
Dengan kesal Elvano melangkah cepat menuju ke dalam Mall. Dirinya sungguh tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini. Jelas-jelas Elvano memang tidak mengenal perempuan itu sama sekali. Elvano yakin, pasti ada sesuatu yang tidak beres. Pasti ada seseorang yang ingin menjebaknya.
Ya, bisa saja sih, mungkin ada orang yang ingin menjatuhkan martabatnya demi persaingan bisnis. Atau hal lainnya.
Saat Elvano sudah berada di dalam Mall, tiba-tiba dia melihat wanita yang tadi sedang berbicara dengan seseorang dari kejauhan. Elvano segera bersembunyi dan mengintip lebih dekat. Dia yakin pasti orang ini yang ingin menjebak dirinya.
"Eh, itu kan?"
Yup, Elvano mengenali orang itu dengan sangat jelas.
Ternyata dia yang melakukan ini semua. Wah .... berani sekali dia bermain-main denganku.
Elvano tidak langsung keluar saat itu. Dia membiarkan kedua orang itu terus mengobrol. Dan dirinya memilih mengeluarkan ponsel miliknya untuk merekam semua kejadian itu. Elvano sudah bisa menebak, pasti saat ini dirinya sudah menjadi trending topik di media sosial. Jadi setidaknya rekaman tersebut akan menjadi bukti konfirmasi yang paling tepat untuk mengklasifikasikan tentang semua yang sudah terjadi. Sekaligus akan menjadi bukti yang paling akurat jika dirinya ingin membawa kasus ini kejalur hukum. Terlihat pria tersebut memberikan sejumlah uang pada wanita itu karena sudah berhasil melakukan tugasnya.
Setelah kedua orang itu selesai berbicara, mereka berdua segera berlalu dari Mall Z. Kedua orang tersebut tidak tau bahwa Elvano sudah merekam semua perbuatan mereka yang tak terpuji itu.
Elvano memang memiliki otak yang sangat cerdas. Tidak semua hal dapat diatasi dengan cara kasar, ada kalanya semua itu harus dihadapi dengan cara yang lebih halus.
Saat merasa orang yang menjebaknya sudah benar-benar menghilang dari hadapannya, Elvano juga segera bergegas menuju ke kediaman keluarga Cheril. Dia yakin, Cheril pasti berada di sana saat ini.
_
_
Yup, seperti yang dipikirkan oleh Elvano, Cheril memang sedang di dalam perjalanan menuju ke rumah orangtuanya. Wanita yang berstatus sebagai istri Elvano ini sudah hampir tiba di rumah orangtuanya saat ini.
Cheril masih menangis. Perasaannya sungguhnya menentu. Di satu sisi, dia sangat ingin mempercayai Elvano, namun di sisi lain, wanita itu juga begitu pintar dalam berakting. Hingga Cheril sungguh sangat tidak tau harus mempercayai siapa.
Sesaat kemudian, taksi yang ditumpangi Cheril telah tiba di depan rumah orangtuanya. Setelah membayar biaya taksi, Cheril segera turun dan menuju ke arah rumah.
Tok tok tok tok tok
Cheril mengetuk pintu.
Jegrek!
Tak menunggu lama Bibi Jum sudah membukakan pintu untuk Cheril.
"Eh, Non Cheril .... Loh, kenapa menangis?" Bibi Jum terlihat panik melihat majikannya yang sudah cukup lama tidak ia temui itu malah menangis tersedu-sedu.
"Bibi ....
Hik hik hik hik hik
Bukannya menjawab, yang ada juga Cheril malah berhambur memeluk Bibi Jum. Sekalipun Bibi Jum merasa heran, tapi ia tetap mengangkat tangannya mengusap punggung Cheril perlahan.
"Kita masuk dulu Non." Ajak Bibi Jum.
Dengan perlahan Bibi Jum menuntun Cheril yang masuk ke dalam rumah. Lalu mereka berdua duduk di kursi pada meja makan.
"Non Cheril, apa yang sudah terjadi sebenarnya?" Tanya Bibi Jum kemudian, setelah selesai menyuguhkan segelas air putih pada Cheril.
Cheril yang sudah agak tenang pun menceritakan semuanya pada Bibi Jum. Semua yang terjadi di Mall Z. Tanpa ada satupun yang ia lewatkan.
Sementara Bibi Jum juga mendengarkan semua itu dengan seksama.
Saat Cheril selesai dengan ceritanya, Giliran Bibi Jum yang memberi tanggapan.
"Non Cheril, Bibi bukannya membela Den Vano, tapi Bibi sangat yakin, pasti semua ini ada penjelasannya. Bibi sama sekali tidak percaya Den Vano sudah melakukan itu semua." Ucap Bibi Jum sambil menatap Cheril lekat.
