
Sesaat setelah kepergian Elvano, Geral malah datang menghampiri Cheril.
Saat itu Cheril masih berdiri di luar. Dan pada saat melihat penampakan Geral yang sedang berdiri di depan gerbang yang masih terbuka, Cheril sudah hendak membalikkan tubuhnya untuk masuk ke dalam kastil.
"Tunggu Cheril!" ucap Geral menahan Cheril dan kalimat pendek itu memang berhasil menghentikan langkah Cheril.
"Mau apa lagi kamu ke sini?" tanya Cheril ketus.
He ....
Ekspresi Geral sungguh tak dapat diartikan saat itu.
"Apa kamu benar-benar sudah melupakan cinta kita? Aku masih mencintaimu Cheril! Malah semakin besar," ungkap Geral lirih.
"Apa maksudmu? Aku sudah memiliki Vano, Geral. Tentu saja aku sudah tidak mencintaimu lagi. Dan aku mohon, lupakan tentang hubungan kita yang dulu. Tolong jangan ganggu aku lagi!" tegas Cheril yang segera masuk ke dalam kastil dan menutup pintu rapat.
Cheril tidak ingin ada kesalahpahaman lagi yang terjadi di antara dirinya dan Elvano. Jadi ia pun tak ingin menerima Geral di tempat itu.
------
3 jam telah berlalu
Tok tok tok tok
Bibi Nois mengetuk pintu kamar Cheril membuat Cheril yang sedang asyik membaca novel sedikit tersentak.
"Siapa?" tanya Cheril.
"Ini saya, Nona," jawab Bibi Nois singkat.
"Oh, masuk saja, Bi!"
Jegrek!
"Ada apa Bi Nois?" tanya Cheril setelah asisten rumah tangganya itu sudah berdiri di dalam kamar.
"Anu Nona, Tuan yang tadi masih ada di luar. Dan dia terus menggedor pintu meminta bertemu dengan Nona," jelas Bibi Nois yang membuat mata Cheril sedikit membulat.
Apa maunya sih orang itu ...
"Biarkan saja, Bi. Tidak perlu dibukakan pintunya," perintah Cheril.
"Baik, Nona!"
Setelahnya Bibi Nois pun pergi meninggalkan kamar majikannya itu.
Saat ini Cheril memang sedikit bingung harus melakukan apa, sebenarnya ia juga merasa kasihan pada Geral. Setidaknya Geral juga pernah menjadi bagian dari hidupnya. Lagian perlakukan Geral terhadap Cheril juga sangat baik dan sopan selama mereka menjalin hubungan dulunya.
Sungguh tak ada keinginan bagi Cheril untuk memusuhi Geral. Yang dia inginkan sesungguhnya adalah perpisahan secara baik-baik. Dan mereka tetap bisa menjadi teman baik. Apalagi Geral dan Elvano juga bersahabat baik.
"Ya Tuhan, aku harus bagaimana sekarang? Apa aku harus menemui dia?"
Drrt drrt drrrt
Cheril sedikit kaget mendengar bunyi ponselnya sendiri karena saat itu ia sedang melamun memikirkan Geral.
"Eh ... ini kan nomor ponsel Geral yang waktu itu? Ternyata masih ada? Dan darimana dia bisa tau nomor ponselku yang sekarang?"
Cheril kemudian membuka pesan singkat yang dikirimkan oleh Geral.
Aku akan terus menunggu mu di sini Cheril. Sampai kapanpun akan terus di sini.
Huuuuh!
"Sepertinya aku harus menemui nya. Jika dia terus di sana hingga Vano kembali, masalah besar bisa terjadi lagi."
Akhirnya Cheril memutuskan keluar dari kamar untuk menemui Geral.
-----
Di gedung Astra Investama group saat ini Elvano baru saja keluar dari ruang rapat. Ia sedikit tersentak ketika mengetahui ada telepon yang masuk yang berasal dari kastil ketika ia menghidupkan kembali ponselnya setelah dichanger. Saat rapat berlangsung ponsel Elvano memang kehabisan batre.
Selain panggilan tak terjawab, juga terdapat sebuah pesan singkat yang dikirimkan oleh Bibi Nois pada Elvano.
Tuan Muda, pemuda yang waktu itu datang ke kastil untuk mengacau, apa Tuan Muda bisa kembali sebentar? Dia terus memaksa ingin bertemu dengan Nona!
