
Pak Didi segera membukakan pintu utama untuk Tuan Mudanya dan Anita yang ia kenal sebagai salah satu pegawai yang pernah bekerja di sana 23tahun yang lalu.
"Silahkan masuk Tuan Muda!" pinta Pak Didi menundukkan badan.
Elvano dan Ibu Anita lalu melangkah masuk ke dalam rumah mewah itu.
Ketika di dalam, Elvano dan Ibu Anita melemparkan pandangan mereka menjelajahi setiap sudut ruangan yang sangat besar itu. Lain halnya dengan Elvano, lain halnya lagi dengan Ibu Anita, pikiran mereka tentu saja sangat jauh berbeda.
Jika Elvano lebih kepada rasa kagum melihat rumahnya yang didesain dengan begitu elegan, semua perabotan yang ada di sana juga harganya mencapai ratusan juta, Ibu Anita justru lebih kepada rasa rindu yang mendalam.
"Silahkan duduk dulu Tuan Muda, saya akan panggilkan Nyonya," ucap pak Didi, kemudian berlalu menuju kamar utama pemilik rumah mewah tersebut.
Pak Didi terlihat sangat bersemangat dengan kehadiran kedua orang ini.
Tuan dan Nyonya Besar pasti akan merasa senang jika tau siapa yang ada di ruang tamu.
Batin Pak Didi senang.
Tok tok tok
Pak Didi mengetuk pintu kamar utama.
"Siapa?" sahut Ibu Winda melempar pertanyaan.
"Ini saya Nyonya,"
"Oh, ada apa Pak Didi? Masuk saja pintu tidak dikunci," perintah Ibu Winda.
Jegrek!
Pintu terbuka pelan.
Dan Winda sedang duduk di depan meja rias saat pak Didi membuka pintu.
"Ada pak Didi?" tanya Ibu Winda.
Dirinya masih sibuk merias wajahnya tanpa menoleh ke arah yang ia ajak bicara.
"Anu, ada tamu istimewa Nyonya," jawab Pak Didi semangat.
Winda yang kaget menghentikan aktivitasnya sesaat.
"Maksud Pak Didi?" Ibu Winda terlihat menaikan alisnya karena tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh kepala pelayan itu.
Selama ini memang tidak pernah ada yang disebut dengan tamu istimewa.
"Tuan Muda Elvano Setiono Nyonya, dia ada di sini,"
"APA?"
Seketika Winda pun berdiri dari tempat duduknya.
"Maksud Pak Didi anak saya ada di sini?" Terpancar dari raut wajah Winda, Ekspresinya yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Kepala pelayan tersebut mengangguk pelan sambil tersenyum.
"Dimana? Dimana dia?" Winda segera berlarian keluar dari ruangan kamarnya tanpa menunggu jawaban dari Pak Didi yang masih berdiri di dalam.
Lalu Winda menghentikan langkahnya ketika melihat sesosok laki-laki tampan dengan postur tubuh gagah sedang berdiri di depannya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya merasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Awalnya Elvano sedang duduk di sofa, ketika ia melihat Winda ia langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Nona Muda ...," sapa Ibu Anita
"Anita? Ternyata kamu benar disini?"
Mata Winda sudah berkaca-kaca saat itu.
"Ini benar anak saya kan An?"
Winda melemparkan pertanyaan pada Anita, tapi tatapannya lekat pada Elvano dengan kedua tangan yang sudah berada di kedua lengan Elvano.
"Iya Nona ... Dia adalah putra Nona," jawab Anita tersenyum.
Tanpa terasa wajah Ibu Anita juga sudah terasa panas karena suasana haru yang memenuhi ruang tamu.
Sedangkan Winda sudah memeluk tubuh putranya erat.
"Jadi kamu benar-benar Elvano Setiono? Putraku yang sudah menghilang sejak baru dilahirkan?"
"Maafkan Ibu nak! Maafkan Ibu!"
Winda sudah tidak bisa lagi mengontrol emosinya. ia menangis dengan sangat keras sambil memeluk tubuh anaknya yang sudah tak ingin ia lepaskan lagi.
Ibu Anita juga ikut menitikkan air mata, Pak Didi yang menyaksikan dari kejauhan pun ikut menitikkan air mata melihat semua yang dilakukan Ibu Winda terhadap putranya.
Sementara Elvano hanya diam membiarkan ibunya meluapkan semua rasa rindunya, ia sendiri juga sangat merindukan hari ini. Bisa dipeluk oleh ibu kandungnya sendiri.
Pelukan berlangsung kurang lebih selama 5 menit sebelum Winda melepaskan tangannya dari tubuh Elvano.
"Anita, terimakasih kamu sudah menjaga anakku hingga sebesar ini. Terimakasih An!" ucap Winda sambil melirik ke arah asisten pribadinya 23tahun silam.
Make up yang baru saja ia poles telah luntur terkena air matanya sendiri.
"Itu sudah menjadi kewajiban saya Nona," tanggap Ibu Anita sambil tersenyum
"Vano, apa kamu mau memaafkan Ibumu ini?" Winda kembali fokus pada Elvano.
