Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Episode 155


Dari ketinggian, Elvano masih bisa melihat kerumunan orang-orang di dekat istrinya, Cheril. Jelas ia sangat tidak suka. Mereka semua menatap Cheril kagum. Ada yang memegang tangan Cheril, ada yang membelai rambutnya dan ada juga yang mengajak berfoto bersama.


Membuat Elvano mempercepat langkah kakinya menuruti anak tangga.


Kalian bisa membayangkan bagaimana ekspresi Elvano saat itu? Ya, Elvano memasang wajah kesal, berjalan cepat sambil menghentakkan kaki kuat, hingga menimbulkan suara keras di area tangga.


Namun karena suara musik juga sudah sangat mendominasi rumah mewah tersebut, hentakan yang diciptakan oleh Elvano tidak terdengar oleh mereka yang berada di lantai dasar.


"Bubar ... Bubar ... Semuanya bubaaaar ... " Teriak Elvano ketika ia sudah hampir mendekati Cheril.


Semua mata kini tertuju pada nya.


Tania yang baru akan mengambil foto bersama Cheril juga menghentikan aktivitasnya dan juga ikut melempar pandangan ke arah Elvano.


Tolong Tuan Muda .... Jangan tunjukkan lagi sikap konyolmu itu ....


Pinta Cheril dalam hati.


Cheril sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Elvano pasti akan bersikap semakin konyol.


Dan memang hal itulah yang terjadi.


"Heh, Jangan menatap istriku seperti itu!"


"Kamu .... Tidak ada acara foto-foto!"


"Kamu juga tidak boleh dekat-dekat dengan Cherilku!"


Sederetan kalimat menggelikan itu keluar dari mulut Elvano.


Jika baru berkumpul dengan keluarga dan para sahabat saja Elvano sudah seperti ini, bagaimana nanti? Ribuan undangan akan menghadiri pesta yang bisa dikatakan pesta yang sangat besar ini.


Sementara ibu Berliana yang ingin memeluk anaknya saja tidak diperbolehkan oleh Elvano.


"Vano .... Jika kamu tidak memperbolehkan Ibu memeluk anak Ibu, Ibu juga tak akan mengijinkan mu menikahi anak Ibu!" Ancam Ibu Berliana. Pastinya Ibu Berliana tidak serius dengan kata-katanya itu. Semua orang bisa melihat nada bercanda dari kalimat tersebut, hanya Elvano yang terlampau polos lah yang tidak mengerti.


"Iiish .... Baiklah, Ibu boleh memeluk Cheril, tapi hanya sebentar saja!" Ujar Elvano mendengus kesal.


Dan kejadian tersebut berhasil menciptakan kegaduhan yang dipenuhi dengan tawa kecil dari para penghuni yang ada di sana saat itu.


Tepat pukul 13.00, tamu pertama telah hadir. Mereka adalah Niko dan ibunya.


Dan hal yang sama terjadi pada Niko. Ketika ia hendak menyalami Cheril, Dengan sigap Elvano menepis tangan Niko. Membuat Niko dan ibunya kaget seketika.


"Tidak ada yang boleh menyentuh tangan istriku selain aku!" Titah Elvano.


"Apa?" Gumam Niko pelan, sembari melototkan matanya.


Sedangkan ibu Niko tersenyum kecil mendengar alasan yang terlontar dari mulut Elvano.


Tuan Muda .... Tolong jangan tunjukkan sikap aneh mu itu pada tamu lainnya. Cukup padaku saja.


Tegas Niko dalam hati.


"Heh .... Tidak boleh menatap Cheril seperti itu juga!" Teriak Elvano kuat.


"Eh ....


Saat ini Niko dan ibunya sudah menggeleng-gelengkan kepala mereka.


"Nona, kamu sangat cantik!" Puji Niko. Sengaja ingin membuat Elvano murka.


"Eh .... KAMU .... "


Elvano sudah mulai murka, Niko berhasil.


"Sudahlah sayang! Sudah .... Sudah!" Bujuk Cheril sambil mengusap-usap bahu Elvano.


Padahal Cheril sangat ingin meneriaki Elvano. 'Tolong jangan bersikap seaneh ini. Jika tidak memperbolehkan orang lain melihatku ataupun menyalami tanganku, kenapa kamu menggelar pesta ini?!'


"Niko, Tante .... Silahkan menikmati pesta ini ya!" Tambah Cheril.


Untunglah kemarahan Elvano tidak berlanjut. Dia sudah tidak berkomentar lagi setelah Cheril mengusap bahunya tadi.


Hanya wajah tampannya itu saja yang masih sangat cemberut.


Niko dan ibunya juga segera bergabung dengan yang lain.


(Untuk cerita Niko kita bahas di lain waktu ya. Sekarang kembali fokus pada Elvano dan Cheril. Hehe)


Saat itu Cheril dan Elvano belum menuju pelaminan taman belakang, mereka berdua masih berada di dalam ruang tamu. Cheril sendiri belum mengetahui perihal taman belakang, dia pikir, acara pernikahan mereka akan berlangsung di dalam ruang tamu.


