Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Penjelasan dokter


Hai Kak, sebelum melanjutkan ijinkan saya untuk mengucapkan selamat hari raya Idul Adha bagi semua teman-teman yang merayakan. Mohon maaf lahir dan batin.


*******


Elvano dan Cheril duduk berhadapan dengan Dokter Johnson. Dan dokter itu bersiap untuk memberikan penjelasan tentang hasil USG yang sudah mereka lakukan terhadap Cheril.


Ehem ....


Dokter Johnson lebih dulu berdehem sebelum memulai pembicaraannya.


"Jadi begini Tuan Muda, dari hasil USG yang kami lakukan, sepertinya Nona Cheril memang sedang hamil. Hanya saja belum terlihat jelas karena usia dari kandungan Nona Cheril baru berusia beberapa hari. Jadi di rahim Nona Cheril belum terlihat ada apapun. Namun sudah terlihat membengkak yang tandanya sedang terjadi pembentukan embrio."


"Kenapa bisa begitu, bukan harusnya sudah ada bayi di dalam rahim istri saya?" tanya Elvano dengan ekspresi bingung.


Dokter Jhonson mengembangkan senyumnya. ia merasa senang karena Elvano ternyata sangat berantusias ingin mengetahui tentang kehamilan. Menurut dirinya tak semua laki-laki akan melakukan hal ini. Dokter Johnson sangat mengapresiasi sikap Tuan Muda Elvano yang satu ini.


"Tidak segampang itu, Tuan Muda. Semua membutuhkan proses. Seorang bayi tidak hadir begitu saja. Jadi semua berawal dari pembentukan embrio atau gumpalan darah. Dan embrio tersebut akan terus berkembang dari bulan ke bulan."


Oh, begitu ya. Berarti semuanya masih aman, syukurlah.


Batin Elvano dan Cheril bersamaan. Mereka teringat dengan teriakan Cheril di kastil tadi. kekhawatiran mereka mengenai jantung Baby G yang mungkin saja akan terganggu ternyata tidak berfaedah. Itu hanya pemikiran mereka saja. Baby G bahkan belum terbentuk sama sekali. Sekalipun hanya berupa embrio.


"Oh iya, satu hal lagi yang ingin saya tanyakan. Apakah orang hamil itu diperbolehkan berjalan sendiri?"


"Ehm?


Dokter Johnson melemparkan pandangannya ke arah kedua perawatnya, demikian juga dengan kedua perawat itu yang memandang Dokter Johnson dengan tatapan bingung.


Jadi ini alasannya kenapa Tuan Muda Elvano menggendong Nona Cheril ketika memasuki ruangan ini tadi.


Dokter Jhonson sungguh tidak habis pikir ternyata Tuan Muda ini sungguh sangat polos dan intens. Ketiga orang ini berusaha mengulum senyum dan menahan tawa mereka supaya tidak meledak setelah mendengar ucapan Elvano tadi.


Sedangkan Cheril wajahnya juga memerah seketika saat Elvano melempar pertanyaan tersebut.


Kenapa masih menanyakan hal ini, tadi kan sudah aku jelaskan. Aduh, Tuan Muda ... Kamu ini sungguh memalukan.


Namanya juga Elvano, dia memang tidak percaya dengan kata-kata yang diucapkan oleh istrinya tadi. Yang Cheril dapatkan informasi tersebut dari hasil Googling.


Sesuai dengan informasi yang didapatkan oleh Cheril di internet tadi. Demikianlah yang dijelaskan oleh Dokter Johnson, bahwa orang hamil itu justru sangat membutuhkan yang namanya berjalan supaya proses melahirkan nanti akan lebih mudah.


Setelah mendengar penjelasan Dokter, Elvano melirik ke arah Cheril. Cheril juga membalas tatapan itu sambil mengembangkan senyuman selebar mungkin, juga memainkan alisnya atas bawah. Seolah-olah Cheril ingin sekali berteriak "makanya percaya kalau aku ngomong."


Ehem ....


Kali ini giliran Cheril yang bertanya kepada dokter.


"Dokter, Apakah wanita hamil itu boleh naik pesawat?"


"Ehm? Memangnya kamu mau kemana?"


Bukan dokter yang menjawab akhirnya Elvano yang melemparkan pertanyaan lebih dulu.


"Sssttt! Aku sedang berbicara dengan dokter bukan bicara denganmu. Kamu diam dulu!" pinta Cheril.


Jelas dong laki-laki itu tidak terima.


"Eh ... KAMU!"


