
~Kastil Red Rose~
Walaupun nomor ponsel Niko sudah tidak dapat dihubungi kembali, Elvano juga tidak begitu mengkhawatirkan hal itu lagi. Ia yakin sangat, tidak akan ada hal serius yang akan terjadi pada mereka setelah ini.
Justru saat ini Elvano malah sedang berhadapan dengan masalah baru di kastil.
"Loh, itu ... Itu kan?!" Elvano sedikit tersentak ketika tanpa sengaja melihat sesosok yang sangat tidak asing sedang berjalan mendekati kastil dari layar besar yang ada di ruang kerjanya.
Yup, layar besar tersebut adalah sebagai alat yang memancarkan hasil dari rekaman CCTV di kastil itu.
Saat ini CCTV bagian luar sedang merekam seseorang yang sedang berjalan mendekati kastil Red Rose. Dan Elvano mengenal orang ini dengan baik.
"Tapi sepertinya dia tidak sungguh-sungguh ke sini, apa dia akan menjadi tetanggaku?" Elvano berkata-kata sendiri sambil membulatkan matanya ketika tersadar sepertinya dugaannya memang benar.
Sebab laki-laki tersebut memang sungguh-sungguh memasuki bangunan yang berada tepat di samping kastil milik Elvano.
"Wah, sepertinya dia sungguh ingin mencari masalah denganku! Tapi bagaimana bisa dia mengetahui aku tinggal di sini?" Elvano masih berkata-kata sendiri dalam kebingungan.
Yang Elvano tau bangunan samping kastilnya itu adalah milik Pak Bernard. Dulunya Pak Teo bekerja di rumah itu. Namun karena Pak Bernard sekeluarga pindah keluar negeri bangunan tersebut pun akan dijual. Dengan alasan ini juga Pak Teo mencoba melamar pekerjaan di kastil Elvano. Dan yang Elvano tau hingga saat ini belum ada yang membeli bangunan itu.
Sesaat kemudian, Elvano memutuskan untuk keluar dari ruang kerjanya. Ia terlihat begitu gelisah.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus menghampirinya? Apa dia memang sengaja pindah ke sini karena ingin membuntuti ku? Atau hanya kebetulan saja?Aaargh .... " Gumam Elvano sambil mondar-mandir di depan ruangan kerjanya. Sesekali ia juga mengusap wajah serta rambutnya kasar.
Pada saat yang bersamaan, dia juga melihat Cheril sedang berjalan menuju ke arah pintu keluar. Sontak Elvano pun memanggilnya.
"Hei, kamu mau kemana?" panggil Elvano.
Jelas wanita itu merasa kaget dan segera membalikkan badannya. Lalu juga melangkah mendekati Elvano.
"Eh, sayang ... Kamu ada di sini? Aku pikir kamu sudah pergi," ucap Cheril sambll berjalan.
"Maksud kamu kalau aku pergi, kamu juga bisa pergi dengan sesukamu?" pendapat Elvano.
Saat itu Elvano memasang tampangnya yang sangat dingin. Juga terlihat begitu mempesona. Ia berdiri tegak dengan kedua tangan yang ia lipat di atas dadanya, serta pandangannya lurus tertuju pada Cheril.
Ah, kenapa dia memasang wajah yang begitu menakutkan ... Tapi juga sangat gagah ....
Cheril saja merasa terpanah sekaligus ada sedikit rasa ketakutan yang menghampirinya.
"Tidak kok sayang, aku hanya ingin mencari angin segar saja di taman. Rasanya begitu membosankan berada di dalam kamar seorang diri," jelas Cheril sambil memegang dada Elvano membujuknya supaya dia tidak marah lagi. Cheril juga sudah menurunkan tangan Elvano yang tadinya terletak di atas dada nya.
Dan sepertinya Cheril memang berhasil, Elvano memang sudah menurunkan nada bicaranya.
"Apa benar begitu?" tanya Elvano pelan.
"Tentu saja ... Lagian aku kan juga tidak mengenal kota ini. Memangnya aku bisa pergi kemana coba?" protes Cheril.
Benar juga ya ... Tapi bagaimanapun aku tetap harus waspada. Apalagi laki-laki itu sekarang ini juga tinggal di samping kastil.
Memikir hal itu sudah membuat Elvano menjadi kesal kembali.