Mata Elvano hampir meloncat keluar membaca pesan itu.
Bibi Nois terpaksa mengirimkan pesan untuk Elvano karena Geral terus menggedor pintu walaupun sudah diperingati oleh Pak Teo. Sementara Bibi Nois sendiri tidak berani membukakan pintu sama sekali. Ia juga tak menyangka, akhirnya Cheril akan menerima kedatangan Geral.
"Nik, kamu tolong handel semua pekerjaanku. Tentang proyek penting yang sedang kita jalankan itu harus segera kamu atasi. Aku ingin itu segera selesai," titah Elvano.
Proyek yang dimaksud oleh Elvano adalah tentang pembangunan pantai yang dulu pernah dibahas olehnya dengan Manager Li. Sekarang Ia meminta Niko yang menanganinya. Elvano memiliki sebuah keinginan lain atas pantai itu saat ini. Yang sebelumnya hanya ingin membangun fasilitas umum saja, kini semua telah berubah total.
"Aku ada urusan penting, dan harus pergi sekarang!" lanjut Elvano yang langsung ngacir tanpa menunggu jawaban dari Niko.
Huuuh!
"Sungguh seenaknya saja ... Bagaimana dengan pertemuan selanjutnya coba? Kan masih ada pertemuan di jam 2 nanti."
Dengan sangat terpaksa Niko pun harus membatalkan janji temu yang sudah ditetapkan itu.
Setelah kepergian Elvano, Tika datang menghampiri ruangan Presdir. Di sana masih ada Niko.
Jegrek!
Tika membuka pintu tanpa mengetuk nya sama sekali.
"Hei, Nona! Apa anda tidak tau sopan santun?" cibir Niko.
"Diam kamu! Mana Vano?" tanya Tika ketus.
"Untuk apa anda mencari Tuan Muda kami?" giliran Niko yang melempar pertanyaan.
He ....
"Hei, Nona! Semua yang berurusan dengan Tuan Muda Elvano, berhubungan denganku. Apalagi jika anda hanya ingin mengganggu hubungan Cheril dengan Vano. Jelas anda harus berhadapan dengan saya! Paham?" peringat Niko.
Ciih!!
"Ternyata kamu sangat suka ya dijadikan kacung?" sindir Tika.
"Apa maksud mu Nona? Daripada Nona terus mengganggu hubungan Cheril dan Vano mendingan anda bersama saya saja. Bagaimana?" goda Niko sambil memainkan alisnya atas bawah.
Ciiih!!
"Memangnya kamu pikir kamu siapa?"
"Saya Niko ... Saya adalah Niko, Nona!"
Huuuh
"Kalau Vano tak ada di sini lebih baik aku pergi saja!"
Dengan wajah kesal, Tika melangkah pergi dari ruangan Presdir meninggalkan Niko yang tersenyum puas atas kemenangan yang ia dapatkan.
Dari kesimpulan ini, bisa dipastikan, bukan Niko yang memberitahukan tentang alamat kastil itu pada Tika. Lalu siapa yang memberitahu Tika tentang letak kastil tersebut?
-------
~ Back to Elvano Setiono alias Jeong Shu.
Elvano melangkah dengan terburu-buru menuju lift khusus menuju lantai bawah. Setibanya di bawah, ia juga melangkah dengan sangat terburu-buru menuju mobil. Setelah itu ia pun segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju kastil dengan perasaan tak menentu.
Dan tak disangka, ternyata mobil Elvano malah diikuti oleh salah satu kelompok mafia yang sejak 2 hari yang lalu terus mengawasi gerak-gerik Elvano. 2 hari ini Elvano mengetahui tentang itu, jadi Elvano cukup waspada hingga mereka gagal mengikuti dirinya. Namun lain halnya dengan hari ini. Karena terlalu terburu-buru, Elvano pun lalai dalam hal ini. Kelompok mafia yang cukup terkenal itu berhasil melancarkan aksi mereka kali ini.
Beberapa saat kemudian Elvano sudah tiba di kastil. Tanpa ada rasa curiga, ia segera memasuki halaman kastil yang pintu gerbangnya masih terbuka lebar.
