Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
pertemuan Cheril dan Elvano


Siang hari kini telah berganti sore, tepatnya saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore.


Di kediaman Ibu Anita, Elvano masih terlihat sedang bersantai sambil menonton acara televisi, sedangkan Ibu Anita sudah beranjak menuju dapur untuk beres-beres. Hari ini Ibu Anita tidak masak makan malam karena Elvano sudah berpesan pada ibunya, ia tidak makan malam di rumah, sisa sayur tadi siang juga masih ada, jadi Ibu Anita merasa sudah cukup hanya untuk dirinya saja.


Sementara di kediaman Jimmy, Cheril sudah mulai bersiap-siap, ia sudah sedikit tidak sabar ingin bertemu dengan Elvano.


Cheril memang sudah tinggal satu atap dengan Jimmy, karena mereka memang sudah menikah beberapa waktu yang lalu, tepatnya 1 bulan setelah pertunangan mereka. Cheril sudah tidak memiliki pilihan lain selain menikah dengan Jimmy waktu itu karena Jimmy terus mengancam akan menghancurkan perusahaan ayahnya jika ia berani berbuat nekat.


Alhasil Cheril tidak pernah merasa bahagia selama hidup dengan Jimmy yang tidak ia cintai.


Selain itu tepat seperti yang ia pikirkan sebelumnya, Jimmy memang bukan lelaki yang baik, ia suka bermain gila di luar sana, pulang mabuk-mabukan dan yang paling parah ia sering memukul Cheril tanpa alasan yang pasti.


Sebenarnya Cheril sama sekali tidak perduli jika Jimmy bermain gila dengan wanita lain, lagian dia sendiri juga tidak mencintai laki-laki itu, hanya saja yang membuat dia tersiksa adalah Jimmy tidak mau melepaskan Cheril. Ia malah selalu mengancamnya, jika ia berani mencoba kabur dari nya atau melaporkan semua perbuatan nya pada kedua orangtuanya atau pun melaporkan polisi maka ia akan menghancurkan perusahaan milik ayah Cheril.


Dengan alasan inilah Cheril masih memilih bertahan bersama Jimmy.


Cheril berdandan dengan sangat maksimal untuk pertemuan malam ini. Berbeda dari biasanya ia yang lebih suka berdandan tipis dengan nuansa natural, kali ini ia berdandan lebih berani. Bukan tanpa alasan, dandanan itu semata-mata hanya untuk menutupi beberapa bagian wajahnya yang masih sedikit lebam karena bekas pukulan Jimmy beberapa hari yang lalu.


Cheril juga tidak meminta ijin pada Jimmy akan menemui Elvano, ia tau jika ia minta ijin juga Jimmy tidak mungkin mengijinkan. Lagian Jimmy juga tidak pernah pulang cepat, biasanya ia selalu pulang larut malam ketika Cheril sudah terlelap, jadi Cheril pun bisa merasa agak tenang, ia yakin Jimmy juga tidak akan mengetahui dirinya bertemu dengan Elvano malam ini. "Pasti aman", Pikir Cheril.


Pukul 18.15 Cheril sudah berangkat dari rumah, padahal jarak kediamannya dengan restoran itu hanya membutuhkan waktu 15nmenit saja.


Alhasil Tepat pukul 18.30 Cheril sudah berada di restoran itu.


Tentu saja di sana belum ada sosok yang telah membuat janji. Ia baru tiba tepat pukul 19.00 tepat. Tidak kurang tidak lebih.


Cheril pun harus menunggu selama 30menit di tempat itu.


Ketika tiba di restoran yang penuh kenangan manis itu, Cheril melirik ke sekeliling, ia memang tidak menemukan sosok yang ia cari. Namun matanya sedikit berbinar ketika melihat meja yang pernah ia duduki bersama Elvano waktu itu ternyata kosong, ia pun memilih meja tersebut dan merebahkan tubuhnya di atas kursi yang berada di depan meja penuh kenangan itu sambil menunggu kedatangan Elvano.


