Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Hubungan Cheril dan Elvano yang sudah diketahui oleh Ayahnya


Jadi setelah kepergian Ibu Cheril dari ruang tengah, Ayahnya pun membuka suara mengajak Cheril berbicara.


"Cheril." Ayah meletakkan kembali koran yang ada ditangannya diatas meja.


Cheril yang masih cengengesan menertawai Ibunya juga menghentikan tawanya.


"Iya Yah, Ada apa?"


"Yang dikatakan Ibumu tadi tidak benar kan? Ayah tau, Sandi bukan orang yang ingin kamu kenalkan pada Ayah dan Ibu sore ini."


Jantung Cheril seketika berdegup kencang.


"Mak-maksud Ayah?"


"Ayah sudah tau tentang hubunganmu dengan Elvano." Kata Ayah Cheril to the point membuat Cheril mematung saking kagetnya.


'Jadi Ayah sudah mengetahuinya?'


Tanpa menunggu tanggapan dari anaknya, Dedy Senjaya melanjutkan pembicaraannya.


"Semalam Om Bram tiba-tiba nelfon Ayah mengajak Ayah makan malam di sebuah Restoran tempat dimana Jimmy bertemu denganmu dan Elvano."


Ciiiiiiih..


'Jadi dia yang memberitahu Ayah?


Dasar tukang adu ! Huh.'


Cheril hanya bisa menundukkan kepalanya, ia sama sekali tidak memiliki keberanian untuk bersitatap dengan Ayahnya.


"Cheril, kamu dengar Ayah baik-baik !"


Ayah Cheril menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan pelan setelah itu melanjutkan kembali pembicaraannya.


"Elvano memang anak yang cerdas, Ayah sangat menyukai caranya bekerja, sekali pun ia diberi pekerjaan yang sangat tidak masuk akal oleh Billy, tapi dalam waktu 1minggu ia sudah bisa menguasai semuanya dengan sangat profesional termasuk dalam hal mengawasi para Desainer."


Cheril mulai mengangkat wajahnya untuk bersitatap dengan Ayahnya sambil mencerna setiap kalimat baik yang sudah dikatakan maupun yang akan dikatakan Ayahnya itu


"Ayah memang sangat optimis bila Indos Perkasa sepenuhnya dipegang oleh Elvano, Ayah sangat yakin Perusahaan itu akan berkembang dengan sangat luar biasa."


Terukir senyuman lebar pada wajah Ayahnya ketika membicarakan hal ini.


Cheril juga merasa sedikit lega mendengar apa yang terucap dari mulut Ayahnya itu, tapi semua kelegaan itu lenyap berubah menjadi rasa penasaran ketika Ayahnya kembali melanjutkan kalimat berikutnya.


"Cheril, Ayah memang sangat mengapresiasi kemampuan Elvano, namun ada satu hal yang membuat ayah sangat berat untuk...."


Kata-katanya tiba-tiba terhenti.


Deg


'Ada apa Yah? Katakan, katakan semuanya, Cheril sudah mempersiapkan hati Cheril untuk mendengarkan semuanya.' Cheril bergumam dalam hati.


Padahal Cheril hanya berpura-pura untuk kuat sih.


"Ada apa Yah? Teruskan saja, Cheril sudah siap kok untuk mendengarkan." Akhirnya ia memberanikan diri untuk mengatakan isi hatinya yang penuh dengan rasa penasaran.


Huuuuuuuuuuh


Ayah menghela nafas kasar


"Tidak apa-apa Cheril, undanglah Elvano malam ini untuk makan malam bersama kita, Ayah akan merestui kalian bila kamu dan Elvano memang saling mencintai !"


Ayah Cheril tidak mampu melanjutkan kembali kalimat selanjutnya, yang sudah pasti akan menggores sebuah luka didalam hati anaknya itu. Ia juga tau Cheril tidak mungkin bahagia jika hidup dengan Jimmy.


Cheril tidak tau harus merasa senang atau sedih saat ini, ia jelas tau Ayahnya sedang menyembunyikan sesuatu darinya, dan tentu Cheril sudah bisa sedikit menebak dalam hatinya, hanya saja ada beberapa spekulasi disana.


Mungkinkah Ayah ingin mengatakan Elvano tidak pantas untuk Cheril karna ia Hanya berasal dari keluarga yang kurang mampu.


Lalu apakah ini ada hubungannya dengan saham Om Bram yang ada pada Perusahaan Ayah yang terbaru?


Cheril hanya bisa berkata-kata dalam hatinya, ia tidak memiliki keberanian untuk mengutarakan semua itu dihadapan Ayahnya.


Melihat Cheril yang kembali menundukkan wajahnya, Dedy Senjaya tau anaknya itu pasti sedang memikirkan kalimatnya yang menggantung.


