
Karena emosi Elvano juga sudah mulai mereda, ia pun memutuskan untuk mengirim pesan singkat kepada Cheril. Isinya adalah,
Jangan lupa makan siang Hon! I love you.
Namun sayang sekali, Cheril tidak membalas ataupun membaca pesan tersebut. Sebab Cheril yang lelah menangis malah tertidur pulas hingga saat ini.
Sementara di tempat nan jauh, Elvano 2 menit sekali melirik ke arah ponselnya, menunggu balasan dari Cheril. 2 menit pertama jelas tak ada tanda-tanda pesan masuk, 2 menit kedua juga tak ada tanda-tanda itu. Penantian panjang pun terjadi. 30 menit hingga 1 jam kemudian Elvano tetap tidak mendapatkan balasan dari istrinya. Waktu itu sejujurnya Elvano sudah semakin gelisah. Ada juga rasa khawatir yang menyelimuti hatinya.
"Kenapa tidak membalas pesanku? Apa dia masih marah? Atau terjadi sesuatu pada dirinya?"
"Tunggu! Atau jangan-jangan Cheril sungguh-sungguh dengan ucapannya tadi? Jangan-jangan dia sedang bersama si kunyuk itu."
Saat membayangkan kalimat terakhirnya itu, mata Elvano terbelalak seketika. Ia pun keluar dengan terburu-buru dari bangunan besar itu menuju mobilnya. Dan memilih kembali ke kastil.
Cara menyetirnya masih sama seperti waktu dia datang tadi. Brutal dan sangat membahayakan. Elvano sudah tidak memperdulikan semua itu. Mungkin malah lebih parah dari yang tadi sepertinya. Sebab waktu ia mendatangi rumah besar tadi, ia masih membutuhkan waktu 2 jam untuk tiba di sana. Sementara untuk kembali ke kastil, ia hanya menghabiskan waktu sebanyak 1 jam 30 menit saja. Jadi bisa dibayangkan seberapa cepat dia berkendara? Padahal jalanan jauh lebih ramai pada jam pulang kerja seperti ini pastinya.
Selama di perjalanan Elvano mencoba menghubungi Cheril sebanyak beberapa kali. Namun ia juga tidak mendapat jawaban sama sekali. Tentu pikiran Elvano sudah semakin kacau. Tidak hanya pesan yang tidak dibalas, dihubungi juga tak dijawab. Bagaimana laki-laki itu tidak merasa semakin khawatir coba?
Waktu di kastil saat ini tepat pukul 17.30. kurang lebih 100 meter lagi Elvano sudah akan tiba di kastil. Sedangkan Cheril yang baru saja terjaga membuka matanya perlahan. Setelah merasa seluruh jiwanya terkumpul, Cheril kemudian meregangkan otot-ototnya yang terasa sangat pegal. Lalu meraih ponselnya yang terletak di atas meja nakas. Mata Cheril membulat seketika. Sebab 25 panggilan tak terjawab terpampang jelas di layar ponselnya.
"Ya ampun, ternyata dia menghubungi ku sebanyak ini." Gumam Cheril pelan.
Setelah itu ia juga membuka pesan yang dikirimkan oleh Elvano dan membalasnya.
"Maafkan aku sayang, tadi aku ketiduran. Kamu ada di mana sekarang?"
Drrt drrt!
Ketika pesan balasan itu masuk Elvano sendiri sudah berada di depan kastil.
Fiiuh
Dia pun bisa bernapas lega membaca pesan balasan tersebut.
Namun Elvano sudah tidak membalas pesan itu lagi. Ia berniat untuk langsung menemui Cheril nantinya.
"Bibi Nois, apa istri saya ada keluar rumah tadi?" tanya Elvano menyelidik.
"Tidak Tuan Muda. Nona sama sekali tidak keluar dari kamar sejak tadi siang. Bahkan ia melewatkan makan siangnya," jelas bibi Nois yang membuat Elvano melotot khawatir.
"Apa Bibi tidak memanggil nya untuk makan?"
"Ada kok Tuan Muda ... Hanya saja saya tidak mendapat jawaban sama sekali, saya pikir mungkin Nona sedang beristirahat jadi tidak berani mengganggu nya,"
"Baiklah,"
Elvano mengakhiri pembicaraannya dan menuju ke arah kamar mandi.
Elvano memilih membersihkan dirinya lebih dulu sebelum menghampiri Cheril. Sebab ia tak ingin Cheril mencium bau aroma rokok yang begitu menyengat dari tubuhnya.
Elvano sebenarnya bukan seorang perokok aktif, ia hanya akan merokok ketika ia sedang merasa sangat stres saja.
