
Sesaat kemudian, Niko segera menekan kembali simbol telepon berwarna hijau untuk menghubungi Elvano. Dan Elvano yang sedari tadi masih menunggu telepon dari Niko segera menjawab panggilan dari sahabatnya itu.
"Halo Nik, apa kalian berhasil keluar?" tanya Elvano dengan nada panik.
"Iya, kami sudah berhasil keluar,"
Fiiiiiuh
"Tapi sekarang kami malah mendapat masalah baru," lanjut Niko yang membuat Elvano sedikit tersontak.
"Masalah apalagi Nik?" tanya Elvano.
Yang dia tau, seharusnya sekarang Niko pasti sedang berhadapan dengan para murid dari Raymon yang bisa dikatakan saudara seperguruannya.
"Ada segerombolan binatang aneh di sini. Kepala mereka menyerupai manusia, tapi tubuh mereka menyerupai lembu dan sebagian menyerupai singa dan masih banyak yang lainnya lagi. Sekarang kami harus bagaimana?" tanya Niko panik.
Sejak tadi Elvano sudah sangat kaget mendengar penjelasan dari Niko, hanya saja Elvano memang merupakan pribadi yang sangat cerdas. Dia sama sekali tidak memotong penjelasan Niko melainkan mendengarkan penjelasan tersebut hingga selesai. Padahal saat itu ia sedang membatin,
Jadi Guru sungguh melakukan hal itu ...
Sedikit penjelasan, waktu Elvano masih kecil dulu, Guru Raymon pernah menceritakan pada Elvano tentang penelitian yang akan dilakukan oleh dirinya. Yaitu ia ingin memanfaatkan kecanggihan teknologi dan ilmu sains untuk menciptakan spesies baru yang berupa penggabungan antara manusia dan binatang. Dan tentu saja pada saat itu Elvano merasa semua itu begitu mustahil. Tak disangka malah sekarang semua itu menjadi kenyataan.
"Nik, dengarkan aku, aku harus jujur padamu bahwa aku juga tidak tau bagaimana caranya menghadapi yang satu ini, ta ...,
"APA? JADI KAMI HARUS BAGAIMANA SEKARANG?" teriak Niko yang membuat Elvano menjauhkan poselnya dari telinganya.
"Nik, kamu dengarkan aku dulu, aku masih belum selesai berbicara. Kamu masih menyimpan PIN yang aku berikan padamu kan?" tanya Elvano.
"Iya, masih ..., " lalu Niko segera merogoh saku jasnya untuk mengambil PIN tersebut.
"Bagus. Sekarang, kamu tekan tombol kecil yang ada di tengah-tengah PIN tersebut. Jika kamu berhasil, maka seharusnya mereka semua akan tunduk padamu," jelas Elvano.
Awalnya Niko merasa kebingungan dengan apa yang diucapkan oleh Elvano tentang tombol pada PIN tersebut. Pasalnya Niko tidak dapat menemukan tombol apapun di sana. Namun sesaat kemudian, ia melihat ada satu titik kecil, yup, titik itu benar-benar sangat kecil dan halus. Sangat sulit untuk dilihat. Dan Niko merasa mungkin itu yang dimaksudkan oleh Elvano, lagian tak ada salahnya juga mencoba. Niko pun segera menekan tombol tersebut dengan sekuat mungkin.
Beberapa detik kemudian binatang aneh yang sudah bersiap akan menerkam mereka memang berubah menjadi jinak, lalu membalikkan badan dan pergi meninggalkan Niko berserta rombongan.
Fiiiiuuh
Kali ini mereka bisa kembali bernapas lega.
"Bagaimana Nik? Apakah berhasil?" tanya Elvano setelah mendengar suara keributan yang tadinya ditimbulkan oleh binatang-binatang itu kini tidak terdengar lagi.
"I-iya, mereka sudah pergi," jawab Niko lega.
Fiiiuh
Elvano pun ikut merasa lega.
Seharusnya mereka tidak akan menemukan masalah apapun lagi setelah ini, sebab tombol yang ditekan oleh Niko tadi juga sekaligus menjadi kode yang akan langsung terhubung ke gunung Elang Muda bahwa saat itu Elvano sedang berada di dekat gunung tersebut.
Sesaat setelah pembicaraan tadi, panggilan di antara Niko dan Elvano juga sudah terputus karena ponsel Niko yang kehabisan batre.
"SI*L ... Kenapa harus kehabisan batre pada saat-saat seperti ini? Bagaimana jika ada tantangan baru lagi? AAAH!" Pekik Niko kesal.
Sesuai dengan yang dipikirkan oleh Elvano, kode orange memang sudah terkirim ke markas besar Raymon. Pada saat itu juga, Guru Raymon sendiri lah yang turun dari gunung menemui Niko beserta rombongan yang masih terdiam di tempat karena takut untuk melangkah lebih jauh lagi.
"Hei, anak muda, siapa kamu? dan bagaimana kamu bisa mendapatkan PIN itu?" tanya Raymon ketika sudah berada di hadapan Niko. Guru Raymon memang sangat hebat, walaupun sudah puluhan tahun tidak bertemu dengan Elvano, ia masih bisa tau, bahwa Niko bukanlah Elvano yang seharusnya menjadi pemilik dari PIN tersebut hanya dengan melihat dari aura wajah Niko saja.