"Cheril, sudahlah, kamu tidak perlu berpikir apapun saat ini, Ayah yang akan menyelesaikan semuanya. Bila perlu segeralah bertunangan setelah itu kita akan mengurus acara pernikahanmu dengan Elvano." Ayah Cheril berkata sambil mengelus lengan Cheril lembut membuat Cheril mulai meleleh dengan kehangatan sentuhan Ayahnya, ia pun berhambur memeluk tubuh Ayahnya yang sudah sangat lama tidak ia sentuh nya itu.


Dedy Senjaya tau anaknya pasti bisa menebak isi pikirannya dengan baik, ya semua itu memang ada hubungannya dengan saham Bram yang sangat berpengaruh terhadap Perusahaannya itu. sedangkan saat ini keselamatan Perusahaan inti pun sudah bergantung pada Perusahaan yang baru karna semua modal yang ada sudah ia pertaruhkan untuk mengembangkan perusahaan yang baru dibangun itu.


Itulah sebabnya Ayah Cheril sedikit mencemaskan masa depan Perusahaannya jika tetap merestui hubungan anaknya dengan Elvano. Namun dia juga tidak tega jika harus membuat anaknya terluka.


*****


Last night


Setelah perseteruan yang telah terjadi diantara Elvano dengan Jimmy, Bram yang memasuki Restoran mewah dimana Jimmy sedang menunggu nya untuk makan malam kaget melihat wajah anaknya sudah babak belur. Ia pun menanyakan apa yang telah terjadi dan Jimmy pun menceritakan semuanya. Karna itu laki-laki paruh baya itu sangat murka mendengar semua yang diceritakan anaknya itu.


'Dedy, kenapa kamu sama sekali tidak menghargai ku?


Seharusnya kamu bilang padaku bila memang Cheril sudah memiliki pilihannya sendiri.


Jika tau begitu aku tidak mungkin memaksa menjodohkan Jimmy pada nya.'


'Sekarang kamu harus menanggung semua akibatnya, aku tidak rela putraku semata wayang ini harus dipermalukan seperti ini !'


Bram kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya, dan segera mencari nama Dedy Senjaya pada kontaknya setelah ketemu ia pun menekan simbol telpon berwarna hijau, sedetik kemudian tertulis memanggil Dedy Senjaya pada layar ponselnya.


Setelah mendapat panggilan dari Bram, Ayah Cheril pun segera menghampiri nya di Restoran mewah tempat perjanjian yang disebutkan oleh Bram.


Bram pun meminta Jimmy untuk menceritakan semuanya pada Ayah Cheril ketika pertemuan itu berlangsung. Bram pada saat itu sangat marah ia bahkan sudah tidak mampu untuk berkata-kata saking marahnya.


Setelah Jimmy selesai mengatakan semuanya barulah ia bersuara.


"Dedy, kenapa kamu tidak memberitahukan padaku bahwa anakmu Cheril sudah memiliki pilihannya sendiri? Apa setidak berharga itu persahabatan kita selama ini?" Bram mengatakannya dengan nada yang cukup keras membuat orang-orang yang sudah mulai ramai di dalam restoran melemparkan pandangannya ke arah meja mereka.


Ayah Cheril hanya bisa tertunduk menyesali semuanya. Ia memang bersalah, jika ia membatalkan perjodohan itu lebih awal Bram pasti akan mengerti.


"Sekarang kau harus menanggung akibatnya karna sudah membuat Jimmy menanggung malu seperti ini !" Ucap Bram masih dengan nada yang cukup keras


Para karyawan Restoran sudah bersiaga takut kejadian yang sudah terjadi tadi terulang kembali.


"Jim,"


Bram beralih pada putranya.


"Apakah kamu masih menginginkan Cheril setelah semua perlakukan ini?"


Jimmy mengernyitkan senyuman sinis dari sudut bibirnya. Sepertinya ia sedang merencanakan sesuatu diotaknya.


"Tentu saja Ayah, aku masih tetap menginginkannya !"


Ciiiiiih...


"Kamu dengar Dedy? Jimmy masih menginginkan anakmu itu. Karna itu aku akan memberikan kamu satu kesempatan terakhir, pisahkan mereka dan segera satukan Jimmy dengan Cheril jika ingin Perusahaanmu selamat !"


Anakmu bahkan tersenyum sesinis itu. Jika Cheril aku serahkan padanya aku sama sekali tidak yakin ia akan membahagiakan putriku.


Namun bagaimana dengan nasib Perusahaanku nantinya.


Dedy Senjaya bagaikan menelan buah simalakama, keputusan apapun yang ia ambil akan ada resiko besar didalamnya.


Disatu sisi ia juga tidak ingin anaknya hidup menderita, disisi lainnya ia juga tidak ingin Perusahaan yang sudah ia bangun dengan susah payah harus hancur begitu saja.