
Ketika melihat wajah Elvano yang sudah berubah, Ibu Anita segera membuka suara untuk mengalihkan pembicaraan.
Ia jelas tau dengan ekspresinya yang sudah berubah itu Elvano pasti mengingat hal tentang pertunangannya yang batal semalam.
"Vano, apa kamu sudah merasa lapar?" tanya Ibu Anita asal.
Elvano yang sudah menekuk wajahnya sedikit tersentak mendengar Ibu Anita yang tiba-tiba berbicara soal makanan disaat seperti ini.
"Ehm?" Elvano terlihat sedikit bingung.
Ibu kok malah berbicara soal makan sih.
"Kamu kan memang biasanya sudah makan siang Vano jam segini," Lanjut Ibu Anita ketika melihat wajah Elvano yang kebingungan dengan kata-katanya, sambil melirik ke arah jam yang sejak 23 tahun yang lalu pun letaknya sudah ditempat itu. Waktu itu jam memang sudah menunjukkan pukul 3 siang.
Eh, ternyata letak jam masih di situ juga ya. Hanya model jamnya saja yang tidak sama lagi.
Gumam Ibu Anita dalam hati. Ia bahkan masih bisa mengingat dengan baik letak dan model jam yang tergantung di ruangan tersebut.
"Ah iya ... Kenapa aku bisa lupa dengan jam makan siang?" sesal Winda tiba-tiba ketika mendengar ucapan Anita yang panjang lebar menyebutkan perihal makan siang.
"Ayo kita makan siang dulu, Maaf ya Vano, kamu pasti sudah merasa lapar ya?" ajak Winda kemudian sambil melirik ke arah Elvano yang hanya diam saja.
"Iya Vano, Maafkan Ibumu, Dia memang sering lupa apalagi soal makanan. Ibumu ...,
Setelah terdiam sesaat dengan semua mata yang kini tertuju pada nya ia pun melanjutkan kata-katanya yang menggantung.
"Takut Gemuk," tambahnya kemudian di dekat telinga Elvano dengan bisikan yang sengaja ia perbesar suaranya supaya yang lain juga mendengar.
Akhirnya suasana yang sebelumnya sedikit tegang pun dicairkan oleh candaan dari Tuan William.
Tuan William memang sangat suka bercanda. Sepertinya Elvano sangat mirip ayahnya ya, biar sifatnya terkadang memang sedikit dingin, tapi ia juga sangat konyol kan?!
"Ah ... Ayah bisa aja deh," Balas Winda sambil menepuk pundak suaminya yang duduk di sampingnya.
"Sudahlah, ayo Kita pindah ke meja makan sekarang!" ajak Winda kemudian.
Di meja makan memang sudah tersaji beberapa macam menu sehat yang jumlahnya jauh lebih banyak dari biasanya. Sang koki memang sudah mendapat perintah dari kepala pelayan untuk menyediakan makan siang untuk keluarga ini, sekaligus menyambut tamu special. Jadi menunya pun diperbanyak.
Mereka semua kemudian menuju meja makan.
Suasana di meja makan cukup senyap. Aturan ketika sedang makan tidak boleh bersuara juga berlaku di keluarga ini.
Kalau Elvano sih dia diam karena memang ia masih merasa canggung, lebih-lebih Ibu Anita, ini merupakan kali pertama baginya makan bersama majikannya.
-----------------------------
Setelah makan siang selesai digelar, pembicaraan kembali terjadi di antara mereka. Memang masih banyak sekali bahan pembicaraan diantara mereka mengingat perpisahan yang sudah sangat lama.
Di awali dari Winda yang menceritakan mengenai Kakek Elvano.
Ia mengawalinya dengan menceritakan hal positif tentang kakek, tujuannya supaya Elvano bisa memiliki pandangan yang baik tentang Kakeknya. Hingga pada akhirnya ia pun menceritakan soal Kakeknya yang memalsukan kematiannya yang membuat Elvano mulai mengerti dengan kata 'masih hidup' yang sempat diucapkan oleh orangtuanya beberapa saat yang lalu.
Ternyata memang benar apa yang aku pikirkan. Kakek memang memalsukan kematianku.
Gumam Elvano dalam hati.
Ia memang sudah memiliki firasat itu sebelumnya.
Winda kemudian juga menceritakan tentang
kakeknya yang baru membongkar semua rahasia tentang Elvano sekitar 1 tahun yang lalu.
"Sebelumnya kakek juga sudah menyadari kesalahannya. Ia telah mengaku salah karena terlalu mempercayai peramal itu. Peramal itu bahkan pernah meramal tentang adik keduamu Flo, ia berkata anak yang Ibu kandung waktu itu adalah laki-laki, nyatanya yang lahir adalah Flo yang seorang perempuan,"
"Sejak saat itulah kakekmu menyadari ia salah. Ia sangat menyesal atas semua perbuatannya terhadapmu Vano," jelas Winda sembari menatap Elvano sesaat dan kembali melanjutkan pembicaraannya.
