
"Nona, apa anda baik-baik saja? Atau mau saya panggilkan Dokter?" tanya Bibi Nois masih dengan ekspresi panik.
"Tidak perlu, Bi. Aku tidak apa-apa kok, hanya saja tidak tau kenapa tiba-tiba merasa sangat mual ketika mencium aroma dari makanan tersebut," jelas Cheril.
"Atau jangan-jangan Nona hamil?" pendapat Bibi Nois.
Raut wajah Bibi Nois berubah ceria seketika.
"Entahlah ... Sepertinya aku memang belum haid bulan ini," tanggap Cheril sembari mencoba mengingat-ingat kembali jadwal bulanannya.
Pada saat Cheril dan Bibi Nois sedang berbincang-bincang di dalam kamar yang pintunya terbuka lebar, di ruang tamu terdengar langkah kaki seseorang yang sedang berjalan menuju ke dalam kastil.
Namun Bibi Nois dan Cheril tidak menyadari hal ini sama sekali.
"Wah ... Tuan Muda pasti akan sangat senang mendengar Nona hamil,"
Seseorang yang sedang berjalan tadi bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Bibi Nois tadi. Reflek ia menghentikan langkahnya.
"Entahlah, Bi ... Bisa jadi dia juga tidak menginginkan bayi ini," lirih Cheril sambil menunduk.
Baru saja Bibi Nois hendak membuka mulut untuk menanggapi ucapan Cheril, seseorang yang sedang berjalan di ruang tamu tadi sudah berdiri di depan pintu kamar saat ini.
Dan langsung masuk ke dalam topik pembicaraan mereka.
"Dasar wanita bodoh! Mana ada seorang ayah yang tidak menginginkan anaknya sendiri?" ucap pria misterius yang tak lain adalah ayah dari bayi itu sendiri.
Yup, dia adalah Elvano.
"Tuan Muda?"
Bini Nois terlihat heran. Jelas-jelas tadi Elvano sudah pergi dari kastil. Bagaimana bisa berada di sini?
Memang benar tadinya Elvano sudah pergi dari kastil ini. Malah ia sudah berencana pergi sangat jauh dari Cheril. Tujuannya adalah untuk membawa peta yang asli kembali ke gunung Elang Muda sekaligus menenangkan diri untuk beberapa hari di sana.
Namun di pertengahan jalan, Elvano baru menyadari bahwa peta tersebut tertinggal di dalam kamar. Karena hal inilah ia kembali. Tak disangka ia malah mendapatkan kabar bahagia ini.
"Bukankah kamu sudah pergi? Kenapa kembali?" cibir Cheril.
Tap tap tap
Elvano tidak menjawab, ia hanya melangkah perlahan mendekati Cheril. Bibi Nois yang sebelumnya berada di samping Cheril segera beranjak dan keluar dari kamar utama.
"Kenapa tidak bilang kalau kamu hamil?" protes Elvano sambil mengelus perut Cheril lembut.
"Maafkan papa, Nak! Tadi papa sudah marah-marah pada kalian." Sesal Elvano masih sambil mengelus-elus perut Cheril.
Sedangkan Cheril masih berusaha mempertahankan sikap dinginnya.
"Kamu masih marah?"
Cup!
"Maafin aku ya, Sayang!
Mama itu tidak boleh ngambek, kasihan sama Baby G yang ada di dalam perut. Nanti Baby G ikut sedih loh!" nasehat Elvano setelah mengecup kening Cheril.
"Ehm? Baby G? Maksud kamu?"
"Iya, baby kita namanya Baby G!" ucap Elvano sambil tersenyum.
Hahaha
"Aku bahkan belum tau benar hamil atau tidak. Kamu malah sudah memberikan inisial pada baby kita?"
Elvano menggaruk lehernya yang tidak gatal ketika mendengar Cheril berkata demikian. Ia menjadi salah tingkah sendiri karena merasa malu.
"Baiklah! Ayo kita pergi periksa!" ajak Elvano kemudian sekaligus mengalihkan pembicaraan.
"Sekarang? Aku kan belum mandi,"
"Ya sudah ... Ayo mandi dulu! Biar aku temenin!"
"Iiish ... Dasar Mesum!"
"Bukankah kamu juga suka?"
"Apaan sih?"
Cheril mengakhiri pembicaraannya sambil mencubit pinggang Elvano yang membuat dia berteriak kesakitan.
Cup!