"Ma-maaf Tuan! Saya adalah utusan Elvano. Mau pergi ke gunung Elang Muda untuk mencari Guru Raymon," jawab Niko sedikit gugup.
"Murid kurang ajar, berani sekali dia mengutus orang untuk menemui gurunya," maki Guru Raymon.
"Ma-maaf Tuan, saat ini Tuan Muda sedang sangat sibuk. Selain itu dia juga sedang menghadapi sebuah masalah besar, karena itulah ia tidak bisa datang menemui anda," jelas Niko.
Ah, jadi anak itu sekarang sudah menjadi seorang yang berhasil ya ... Baguslah ... Tidak sia-sia aku mendidiknya menjadi seorang mafia. Tapi tunggu dulu, kenapa selama ini aku belum pernah mendengar tentang dirinya yang berkecimpung ke dalam dunia gelap itu ya ....
Batin Guru Raymon yang belum tau mengenai siapa Elvano sesungguhnya. Yang ia tau Elvano hanya anak dari Pak Rangga. Jelas Elvano tidak mungkin bisa meraih kesuksesan seperti sekarang ini pikir Raymon jika bukan karena berkecimpung ke dalam dunia mafia.
"Lalu apa yang menjadi alasan dia mengirimkan kalian datang kepadaku?" tanya Guru Raymon.
"Maaf Tuan, apa anda yang bernama Guru Raymon?" Niko membaranikan diri untuk bertanya.
"Iya, saya adalah orang yang kalian cari!" tegas Guru Raymon.
Sontak Niko pun segera membungkukkan badannya memberi hormat. Para pengawal juga ikut melakukan hal yang sama.
"Maafkan kelancangan kami Tuan!" ucap Niko masih sambil membungkkukkan badannya sebelum mengangkatnya kembali. Sementara Guru Raymon tak menanggapi apapun, hanya terselip sedikit kebanggaan di dalam hatinya karena merasa muridnya itu sudah berhasil mendapatkan orang kepercayaan yang sepertinya sangat tau caranya menghormati atasan.
"Sekarang katakan, hal apa yang membuat pemuda itu mengirim kalian ke sini?" Guru Raymon mengulang kembali pertanyaannya yang tadi.
"Oh iya ...,
Niko lalu merogoh kembali saku jasnya untuk mangambil selembar foto yang berhasil ia cetak kemarin sore sebelum menuju ke gunung Elang Muda, dalam hati Niko mensyukuri hal ini. Untung saja aku sudah terpikir untuk mencetak foto ini, jika tidak entah apa yang harus aku lakukan pada saat seperti ini. Gumamnya.
Tau sendiri kan, posel Niko sedang kehabisan batre.
Jadi Elvano tidak sungguh-sungguh meminta Niko membawa peta yang asli mengingat perjalanan itu begitu berbahaya. Ia sengaja memotret peta tersebut yang bahkan sudah ia blur pada bagian-bagian tertentu supaya peta itu tidak terjatuh ke tangan yang salah jika ponsel Niko berhasil direbut oleh orang lain.
"Karena ini Tuan!" lanjut Niko sambil menunjukkan foto itu pada Guru Raymon.-
Ketika Guru Raymon melihat itu, ia sudah bisa langsung mengetahuinya, peta apa itu. Matanya sedikit membulat tetapi juga merasa lega. Peta tersebut memang awalnya di pegang oleh Raymon, dan seharusnya berada di gunung Elang Muda. Namun salah satu murid dari Raymon telah menjadi pengkhianat dan berhasil membawa kabur peta tersebut dari dirinya. Karena alasan inilah Raymon berusaha keras untuk mewujudkan impiannya menciptakan manusia bertubuh binatang itu. Alasan pertama ialah karena dia sangat sulit untuk mempercayai seorang manusia lagi, dan alasan kedua, ia berencana akan menugaskan binatang-binatang tersebut untuk mejaga benda berharga yang ada di sebuah pulau pada peta rahasia itu.
Namun sekarang Raymon bisa tenang karena orang suruhannya telah berhasil mengambil kembali peta itu, dan malah memberikan peta tersebut pada Elvano. Sungguh merupakan sebuah takdir yang tak disangka.
"Lalu dimana orang yang memberikan benda ini pada Jeong Shu?" tanya Raymon.
Jeong Shu ... Siapa itu ...
Tentu saja Guru Raymon tau apa yang sedang dipikirkan oleh Niko saat itu.
"Jeong Shu itu adalah nama kecil yang aku berikan pada Elvano. Karena wajahnya begitu tampan, sungguh tak cocok diberikan nama seperti itu. Karena itu aku selalu memanggilnya dengan sebutan Jeong Shu," jelas Guru Raymon.
"Oh, ternyata begitu ya, namanya ini memang terdengar sangat bagus sih." Gumam Niko pelan yang masih bisa didengar oleh Guru Raymon.
"Tentu saja bagus," tanggapnya cepat.
"Eh, i-iya, Tuan sungguh pintar mencari nama," puji Niko.
"Oh iya, mengenai orang itu, nyawanya tak tertolong, Tuan!" jawab Niko lrih.
Guru Raymon pun terlihat ikut bersedih mendengar itu.
Setelahnya, Guru Raymon pun menjelaskan pada Niko tentang peta itu. Dan juga memberikan sesuatu kepada Niko supaya memberikan benda tersebut kepada Elvano ketika ia kembali nanti.