Elvano menundukkan wajahnya sesaat dan mengangkatnya kembali.
"Ibu tidak perlu meminta maaf, Vano sudah tau semuanya, ini bukan salah Ibu." jawab Elvano lirih.
"Oh iya, Tuan Besar di mana?" sambung Ibu Anita yang tiba-tiba ingat dengan Kakek Elvano.
Sekarang giliran Winda yang menundukkan wajahnya sesaat sebelum mengangkatnya kembali.
"Ayah sudah meninggal sekitar 1 tahun yang lalu."
Sekali lagi Winda kembali menundukkan wajahnya sebelum melanjutkan kembali pembicaraannya.
"Sebelum ia meninggal, ia membongkar semuanya. Sejak saat itulah kami terus berusaha mencari keberadaan kalian, namun tak ada hasilnya sama sekali karena kami sama sekali tidak memiliki foto kalian."
Diam sesaat lagi, kemudian baru melanjutkan kembali.
"Sudah ribuan orang yang kami temui dengan nama Anita dan Elvano."
"Orang kepercayaan pun sudah banyak yang kami utus di berbagai kota, tapi tetap saja tidak ada hasil yang kami dapatkan."
Tepat seperti yang dikatakan oleh Bapak taksi tadi.
Gumam Anita di dalam hati
"Maafkan saya Nona, saya tidak seharusnya menyembunyikan Elvano dari Tuan dan Nona sejauh ini dan selama ini," sesal Ibu Anita.
"Selama ini kami tinggal di sebuah kota yang cukup jauh dari kota ini. Perjalanannya memakan waktu hingga 5 jam lamanya," jelas Ibu Anita.
" Tidak An, ini bukan salahmu. Justru aku yang harus berterimakasih padamu karena sudah menjaga Elvano dengan baik.
Huuuuuuh.
Winda membuang nafas kasar.
"Sudahlah, yang penting kalian sudah di sini sekarang,"
Winda kembali tersenyum bahagia, rasanya ia masih belum bisa mempercayai ini semua.
Sesaat kemudian ekspresi Winda berubah menjadi serius kembali.
"Vano, kamu mau kan memaafkan Kakekmu?" Winda melemparkan pertanyaan yang sangat berat.
Kali ini Elvano hanya terdiam. Di dalam hatinya ia memang masih merasa kecewa terhadap kakeknya yang sudah bertindak ceroboh itu.
Melihat Elvano hanya diam, Winda sepertinya mengerti putranya itu pasti masih belum bisa memaafkan kakeknya.
Ia pun memutuskan membiarkan Elvano lebih tenang dulu dengan tidak membahas hal yang terlalu berat di antara mereka.
"Eh, kalian berdua pasti sangat lelah, istirahat lah terlebih dahulu," tawar Winda.
Winda sebenarnya juga belum ingin menyudahi percakapan mereka, masih banyak yang ingin ia dengar dari Anita dan putranya. Namun ia juga tidak tega apalagi mendengar Anita menyebut perjalanan mereka ke sini memakan waktu hingga 5 jam.
"Pak Didi, tolong antarkan Elvano ke kamarnya!" Perintah Winda.
Winda dan William memang sudah menyiapkan sebuah kamar khusus untuk Elvano ketika tau anak mereka masih hidup.
"Baik Nyonya!" Jawab Pak Didi patuh.
Elvano dan Pak Didi kemudian berlalu dengan Elvano di belakang mengikuti langkah kepala pelayan yang menuntun dirinya menuju kamarnya.
"An, kamu masih ingat kan dengan letak kamar tamu yang ada di pojok sana?" tanya Winda sambil tersenyum
"Iya Nona, saya ingat,"
"Kamu istirahat di sana ya, saya akan menemanimu di sana," Ujar Winda
"Eh, tidak perlu Nona, saya akan ke sana sendiri," tolak Ibu Anita segan.
Tentu saja Anita merasa tidak enak majikannya yang mengantar dirinya.
"Tidak apa-apa An, kamu sudah saya anggap saudara sendiri. Kamu bisa panggil saya dengan nama saja sekarang," tawar Winda.
Kata-kata Winda kali ini membuat Anita tergelak dan terharu.
"Terimakasih Nona atas kebaikan Nona, tapi saya tidak bisa jika harus memanggil Nona dengan sebutan nama, maaf!" Jawab Anita kemudian yang menundukkan wajahnya.
"Kenapa? Kamu masih segan padaku? Anggap saja kita ini sebagai saudara. Tapi, ya terserah kamu saja sih jika tidak ingin memanggil namaku, lebih baik kita ke kamarmu sekarang yuk!" ajak Ibu Winda kemudian yang hanya ditanggapi senyuman dan anggukan dari Ibu Anita.
Kemudian mereka pun berjalan beriringan menuju kamar tamu.
Saking bahagianya Winda, ia sampai lupa menghubungi suaminya yang masih di kantor untuk memberitahukan kabar bahagia ini.