Ketika Cheril meleng, Elvano mencuri kesempatan mengecup pipi Cheril. Membuat Cheril berteriak dengan suara kencang.
"Jeong Shu si muka MESUM!!"
Eh ....
"Kenapa berteriak begitu? Nanti Baby G nya kaget loh. Eh, jantungnya kan belum kuat. Bagaimana ini? Jangan-jangan dia kenapa-kenapa lagi," racau Elvano panik.
Elvano benar-benar panik.
"Ehm? Apa bisa seperti itu?"
Tak hanya Elvano yang kaget, Cheril pun ikut panik. Cheril kan juga tidak tau apa-apa perihal ini. Yang dikatakan oleh Elvano malah terdengar sangat masuk akal baginya.
"Ayo kita ke dokter sekarang! Kamu tidak perlu mandi saja, pakaikan parfum yang banyak biar wangi," ide Elvano.
Dan parahnya, Cheril juga menyetujui itu karena dia sendiri juga tak kalah khawatirnya dengan Elvano.
Elvano bahkan tidak mengijinkan istrinya bergerak sama sekali. Ia yang mengambilkan parfum di meja nakas dan juga mengambilkan pakaian ganti untuk Cheril.
Setelah itu, Elvano juga menggendong Cheril ala bridal menuju mobil. Membuat Bibi Nois kebingungan menyaksikan pasangan ini.
"Apa yang terjadi pada Nona, Tuan Muda?" tanya Bibi Nois heran.
Awalnya Bibi Nois berpikir Cheril terluka, makanya dia bertanya.
"Ini ... Aku mau mengajak Cheril ke Dokter," tanggap Elvano santai.
"Apa yang terjadi, Tuan Muda? Apakah Nona terluka?" kali ini Bibi Nois sedikit panik.
"Eh, tidak. Bukan begitu, Bi. Cheril kan sedang hamil, jadi aku tidak mau Baby G kenapa-kenapa. Jadi aku gendong saja. Sudah ya Bi, kami pergi dulu!"
Elvano segera berlalu dengan cepat menuju mobil.
Sedangkan Bibi Nois yang terbengong menyaksikan semua itu mulai meledakkan tawanya ketika majikannya sudah tak terlihat.
Bahahahaha
"Ada-ada saja Tuan Muda ini. Yang benar saja, orang hamil tidak boleh berjalan." Gumam Bibi Nois setelah berhasil menghentikan tawanya.
"Baby G? Bahkan Tuan Muda juga sudah menamai anak itu."
Bibi Nois tersenyum kecil. Ia juga ikut senang melihat majikannya begitu berbahagia.
--------
"Sayang, sepertinya kamu terlalu berlebihan deh. Apa benar seorang ibu hamil tidak boleh berjalan? Aku lihat banyak kok ibu-ibu hamil yang berjalan. Tidak digendong kok," pendapat Cheril.
"Ya, mungkin itu karena suaminya tidak kuat menggendong istrinya. Makanya dibiarkan berjalan sendiri," tanggap Elvano.
"Ehm? Begitukah?"
Cheril mengucap sambil menggaruk kening sebelah kanannya dengan jari telunjuknya.
"Terus, kalau perut aku sudah besar, apa kamu masih kuat menggendongku?" tanya Cheril konyol sambil membayangkan perutnya yang membuncit.
Yang juga membuat dirinya menggeleng-gelengkan kepalanya saat membayangkan dirinya berada di dalam pelukan Elvano dengan perut membuncit.
Semua orang pasti akan menatapku heran ....
Begitulah isi otak Cheril.
"Apa yang sedang kamu pikirkan? Tentu saja aku akan selalu kuat untukmu,"
"Tapi ini sungguh tidak masuk akal. Aku benar-benar tak pernah melihat ibu hamil yang digendong oleh suaminya. Nanti kita sekalian tanyakan ke Dokter ya, ibu hamil itu boleh berjalan sendiri atau tidak," tutur Cheril.
"Ya sudah ... Terserah kamu saja. Yang paling penting sekarang kita harus memastikan dulu anak kita baik-baik saja jantungnya.
Sudah! Jangan banyak bicara! Nanti jantung Baby G bertambah lemah loh."
Setelahnya mereka berdua memang sudah tak bersuara lagi. Suasana hening benar-benar tercipta hingga tiba di rumah sakit.
Cheril bahkan melupakan dirinya yang belum tentu hamil. Ia malah begitu panik karena terpengaruh dengan ucapan suaminya yang tak masuk akal itu.