
Sementara di dalam ruangan Valen, Elvano dan Guru Raymon memang sudah selesai dengan aktivitas mereka. Tubuh keduanya terlihat sangat lemah. Dan tentu saja kondisi Elvano jauh lebih lemah, tepat seperti apa yang mereka takutkan.
Beberapa detik kemudian mereka semua telah tiba di depan ruangan Valen. Yuka kemudian membuka pintu yang ia kunci dari luar.
Jegrek!
Kedua belah pihak saling memandang pada saat pintu itu terbuka.
Elvano dan Guru Raymon masih duduk ditempat tidur Valen.
"Eh, kalian berdua juga sudah tiba?"
Guru Raymon bergegas turun dari tempat tidur, sementara Elvano masih berada di tempat tidur itu. Pandangannya masih buram, dan tubuh itu begitu kelelahan. Dia bahkan belum dapat melihat dengan jelas siapa saja yang ada di depan pintu sana.
"Kalian berempat apa mendapatkan bunga itu?" tanya Guru Raymon.
"Ya. Guru!" Dirly yang mengambil alih menjawab lalu juga menyodorkan penawar yang dimaksudkan oleh guru Raymon.
"Baguslah."
Kini Dirly memeng sudah berubah. Sejak kejadian di markas Blood team membuat dia sadar tidak sepenuhnya yang dia pikirkan benar selama ini adalah kebenaran. Apalagi pada saat Elvano meminta Gemilang untuk membawanya serta, walaupun dengan bahasa yang tidak begitu baik, Dirly tahu maksud itu adalah baik. Dan Dirly merasa tersentuh dengan kebaikan Elvano. Padahal jelas-jelas dia begitu jahat terhadap Valen. Juga telah membuat Elvano terluka parah. Namun Elvano masih saja menolongnya.
Kemudian Guru Raymon meraih apa yang diberikan oleh Dirly dan kembali melangkah menuju ke arah Valen untuk memberikan penawar tersebut padanya.
"Sekarang kamu bisa tenang Jeong Shu. Valen akan segera sembuh setelah ini."
Guru Raymon menatap Elvano dengan senyuman yang merekah. Begitupun dengan Elvano, ia ikut tersenyum lega.
"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Guru Raymon sesaat kemudian.
"Iya, aku baik-baik saja kok," jawab Elvano sambil tersenyum.
"Tapi kamu tidak terlihat baik. Mungkin lebih baik kamu beristirahat,"
"Tidak Guru, aku masih ingin menunggu kedatangan istriku. Apakah dia sudah ada di sini?"
Ruangan yang sebelumnya sedikit ramai dengan perbincangan kecil di dekat meja, tiba-tiba saja berubah hening seketika. Guru Raymon mulai menyadari ada sesuatu yang salah saat ini. Apalagi dia juga baru menyadari kedua orang yang baru datang tadi tidak begitu baik keadaannya.
"Maafkan kami Vano, Cheril ... dia ...,"
Suara ini seperti aku mengenalnya ....
"Kemana Cheril? Apa yang terjadi padanya?" tanya Elvano dengan nada rendah penuh kehawatiran.
"Dia kami kembalikan ke rumah orang tuamu, Vano," sambung pria yang lebih dewasa.
Elvano tersenyum pias. Lalu menuruni tempat tidur. Bersama Guru Raymon ia melangkah menuju ke arah meja perkumpulan orang banyak itu. Guru Raymon menuntun langkah Elvano yang tak terlihat baik. Guru besar itu sangat mengkhawatirkan keadaan Elvano saat ini.
"Apa kalian ingin mempermainkanku? Katakan dengan benar, dimana istriku sekarang?"
Saat ini posisi Elvano dan Guru Raymon telah berada di dekat meja perkumpulan itu.
Walaupun pandangan Elvano tetap saja tidak begitu jelas, celakanya penciumannya begitu tajam. Dia dapat mencium bau amis dar*h dari tubuh kedua orang ini.
"Kalian terluka? Apa yang terjadi sebenarnya? CEPAT KATAKAN!!" Elvano mulai menaikkan nada suaranya.
"Maafkan kami, Vano. Orang-prang itu berhasil membawa kabur Cheril pada saat kami sedang melawan orang yang sangat banyak itu. Sepertinya kami sudah meremehkan mereka." Pria yang lebih dewasa mengambil alih bersuara.
"Siapa yang melakukan itu? Apakah mereka?" tanya Elvano dengan suara keras penuh kebencian.
"Iya!" jawab pria itu menundukkan wajah.
Elvano menyipitkan matanya. Wajah itu penuh kebencian. Napasnya memburu cepat. Tubuh yang tadinya lemah tiba-tiba menjadi sangat kuat. Entah tenaga darimana yang tiba-tiba datang menghampirinya.
Kekhawatiran mereka akan Elvano pun semakin memuncak seiring dengan perubahan sikap yang ditampilkan oleh Sang Lion King itu.
Tap tap tap
"Kau mau kemana Jeong Shu?" tanya Guru Raymon cepat pada saat Elvano melangkahkan kakinya ke arah pintu.
"Tunggu! Aku ikut dengan mu."
Guru Raymon segera menyusul langkah Elvano. Begitu pun dengan yang lainnya. Mereka semua ikut menyusul langkah Elvano kecuali Yuka yang diminta oleh mereka tetap stay untuk menjaga Valen.
"Tunggu, lebih kau juga tidak ikut, Kakak," ucap Rein yang tuba-tiba menghentikan kaki mereka semua kecuali Guru Raymon. Guru besar itu telah melangkah lebih dulu.
