
Elvano sudah berada didalam ruangan itu selama 30 menit lamanya. Dan kunjungan untuk pasien yang sedang koma tentu akan ada batas waktunya. Perawat yang tadi pun kembali masuk kedalam ruangan untuk memberitahukan pada Elvano bahwa waktu kunjungan sudah habis saat ini. Dan dia harus segera keluar dari ruangan itu.
Perawat itu lalu perlahan mendekati Elvano dan mengajaknya berbicara selembut mungkin. Ia tau tentu saja saat ini perasaan laki-laki itu pasti sangat rapuh.
"Bapak.." Panggil perawat itu.
Dan Elvano seketika berbalik ketika mendengar suara yang memanggilnya.
"Iya Sus, ada apa?" Tanya Elvano
"Maaf, waktu berkunjung sudah usai, sekarang biar pasien beristirahat dulu !" Ucap perawat itu kemudian.
"Tapi Sus, apa saya tidak boleh saya menemani istri saya disini seterusnya?"
Elvano masih belum rela meninggalkan Cheril sendiri. Ia bahkan masih menggenggam tangan Cheril erat. Dan perawat itu juga bisa melihat mata Elvano yang sedikit memerah akibat menangis tadi. Ia tau, Elvano pasti merasa sangat tidak rela dan ia juga tau Elvano baru selesai menangis. Tapi ia juga tidak bisa berbuat apapun, ini memang sudah aturannya. Dan ini juga untuk kepentingan pasien itu sendiri.
"Maaf Pak, tidak bisa begitu. Semua ini juga demi kepentingan pasien. Jika Bapak ingin tetap menunggu, Bapak bisa menunggunya diluar." Ucap perawat itu lagi dengan sangat lembut supaya tidak menyingung perasaan Elvano.
Akhirnya Elvano pun menyerah. Ia juga tidak ingin terjadi apapun pada Cheril jika ia terus memaksa untuk tetap disana.
"Baiklah !' Jawab Elvano pelan. Dan sebelum itu ia lebih dulu berbisik di telinga Cheril.
"Sayang, kamu harus cepat bangun ya.. I love you so much.."
Cup !
Satu kecupan lembut juga ia berikan dikenang Cheril.
Perawat itu ikut terharu melihat Elvano yang begitu menyayangi istrinya. Ia memang bisa mendengar apa yang diucapkan oleh Elvano walaupun ia sedang berbisik. Karna ruangan itu memang sangat sepi. Hanya ada suara Elvano dan juga bunyi mesin yang terpasang disana.
Setelahnya Elvano pun keluar dari ruangan itu bersama dengan perawat yang mengikutinya dari belakang.
Saat tiba diluar ruangan, perawat itu harus menyampaikan pada Niko bahwa ia belum bisa menjenguk Cheril, karna waktu besuk sudah habis. Jadi ia pun meminta maaf dan memperbolehkan Niko untuk menjenguknya keesokan harinya.
Dan Niko juga bisa mengerti.
"Tidak apa-apa kok Sus !" Itulah jawaban Niko.
Lagian dirinya juga tidak tau harus berbuat apa didalam ruangan itu, jadi rasanya tidak terlalu penting juga. Walaupun ada sedikit rasa penasaran yang menyelimuti pikirannya. Yakni, separah apa Nona Cheril saat ini.
Namun rasa penasarannya akan segera terbayar karna ia akan menanyakan itu pada Elvano.
Perlahan Elvano juga melangkah mendekati Niko yang masih duduk dikursi yang tersedia pada luar kamar ICU itu. Lalu merebahkan diri tepat disamping Niko.
"Gimana No, keadaan Cheril?" Tanya Niko kemudian.
Elvano mengambil nafas panjang lalu membuangnya pelan. Lalu ia malah menangis dihadapan sahabatnya itu.
Huh huh huh huh huh
Tentu saja Niko sangat kaget melihat dirinya tiba-tiba menangis seperti itu. Dan saat itu juga ia paham, keadaan Cheril pasti sangat buruk.
"Kenapa semua ini bisa terjadi Nik?
Hu hu hu hu
"Aku harus bagaimana mana sekarang? Aku tidak akan mampu jika harus kehilangan dia.."
Hu hu hu hu hu
"Aku menyesal Nik.. Aku menyesal membiarkan dia disana sendirian.."
