Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Elvano Setiono


Mendengar Elvano berkata tentang wisuda, Ibu Anita mulai termenung.


'Sebentar lagi Elvano akan berwisuda, yang seharusnya mendampingi Elvano adalah Nona Muda dan Tuan Muda,ukan saya.'


'Ya, Tuhan! Apa aku harus mengatakan yang sebenarnya kepada Elvano saat ini?'


'Dan bagaimana dengan Tuan besar? Apa ia masih memiliki keinginan untuk melenyapkan cucunya yang setampan ini?


'Lalu jika saya mengatakan semua ini kepada Elvano apa ia akan tetap menyayangi ku seperti saat ini? Sejujurnya saya merasa sangat senang dianggap Ibu kandung oleh Vano.'


'Ya Tuhan maafkan pikiranku yang egois ini.'


Kali ini Elvano semakin kebingungan melihat Ibunya. Yang ia pikirkan sepenuhnya salah.


Ada apa dengan Ibu, kenapa dia melamun lagi.


"Ibu ...," sapa Elvano.


"Iya, Elvano Setiono!" jawab Ibu Anita keceplosan.


Ups...,


Ibu Anita keceplosan memanggil nama kebesaran Elvano, wajahnya pun seketika menegang, membuatnya reflek menutup mulutnya dengan tangan kanannya.


Elvano Setiono ... Apa itu margaku ...


Mendengar nama asing itu spontan membuat Elvano bertanya-tanya dalam hati.


Saat ini ia mulai merasa ada yang sedang disembunyikan oleh ibunya. Namun ia memilih untuk tidak menanyakannya.


Jika ibunya mau, ia yakin ibunya pasti akan memberitahukan pada nya, tapi kalau ibunya belum siap ia juga tidak akan memaksa ibunya untuk menceritakan semuanya.


Sebenarnya sih Elvano juga merasa dirinya belum benar-benar siap mendengarkan penjelasan ibunya sama halnya dengan Ibu Anita yang belum siap untuk menceritakan semuanya.


"Ibu, kita sarapan dulu yuk!" Elvano mengalihkan pembicaraan.


"Eh, i-iya!" jawab Ibu Anita merasa sedikit lega karena Elvano tidak membahas soal yang tadi lagi.


Fiuuuuuh


Saat itu jam didinding rumah mereka sudah menunjukkan pukul 6.30 dan artinya Elvano juga harus segera bergegas karena ia masih harus mandi. Pagi ini ia ada jam kuliah pada jam 8 pagi.


Kemudian mereka pun sarapan bersama tanpa lagi membahas soal yang tadi.


Setelah selesai sarapan, Elvano mandi dan bersiap-siap untuk berangkat kuliah. Tepat pada pukul 7.30 ia berangkat dari rumahnya menggunakan angkutan umum. Biasanya perjalanan dari rumahnya ke kampus hanya memakan waktu 15 menit.


Selama dalam perjalanan Elvano jadi kepikiran tentang "Elvano Setiono" yang disebutkan oleh ibunya pagi ini.


Pikirannya mulai menjelajahi waktu di mana saat ia masih kecil, sangat banyak yang mengejek nya sebagai anak angkat karena wajahnya yang sangat berbeda dari kedua orangtuanya.


Mungkinkah aku memang hanya angkat dari Ayah Rangga dan Ibu Anita, seperti yang pernah mereka katakan.


Ataukah mungkin Ibu Anita memiliki suami lain sebelum menikahi Ayah Rangga.


Ataukah aku hanya anak haram yang tidak diinginkan oleh kedua orangtuaku.


'Vano ... Kamu itu tidak mirip sama Bapak dan Ibumu, jangan-jangan kamu anak pungut ya?'


Kata-kata itu datang berulang di dalam otaknya. Ia mengingat dengan jelas waktu ia masih kecil sangat banyak orang yang mengejek nya sebagai anak pungut, saat itu ia akan segera berlari pulang ke rumah lalu memeluk ibunya dan menanyakan kepada ibunya.


"Apa benar yang mereka katakan Bu, bahwa aku adalah anak angkat?"


"Vano, apakah kamu percaya dengan mereka?"


Vano kecil akan menggeleng-geleng kepalanya sangat kencang yang membuat ibunya tersenyum.


"Vano, kalau kamu tidak percaya pada mereka, maka biarkanlah mereka mau mengatakan apapun!"


"Yang jelas kamu tau sendiri kan Nak? Ibu dan Ayah sangat menyayangi mu. Kamu paham kan maksud?"