Sedangkan Bibi Jum tersenyum mendengar itu.
"Non, semua orang pasti bisa melihat ketulusan Den Vano. Bibi sangat yakin, dia bukan laki-laki yang seperti itu. Semua ini pasti ada penjelasannya. Bibi yakin, ini hanya salah paham. Jangan dipikirkan lagi ya Non. Lebih baik Non Cheril istirahat dulu, pasti sangat lelah kan?" Ucap Bibi Jum panjang lebar.
Walaupun masih ada benang kusut yang tersimpan di dalam otak Cheril, tapi Cheril sudah merasa lebih lega setelah berbicara dengan Bibi Jum.
"Makasih ya Bi, sudah mau mendengarkan aku. Oh iya, Mana Ibu dan Kak Adriel? Kok tidak kelihatan." Tanggap Cheril sambil melempar pertanyaan.
"Ada kok Non, sepertinya sedang berkaraoke di dalam kamar karaoke."
Di rumah ini memang terdapat sebuah kamar kosong yang disulap menjadi ruang khusus untuk menonton dan berkaraoke. Yang mereka sebut dengan ruang karaoke.
Mendengar itu Cheril pun pamit pada bibi untuk menuju ke ruang khusus tersebut.
_
_
Saat ini Elvano juga sudah tiba di kediaman keluarga Senjaya bersama sopir hotel Belle. Dan ketika terdengar suara ketukan, Bibi Jum sudah langsung membuka pintu. Dia tau, itu pasti Elvano.
"Apa Cheril ada di sini Bi?" Tanya Elvano basa-basi. Padahal dia sudah tau Cheril ada di sana, dirinya sudah menanyakan pada Bapak Satpam diluar tadi.
"Ada Den. Sedang ada di ruang karaoke bersama Non Adriel dan Nyonya." Jawab Bibi Jum ramah.
'Masuk Den, biar saya panggilkan Non Cheril." Tambahnya lagi. Yang diikuti anggukan dari Elvano.
Setelah memastikan Tuan Muda itu duduk di ruang tamu, Bibi Jum lalu menuju ruang karaoke untuk memanggil Cheril. Dan sesaat kemudian Cheril beserta yang lainnya keluar menemui Elvano.
Mereka sudah mendengar semuanya dari Cheril, ya, memang tak ada satupun dari mereka yang percaya akan hal itu.
Mereka yakin, ini semua pasti hanya salah paham.
"Selamat sore Bu, selamat sore Kak." Ucap Elvano sopan.
Dan juga dibalas dengan salam yang sama dari kedua orang yang ia sapa.
Setelahnya, kedua Ibu dan Anak ini sudah berdiam diri, memberi kesempatan pada Elvano untuk berbicara. Lalu Elvano pun melanjutkan kembali pembicaraannya.
"Cheril, kamu harus mendengarkan penjelasanku. Aku sama sekali tidak mengenal wanita itu. Kamu percaya kan padaku?" Ucap Elvano yang terdengar lirih.
Sedangkan Cheril sama sekali tidak ingin menjawab.
"Baiklah, aku punya buktinya. Kamu harus melihat ini. Wanita itu hanya ingin menjebak ku saja." Tambah Elvano sambil merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel, dia ingin memperlihatkan video hasil rekamannya pada Cheril.
Setelah melihat video tersebut, akhirnya Cheril bisa mempercayai Elvano. Ibu dan Kak Adriel pun bisa merasa lega. Yang mereka pikirkan memang benar, semua hanya salah paham belaka.
Namun mereka merasa penasaran, siapa lelaki yang ingin menjebak Elvano itu. Dan apa tujuannya pria itu melakukan hal tersebut?
"Maafkan aku Vano, aku sudah tidak mempercayai mu tadi." Ucap Cheril sambil beranjak dan berhambur memeluk tubuh kekar yang sedang duduk dihadapannya itu.
Elvano merasa senang, ia membiarkan Cheril memeluk nya, dia juga ikut mengangkat tangan mengusap kepala Cheril lembut.
"Kamu harus membayar mahal untuk ini, karena sudah berani tidak percaya padaku." Ujar Elvano menanggapi permintaan maaf dari Cheril. Membuat Cheril merasa sangat malu, sebab, Ibu dan Kakaknya tertawa kecil mendengar ucapan Elvano.
"Kamu ini. Selalu saja begitu. Oh iya, memangnya siapa laki-laki yang ada di video tadi? Kenapa dia melakukan semua ini?"
Cheril mencoba mengalihkan topik. Dan dia memang sangat penasaran dengan lelaki yang terdapat di dalam video itu. Cheril memang tidak mengetahui siapa laki-laki itu sebenarnya.