
Sementara Niko sendiri sudah menuju kearah lift yang ada di rumah mewah itu untuk menuju ke lantai 3, Ia bisa menebak dengan baik, pasti Elvano sedang ada disana. Biasanya ia masih berolahraga jam segitu. Lantai 3 memang hanya ada Ruangan untuk Gym, Ruang karoke juga ruang untuk berkumpul jika sedang ada acara keluarga ataupun acara pertemuan kecil dengan para kerabat.
Saat ia tiba diruang Gym, ia memang menemukan Elvano sedang ngeGym disana. Ia sudah melakukan gerakan pendinginan saat itu.
"Eh, Nik. Tumben jam segini kamu sudah disini?" Ucap Elvano sambil melirik ke arah Niko.
Saat itu waktu menunjukkan pukul 8.30.
"Ya, kan kamu menyuruhku menjemput Cheril dan membawanya ke salon pagi ini." Jawab Niko.
"Jadi kamu sudah melakukannya?"
"Ya, sudah ! Cheril sudah di bridal sekarang !"
"Terus kenapa kamu tidak mengabari ku tadi?"
"Tidak apa-apa, Cheril dandannya masih lama kok. Aku sudah menanyakan pada orang salon, dandannya bisa memakan waktu 1jam paling cepat." Ujar Niko kemudian.
"Ooh begitu ! Yasudah, aku bersiap-siap dulu ya !" Ucap Elvano setelah merasa cukup dengan gerakan pendinginan yang telah ia lakukan.
Niko hanya manggut-manggut saja tanpa menjawab apapun.
Ia kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya, memilih memainkan game kesukaannya sembari menunggu Elvano.
"Heh ! Ayo Tunggu dikamarku ! Kenapa masih disana?" Ucap Elvano ketika melihat Niko malah bersantai di tempat duduk yang ada didalam ruangan Gym. Sedangkan dirinya sudah berdiri didepan pintu ruangan Gym bersiap untuk turun ke lantai 2 dimana kamarnya berada.
"Oh, iya ya. Ayo !" Ucap Niko kemudian. Lalu segera berjalan kearah Elvano.
Kemudian kedua laki-laki ini pun menuju ke arah tangga menuju ke lantai 2.
Saat memasuki kamar, Elvano langsung menuju kamar mandinya meninggalkan Niko yang duduk santai disofa dalam kamarnya sembari melanjutkan memainkan game favoritnya yang ada didalam ponsel miliknya.
Sesaat kemudian Elvano pun sudah tampak rapi dengan pakaian formalnya.
"Ayo kita turun sekarang !" Ucap Elvano kepada Niko.
"Eh, Ayo !" Jawab Niko singkat sembari memasukkan kembali ponselnya kedalam saku jasnya.
Kemudian keduanya kembali mengarah ke arah tangga kali ini menuju ke tangga yang terhubung kelantai paling bawah.
Dibawah sana sudah ada Ayah dan Ibu Elvano yang sedang duduk dimeja makan, perdebatan sengit yang terjadi diantara mereka telah usai. Saat ini mereka sedang menunggu Elvano untuk makan pagi bersama.
"Selamat pagi Ayah, Ibu !" Ucap Elvano ketika melihat kedua orangtuanya sedang duduk dimeja makan.
"Selamat pagi Vano !" Balas Ayah dan Ibunya hampir berbarengan.
"Eh, Niko, Ayo ikut sarapan bersama !" Ucap Ibu Winda.
"Eh. Saya...."
"Tidak perlu Bu, Aku dan Niko sudah akan jalan, ini Vano makan dijalan saja !" Ucap Elvano memotong pembicaraan Niko sembari mengambil 1 buah roti lapis ditangannya.
Hup !
Elvano menggigit satu gigitan roti lapis.
"Kamu mau juga Nik?" Tak lupa Elvano juga menanyakan Niko.
"Eh, tidak usah Tuan Muda !" Jawab Niko.
"Jadi kamu tidak makan dulu Vano? Kenapa harus buru-buru seperti itu?" Tanya Ibu Winda.
"Tidak usah Bu, ini kan juga sudah makan. Ada kerjaan yang harus diselesaikan Bu. Vano jalan dulu ya Bu, Yah !" Ucap Elvano lagi sambil berpamitan.
"Kami pergi Nyonya, Tuan !" Ucap Niko sambil menundukkan Kepalannya. Niko juga ikut berpamitan.
Kemudian kedua orangtua Elvano mengangguk pelan dan berpesan pada mereka supaya berhati-hati dijalan.
-----------------------
Elvano dan Niko sudah tiba di bridal.
