
Saat ini Cheril dan Elvano sedang duduk di meja makan untuk sarapan. Terlihat beraneka ragam makanan sehat tersaji di atas meja. Cheril kemudian mengambilkan nasi ke piring Elvano, juga ke piringnya sendiri, dan mereka sudah siap untuk melaksanakan aktivitas mereka.
Namun baru saja Cheril hendak mengambilkan sayur-mayur ke dalam piringnya dan juga piring Elvano, tiba-tiba bel di dalam kastil itu berbunyi cukup nyaring.
TING NONG! TING NONG!
"Sepertinya ada tamu, sayang. Bukankah katamu tidak ada yang tau tentang tempat ini?" tanya Cheril agak heran.
"Ya ... Seharusnya memang begitu. Tapi sepertinya aku tau siapa yang datang bertamu," pendapat Elvano yakin.
"Siapa sayang?" tanya Cheril penasaran.
Ehem ....
Belum sempat Elvano menjawab, tiba-tiba Bibi Nois muncul di hadapan mereka.
"Maaf Tuan Muda ... Apa ...,"
"Biarkan saja dia masuk!" tanggap Elvano sebelum Bibi Nois menyelesaikan ucapannya.
"Baik Tuan Muda!" jawab Bibi Nois dan segera berlalu dari hadapan Cheril dan Elvano menuju ke arah pintu utama.
Elvano memang sudah bisa menebak apa yang ingin diucapkan oleh Bibi Nois. Dan Elvano sangat yakin, orang yang menekan bel itu pasti adalah laki-laki tetangga barunya itu.
Ternyata dia memang sengaja membuntutiku.
Kali ini dia juga yakin, laki-laki tersebut sedang membuntuti dirinya. Hanya saja Elvano masih belum tau pasti, apa yang menjadi tujuan laki-laki itu. Sebab jika memang hanya kebetulan saja, tak mungkin kan dia bisa mengetahui Elvano tinggal di kastil ini.
"Sayang, kamu belum menjawabku. Memangnya siapa yang datang bertamu?" cecar Cheril.
"Ehm? Sebentar lagi kamu juga tau ... Makanlah dulu! Biarkan orang itu disambut oleh Bibi Nois saja," tanggap Elvano santai.
"Begitu ya? Baiklah!" jawab Cheril singkat dan segera melanjutkan aktivitas tangannya untuk mengambil sayur-mayur ke dalam piringnya juga piring Elvano.
Sekalipun Cheril merasa penasaran, ia juga tidak memiliki keinginan untuk bertanya lebih banyak lagi. Sebab ia tau, sekeras apapun ia berusaha, Elvano tidak akan menjawab nya. Jadi Cheril lebih memilih menuruti perintah Elvano untuk melanjutkan kembali aktivitas makannya. Lagian tidak lama lagi dia juga akan tau siapa tamu itu.
~ Sekitar 2 menit kemudian ~
"Wah ... Sepertinya sangat enak ... Apa aku boleh bergabung?"
"Ma-maaf Tuan Muda, Tuan ini memaksa masuk ke dalam ... Padahal saya sudah meminta nya untuk menunggu di ruang tamu," jelas Bibi Nois.
"Ya sudah ... Tidak apa-apa, Bi ... Dia memang tidak pernah belajar tata krama," cibir Elvano sinis.
Ciih ... Haha ....
Jika laki-laki tersebut hanya tertawa kecil menanggapi perkataan Elvano.
Sementara Cheril malah sudah membulatkan matanya ketika melihat siapa yang sedang berdiri di hadapan mereka saat itu.
"Geral?"
Yup, tepat seperti yang kalian pikirkan, itu adalah Gerardo. Mantan kekasih Cheril.
"Hei, jika kamu tidak ingin aku usir, jangan menatap istriku seperti itu!" pinta Elvano masih dengan nada rendah.
Tumben loh dia masih bisa bersikap lembut seperti itu. Haha. Biasanya juga langsung gaspol.
Ehem ....
Tepatnya Cheril dan Geral sedang saling bertatap. Alasan Cheril menatap mantan kekasihnya itu sih sudah pasti karena kaget, tapi arti dari tatapan Geral, entahlah apa maksudya.
"Boleh kan aku bergabung dengan kalian?" tanya Geral sekali lagi hanya sekedar basa-basi.
"Cih! Memangnya jika aku berkata tidak, kamu akan menurut?" singgung Elvano.
Memang pada saat itu Geral sudah langsung duduk di salah satu kursi yang terdapat di dekat meja makan sebelum mendapatkan tanggapan apapun dari Elvano.
Namun ia masih cukup tau diri kali ini. Ia lebih memilih duduk di dekat Elvano dan juga tidak berhadapan langsung dengan Cheril.