Cheril yang sudah duduk manis melirik ke arah jam tangannya.


"Eh, ternyata baru jam segini? Aku kecepatan ya?" Cheril berkata-kata sendiri.


Jam tangan digitalnya menunjukkan pukul 18.30 saat itu.


Lalu ia pun memutuskan memesan segelas minuman dingin untuk menemaninya menunggu.


tepat 30 menit kemudian sosok yang ditunggu pun tiba.


Setelah mobil yang ditumpangi Elvano berhenti di tempat parkir, pak sopir segera berlari ke arah yang pintu belakang untuk membukakan pintu bagi Tuan Mudanya.


Membuat beberapa orang yang kebetulan sedang berada di tempat parkir pun melemparkan pandangan mereka ke arah mobil mewah itu seakan sedang menyelidiki siapa yang ada di baliknya, karena selain mobilnya yang berharga milyaran, pak sopir pun harus membukakan pintu bagi nya, mereka merasa pemilik mobil tersebut pasti adalah orang yang sangat penting. Mungkin ada di antara mereka bahkan berpikir mungkin itu adalah pejabat tinggi?!


"Gantengnya .... "


"Lelaki ini tampan sekali .... "


Bahkan ada juga yang berlarian ke arah Elvano untuk berkenalan. Namun segera dihalangi oleh sopir karena Elvano memberikan isyarat bahwa ia tidak menyukai wanita itu.


Dan ada juga yang sedang berjalan bersama kekasihnya, lalu wanita itu melihat Elvano terus yang kemudian membuat lelakinya itu sangat cemburu yang membuat pertengkaran pun terjadi di depan Elvano.


Namun Elvano sama sekali tidak perduli dengan semua itu. Ia lalu melangkahkan kaki masuk ke dalam restoran tanpa menghiraukan kejadian yang terjadi di area parkir.


Cheril yang kebetulan duduk menghadap ke arah pintu, ketika Elvano memasuki restoran matanya pun langsung tertuju pada Elvano.


Ia juga tak kalah kaget melihat penampilan Elvano yang baru. Tak dapat dipungkiri, Cheril sangat terpanah melihat laki-laki itu. Ia sudah tidak dapat mengedipkan mata atau mengalihkan pandangannya dari Elvano.


Itu sungguh Elvano kan ....


Cheril masih berusaha menyakinkan hatinya.


Apalagi pakaian yang Elvano kenakan tentu saja Cheril tau persis itu adalah pakaian brended. Bahkan itu tidak terpampang di butik miliknya karena sangat jarang yang membeli. Sebab harga dari merek pakaian yang dikenakan oleh Elvano itu sangatlah fantastis.


Sesaat kemudian Elvano telah berdiri tepat di hadapan Cheril yang masih bengong menatap nya. Elvano seperti tidak memperdulikan tatapan itu, ia kemudian menarik kursi yang ada di depan Cheril dan duduk di sana.


Ciiiiiih.


Dia bahkan menatapku seperti itu. Dasar cewek matre ...


Itulah yang sedang dipikirkan oleh Elvano.


"Kenapa melihatku seperti itu? Sudah tau ya seberapa mahal pakaian yang aku kenakan ini?" ujar Elvano tiba-tiba yang membuat hati Cheril berdenyut ketika mendengar perkataan tersebut.


Maksud dia apa berkata seperti itu ... Mungkin aku sudah terlalu menyakitinya waktu itu.


Cheril hampir meneteskan air mata saat itu.


"Kenapa masih belum menjawab?" Elvano kembali melempar pertanyaan dengan ketus.


Cheril pun tidak tau harus menjawab apa. Matanya pun sudah mulai berkaca-kaca dengan perlakuan Elvano yang memperlakukan dirinya seperti itu.


Melihat mata Cheril yang mulai berkaca-kaca Elvano sama sekali tidak menghiraukannya. Ia malah sibuk memilih menu yang terdapat pada daftar menu yang ada di meja.


Luka yang ditancapkan oleh Cheril memang sudah terlalu dalam bagi Elvano.