Elvano kecil sudah akan mengganggukkan kepalanya saat itu walaupun tidak mendapatkan jawaban yang pasti


Ia selalu menganggap jawaban ibunya itu menyatakan ia ialah anak kandung ayah dan ibunya, karena sudah sangat terbukti mereka begitu menyayangi nya. Lagian mana ada orangtua angkat yang akan sangat menyayangi anaknya pikir Elvano waktu itu seperti dongeng yang sering ia baca, sangat banyak orangtua yang menyiksa anak angkatnya, apalagi jika Bapak Rangga atau Ibu Anita adalah salah satu orangtua angkatnya sudah seperti kisah bawang merah dan bawang putih saja yang ia bayangkan.


Saat ini ia baru bisa berpikir dengan jernih, setelah nama besar itu terucap dari bibir ibunya.


Selama ini dia memang belum pernah mendapatkan jawaban yang pasti dari ibunya tentang identitasnya itu.


Tidak seperti masa kecilnya, yang ketika ia diejek oleh orang lain ia akan segera menanyakan kepada ibunya, lain hal dengan saat ini, ia malah sangat takut untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.


Ia merasa sangat ketakutan dengan jawaban ibunya nanti.


Saat Elvano masih tenggelam dalam lamunannya angkutan umum yang ia tumpangi telah tiba di depan kampusnya.


"Vano ... Elvano ...," panggil supir angkutan umum yang ditumpangi Elvano yang membuat Elvano sedikit terlonjak.


"Eh ..., i-iiya ... Ah, Kamu Nik .... Bikin kaget saja," ucap Elvano tersentak.


"Lagian kamu sih, pagi-pagi sudah melamun. Mikirin apa sih?" tanya sopir angkot yang bernama Niko itu


Belum sempat Elvano menjawab ia sudah melontarkan pertanyaan baru lainnya.


"Kamu pasti mikirin cewek ya?" tanya Niko lagi mengejek Elvano sambil tersenyum lebar.


"Ih ... Apaan sih, cewek saja yang ada di pikiranmu itu," Elvano menjawab sambil menepuk pundak Niko sedikit keras yang membuat Niko sedikit meringis kesakitan.


"Sudah ah ... Ini ambil!" tambah Elvano sambil menyodorkan sejumlah uang ke arah Niko sekaligus menyudahi percakapan mereka.


"Cieeee ... Jangan lupa kenalin aku, No!" ejek Niko.


Dia masih sangat yakin Elvano pasti sedang memikirkan urusan cewek. Lagian urusan apalagi yang bisa membuat seorang anak muda melamun, pikirnya.


Elvano dan Niko memang sudah saling mengenal sejak lama, karena sejak SMP Elvano memang sudah berlangganan dengan angkot milik Niko. Pada saat itu Niko masih kuliah, ia menarik angkot sambil kuliah. Dan Ketika ia sudah wisuda pun ia masih sulit menemukan pekerjaan, hingga ia pun memutuskan untuk tetap pada profesinya sampai dengan saat ini.


Niko sebenarnya tidak memiliki rute ke arah kampus Elvano, tapi karena ia sangat ingin membantu Elvano, ia pun tetap mengantar Elvano walaupun tak searah.


Elvano juga menyadari hal itu, karena itulah ia juga tidak jarang memberikan tarif yang sengaja ia lebihkan untuk Niko. Awalnya memang Niko menolak, tapi Elvano akan memaksa nya sampai ia terima, ya pasti dengan satu alasan yang sangat mutlak yang tidak bisa ditolak oleh Niko.


Elvano segera turun dari angkutan umum itu setelah membayar tarif tadi dan melangkahkan kakinya menuju ke dalam kampus. Ia sama sekali tidak menghiraukan lagi perkataan Niko sedang mengejek nya itu.


"Dasar anak muda ... Aku juga pernah muda kali," teriak Niko dengan suara yang sangat kuat.


"Ya, walaupun sekarang juga masih muda sih," Kali ini berucap dengan suara pelan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Niko dan Elvano memang tidak berada terlalu jauh usianya.


Membuat Elvano yang sudah di depan gerbang kampus tapi masih bisa mendengar ucapannya yang pertama, ia pun menolehkan kepalanya ke belakang melirik ke arah Niko. Lalu melemparkan pandangannya ke sekeliling dan kembali menatap ke arah Niko tajam seolah-olah berkata;


"Woi ... Lihat tuh orang-orang sedang melihat ke arah mu dan berpindah ke arah ku juga karena tau aku adalah penumpang mu. Mereka pasti tau kamu sedang mengatai ku."


Orang yang ada di sana memang menatap mereka secara bergantian mendengar teriakan tersebut.


Kemudian Niko pun memutar mobilnya meninggalkan kampus tanpa menghiraukan tatapan Elvano lagi.