
Suasana masih sangat mencekam saat itu. Elvano juga terlihat semakin panik.
"Cepat tangani istri saya Dok. Selamatkan dia !" Ucap Elvano pada salah satu Dokter yang saat itu sedang menyambut kedatangan Cheril.
"Baik Tuan Muda, saya akan berusaha melakukan yang terbaik yang saya bisa." Jawab Dokter itu.
Dokter itu juga terlihat sangat panik. Ternyata keadaan Cheril benar-benar sangat memprihatikan bahkan jauh melebihi dari yang ia bayangkan. Dan menurut pemikirannya saat itu, Cheril mungkin tidak akan tertolong. Kemungkinan untuk dia hidup paling hanya 20% saja.
Cheril segera dibawa masuk oleh tim medis menuju ruang ICU khusus yang sudah disiapkan tadi. Dan sesaat setelah tiba di ruangan itu, Cheril juga segera dipasangkan ventilator beserta peralatan lainnya yang diperlukan.
Beberapa Dokter terbaik juga terlihat sangat serius menangani pasien ini. Mereka berusaha melakukan yang terbaik yang mereka bisa. Sementara Elvano diminta oleh tim medis lainnya untuk tetap diluar terlebih dahulu.
Sekitar 20menit kemudian para Dokter beserta perawat terbaik sudah keluar dari ruangan itu. Mereka sungguh tak tau harus bagaimana menjelaskan pada Elvano saat itu.
Karna kondisi Nona Muda mereka sungguh sangat serius. Dari hasil pengamatan mereka, Cheril sudah hampir tak bisa bertahan lagi.
Tapi bagaimanapun kabar ini tetap harus disampaikan.
Melihat tim medis melangkah keluar, Elvano yang sejak tadi mondar-mandir diluar ruang ICU segera menghampiri mereka.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" Ucap Elvano masih dengan nada yang sangat panik.
Mendengar pertanyaan itu mereka semua tertunduk lesu.
"Ada apa Dokter? Cheril baik-baik saja kan Dok? Dia tidak kenapa-kenapa kan Dok?"
"Kenapa kalian hanya diam saja? JAWAB AKU !" Ucap Elvano mulai meninggikan nada suaranya.
Kemudian salah satu Dokter senior mencoba mengangkat wajahnya dan berbicara pada Elvano.
"Tuan Muda.. Maafkan kami ! Kami sudah berusaha melakukan yang terbaik yang kami bisa ! Tapi...." Dokter itu terdiam sejenak karna tak mampu melanjutkan pembicaraannya. Ia masih sangat ketakutan untuk menyampaikan hal ini.
Mendengar pembicaraan Dokter yang menggantung membuat Elvano jadi naik pitam.
"Tapi Apa Dok? TAPI APA?" Tanya Elvano sambil menarik pakaian Dokter.
"Sabar No.. Kamu harus tenang dulu !" Ucap Niko memenangkan Elvano. Walaupun dia sendiri juga sangat kaget mendengar ucapan Dokter itu.
"Gimana aku bisa sabar Nik? Aku bahkan tidak tau apa yang sedang terjadi dengan Cheril didalam sana !" Jawab Elvano masih dengan nada yang sangat tinggi.
"Maafkan kami Tuan Muda ! Nona Muda saat ini sudah sangat kritis. Kemungkinan hidupnya hanya tinggal 5% lagi. Ia dapat bertahan sampai saat ini semua hanya karna peralatan yang terpasang ditubuhnya." Ucap Dokter senior itu kemudian.
Mendengar itu Elvano pun sudah tidak bisa lagi mengontrol emosinya. Ia mengamuk dan menangis sejadi-jadinya.
"Jika terjadi sesuatu dengan istri saya, kalian semua akan aku pecat !" Ucap Elvano asal sembari menunjuk tim medis yang ada disana.
"Nik, kamu juga.. Habisi laki-laki itu !
Tidak, aku sendiri yang akan menghabisinya jika sesuatu terjadi pada Cheril." Mengucap asal lagi.
Dan semua yang ada disana hanya bisa tertunduk tanpa dapat berkata apapun. Mereka tau saat itu Elvano sedang sangat Emosi.
Hanya Niko yang berusaha menenangkan Elvano kembali.
"Sabar No ! Tenangkan dirimu !"
"Cheril masih hidup No ! Dia masih hidup !Bukannya Dokter bilang masih ada 5% kemungkinan Cheril untuk bertahan?"
"Itu artinya Cheril masih bisa pulih kembali No ! Aku yakin Cheril pasti mampu bertahan !"
"Benar katamu Nik. Cheril masih hidup. Iya, dia pasti akan kuat melewati ini semua. Aku harus menemuinya sekarang ! Aku harus menemani nya melewati masa-masa kritisnya !" Ucap Elvano akhirnya. Dan ia juga segera berlari masuk kedalam ruang ICU khusus itu.