Huh huh huh hu hu
"Sabar ya No.." Ucap Niko pelan masih sembari mengusap punggungnya lembut.
Ya, hanya itulah yang bisa ia lakukan saat ini.
Sekarang Niko sudah semakin yakin, Elvano tidak hanya ingin sekedar bermain-main dengan Cheril. Elvano sangat mencintai wanita itu. Buktinya ia terlihat sangat takut kehilangan wanita itu.
"Nik, aku mau kamu membereskan laki-laki itu ! Dia sudah keterlaluan karna sudah membuat Cheril jadi seperti ini." Ucap Elvano kemudian setelah ia berhasil mengendalikan tangisannya.
"Iya No, besok aku akan mengurusnya !" Jawab Niko singkat.
Ia juga merasa sangat marah pada Baron saat itu.
"Nik, jika kamu ingin pulang, pulanglah ! Aku ingin tetap disini menjaga Cheril." Ucap Elvano lagi.
"Tidak No, aku akan menemanimu disini !" Jawab Niko.
"Tidak Nik, kamu harus pulang ! Kasian Ibumu sendirian di rumah.. Lagian besok kamu masih harus mengurus pekerjaan kantor. Aku tidak akan masuk kantor besok." Tambah Elvano lagi. Ia tidak ingin Niko juga tetap tinggal bersamanya.
"Tapi...
"Ini perintah ! Kamu tidak boleh melawannya. Pulanglah ! Aku bisa sendiri kok disini !" Ucap Elvano sekali lagi.
Jika Elvano sudah mengatakan itu, ia pun tidak tidak bisa berbuat apapun lagi selain mengiyakannya.
"Baiklah ! Tapi biarkan aku disini sebentar lagi !" Jawab Niko akhirnya. Ia sedikit tidak rela harus membiarkan Elvano menunggu sendirian disana.
Dan Elvano pun diam tanpa berkomentar. Itu artinya ia menyetujuinya.
Beberapa saat kemudian tiba-tiba lampu kamar ICU menyala. Dan terlihat Dokter dan beberapa perawat berlarian menuju pintu dan segera masuk kedalam.
Elvano juga Niko yang menyaksikan itu pun sedikit panik. Elvano malah sangat panik.
Mereka berdua pun ikut berlarian ke arah pintu.
"Apa yang terjadi dengan Cheril Sus?" Tanya Elvano panik
"Maaf Pak, jika lampu kamar ini menyala itu artinya sedang terjadi hal buruk pada pasien." Jawab perawat itu sejujurnya.
Kebetulan saat itu di ruangan ICU itu memang hanya ada Cheril seorang.
"APA?" Teriak Elvano kuat.
Ia sangat kaget mendengar penjelasan dari perawat itu. Niko juga tak kalah kagetnya. Elvano terlihat mengusap wajahnya kasar. Ia sangat gusar saat itu. Air matanya yang sudah mengering kembali menetes.
"Sus, biarkan aku ikut masuk Sus, aku ingin menempati istri saya.." Ucap Elvano kemudian.
"Maaf Pak ! Tidak bisa !" Jawab perawat itu.
"Tapi dia istri saya !" Elvano Kembali berteriak.
"Saya tau Pak, tapi ini sudah merupakan prosedurnya. Mohon Bapak untuk tetap tenang !" Ucap perawat itu lagi.
Karna suara keributan yang terdengar jelas hingga kedalam ICU, Dokter yang ada didalam kembali menghampiri pintu. Ia tau pasti itu suami dari pasien yang sedang mengamuk.
"Sudah Sus, biarkan dia masuk ! Saat ini pasien juga sangat membutuhkannya !" Ucap Dokter itu kemudian dari balik pintu.
Mendengar kata Dokter itu Elvano sungguh tak tau harus senang atau sedih. Senangnya iya bisa menemani Cheril disana, sedihnya dari ucapan Dokter sepertinya Cheril sedang mengalami keadaan yang benar-benar gawat.
Akhirnya Elvano pun segera masuk kedalam meninggalkan Niko seorang diri diluar. Ia juga sangat gusar saat ini. Bahkan dirinya sudah tidak bisa duduk tenang seperti tadi. Ia pun terlihat mondar-mandir didepan ruangan ICU sambil sesekali mengusap wajahnya gusar. Sembari mulutnya komat-kamit mengucap doa supaya Cheril bisa melewati masa kritis itu.