Sarapan yang seharusnya hanya digelar oleh Cheril dan Elvano saja, ternyata malah menjadi makan bertiga. Dan Elvano juga sengaja bersikap sangat romantis terhadap Cheril yang bertujuan membuat Geral merasa tidak nyaman.
"Ayo buka mulutmu, sayang! " pinta Elvano sambil mengarahkan 1 sendok nasi lengkap dengan sayur-mayur ke arah mulut Cheril.
"Ehm?"
Tentu Cheril sedikit kaget dengan sikap Elvano yang tidak biasa itu.
Hup!
Mau tidak mau Cheril pun membuka mulutnya dan menerima suapan dari Elvano sambil sesekali melirik ke arah Geral yang terlihat sedikit kesal.
"Sayang, kamu juga suapi aku! Ak!" perintah Elvano sambil membuka mulutnya manja.
"Ehm?"
Kali ini Cheril sedikit membulatkan matanya menatap Elvano lekat yang ditanggapi anggukan dari Elvano memberikan isyarat supaya Cheril segera melaksanakan apa yang ia perintahkan.
Kemudian dengan ragu, Cheril mulai menggerakkan tangannya untuk mengambil sedikit nasi beserta lauk-pauk dan mengarahkan ke arah mulut Elvano. Hanya saja kali ini Cheril tidak melemparkan pandangannya ke arah Geral lagi. Malah Elvano yang melirik pria itu yang terlihat sedang tertunduk lesu. Sepertinya Geral sedang dibakar api cemburu. Dan tentu saja Elvano merasa sangat puas berhasil dengan misinya itu.
Acara makan bersama masih berlanjut hingga kurang lebih 20 menit lamanya.
Usai makan pagi, Elvano mengajak Geral ke arah ruang santai. Sementara Cheril ia perintahkan untuk masuk ke dalam kamar lebih dulu. Sebab Elvano merasa sangat risih dengan tatapan Geral terhadap istrinya itu.
"Katakan sekarang, untuk apa kau pindah ke samping kastilku?" tanya Elvano sinis.
"Ehm? Ternyata kamu sudah tau ya?"
"Tolong jangan membuat aku bertanya sekali lagi Geral. Kau masih aku anggap sahabat saat ini. Karena itu aku masih menerima mu dengan baik," peringat Elvano.
Haha
"Sepertinya kamu terlalu banyak berpikir. Hanya ingin mengunjungi sahabat sendiri apa harus memiliki alasan khusus?"
"He ... Aku ini bukan orang bodoh Geral. Cepat katakan! Aku tidak memiliki waktu yang banyak untuk meladeni mu,"
Huuuuh!
"Baiklah jika kamu memang sangat memaksa. Akan aku beritahukan padamu. Aku masih belum merelakan Cheril ... Aku merindukan dia, makanya aku ke sini," jelas Geral santai.
Elvano sangat marah mendengar itu. Namun seperti biasa, ia masih bisa bersikap dengan sangat tenang. Asal seseorang itu tidak berhubungan langsung dengan istrinya, ia tetap bisa bersikap tenang.
Lagian Elvano juga belum yakin hanya alasan itu saja.
"Apa benar hanya itu saja?" Elvano mencoba mengorek informasi lebih dalam.
"Ya, memangnya apalagi? Tentu saja hanya itu," jawab Geral santai.
Ternyata dia juga sangat pintar dalam bersilat lidah. Aku harus lebih berhati-hati terhadap orang ini.
"Kalau memang hanya itu alasanmu, sekarang kamu boleh pergi dari sini. Aku tidak mengijinkan mu bertemu dengan Cherilku!" ucap Elvano ketus.
"Ehm? Kenapa tega begitu? Apa tidak boleh aku berbicara dengan nya sebentar saja?" bujuk Geral.
"Tidak! Silahkan pergi! Atau perlu aku panggilkan satpam?" ancam Elvano.
Memangnya kastil ini ada satpam ya ... Aku tidak melihat siapapun di luar tadi.
"Masih belum mau pergi?" Elvano mengulang ucapannya.
"Ba-baiklah! Besok-besok boleh ya aku datang bertamu lagi ...," singgung Geral sambil tersenyum mengejek juga menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
Sedangkan Elvano hanya diam tanpa menanggapi apapun.
Sesaat kemudian, Geral pun berlalu meninggalkan kastil itu. Dan Elvano memilih kembali ke kamarnya menemui Cheril dengan hati gundah gelisah.
Selain ia masih mencurigai gerak-gerik Geral yang mencurigakan, Elvano sebenarnya juga takut Geral sungguh akan merebut Cheril dari sisinya.