Dan saat itu ia juga mendapatkan Cheril dan Geral sedang berdiri di depan pintu kastil.
"Gawat! Kenapa dia kembali secepat ini?" gumam Cheril pelan.
"Kenapa? Apa kamu begitu takut padanya? Apa dia sering berbuat kasar padamu?" sindir Geral tak berakhlak.
"Ehm? Bicara apa kamu ini? Jelas aku harus merasa segan berbicara dengan pria asing di depan suamiku. Lebih baik kamu pergi sekarang sebelum suamiku itu marah padamu!" tegas Cheril.
Saat Cheril hendak melangkah pergi menghampiri Elvano, dengan sigap Geral meraih tangan Cheril mencegah nya pergi. Sontak membuat Elvano baik pitam.
"HEH! Lepaskan tanganmu yang kotor itu!" Teriak Elvano dari kejauhan dan melangkah perlahan menuju ke arah Geral dan Cheril.
Geral tidak melepaskan tangan Cheril, tapi juga tidak sedang fokus dengan perkataan Elvano maupun tatapan Elvano yang lekat dan semakin mendekati dirinya juga.
Sepertinya ada yang salah ...
Gumam Geral waktu itu.
Ia menyadari ada orang di balik gerbang bagian luar.
Geral memang sudah sangat hafal dengan suasana seperti itu. Karena sesungguhnya Geral juga seorang mafia yang berprofesi sebagai pembunuh bayaran. Inilah alasannya kenapa selama ini dirinya sering menghilang dan berpindah-pindah tempat. Sejak usia 3 tahun Geral hanya hidup bertiga dengan ayahnya yang juga seorang pembunuh bayaran. Adik laki-laki Geral sudah meninggal dunia akibat tertembak musuh pada usianya yang baru menginjak 5 tahun saat itu. Dan dengan alasan inilah, ayah Geral memutuskan untuk melatih Geral menjadi seorang mafia. Tujuannya adalah supaya Geral tidak mati konyol seperti adiknya yang dengan mudahnya tertebak oleh musuh.
Elvano yang semakin mendekati Geral sudah bersiap mengambil ancang-ancang untuk melemparkan sebuah pukulan panas ke arah wajah Geral karena tidak mengindahkan perkataannya sama sekali.
"Aku bilang lepaskan tanganmu itu! Apa kamu mau aku pu ...,
"VANO, MENUNDUK!!" teriak Geral.
PENG!! PENG!! 砲火
"AAAHH!!"
"Kamu tidak apa-apa kan Cheril?" tanya Geral.
"Aku tidak apa-apa, kamu yang terluka Geral! Bagaimana ini?" ucap Cheril panik karena melihat dengan jelas Geral meringis kesakitan.
"Tidak apa-apa kok ... Tenang saja! Aku sudah terbiasa," tanggap Niko berusaha tersenyum dalam kesakitan.
Sementara Elvano segera bertindak menaklukkan yang melepaskan timah panas ke arah mereka setelah berhasil menghindari tembakan itu. Namun sayangnya Elvano gagal menangkap mereka.
"Tadi itu siapa, Vano?" tanya Geral setelah Elvano kembali mendekati dirinya dan Cheril.
"Entahlah ... Aku kehilangan mereka. Sepertinya Bloods team! Aku menemukan ini," tunjuk Elvano.
Sebuah lempengan kecil dengan lambang B berwarna merah cerah.
"Ah, iya ... Sepertinya memang mereka," Niko sependapat.
Mereka pasti tau Vano menyimpan peta itu ... Dan Sebenarnya siapa Tuan Muda Elvano Setiono ini ... Jurus yang dia gunakan tadi sepertinya berasal dari Elang Muda.
Aiish!!
Jerit Geral menahan kesakitan.
"Kamu tidak apa-apa kan, Bro? Mana yang terluka?" tanya Elvano yang mulai panik.
"Hanya ...,
Buk!!
Laki-laki itu terjatuh tak sadarkan diri.
"GERAL!" panggil Cheril panik.
"Tidak apa-apa, sayang ... Tenanglah! Kita bawa dia ke rumah sakit sekarang!"
Elvano segera memutar setir mobilnya untuk membawa Geral menuju rumah sakit. Pak Teo juga turut membantu Elvano membopong tubuh Geral yang sudah tersungkur tak berdaya ke dalam mobil.