
Setelah menemukan apa yang ingin ia pesan Elvano menjentikkan jarinya ke arah pegawai restoran yang malah ikutan bengong menatap ke arahnya. Elvano pun sedikit murka dan meneriaki pegawai itu.
"Heh! Kemari nona!" teriak Elvano yang membuat Cheril sedikit tersentak.
Apa semua wanita sama saja ... Dulu waktu aku masih susah tak ada yang melirik ku seperti ini. Sungguh menjijikan ....
Batin Elvano.
Sementara Cheril juga bergumam dalam hatinya karena kaget melihat sifat Elvano yang sekasar itu.
Ada apa dengan dirinya ... Kenapa dia jadi sekasar ini.
Pegawai restoran yang juga tak kalah kaget dengan teriakan Elvano tadi sudah setengah berlarian menuju ke arah meja Elvano dan Cheril.
Kemudian Elvano pun meminta wanita itu menulis menu yang ia inginkan.
"Nona, anda mau makan apa?" tanya Elvano pada Cheril masih dengan tatapan dingin.
Baru saja Cheril akan menjawab Elvano sudah lebih dulu mengeluarkan suara.
"Nona ini pasti ingin pesan spageti with double cheese sama minumnya tambahin satu lagi, strawberry smoothie," lanjut Elvano sambil mengangkat tangannya ke arah pegawai restoran untuk memberinya instruksi mencatat pesanan yang ia sebutkan.
Itukan menu yang aku pesan waktu itu ...
Ternyata dia masih ingat makanan kesukaanku.
Ada sedikit rasa senang di dalam hati Cheril.
Setelah selesai mencatat apa yang menjadi pesanan pelanggannya, pegawai restoran itu pun segera berlalu meninggalkan kedua insan manusia yang berada di meja nomor 2 tersebut.
Elvano menatap Cheril lekat masih dengan Ekspresi yang sangat dingin, yang tidak bisa diartikan oleh Cheril. Membuat Cheril merasa sedikit takut dengan tatapan itu, ia pun memilih menundukkan kepalanya.
Lihat saja dandanan nya sekarang ... Sudah seperti seorang Mak lampir saja ...
Ujar Elvano dalam hati setelah melihat dandanan Cheril yang memang bisa dikatakan agak berlebihan.
Elvano lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan.
Jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia memang masih menyimpan sedikit perasaan pada Cheril, tentu saja tidak semudah itu untuk melupakan seseorang yang ia cintai. Namun kebenciannya jauh lebih besar dari cintanya saat ini.
Sesaat kemudian Elvano merogoh saku jasnya untuk mengambil sebuah amplop yang berisikan uang senilai 50juta beserta selembar cek yang isinya juga senilai 50jt lalu meletakkannya di atas meja dengan sedikit kasar.
Cheril yang sedang menunduk pun kembali mengangkat wajahnya.
"Itu apa?" Cheril memberanikan diri untuk bertanya.
"Uang," jawab Elvano singkat
Cheril sedikit mengerutkan dahinya tidak mengerti.
"Uang buat apa?" tanyanya lagi.
"Itu adalah uang yang pernah Nona berikan padaku untuk membantu pengobatan Ibuku dulu dan sudah aku lebihkan sebagai bunganya," jelas Elvano masih dengan wajah dingin.
Lalu Cheril pun meraih amplop itu dan mengintip isinya. Dia sangat kaget ternyata isinya memang uang yang sangat banyak.
"Soal itu, tidak usah dikembalikan," tolak Cheril sambil mendorong kembali amplop yang telah ia letakkan kembali di atas meja setelah selesai mengintip isinya ke arah Elvano.
"Tidak bisa Nona! Kita tidak jadi menikah, jadi aku harus mengembalikan uang itu," tanggap Elvano lantang sambil mendorong kembali amplop itu ke arah Cheril.
Pada saat yang bersamaan pegawai restoran juga membawakan pesanan mereka, setelah permisi, pegawai itu kemudian meletakkan semua menu yang sudah tersedia di hadapan keduanya.
Cheril pun memilih membiarkan amplop itu tetap pada posisi ketika Elvano mendorong kembali ke arahnya.
Kemudian, ia dan Elvano memilih menghabiskan menu yang sudah tersedia lebih dulu sebelum melakukan aksi penolakan lagi seperti tadi barangkali. Memang itulah yang sedang dipikirkan Cheril.