Mereka segera melangkah masuk kedalam bridal dan ada salah satu karyawan yang menyambut mereka saat itu.
"Maaf Tuan, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Karyawan itu.
"Pengantin wanita yang sedang berdandan disini apa sudah selesai?" Niko yang menjawab pertanyaan karyawan itu yang Kemabli melempar pertanyaan.
"Oh, iya, sebentar lagi selesai Tuan. Maaf yang mana pengantin prianya? Apa tidak perlu didandani juga?" Tanya karyawan itu lagi.
Niko pun melemparkan pandangannya kearah Elvano yang hanya memasang wajah datarnya.
"Sepertinya tidak perlu Nona, dia sudah seperti seorang pengantin kan?" Jawab Niko masih menatap Elvano kali ini lebih lekat.
Membuat wanita itu ikut melirik kearah Elvano.
'Oh, ini pengantin prianya? Dia memang sudah sangat tampan. Pakaiannya malah bisa 10x lebih mahal dari jas pengantin sewaan dibridal ini, sepertinya dia bukan dari kalangan biasa'
Karyawan itu memandang Elvano sambil berkata-kata dalam hatinya.
Dan ia pun sedikit heran kenapa orang berkelas seperti Elvano malah memilih berdandan dibridal sederhana seperti ini.
"Eh, Nona, kenapa menatapku seperti itu?" Elvano mulai murka karna wanita itu masih terus menatapnya.
"Eh, ma-maaf Tuan !" Ujar karyawan itu sedikit ketakutan, ia pun menundukkan wajahnya.
Niko saja sedikit tersentak, apalagi wanita itu.
Ketika mendengar suara keributan pemilik bridal pun keluar dari ruang dandan diikuti Cheril dibelakangnya. Cheril memang sudah selesai didandan saat itu.
"Ada apa ini ribut-ribut?" Tanya pemilik bridal.
"Maaf Nyonya, saya yang salah ! Ucap karyawannya.
Sementara Elvano dan Niko sudah melemparkan pandangan mereka kearah pemilik bridal itu malah menatap kearah Cheril lekat. Karna saat itu Cheril berdiri tepat dibelakang pemilik bridal itu.
Melihat kedua pria itu menatap kearah belakang nya, pemilik bridal pun paham, mereka pasti sedang terpanah melihat pengantin wanita yang sangat cantik itu.
Pemilik bridal pun tersenyum.
Cheril sendri ia sesekali menundukkan wajahnya, sesekali juga mengangkatnya, ia juga sangat takjub dengan penampilan Elvano. Penampilan Elvano itu mengingatkan dirinya akan pertemuan malam itu. Saat ia bertemu Elvano untuk pertama kalinya setelah ia menikah dengan Jimmy.
"Gimana Tuan? Pengantin wanitanya cantik ya?" Ucap pemilik bridal.
"Iya, cantik !" Jawab Niko.
Elvano malah sudah mulai murka ketika mendengar Niko menyebutkan kata itu. Ia pun melototkan matanya kearah Niko membuat Niko menelan ludahnya. Dalam hati ia berkata;
Biasa saja kali Tuan Muda. Hanya berkata begitu saja sudah seperti ingin memakan ku saja.
"Jadi, ini pengantin prianya?" Tanya pemilik bridal itu lagi sambil menatap Elvano. Kali ini ia juga sedang mengagumi laki-laki itu. Tentu saja ia juga bisa menilai penampilan pria yang ada dihadapannya itu. Ia yakin Elvano bukan dari kalangan bawah, ia jadi ikutan heran pasangan ini malah memilih bridal sederhananya untuk melakukan foto prewedding.
Sedangkan Elvano hanya diam saja dengan wajah datarnya tanpa menjawab apapun. Akhirnya Niko juga yang menjawab.
"Iya Nyonya ! Dia pengantin prianya." Ucap Niko singkat.
"Wah, sepertinya kalian pasangan yang cocok ya ! Satunya cantik, satunya juga sangat tampan !" Ucap pemilik bridal memuji pasangan itu.
"Ayo Tuan, silahkan masuk kedalam ! Sepertinya kita bisa langsung masuk ke sesi foto-fotonya. Tuan sudah tidak perlu diapa-apakan lagi. Penampilan Tuan sudah sangat sempurna." Tambahnya lagi.
Kemudian Elvano dan Niko pun mengikuti pemilik bridal itu masuk kedalam bridal. Dan melangkahkan kakinya kearah tangga menuju lantai atas tempat mereka akan menggelar foto prewedding yang sekaligus akan menjadi bukti bahwa mereka sudah menikah.