
Beberapa saat kemudian Ayah William dan Dokter yang ia panggil segera memasuki ruangan rawat Elvno.
"Eh Dokter, tolong periksa Vano, Dok," ucap Ibu Winda yang segera menyingkir memebri ruangan bagi dokter itu supaya dapat mendekati Elvano. Begitupun juga dengan Cheril.
Dokter yang dikenal sebagai DR.dr. Alvin SPPD terseyuman sejenak tanpa menghentikan langkahnta. Ia lalu mendekati tubuh Elvano yang masih tergolek lemah di tempat tidur.
Dan Dokter Alvin kemudian mengeluarkan stateskopnya dan mengarahkan itu ke arah dada serta perut Elvano. Setelah itu ia juga memeriksa mata Elvano dengan membuka sedikit kelopak bagian bawah mata Elvano serat memeriksa detak nadinya.
"Ehem ... baiklah, dari hasil pemeriksaan saya, Tuan Muda memang jauh mengalami kemajuan. Kesadarannya juga sudah semakin membaik. Dan jika dilihat dari perkembangan ini, besok pagi bisa saja Tuan Muda bangun dari tidur panjangnya," jelas Dokter Alvin panjang lebar yang juga disertai senyuman di wajahnya.
Mendengar ini jelas ketiga orang yang lainnya juga ikut merasa senang. Mereka juga tersenyum senang sambil melempar pandang satu sama lain.
"Benarkah itu Dokter?" tanya Ayah William antusias.
"Iya. Seharusnya begitu Tuan Besar,"
"Baguslah kalau begitu. Terima kasih banyak atas ketelatenan Dokter Alvin selama ini,"
"Sama-sama Tuan Besar. Saya yang seharusnya berterima kasih karena sudah diberi kesempatan yang sangat membanggakan ini. Dapat merawat Tuan Muda tentu menjadi sebuah kebanggaan bagi saya." Dokter alvin merendahkan diri. ia mengucap sambil sedikit membungkukan tubuhnya.
"Ehm, apa masih ada yang ingin ditanyakan Tuan?" sambung Dokter Alvin.
Ayah William melirik ke arah Ibu Winda dan Cheril sebelum menjawab Dokter Alvin, ia hanya ingin memastikan kedua orang ini apa memiliki pertanyaan atau tidak. Saat mendapatkan Cheril dan Winda menggelng kecil kepala mereka, Tuan William pun menjawab.
"Tidak Dokter. Hanya itu saja,"
"Baik. Kalau begitu saya permisi dulu ya Tuan Besar, Nyonya dan Nona Muda. Jika ada perlu sesuatu silahkan panggil saya."
Dokter alvin mengucap sambil tersenyum tipis. Ia juga mengedarkan pandangannya ke arah Cheril serta Ibu Winda yang juga membalas senyuman tersebut sekaligus disertai dengan anggukan kecil dari mereka.
Setelah itu Dokter Alvin pun berlalu.
---
Usai kepergian Dokter Alvin, mereka bertiga kembali melanjutkan percakapan ringan antar keluarga.
Kebahagiaan meliputi hati mereka. Senyuman di wajah tak henti-hentinya merekah. Ucapan terima kasih kepada Sang Kuasa juga tak henti-hentinya mereka lantunkan di dalam hati mereka masing-masing.
Akhirnya setelah sekian lama menunggu, sekian waktu yang telah dihabiskan, air mata yang juga ikut terkuras tidaklah sia-sia. Semua itu terbayar sempurna saat mendapatkan kabar terbaik dri Dokter Alvin tadinya. Sudah tak tahan rasanya mereka menahan diri menunggu hari esok tiba.
Jika saja waktu dapat diputar, mungkin mereka akan memutarnya saat itu. Ya, tentu saja, hal ini sudah pasti akan mereka lakukan.
"Ril, Ayah dan Ibu akan menginap di sini malam ini. Ibu ingin saat Vano bangun kita semua ada di sini untuk nya. Ibu juga akan menghubungi Flo dan Valen supaya segera menuju kemari pagi-pagi sekali supaya mereka juga datang kemari," ujar Ibu Winda semangat.
