Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Tuan Muda?


Ketika mobil berhenti, Cheril segera membuka pintu mobil agar dapat keluar dari mobil itu secepat mungkin. Ia sudah sangat ingin berlari dari mobil itu untuk menjauhi laki-laki yang sangat menyebalkan itu.


Glek !


Pintu mobil segera terbuka padahal mobil masih belum berhenti seutuhnya.


"Heh ! Kamu mau cari mati ya? Kenapa membuka pintu mobil secepat itu? Tutup kembali !"


"Eh...


Tidak hanya Cheril yang tergelak, Niko pun ikut melemparkan pandangannya ke arah belakang karna tiba-tiba Elvano menjadi sangat murka.


"Heh ! Kau Niko. Jangan lihat-lihat !" Bentak Elvano ketika menyadari Niko sedang membalikkan wajahnya menatap kearah mereka.


Alhasil Niko pun kembali membalikkan wajahnya menghadap depan.


Iiish, Apa-apaan ini, jadi ikut kena marah juga aku.


Gumam Niko sembari mengusap wajahnya kasar. Padahal Niko hanya ingin tau apa yang terjadi sebenarnya walaupun ia sudah mendengar ucapan Elvano yang menyebutkan kalimat tadi dengan sangat lantang, Yakni prihal Cheril yang membuka pintu sebelum mobil benar-benar berhenti dengan sempurna. Ya, siapa juga yang tidak akan kaget jika ucapan Elvano yang sudah menggelegar seperti itu.


Para pengawal saja bisa mendengar suara itu. Mereka juga kaget dan menatap kearah mobil mencoba mencari tau apa yang sedang terjadi.


"Aku bilang tutup pintunya !" Sekali lagi Elvano berucap setengah berteriak.


Brak !


Akhirnya Cheril memilih menutup kembali pintu mobil yang sudah berhasil dibukanya itu.


Ah, apa maunya sih laki-laki menyebalkan ini.


"Heh ! Apa kamu sangat ingin lari dariku ya? Bahkan mobil belum berhenti sepenuhnya kamu sudah membuka pintu mobil begitu cepat." Kali ini Elvano sudah menurunkan volume suaranya.


Niko yang mendengar ucapan Elvano pun tertawa kecil.


Haha..


"Ternyata itu masalahnya. Sungguh sangat memalukan !" Ucap Niko pelan seperti berbisik. Ia tak ingin Elvano mendengar itu, tentu saja ia akan sangat murka.


"Maaf !" Ucap Cheril singkat.


Padahal dalam hatinya ;


Iya Tuan Elvano. Aku memang ingin segera kabur darimu. karna kamu sangat menyebalkan. Aku memang sudah tak tahan berada disini walaupun hanya 1detik lagi.


"Sekarang, Cium pipiku lebih dulu !" Ujar Elvano lagi sembari menunjuk pipinya dengan jari telunjuknya.


Mendengar ucapan Elvano membuat Cheril melototkan matanya seketika. Niko juga sudah semakin geli melihat tingkah Elvano yang sama sekali tidak dapat ia tebak sebelumnya akan melakukan hal itu.


"Kenapa diam saja? Ayo cium !" Elvano kembali memberi perintah karna Cheril masih belum bergerak.


Heh.. Apa kamu tidak melihat ya, Niko sudah tersenyum geli seperti itu. Kamu sungguh tau tau malu ya, seeenaknya saja main cium-ciuman dimana pun kamu mau.


Aaah.. Dasar laki-laki aneh.. Kenapa kamu seaneh ini sih..


Cheril terlihat mengerutkan dahinya berulang kali.


Melihat Cheril yang seperti itu, Elvano tentu saja sudah hendak murka kembali.


"Ka....


"Eh, BAIK BAIK ! Aku akan mencium mu !" Jawab Cheril sesegera mungkin saat Elvano sudah akan memulai membuka mulutnya untuk berucap.


Ia pun tersenyum puas mendengar jawaban Cheril.


Cheril pun mulai mendekatkan wajahnya kearah pipi Elvano, dengan wajahnya yang sudah memerah karna merasa malu pada orang yang ada dibarisan depan. Yakni malu sama Niko.


Sesaat setelah bibir Cheril sudah benar-benar dekat dengan pipi Elvano, tiba-tiba ia malah menolehkan wajahnya berhadapan dengan Cheril yang otomatis membuat bibir Cheril menempel tepat dibibir miliknya. Seketika wajah Cheril pun sudah bertambah merah dan ia segera kembali ke posisinya semula.


"Wah, ternyata kamu sangat menyukai bibirku ya? Aku menyuruhmu mencium pipiku, kamu malah ingin mencium bibirku." Ucap Elvano seenak jidatnya sambil tersenyum mengejek.


"Eh...


Cheril kembali tergelak mendengar ucapan Elvano yang seenaknya itu.


Siapa juga coba yang ingin mencium bibirnya. Bukan dirinya sendiri yang sengaja membalikkan wajahnya. Aaaahhh.. Sungguh laki-laki menyebalkan.


Lagi-lagi Cheril hanya berani berucap didalam hatinya saja. Ia tidak berani berkata secara langsung.


"Yasudah, sekarang kamu boleh turun !" Ucap Elvano akhirnya.


Akhirnya kamu puas juga mengerjai istri barumu itu Tuan Muda.


Gumam Niko masih sesekali cengengesan karna sangat geli dengan tingkah Tuan Muda nya itu.


Dan setelahnya ia juga dengan segera menutup kembali pintu mobil itu lalu melangkahkan kakinya kearah rumah sewa secepat mungkin.