"Eit, tidak boleh marah ... Aku kan sedang hamil jadi kamu tidak boleh memarahiku. Benarkan, Dokter?"


Wanita itu mencari pembelaan dari dokter.


dan Dokter Johnson mengangguk ragu. Ia juga sedikit mengulum senyumnya karena mengetahui Cheril pasti sedang mengerjai Elvano.


Bisa dibayangkan seperti apa jeleknya ekspresi Elvano saat itu. Kesal sudah pasti tapi ia juga tidak mau anak yang ada di dalam kandungan istrinya kenapa-napa. Jadi ia pun harus bersikap lebih sabar dan mengalah. Dua hal yang sangat sulit dilakukan oleh seorang Elvano.


"Begitu ya Dokter? Bagus deh." Tanggap Cheril sambil tersenyum manis.


"Ok! Sekarang giliran kamu menjawab pertanyaan aku. Memangnya kamu mau ke mana? Kenapa menanyakan hal ini?" cecar Elvano.


Sebelum menjawab Elvano, Cheril lebih dulu tersenyum.


"Aku mau menagih janjimu yang ingin mengajakku berbulan madu," ungkap Cheril santai.


Ehm? Ternyata Nona Cheril juga tidak kalah aneh ya. Mana ada orang berbulan madu pada saat hamil.


Pikir dokter Johnson dan kedua perawatnya.


"Apa kamu sungguh sudah gila, Sayang? Bagaimana bisa berbulan madu pada saat sedang mengandung seperti ini?"


Ternyata Elvano lebih waras tentang hal yang satu ini.


"Pokoknya aku tidak mau tahu. Aku ingin berbulan madu bersamamu! Ini bukan permintaanku saja, tapi juga permintaan anak kita," tutur Cheril sembari mengusap perutnya.


"Ehm, Memangnya bisa seperti itu? Yang ada juga kamu sendiri yang mau, malah bawa-bawa Baby G," protes Elvano cemberut.


"Tanya saja dokter, Iyakan Dokter, orang hamil itu suka aneh-aneh keinginannya? Dan katanya itu kemauan baby bukan kemauan mamanya. Betul tidak, Dok?"


Lagi-lagi Cheril mencari pembelaan dari Dokter Johnson. Dan sekali lagi Dokter Johnson memang membela Cheril.


"Benar, Tuan Muda. Memang kadang kala seorang wanita hamil itu maunya sering yang aneh-aneh. Jadi Tuan Muda harus lebih sabar dalam menghadapi Nona Cheril."


Tentu saja lagi-lagi Elvano tidak dapat berkutik.


Huuuh


Elvano membuang nafas kasar.


Kemenangan yang biasa ia dapatkan kini berpindah ke Cheril. Tentu saja Cheril akan memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan sangat banyak hal terhadap Elvano. Iya dong, kapan lagi mengerjai suaminya itu. Selama ini kan Elvano yang selalu menindas dirinya. Sudah saatnya membalas dendam, pikir Cheril.


Usai dengan penjelasan dari Dokter, Cheril dan Elvano segera berlalu dari rumah sakit dan mereka kembali ke kastil.


"Sayang, maafkan aku ya soal bulan madu itu. Aku sudah melupakannya selama sebulan ini. Dan sekarang kamu malah hamil. Jujur saja, aku sedikit menghawatirkan dirimu jika kita tetap melanjutkan rencana bulan madu itu,"


Elvano memulai percakapan ketika mereka berdua sudah berada di dalam kamar kastil.


"Tidak apa-apa kok sayang. Kita tetap melanjutkan rencana itu saja, aku sungguh sangat ingin berbulan madu dengan mu. Kita pergi ke tempat yang dekat saja tidak perlu yang jauh-jauh. Yang penting kita bersenang-senang. Bagaimana menurutmu?"


"Ehm ... Kalau memang itu keinginanmu, baiklah! Bersiap-siaplah kita akan pergi sekarang!"


"Ehm?


Cheryl tersentak mendengar apa yang dikatakan oleh Elvano.


"Iya, Sayang. Ayo siap-siap kita akan berangkat sebentar lagi," ucap Elvano meyakinkan Cheril.


"Memangnya kita mau ke mana?"


"Bulan madu kan?"


"Iya, tapi kemana?"


"Sudahlah, nanti juga kamu akan tahu. Pokoknya ayo siap-siap!"


"Begitu ya? Baiklah!"


Walaupun ragu, Cheril tetap mendengarkan ucapan Elvano. Dia segera beranjak menuju kamar mandi dan mempersiapkan dirinya.