Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Kejutan apalagi ya?


Elvano memang memiliki pengalaman yang cukup pahit tentang bantal yang menempel di wajah, yaitu pada masa kecilnya dulu.


Waktu kecil, Elvano memiliki seorang teman bermain dengan jenis kelamin seorang wanita. Gadis kecil ini setiap hari selalu datang ke rumah Ibu Anita untuk bermain bersamanya dengan riang gembira. Namun suatu hari, pada saat mereka sedang bermain di dalam kamar, Elvano kecil hampir kehilangan nafasnya gegara gadis kecil itu meletakkan bantal di atas wajahnya yang membuat saluran nafas Elvano tertutup rapat. Dan sejak saat itu, Elvano merasa sangat trauma. Dan sejak saat itu juga, Elvano tak pernah mau lagi bertemu dengan gadis itu untuk bermain bersama. Bahkan hal ini juga yang membuat dirinya begitu dingin terhadap semua wanita ketika ia bertumbuh dewasa.


_


_


Elvano kemudian menjawab telepon dari Niko.


"Ada apa Nik?" tanya Elvano.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin menyampaikan padamu tentang laki-laki mantan Manager Mall Z itu saja. Aku sudah mencari tau semua data tentang orang itu," jelas Niko.


"Baguslah. Kamu memang selalu bisa diandalkan. Ikuti terus laki-laki itu. Kita harus memberikan dia efek kejerahan,"


"Baik No,"


"Oh iya, kamu tolong belikan beberapa pakaian ganti dan bawakan ke kamar aku ya. Pakaian untukku dan Cheril," tambah Elvano yang membuat Niko menelan salivanya.


Apa yang terjadi coba semalam ...


"Heh, kamu dengar tidak?" Elvano sedikit murka karena tidak mendapat jawab untuk sekian detik.


"I-iiya. Baiklah!" tanggap Niko akhirnya.


Dan jawaban dari Niko sekaligus menjadi kalimat terakhir dari pembicaraan mereka.


----------


"Sayang, aku mau membersihkan diri dulu ya," ucap Cheril ketika merasa suasana tegang di antara dirinya dan Elvano sudah mulai mereda.


"Sebentar lagi ya, aku masih ingin memelukmu seperti ini. Rasanya begitu nyaman," ujar Elvano sambil mempererat pelukannya.


Dan Cheril pun harus terdiam kembali. Membiarkan tangan nakal Elvano yang tidak hanya memeluknya itu. Sesekali terlihat Cheril menahan kegelian yang diciptakan oleh suaminya itu. Sesekali juga Elvano melum** b*b*r Cheril.


"Sayang, hari ini kita akan pergi kemana?" tanya Cheril.


"Hmm ... Karena kemarin aku sudah menyenangkanmu, hari ini giliran kamu yang harus menyenangkanku. Kita tidak akan kemana-mana. Aku ingin berduaan denganmu di kamar ini saja," ucap Elvano sembari memperlihatkan wajah genitnya.


"Apa? Kenapa bisa begitu? Aku kan tidak memintamu untuk melakukan begitu banyak untukku," protes Cheril.


"Kenapa? Kamu tidak suka dengan semua yang sudah aku lakukan?" Elvano sudah mulai murka.


"Bukan Begitu ... Tapi kan kita tidak harus di dalam kamar ini terus sepanjang hari," Cheril masih berusaha membujuk Elvano.


"Kenapa? Kamu merasa bosan ya padaku? Berani sekali kamu," Elvano semakin murka.


"Bukan begitu juga ...,


Ah, kenapa sangat sulit berbicara dengan orang ini sih.


"Kita kan sudah tinggal di sini semalaman, apa masih belum cukup?" tambah Cheril setelah terdiam sesaat.


"Tuh, masih bilang tidak merasa bosan padaku. Berani sekali kamu merasa bosan padaku. padahal aku tidak merasa bosan sedikitpun padamu," Elvano semakin panas.


Salah lagi deh ... Mungkin memang lebih baik aku mengalah saja.


Huuuuuuh ... Yang benar saja harus seharian lagi berada di dalam kamar ini. Bagaimana bisa tidak merasa bosan coba.


"Kenapa hanya diam saja?" cecar Elvano.


"Aku diam salah, aku jawab juga salah. Mau kamu ini apa coba?" protes Cheril.


"Ya, berikan jawaban yang benar. Sudahlah, sekarang aku mau menghukummu karena sudah berani merasa bosan padaku," ujar pria itu sambil memperlihatkan senyuman sinisnya.