Sementara Elvano juga tak kalah cepatnya menurunkan kaca mobilnya. Lalu ia berteriak pada kedua pengawal yang ada di depan ruang sewa.


"Pengawal, kalian berdua harus menjaga istriku itu dengan baik ya, jangan biarkan dia kabur dari sana !" Teriak Elvano yang sekali lagi berhasil mengukir tawa kecil dihati Niko.


Cheril pun sudah menutup wajahnya yang sudah bertambah merah dengan kedua telapak tangannya.


Ah, kenapa laki-laki itu bisa berkata seperti itu sih, apa ia sungguh tidak memiliki urat malu ya.


Sedangkan para pengawal pun juga ikutan tergelak. Mereka berdua saling melemparkan pandangan mereka satu sama lain, lalu juga melemparkan pandangan mereka kearah Cheril. Masih berusaha mencerna ucapan majikan mereka. Dan kemudian juga segera menjawabnya sebelum Elvano mengucapkan untuk yang kedua kalinya.


"Baik Tuan Muda !" Ucap kedua pengawal itu hampir bersamaan.


'Eh, apa yang mereka katakan tadi, Tuan Muda?'


Sementara Cheril malah sangat bingung mendengar kedua pengawal itu menyebut Elvano dengan sebutan Tuan Muda. Ia sedikit mengerutkan dahinya.


"Bagus ! Kalian akan aku beri bonus jika berhasil melaksanakan tugas kalian dengan baik !" Tambah Elvano lagi yang membuat Kedua pengawal itu merasa sangat senang tentunya mendengar ucapan Elvano yang satu ini.


Setelahnya Elvano pun memerintahkan pada Niko untuk segera melajukan kembali kendaraannya menuju ke arah gedung Astra Investama Group.


"Kita jalan sekarang Nik !" Ucap Elvano kemudian masih sambil senyum-senyum.


"Eh, Baik Tuan Muda !" Jawab Niko sembari sedikit memutar wajahnya melirik kearah Elvano. Dan ia dapat melihat senyuman yang terukir disana.


Ternyata dengan mengerjai wanita itu bisa membuat dia sesenang itu ya.


Sesaat kemudian mobil mereka pun sudah meninggalkan rumah sewa itu menuju ke gedung Astra Investama Group yang hanya berjarakkan belasan ruko saja.


Menyisakan Cheril dengan seribu tanya yang bersemayam didalam kepalanya.


Cheril pun berusaha mencari informasi masih dari kedua pengawal itu ketika mobil Elvano dan Niko sudah tak terlihat lagi.


"Maaf Pak, saya mau bertanya pada kalian apa boleh?" Ucap Cheril memulai pembicaraan.


"Eh, Boleh Nona Muda, apa yang ingin anda tau?" Jawab salah satu dari mereka. Ya, kali ini pengawal itu memanggilnya dengan panggilan Nona Muda, setelah mendengar Tuan Muda nya menyebut Nona yang ada dihadapannya itu sebagai istrinya.


Cheril sebenarnya ingin protes prihal Nona Muda, tapi yasudahlah.. Tidak terlalu penting juga pikirnya.


Ia pun kembali melanjutkan pembicaraannya setelah mendapat lampu hijau dari salah satu pengawal itu.


"Tadi kalian memanggil Elvano dengan sebutan Tuan Muda kan?"


Kedua pengawal itu mengangguk bersamaan.


"Memangnya Elvano itu siapa ya? Kenapa dia mendapatkan gelar Tuan Muda?" Tambah Cheril lagi.


Kedua pengawal inipun kemudian saling bertatapan satu sama lain, mereka baru menyadari, ternyata istri Tuan Muda nya itu masih belum tau perihal identitas aslinya itu.


Pantas saja istri nya itu ditempatkan ditempat ini, Pikir kedua pengawal itu bersamaan. Akhirnya mereka bisa menemukan jawaban dari rasa penasaran mereka juga.


Namun tentu saja mereka tidak akan berani mendahului majikannya itu.


"Maaf Nona, kami tidak bisa menjawab ini." Jawab salah satu pengawal lainnya.


"Eh...


'Ternyata mereka takut untuk menceritakannya. Aku jadi semakin penasaran. Apa yang sudah terjadi sebenarnya?'


Cheril akhirnya hanya bisa menyimpan rasa penasarannya itu dalam-dalam.


Lalu ia pun ingin segera membuka pintu rumah itu, Cheril yang sudah siap untuk membuka pintu, segera direbut kuncinya oleh salah satu pengawal yang ingin membantunya membukakan pintu.


"Eh... Aku bisa sendiri kok." Ucap Cheril kemudian.


"Tidak apa-apa Nona, ini sudah bagian dari tugas kami." Jawab pengawal itu.


'Apa seorang pengawal bahkan harus membukakan pintu untuk majikannya?'


Sebuah pemikiran komplek menghampiri kepala Cheril, yang akhirnya ia pun harus membiarkan dirinya dilayani sepenuhnya.


Jegrek !


Pintu pun sudah dibukakan untuk nya, ia tinggal masuk kedalam rumah, lalu pengawal itu Kembali menutup pintu itu dan menguncinya dari luar.


"Eh, kok dikunci dari luar sih? Jadi tujuan dia membukakan pintu untukku itu karna alasan ini? Aaah.. Aku sungguh sudah terlalu kepedean telah berpikir dia sedang melayaniku sebagai majikannya."


Huuuuuuuh


Cheril akhirnya hanya bisa membuang nafas kasar.