Rencananya, Elvano baru akan mengajak Cheril berpindah ke taman belakang menjelang malam. Pelaminan tersebut baru akan terlihat sangat indah pada malam hari. Sementara tamu undangan di siang hari juga tidak begitu banyak. Kebanyakan hanya dari kalangan keluarga dekat saja. Dan beberapa sahabat dekat Cheril serta Elvano yang menginap di rumah itu.


Selain itu, Elvano juga sudah menyiapkan sebuah kejutan bagi Cheril di taman belakang saat malam nanti.


Semua sahabat dan keluarga Cheril juga Elvano berkumpul di satu titik, sedangkan Cheril dan Elvano malah duduk cukup jauh dari mereka.


Membuat Cheril terlihat sedih.


"Kamu kenapa sedih begitu sayang?" Tanya Elvano.


"Eh .... Tidak apa-apa." Tanggap Cheril singkat, sambil sesekali melirik ke arah titik perkumpulan.


"Kamu mau berkumpul dengan mereka ya?" Tanya Elvano lagi.


Elvano bisa menebak isi pikiran Cheril dengan sangat baik.


Elvano memang tidak rela istrinya dikerumuni oleh orang banyak, sekalipun mereka adalah keluarganya. Tapi ia juga tidak tega melihat Cheril terlihat bersedih begitu.


"Ayo kita ke sana!" Ajak Elvano akhirnya.


"Eh .... Kamu serius?" Tanya Cheril.


Ia ingin memastikan dirinya tidak salah dengar.


"Ya .... Ayo!"


Tanpa menunggu jawaban Cheril, Elvano langsung menarik pergelangan tangan Cheril menuju titik perkumpulan.


Jelas, Cheril merasa sangat senang. Wajahnya berseri-seri. Cheril memang sudah lama sekali kan tidak bertemu dengan keluarga dan sahabat-sahabatnya. Apalagi dengan Kak Adriela. Cheril hanya bisa bertemu dengan Adriela per 1tahun sekali.


Walaupun tetap saja ada aksi konyol yang ditampilkan oleh Elvano, Cheril tetap merasa senang. Cheril bercerita banyak hal pada para sahabat dan keluarganya. Terutama tentang dirinya yang menghilang dari kota XX.


"Eh, Ayah .... Bagaimana kabar Butik?"


Cheril tiba-tiba teringat tentang butik miliknya.


"Maafkan Ayah soal itu Cheril!" Tanggap ayah Cheril lalu menundukkan wajahnya.


Suasana yang sebelumnya happy berubah tegang.


"Memangnya apa yang terjadi Yah?" Tanya Cheril penasaran.


"Butik itu sudah dijual oleh Jimmy." Ucap ayah Cheril sedih.


"APA? Bagaimana bisa?"


Tak hanya Cheril yang kaget, Elvano pun ikut kaget mendengar itu.


"Ayah juga tidak tau Cheril. Ayah baru mengetahui semua itu sekitar 1 minggu yang lalu. Ketika ayah mendatangi Butik itu untuk mencari keberadaan mu. Dan Butik itu sudah berpindah pemilik. Pantas saja selama beberapa waktu belakangan, Sekretariat Jen tidak pernah memberikan rincian mengenai pesananmu."


"Maafkan Ayah, Cheril. Karena terlalu sibuk, Ayah tidak memperhatikan hal ini. Bahkan Ayah sama sekali tidak memiliki waktu untuk menjenguk mu." Sesal ayah Cheril.


"Iya, benar kata Ayahmu. Ibu juga minta maaf ya Cheril. Ibu juga tidak pernah mencoba menghubungi mu. Hingga Jimmy sendiri yang mengatakan pada kami, bahwa kamu menghilang. Itupun dia menuduh Elvano menculik kamu." Sambung ibu Cheril.


"APA?"


Sekali lagi Cheril kaget mendengar ucapan ibunya.


"Cheril .... Katakan padaku, apa kamu ingin aku menghancurkan hidup laki-laki baj****n itu?" Sambung Elvano geram.


"Eh ....


Cheril terdiam sesaat. Ia memang merasa sangat marah pada Jimmy. Tapi Cheril juga bukan wanita yang sejahat itu. Apalagi sampai menghancurkan hidup Jimmy. Sedikitpun tidak terlintas di pikiran Cheril.


"Sudahlah Cheril, Vano .... Ini adalah hari bahagia kalian ... Tidak perlu membahas hal yang tidak penting seperti ini!" Sambung Ibu Winda tiba-tiba.


Cheril tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Ibu Winda.


"Ibu benar, lebih baik kita tidak perlu membahas ini sekarang." Tanggap Cheril yang juga disetujui oleh Elvano termasuk juga ayah Cheril.


Setelahnya, mereka sudah tidak membahas soal itu lagi.