !" Elvano kembali bertanya dengan nada yang lebih tinggi, tentu saja laki-laki itu merasa sangat senang dengan panggilan itu. Walaupun bagi orang lain itu hanya panggilan biasa saja, bukannya orang lain juga memanggilnya dengan nama yang sama "Vano"?! Tapi bagi Elvano, panggilan itu menjadi sangat special karna yang itu dilakukan oleh Cheril. Ya, Cheril memang belum pernah memanggilnya dengan nama kecilnya. Jadi ya wajar saja ya gaes Elvano sangat senang. Hehehe
"Aku panggil kamu Vano.. Puas?" Jawab Cheril lantang.
Elvano tentu saja merasa sangat senang mendengar ucapan Cheril yang ia ulang kembali.
"Mulai hari ini,panggil aku dengan sebutan itu !" Kata Elvano meminta lebih.
Cheril hanya diam saja. Ia mulai memperhatikan wajah Elvano yang babak belur itu. Tatapannya berhenti disudut bibirnya yang terlihat sedikit mengeluarkan darah. Kemudian Cheril pun mengangkat satu tangannya ke arah pipi sebelah kiri Elvano yang terluka, tangannya terhenti pada sudut bibir Elvano yang berdarah. Dan berkata;
"Vano, apa ini sakit?" Ucap Cheril sambil memegang sudut bibir Elvano mengusapnya pelan.
Sedangkan Elvano hanya diam saja membiarkan tangan Cheril mengusap sudut bibirnya, ia merasa sangat nyaman dengan apa yang dilakukan Cheril. Rasa senang juga menyelinap masuk ke dalam ruang hatinya.
Elvano pun menatap wajah Cheril lekat.
Menyadari Elvano menatap nya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, seketika wajah Cheril pun memerah, reflek ia pun hendak menurunkan tangannya yang masih menempel pada sudut bibir Elvano.
Namun usahanya gagal, Elvano lebih dulu menahan tangan Cheril, kemudian Elvano menggenggam tangan itu erat.
Perlahan Elvano pun mendekatkan wajahnya ke arah wajah Cheril, semakin dekat dan semakin dekat membuat wajah mereka sudah tidak berjarak lagi.
Cheril pun memilih menutup matanya. Dan Elvano menempelkan b*b*r nya pada b*b*r Cheril.
Kali ini ntah kenapa Cheril tidak bisa menolak Elvano, ia pun juga ikut membalas permainan Elvano.
Terjadilah ciuman mesra layaknya sepasang kekasih di taman itu yang berlangsung cukup lama.