"Berbalik!" perintah Elvano. Saat itu Cheril sedang berbaring dalam posisi terlentang.


"Mau apa?" tanya Cheril semakin penasaran.


"Jangan banyak tanya, ayo lakukan! Atau mau aku bantu?" ancam Elvano.


Mau tidak mau Cheril pun harus melakukan apa yang diperintahkan oleh Elvano. Ia membalikkan tubuhnya dengan wajah menghadap ke bawah.


Lalu Elvano beranjak dari tempat tidur dan mengulurkan kedua tangannya, dan memijat istrinya lembut.


Jadi dia mau memijat ku ... Aku kira dia akan macam-macam.


Ah ... Ternyata pijatan dia lumayan juga. Nyaman sekali.


"Bagaimana? Enakkan?" tanya Elvano basa-basi.


Ia sendiri bisa melihat dari ekspresi yang diperlihatkan oleh Cheril. Terlihat jelas wanita itu merasa begitu menikmati setiap gerakan yang dilakukan oleh Elvano di punggungnya.


"Iya sayang, nyaman sekali. Kebetulan aku memang sangat pegal, terimakasih ya sayang!"


Tentu saja aku tau kamu sangat lelah. Kamu sudah bekerja keras semalam. Maafkan aku yang tidak dapat menahan diri semalam. Habisnya kamu begitu menggairahkan.


Hem ....


Apa yang kalian lakukan Tuan Muda? Ya ampun Tuan Muda Elvano, anda keterlaluan. Hahaha.


"Ini tidak gratis, setelah ini kamu harus membayar mahal. Tau tidak?" goda Elvano.


Sudah ku duga. Selalu saja begini. Tapi ya sudahlah, yang penting aku sedang menikmati kenyamanan yang luar biasa.


Pijatan itu tentu tidak murni, tetap saja ada plus-plusnya. Awalnya saja memijat dengan benar, 10 menit kemudian tangan Elvano sudah bukan terletak di punggung lagi. Hahaha. Dasar Tuan Muda mesum.


Sekitar 1 jam kemudian, Niko harus kembali menyaksikan pemandangan yang tak seharusnya. Dengan seenaknya saja Elvano meminta Niko membuka pintu kamar mereka dari luar dengan kartu kepunyaan Niko. Dan pada saat pintu terbuka, kedua orang ini malah masih di dalam selimut seperti waktu itu. Jelas membuat Niko mengumpat kesal dan segera berlalu meninggalkan kamar tersebut setelah meletakkan semua pesanan Elvano.


"Sana, bersihkan dirimu! Aku akan mengajakmu ke suatu tempat setelah ini," perintah Elvano.


Eh, aku pikir dia akan menahan ku di kamar ini sepanjang hari. Syukurlah itu tidak terjadi.


Sebenarnya Cheril sangat ingin bertanya Elvano ingin mengajaknya kemana, tapi dia juga takut jika menanyakan itu sekarang justru laki-laki itu akan murka. Jadi ia pun mengurungkan pertanyaan tersebut.


"Baiklah!" tanggap Cheril yang langsung beranjak meraih pakaian handuknya dan menuju ke kamar mandi dengan riang gembira.


Bodoh amat dia akan mengajak aku kemana, yang penting tidak menetap di kamar ini.


Setelah Cheril selesai mandi, giliran Elvano yang mandi, dan setelah keduanya sudah rapi, mereka pun keluar dari kamar, menuju tempat mobil diparkirkan. Di sana sudah ada Niko yang sedang menunggu mereka.


"Ayo Nik kita jalan Sekarang!" Titah Elvano yang langsung ditanggapi Niko dengan tindakan.


Kemudian Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju suatu tempat yang akan membuat Cheril kaget bukan main.


Sementara di dalam perjalanan, Cheril sudah merasa cukup penasaran Elvano akan mengajaknya kemana. Ia pun memutuskan untuk melemparkan pertanyaan yang ia simpan tadi pada Elvano.


"Sayang, kita mau pergi kemana?" tanya Cheril.


"Nanti kamu juga akan tau,"


Seperti biasanya, Cheril tidak mendapatkan jawaban itu.


"Apa tidak bisa memberitahuku sedikit saja? Aku sangat penasaran," bujuk Cheril.


"Tidak," tanggap Elvano singkat.


Dan akhirnya Cheril hanya bisa memasang wajah cemberut sambil menyimpan kembali rasa penasarannya yang sudah sangat menggebu.