Kebetulan di kastil ini ada sebuah kamar mandi khusus di luar kamar lengkap dengan ruang ganti. Dan di dalam ruang ganti tersebut Elvano memang sengaja menyimpan beberapa pakaian untuk digunakan pada saat-saat mendesak seperti sekarang ini.
Saat Elvano selesai dengan aktivitas mandinya, dan keluar dari kamar mandi, Dia menemukan Cheril sedang berada di ruang santai. Cheril sedikit kaget melihat Elvano keluar dari arah kamar mandi dengan rambut basah yang sangat disukainya itu.
"Ternyata kamu sudah pulang? Maafkan aku tidak menjawab teleponmu tadi, aku ketiduran," ucap Cheril sesekali menundukkan wajahnya.
Cheril memang tidak tau Elvano sudah kembali. Sebab awalnya Elvano ingin memberikan kejutan pada Cheril. Ia juga sudah berpesan pada Bibi Nois sebelumnya supaya ia tidak memberitahukan pada Cheril bahwa dirinya sudah pulang. Tidak di sangka ternyata Cheril malah sudah keluar dari kamar dan bertemu dengan Elvano di ruang santai.
Gagal sudah rencana Elvano yang hendak memberikan kejutan yang rencananya ia akan mengambilkan beberapa tangkai bunga mawar untuk Cheril setelah selesai mandi nanti sambil membawakan Cheril makanan yang sudah disiapkan oleh Bibi Nois tadinya.
Pria tampan ini kemudian berjalan pelan mendekati Cheril.
"Ehm? Benarkah?" Cheril juga ikut mengangkat tangan memegang matanya.
"Apa kamu menangis sepanjang hari?"
Raut penyesalan menyelimuti hati Elvano saat itu. Sungguh sakit ketika ia mendapatkan penampilan istrinya yang demikian.
"Masih berani bertanya? Bukankah kamu sendiri yang menyebabkan hal itu?"
"Dasar wanita bodoh! Kenapa bisa begitu ceroboh? Menangis hingga mata membengkak seperti ini. Apa kamu sungguh sangat bersedih?"
"Ehm? Tentu saja aku sedih. Kamu yang membuat aku bersedih. Masih belum sadar?"
Brek!
Bukannya segera menjawab Cheril, Elvano malah memeluk Cheril erat.
"Maafkan aku Cheril!" ucap Elvano masih sambil memeluk istrinya.
Mendengar itu Cheril yang sebelumnya terdiam ikut mengangkat tangannya membalas memeluk Elvano. Lalu berkata,
"Aku juga minta maaf sudah membuatmu marah!"
Dan kedua orang ini pada akhirnya saling bermaaf-maafan. Sungguh begitu indah. Sebuah hubungan memang tidak selalu berjalan mulus. Namun hal yang terpenting adalah bisa saling memaafkan antara satu sama lain. Itulah hal yang paling utama.
"Oh iya, apa kamu lapar? Bibi Nois bilang kamu tidak makan siang tadi? Kenapa biasa melewatkan makan siang? Kamu sungguh ceroboh. Kalau sakit bagaimana?" khawatir Elvano setelah melepas pelukannya.
Padahal dirinya sendiri tidak sadar, dia kan juga melewatkan jam makan siang. Tapi setidaknya Elvano memang sempat minum kopi ditemani biskuit sih.
"Maaf!" ucap Cheril menunduk.
"Kamu ini memang wanita bodoh!"
Elvano berkata sambil mengusap rambut depan Cheril. Tepatnya sih mengacaknya.
"Sudahlah ... Ayo pergi makan!" ajak Elvano kemudian dan langsung menarik pengelangan tangan Cheril menuju meja makan.
Mereka berdua kemudian menggelar makan malam bersama.
Hampir sama dengan kejadian pagi ini, baru saja mereka hendak makan, kali ini malah ponsel Elvano yang berbunyi.
Niko memanggil ....
"Dari Niko ... Aku jawab dulu ya sayang," Elvano meminta ijin dan ditanggapi anggukan dari Cheril.
~ Elvano & Niko on phone ~
"Hallo Nik, apa kamu sudah kembali? Kamu ada di mana sekarang?"
"Iya, No ... Aku di hotel Belle saat ini. Aku dengar kamu sudah kembali ke kota X?"
"Hem em ... Jika kamu masih lelah beristirahatlah lebih dulu di sana. Besok pagi-pagi baru kembali ke sini!
Oh iya, Kamu sudah mendapatkan penjelasan tentang peta itu kan?"
"Iya, sudah No! Kamu pasti akan kaget jika kamu tau apa yang terjadi sebenarnya,"
"Begitu ya? Baiklah, tunggu kamu kembali baru kita bicarakan lagi,"
Setelahnya Elvano sudah menutup panggilan itu. Dan melanjutkan aktivitas makan malam dengan Cheril.