Pikir Cheril di dalam hati.
Ketika Cheril sedang asyik dengan menunya, Elvano malah diam-diam melirik ke arahnya.
Makannya terburu-buru seperti itu, apa ia begitu kelaparan ....
Tunggu, apa itu bekas luka ... Jadi benar yang dikatakan Niko tadi siang ... Tentang dirinya yang sering diperlakukan kasar oleh lelaki brengs*k itu.
Entah kenapa Elvano merasakan sedikit sakit di dalam hatinya ketika melihat bekas luka lebam di sudut bibir Cheril yang make upnya sedikit tersapu karena Cheril mengelap mulutnya yang berepotan terkena makanan.
"Apa kamu hidup dengan baik bersama suamimu?" tiba-tiba Elvano melemparkan pertanyaan yang membuat Cheril tersentak seketika.
Cheril yang masih sibuk dengan makanannya seketika juga menghentikan aktivitas makannya.
Ia berusaha bersikap setenang mungkin, lalu menjawab pertanyaan Elvano.
"Iya, Jimmy memperlakukan aku dengan baik kok," jawab Cheril sambil tersenyum.
Ciiiiiih ...
Masih mau berpura-pura bahagia ya ...
"Baguslah kalau begitu," tanggap Elvano singkat. Ia juga memilih mengikuti permainan Cheril.
Elvano memang tidak percaya dengan apa yang dikatakan Cheril. Ia sudah mendengar semuanya dari Niko, sekarang ia juga sudah melihat sendiri malah luka lebam yang masih tertinggal di sudut bibirnya itu.
"Sepertinya kamu kelaparan ... Habiskan makanan itu segera!" ucap Elvano lagi ketika Cheril masih belum menyentuh kembali makanan yang ia tinggal tadi.
"Ehm? Ba-baiklah!" tanggap Cheril ringan.
Cheril pun kembali melakukan aktivitas makannya walaupun merasa sedikit bagaimana gitu mendengar apa yang diucapkan oleh Elvano barusan.
Lagipula Cheril memang sudah lumayan lama tidak makan menu favoritnya yang satu ini, yang juga merupakan salah satu menu Favorit di restoran ini. Terakhir kali ia memakan nya yaitu pada saat bersama Elvano waktu itu.
Elvano pun juga memilih melahap menu yang belum ia sentuh sama sekali sejak tadi. Elvano juga terlihat sangat lahap dengan makanan yang tersaji itu. Entah memang karena rasanya yang enak, atau ia sedang kelaparan, atau karena kesal dengan kebohongan Cheril.
Aktivitas makan kedua orang ini baru terhenti setelah piring keduanya sudah benar-benar kosong.
Setelahnya, kemudian Cheril pun kembali melanjutkan aksi penolakan soal amplop yang tadi.
"Vano ... Maafkan aku, aku tidak bisa menerima ini," tolak Cheril sekali lagi sambil mendoring kembali mendorong amplop itu ke arah Elvano.
Kali ini Elvano sudah tidak mendorong Kembali amplop itu ke arah Cheril. Ia memang tidak suka melakukan hal yang sangat tidak penting seperti ini, menurutnya ini hanya akan menghabiskan waktunya saja.
Elvano hanya memilih menatap Cheril lekat, dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, sangat dingin. Membuat Cheril kembali menundukkan wajahnya.
Kenapa dia menatap ku seperti itu lagi ....
Tatapan Elvano ini memang sedikit mengerikan, seperti ingin memakan orang.
Sesaat kemudian Elvano malah beranjak dari kursinya menuju ke arah kasir untuk membayar semua makanan yang telah mereka pesan tadi dan meninggalkan Cheril begitu saja dengan amplop di meja itu tentunya.
"Eh, kok malah pergi?" Cheril berkata-kata pelan
Dan amplopnya ....
Mata Cheril tiba-tiba tertuju pada amplop yang masih berada di atas meja.
Cheril pun segera berlari kecil ke arah Elvano yang sudah mulai beranjak menuju ke arah pintu keluar sehabis dari kasir tadi.
"Eh, Tunggu Vano!" teriak Cheril kepada Elvano yang membuat seisi restoran melemparkan pandangan mereka ke arah nya. Termasuk juga Elvano yang membalikkan badannya melirik ke arah Cheril.