"Iya Bu. Terserah Ibu saja. Jika itu yang terbaik, lakukan saja," tanggap Cheril sambil tersenyum
"Baiklah, hari sudah semakin larut, ayo kita beristirahat!"
Giliran Ayah William yang bersuara. Dan segeraditanggapi oleh Ibu Winda.
"Iya benar. Ayo kita tidur, supaya besok bukan Vano yang bangun lebih dulu," tanggap Ibu Winda menyetujui.
"Ayah dan ibu beristirahatlah lebih dulu, Cheril masih ingin berada di sini sebentar lagi."
Ibu Winda dan Ayah William saling melempar tatap sejenak seolah-olah Ibu Winda sedang meminta persetujuan dari Ayah William.
Setelahnya Ayah William pun mengambil alih bersuara.
"Baiklah, mungkin Cheril masih ingin menemani Vano disini. Lebih baik kita istirahat saja dulu,"
"Cheril, kamu juga jangan tidur terlalu malam," tambahnya yang diikuti anggukan dari Cheril.
Ibu Winda juga ikut bersuata tentunya,
"Iya Ril, kalau kamu kurang beristirahat nanti kamu sakit," sambung Ibu Winda.
Cheril tersenyum, kecil mendengar itu. Wanita itu juga merasa sangat senang karena perhatian yang diberikan oleh kedua mertuannya. Hidupnya begitu sempurna saat ini. Mendapatkan suami yang sangat baik, tampan, hebat, juga mendapatkan mertua yang begitu perhatian. Sungguh merupakan sebuah keberuntungan terbesar baginya.
Reflek tubuh Cheril melakukan gerakannya sendiri. Ia memeluk tubuh paruh baya Ibu Winda lalu berkata,
"Terima kasih Bu atas perhatian yang sudah Ibu berikan. Ibu sudah menjadi Ibu yang terbaik bagi Cheril setelah Ibu Berliana."
Buiiran bening ikut membasahi pipi cheril, juga menetes mengenai punggung Ibu Winda.
Sesaat setelahnya rakulan itu segera dilepaskan oleh Ibu Winda karena menyadari Cheril menangis.
"Jangan menangis Sayang, ini sudah merupakan tugas Ayah dan Ibu. Kamu adalah istrinya Vano, anak Ibu, jadi kamu juga anak Ibu. Jadi sudah seharusnya Ibu menyayang mu seperti anak Ibu sendiri."
Suasana haru pun akhirnya tercipta di dalam ruangan itu. Ayah William yang notabenenya tidak terlalu menyukai suasana seperti ini segera mengambil tindakan mengajak Ibu Winda pergi dari sana. Ya, mungkin sifat pria memang berbeda. Mereka tidak begitu menyukai hal yang berbau mellow.
"Win, ayo kita istrihat sekarang!" ajak Ayah William.
Sebelum Ibu Winda mengiyakan, Cheril lebih dulu bersuara.
"Ayah, terima kasih," ucap Cheril singkat.
JIka berhubungan dengan ayah mertuannya, Cheril memang cendrung lebih singkat, padat dan jelas.
Dan Ayah William juga menanggap tak kalah singkatnya. Hanya menjawab "ya" yang disertai anggukan.
Lalu mereka berdua pun berlalu dari ruangan itu meninggalkan Cheril dan Elvano di dalam ruangan rawat.
---
Suasana keributan yang sebelumnya tercipta kini kembali hening. Hanya terdengar suara mesin saat ini. Dan juga suara Cheril yang mengajak suaminya berbicara santai.
Tak banyak yang ia katakan, hanya ucapan terima kasih karena Elvano sudah mau bertahan dan bangun untuknya. Tak lupa juga Cheril memberikan semangat pada laki-laki itu yang disertai kecupan lembut di keningnya.
Usai melakukan itu semua, Cheril menyenderkan dahinya pada tempat tidur Elvano. Dia bermaksud tidur bersandar di sana. Rasanya Cheril tak rela ingin bernajak dari sana, Cheril ingin menemani Elvano di sepanjang malam ini. Hingga keesokan paginya, Cheril berharap saat prianya itu bangun, orang pertama yang Elvano lihat adalah dirinya.
Beberapa saat kemudian Cheril pun benar-benar tertidur dengan posisi duduk bersandar di samping tempat tidur Elvano.