Para Dokter dan juga perawat masih berdiam diri di tempat. Mereka tidak tau harus berbuat apalagi saat itu. Harapan yang diberikan oleh Niko sebenarnya hanya sekedar harapan palsu menurut mereka. Secara medis sebenarnya memang sudah tidak ada harapan lagi untuk Cheril. Angka 5% yang diucapkan oleh Dokter tadi sudah jelas ditekankan oleh Dokter senior itu bahwa Cheril bisa bertahan semua hanya karna peralatan yang terpasang pada tubuhnya. Itu artinya, jika peralatan itu dilepas maka Cheril sudah akan pergi untuk selama-lamanya.
Huuuuuuuuuuh
Sebagian dari mereka sudah membuang nafas kasar. Sebagian juga sudah sangat gusar. Ada yang mengacak-acak rambutnya, ada yang memegang keningnya, ada juga yang terduduk lesu dikursi depan ruang ICU khusus itu.
Sementara Elvano dan Niko, mereka berdua sudah berlarian masuk kedalam ruangan tempat Cheril dirawat saat itu.
Niko sendiri sebenarnya tidak yakin dengan ucapannya tadi. Ia juga hanya asal ucap saja. Saat ini ia hanya bisa berharap mukjizat benar-benar terjadi, hingga Cheril bisa melewati masa kritisnya itu.
Setelah berada didalam ruangan ICU khusus itu, Elvano berjalan mendekati tempat tidur Cheril secara perlahan masih dengan Isak tangisnya yang belum berhenti. Sementara Niko lebih memilih berada dikejauhan.
Sesaat kemudian Elvano sudah duduk dikursi samping tempat tidur Cheril. Lalu ia meraih tangan Cheril dan mengusapnya lembut. Tangisannya kembali pecah ketika ia teringat ucapan Dokter senior tadi yang mengatakan kemungkinan hidup Cheril yang masih tersisa 5% saja.
"Kenapa bisa jadi seperti ini? Aku bersalah padamu Cheril.. Aku yang salah sudah meninggalkanmu disana.. Harusnya aku bawa kamu pulang ke rumahku.."
"Aku sangat menyesal sudah membiarkanmu sendiri ditempat itu. Maafkan aku Cheril ! Maafkan aku !"
Setelah berkata-kata Elvano menundukkan wajahnya diatas punggung telapak tangan Cheril sambil menangis sejadi-jadinya.
Huh huh huh huh huh
Melihat Elvano yang seperti itu Niko merasa sangat tidak tega. Ia pun mendekati nya.
"No, kamu tidak boleh seperti ini. Kamu harus kuat Vano ! Jika kamu sendiri lemah seperti ini, bagaimana Cheril bisa kuat?" Ucap Niko sembari menepuk punggung sahabatnya pelan.
Akhirnya Elvano pun perlahan mengangkat kembali wajahnya dan mengusap air matanya yang masih tersisa. Dan mencoba untuk setegar mungkin.
Namun, baru saja Elvano membalikkan tubuhnya hendak melirik Niko, ia malah melihat sesosok wanita menyerupai Cheril yang sedang memunggunginya. Saat itu wanita itu seperti hendak membuka pintu untuk pergi dari ruangan itu. Dan Elvano pun menjadi sangat kaget. Ia lalu memanggil wanita itu.
"Cheril ?!" Ucap Elvano seketika yang membuat Niko kaget. Ia pun ikut berbalik untuk mencari tau apa yang sedang terjadi. Tapi ia tidak melihat apapun.
Sementara wanita itu juga ikut membalikkan tubuhnya ketika mendengar panggilan Elvano. Dan benar, wanita itu memang sangat mirip dengan Cheril. Dan ia tersenyum dengan sangat manis kepada Elvano.
"Nik, kamu lihat? Itu Cheril Nik !" Ucap Elvano sembari menepuk-nepuk bahunya.
Jelas Niko tidak melihat sosok yang dimaksudkan oleh Elvano. Saat itu ia mengira pasti Elvano sedang berhalusinasi.
Sesaat kemudian wanita itu melambaikan tangannya pada Elvano dan kembali membalikkan tubuhnya menghadap pintu.
"Cheril.. Kamu mau kemana?" Ucap Elvano panik ketika ia melihat wanita yang menyerupai Cheril itu sudah hendak membuka pintu.
Pada saat yang bersamaan, tubuh Cheril yang terbaring diatas tempat tidurnya mengalami kejang-kejang hebat.
Elvano pun sudah semakin panik.
Ia sudah kembali membalikkan tubuhnya menghadap tempat tidur Cheril saat mendengar suara Cheril yang sesak hebat disertai kejang-kejang itu. Dan Niko juga ikutan panik saat itu. Ia baru menyadari, mungkin sosok wanita yang dilihat oleh Elvano tadi merupakan Roh dari Cheril yang sudah terangkat dari raganya.
"Cheril, kamu kenapa? Apa yang terjadi?" Ucap Elvano panik sambil menggenggam tangan Cheril erat.
"Panggilkan Dokter Nik.. PANGGILKAN DOKTER !" Teriak Elvano kemudian.
Niko pun segera keluar dari ruangan itu untuk memanggil dokter.