"Memangnya kenapa? Aku harus ikut. Aku ingin menyelamatkan Cheril,"
"Benar yang Rein katakan. Kau terluka cukup parah. Jika kau ikut takutnya bukan membantu tapi malah membuat yang lainnya harus membantumu. Lebih baik kamu tetap tinggal saja, Kakak," sambung Zum.
"Tapi ...,"
"Adik-adikmu itu benar. Dengarkan mereka. Tetap tinggal di sini. Setidaknya kamu juga bisa melindungi Valen dan Yuka di sini."
Saat mendengar apa yang dikatakan oleh pria yang lebih dewasa ini Pria muda itupun menurut. Dan mereka semua kecuali dirinya dan Yuka, yang lainnya segera melangkah pergi menyusul Elvano dan Guru Raymon.
Kini gendang peperangan mulai ditabuh kembali oleh pihak musuh. Kedua petinggi perguruan Elang Muda bahkan turut turun tangan. Peperangan ini sudah pasti akan banyak memakan korban.
Entah berapa banyak jiwa yang akan melayang di tangan mereka.
Flashback on
Saat kedua orang, pria muda dan pria dewasa serta Cheril sedang berada di dalam perjalanan menuju ke arah gunung Elang Muda, mereka bertiga dihadang oleh beberapa anggota Blood team hitam.
"Hei, mau apa kalian?" tanya pria muda itu.
Hahahaha
"Kami menginginkan wanita itu!" jawab salah satu dari mereka tegas.
Tangan pria muda itu reflek merangkul tubuh Cheril yang berada di sampingnya. Membuat Cheril sedikit tersentak. Namun ia tahu, pria itu saat ini sedang ingin melindunginya dari musuh. Jadi Cheril pun tidak begitu mempermasalahkan hal ini.
"Jika kalian menginginkan wanita ini, langkahi dulu mayatku!"
Pada saat pria muda ini mengucapkan itu, tiba-tiba saja keluar sangat banyak anggota Blood team dari arah semak-semak.
Sesaat kemudian pertarungan pun terjadi di antara 2 lawan puluhan orang.
Sebenarnya dengan kemampuan Paman Guru itu saja, ia mampu menghabisi semua orang itu dalam sekejap jika ia mengeluarkan ilmu tertingginya. Hanya saja tepat seperti yang ia katakan tadi, dia terlalu meremehkan pihak lawan dengan hanya mengeluarkan beberapa jurus yang biasa saja.
Yang pada akhirnya mereka berdua sedikit terluka pada saat lengah dengan senjata tajam yang tiba-tiba saja hadir entah dari mana menggores kaki pria muda itu.
Setelahnya dengan leluasa beberapa pukulan keras pun dilayangkan oleh pihak musuh dengan memanfaatkan keadaan pihak lawan yang merasa kaget seketika.
Sementara di kejauhan Cheril yang berada agak jauh dari arena pertarungan juga sudah disekap oleh anggota mereka yang lainnya tanpa disadari oleh kedua orang ini. Sebab Cheril juga tidak dapat bersuara karena telah dibius dengan menggunakan sehelai kain yang sudah diberikan obat bius.
"Baiklah, jika kalian memang ingin merasakan ini, aku akan membuat kalian semua menyesal."
Pria dewasa itu mulai bangkit. Amarahnya mulai menyurut saat melihat partnernya itu terluka lebih parah.
Kira-kira mereka semua ada 50 lebih jumlahnya saat itu. Sekitar 5 orang telah berhasil membawa pergi Cheril dari sana. Dan sisanya masih bertahan di area pertandingan. Mereka akan melawan Sang Petinggi itu sekarang.
Satu per satu dari mereka maju menyerahkan nyawa begitu saja, sampai pada nyawa ke 5, mereka mulai menyerang pria ini secara bersamaan. Namun apa yang terjadi? dengan gerakan yang sangat indah dan ringan orang banyak itu dihempaskan dengan sangat kuat ke atas permukaan tanah hingga mereka tak mampu lagi untuk bangun kembali. Kini masih menyisahkan sekitar 10 orang lagi. Tak kenal menyerah, padahal sudah tau akan kalah. Ya, mereka juga tidak memiliki pilihan lain saat ini. Yang paling penting buat mereka, setidaknya apa yang sedang mereka lakukan saat itu dapat menjadi pengalihan yang sempurna agar kedua pria ini tidak sadar Cheril telah berhasil dibawa kabur oleh pihak musuh.
Tidak membutuhkan waktu dan tenaga yang terlalu banyak, semua musuh kini telah dikalahkan. Pria dewasa ini kembali ke arah pria muda itu yang terlihat sedang terduduk menahan goresan di kakinya yang cukup banyak mengeluarkan dar*h.
Lalu ia mengeluarkan sehelai kain dari dalam saku dan membalut serta mengikat kaki yang terluka itu. Dan sesaat kemudian pada saat mereka hendak beranjak kembali melanjutkan perjalanan mereka, mereka baru menyadari Cheril telah hilang.
"Ah Si*l!! Bagaimana bisa kita sampai terkecoh seperti ini? Kita harus mengejar mereka sekarang!" ucap pria yang lebih muda.
"Tidak. Kamu sedang terluka. Lebih baik kita kembali dulu ke Elang Muda. Nanti kita bahas ini bersama Raymon,"
"Tapi ...,"
"Jangan egois! Lagian kita juga tidak tahu sudah sampai dimana mereka saat ini."
Dan begitulah akhirnya pria muda itu memilih mengalah. Mereka pun memilih kembali lebih dulu ke Perguruan Elang Muda.