"Hei, kalau mau berjalan di taman juga tidak boleh sendiri," ucap Elvano setengah berteriak.
"Kamu itu kenapa sih sayang? Aku kan bicara baik-baik. Kmau malah membentak ku seperti ini. Apa kamu salah minum obat ya?" kesal Cheril
"Apa maksud mu? Kamu sudah semakin kurang ajar ya sekarang. Sepertinya aku harus mendidikmu lebih keras!" Elvano berkata dengan suara yang sangat lantang dan terdenagr tegas. Tentu saja Cheril merasa ketakutan mendengarnya.
Apa maksudnya ... Apa dia akan memukul ku?
Hal inilah yang datang menghampiri pikiran Cheril saat itu.
Elvano memang sudah menurunkan tangan Cheril yang memegang dadanya. Dan dia juga melangkah selangkah kedepan supaya bisa lebih mendekati Cheril. Namun karena ketakutan Cheril malah memundurkan langkahnya. Membuat Elvano harus terus mengikuti irama kaki Cheril hingga wanitanya itu benar-benar mentok di tembok.
Brek!
Akhirnya Elvano bisa dengan leluasa mendekap tubuh Cheril dengan sangat erat.
Eh ....
"Memangnya apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Elvano.
"Ehm? Aku pikir kamu akan memukul ku," jawab Cheril jujur.
"Gadis bodoh! Seorang laki-laki sejati tidak akan pernah memukuli wanitanya," tegas Elvano.
Tentu saja Cheril merasa sangat terharu. Dia pun ikut mengangkat kedua tangannya untuk membalas pelukan Elvano. Dan tak terasa pipinya juga sudah terasa panas. Matanya yang sudah tak dapat membendung air yang terkumpul di sana pun perlahan menetes.
Wanita itu kini merasa sangat bahagia. Dia sudah mendapatkan seorang laki-laki sejati. Tidak seperti pernikahannya dahulu. Yang tanpa cinta, dan juga selalu mendapatkan perlakuan
kasar dari Jimmy waktu ini. Tiba-tiba saja Cheril jadi teringat kembali masa itu. Membuat Cheril sangat mensyukuri kehidupannya yang saat ini.
Sehabis gelap, terbitlah terang. Mungkin kalimat singkat itu bisa perwakilan dari isi hati Cheril saat ini.
Menyadari seperti ada sesuatu yang membasahi punggungnya, Elvano pun melepaskan pelukan itu. Lalu dengan sigap, ia juga mengusap pipi Cheril yang sudah basah penuh denagn air mata.
"Kenapa menangis? Kamu lebih cantik jika tersenyum!" puji Elvano yang memang ditanggapi Cheril dengan senyuman yang sedikit ia paksakan.
"Gadis pintar ... Seperti ini memang lebih menawan," sekali lagi Elvano memberikan pujian pada Cheril.
Cup!
Satu kecupan lembut Cheril berikan di pipi Elvano. Membuat laki-laki itu kaget sekaligus bahagia.
Lihat saja dia, ekspresinya saja sudah begitu menggelikan saat itu.
Wajah Elvano memerah seketika, dia juga memegang bekas ciuman Cheril dengan satu tangannya sambil tersenyum kecil. Sudah seperti anak ABG yang baru mendapatkan kecupan pertama dari pacarnya saja. (bayangkan seperti itu ya, Kak. Hehe)
Bahkan istrinya sudah pergi dari hadapannya saja ia tidak mengetahuinya. Waduh ... Tuan Muda ini ... Haha.
Sementara Cheril memang sudah langsung berlarian kecil menuju pintu keluar setelah mencium pipi Elvano tadi. Sesaat setelah Elvano menyadari hal tersebut, ia pun mengejar Cheril.
"Cheril ... Kamu ada di mana?" teriak Elvano.
Sebab dia tidak dapat menemukan Cheril ketika tiba di halaman depan.
"Di sini, sayang. Di taman belakang," jawab Cheril yang juga setengah berteriak.
"Aku sedang melihat bunga. Indah sekali, sayang. Kenapa kamu tidak memberitahukan padaku tentang taman indah ini?" lanjut Cheril melemparkan kalimat protes.
"APA? Gawat!" bukannya menanggapi Cheril, Elvano malah terlihat begitu panik.
Elvano sudah segera berlarian dengan sangat terburu-buru ke arah taman belakang.