"Kakekmu juga beberapa tahun terakhir terus mencari keberadaan mu tanpa memberitahukan kepada kami,"
"Vano, Kakek sebenarnya adalah orang yang baik. Ia juga sangat menyayangimu. Hanya saja salahnya adalah karena dia terlalu mempercayai peramal itu," Tambahnya lagi. Dan kembali melirik ke arah Elvano yang terlihat sangat serius menyimak kata-katanya.
"Vano, sebelum Kakek meninggal, ia menitipkan pesan pada Ibu dan Ayah supaya menyampaikan permintaan maafnya padamu,"
"Kamu mau kan memaafkan Kakekmu?" bujuk Winda sembari menatap wajah Elvano lekat. Seketika Elvano pun menundukkan wajahnya.
Secara manusiawi Elvano memang belum bisa memaafkan kakek.
Ia pun tidak menjawab pertanyaan dari Winda.
Melihat putranya yang tidak merespon apapun Tuan William pun ikut bersuara.
"Sudahlah Win, jangan memaksa Vano seperti itu. Yang terpenting Vano sudah di sini saat ini, ini saja sudah sangat baik.
Ayah yakin kok, nanti juga pelan-pelan Elvano pasti bisa memaafkan Kakeknya," sambung Tuan William sambil menatap ke arah Elvano yang masih menundukkan wajahnya.
Suasana seperti ini sungguh terasa sangat tidak nyaman bagi mereka semua. Sepertinya mereka sudah salah dengan topik bicara mereka yang terlalu berat itu.
Dan Ibu Anita memang selalu menjadi penolong di saat seperti ini. Ia pun membuka suara untuk mencairkan suasana.
Ibu Anita menceritakan tentang masa kecil Elvano pada keluarga ini. Dari awal ia keluar dari rumah ini bersama Pak Rangga dan bayi Elvano dengan bermodalkan uang yang diberikan oleh Nenek yang jumlahnya tidak sedikit, mereka yang memanfaatkan uang itu untuk membeli rumah dan sisanya untuk usaha, yang kemudian usaha mereka gagal karena kebakaran hingga Pak Rangga yang harus kehilangan nyawanya ketika sedang bekerja untuk menghidupi mereka berdua, membuat suasana haru kembali tercipta di antara mereka.
Setelah itu Ibu Anita juga melanjutkan ceritanya tentang Elvano yang sangat lincah di masa kecilnya, ia juga sangat pintar. Sejak SD Elvano selalu memiliki prestasi yang baik di sekolah, membuatnya selalu dapat bersekolah di sekolah favorit dengan jalur beasiswa karna kepintarannya membuat mereka semua merasa sangat bangga pada Elvano.
"Wah ... Kakak hebat ya, Flo juga mau seperti kakak," tanggap Flo ketika mendengar tentang kepintaran kakaknya dari Ibu Anita.
"Iya Flo, kamu harus belajar yang rajin supaya kamu bisa pintar seperti kakakmu," Timpal Winda.
"Ah Ibu, Valen juga pintar ...," dan Valen malah cemburu ketika Elvano dipuji sedangkan dia tidak. Ya Valen juga selalu juara kelas memang.
"Iya iya ... Anak Ibu memang semuanya pintar-pintar deh," jawab Winda sambil tersenyum
"Ah, anak Ayah juga dong," Tambah William tak mau kalah.
"Iya, anak Ayah juga ... Anak Ayah dan Ibu semuanya pintar-pintar pokoknya," Tukas Winda kemudian membuat semuanya tertawa kecil.
Setelahnya mereka pun bersantai bersama, dari meja makan berpindah ke ruang keluarga. Masih dengan obrolan ringan untuk saling mengakrabkan diri, hingga berkaraoke bersama. Mereka semua kaget ketika mendengar Elvano bernyanyi, ternyata suaranya sangat bagus. Ibu Anita pun kaget, sebelumnya ia memang belum pernah mendengar Elvano nyanyi.
Alhasil setelah selesai ia bernyanyi mereka semua bertepuk tangan dengan sangat kencang puas dengan suara Elvano yang sangat menghibur, membuat wajah tampan Elvano sedikit kemerahan karena malu.
Tak terasa hari sudah semakin larut, makan siang tadi sudah sekaligus menjadi menu makan malam bagi mereka mengingat jam makan siang tadi memang sudah menjelang sore. Setelah selesai berkaraoke mereka pun memutuskan untuk beristirahat.
Hari pertama kepulangan Elvano di keluarga Setiono berjalan dengan sangat baik.