
Suasana hening pun tercipta. Seperti biasa Elvano dan Cheril duduk di kursi bagian belakang mobil saling berdampingan tanpa ada jarak yang memisahkan mereka, dengan salah satu tangan Elvano yang merangkul Cheril mesra. Sementara Cheril menyandarkan kepalanya pada bahu kekar milik suaminya. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat indah, yang membuat iri setiap mata yang melihat.
"Nik, aku mau tanya satu hal padamu, apa ada perkembangan tentang hubunganmu dengan Nikita?" tanya Elvano tiba-tiba.
Cheril yang sebelumnya sangat lesu jadi sangat bersemangat saat mendengar ucapan Elvano.
"Maksud kamu?" tanggap Niko bingung.
Kenapa tiba-tiba membicarakan hal ini ...
"Masih berpura-pura tidak tau ya? Aku sudah tau kalian saling bertukar nomor ponsel,"
"APA? Pasti Erik yang memberitahukan padamu ya? Dasar dia itu," kesal Niko, wajahnya memerah seketika. Malu bercampur marah.
"Ya, memangnya kenapa? Apa kamu merasa malu? Wah, apa kamu sudah mulai menyukai gadis itu ya? Kejarlah dia!" cecar Elvano.
"Apaan? Tidak kok. Aku tidak memiliki perasaan apapun terhadap dia. Kemarin itu hanya pengaruh alkohol saja. Paham?" ujar Niko bela diri.
"Benarkah? Apa kamu sungguh menyukai Tika? Gadis itu bukan gadis baik-baik. Lebih baik kamu jadian saja dengan Nikita, aku berjanji padamu akan memberikan sebuah hadiah besar ketika kalian menikah nanti," janji Elvano.
Darimana dia tau aku menyukai Tika ... Wah, sepertinya Erik sungguh tidak dapat dipercaya.
"Kalau dipikir-pikir kamu ini sungguh keterlaluan ya, kamu bekerja padaku sudah beberapa bulan, dan selama ini hubungan kita juga lumayan baik, tapi kamu malah menyembunyikan semua hal dariku dan lebih memilih memberitahukan kepribadianmu pada Erik. Apa kamu begitu tidak menghargai ku?"
Elvano terlihat memasang wajah yang cukup serius ketika membicarakan ini, membuat Niko tertegun mendengarnya.
Apa semua itu begitu penting untukmu Tuan Muda ...
"Maafkan aku Tuan Muda!" tanggap Niko datar.
"Lain kali jika ada hal yang ingin diceritakan, maka ceritakanlah!" pinta Elvano.
"Kamu kan tau sendiri, aku dan kamu bukan hanya sekedar hubungan bos dengan anak buah saja. Kau sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri," tambah Elvano setelah memberi jeda pada kalimat sebelumnya.
Tak hanya Niko, Cheril juga ikut merasa tersentuh mendengar ucapan Elvano. Ia tidak menyangka, di balik sifat cuek yang dimiliki Elvano, ternyata tersimpan sebuah ketulusan yang sangat murni. Diam-diam Cheril pun mengagumi suaminya itu.
"Terimakasih ya No. Aku beruntung bisa memiliki sahabat sepertimu. Jika bukan karena kamu, aku pasti masih menjadi seorang sopir angkot yang tidak dianggap," ucap Niko lirih.
"Baguslah jika kau sudah tau. Ingatlah, jika ada masalah apapun, ceritakan padaku. Jangan sampai orang lain yang memberitahukannya padaku!" mohon Elvano.
"Baiklah! Setelah ini tidak akan ada lagi rahasia di antara kita," tanggap Niko sambil tersenyum.
Aku tidak menyangka kamu bisa semanis ini padaku. Aku kira kamu hanya akan bersikap manis pada istrimu itu saja.
Tapi ngomong-ngomong, kenapa aku merasa merinding ya ... Seperti mendengar seorang kekasih yang menuntut kesetiaan dari pasangannya saja.
"Iiissh! Amit-amit!" gumam Niko pelan yang hanya dirinya seorang yang dapat mendengar.
"Menurut kamu bagaimana sayang? Apa kamu mendukung sahabatmu itu menikah dengan Niko?" Elvano meminta dukungan dari Cheril.
"Eh, i-iiya, tentu saja aku dukung. Nikita anak yang baik kok, selain itu ia juga sangat ceria," puji Cheril.
"Tuh, kamu dengar kan? Cheril saja mendukungmu, sudahlah, kamu jadian saja sama gadis itu. Jika perlu langsung nikahi dia," cecar Elvano.
Niko tak menjawab apapun saat itu. Dia sepertinya memang tidak memiliki ketertarikan membahas soal Nikita. Namun juga tidak terlalu mengambil pusing perihal usaha Elvano tersebut. Justru Cheril yang sedang bingung melihat Elvano yang sangat bersemangat ingin menjodohkan Nikita dengan Niko.
Gumam Cheril dalam hati sambil memandang suaminya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Apa ada yang aneh?" tanya Elvano heran.
"Hah? I-iya, aku heran saja, kenapa kamu begitu bersemangat ingin menjodohkan Niki dengan Niko?" ucap Cheril sambil memasang wajah bingung.
Benar juga ... Terimakasih Nona atas pembelaanmu ini. Aku jadi merasa berhutang padamu. Hehehe
Niko berkata-kata di dalam hati karena merasa dibela oleh Cheril. Dan dia senang.
"Memangnya kenapa? Bukankah kamu juga menyukai itu?"
"Iya sih, bukan soal suka atau tidaknya, aku heran saja, kamu begitu berantusias ingin menjodohkan orang lain. Sangat aneh!" pendapat Cheril.
"Aneh? Berani sekali bilang aku aneh? Mau aku kurung seharian di hotel?" ancam Elvano yang membuat Cheril kalang kabut.
"Eh ... Baiklah, Niko, benar kata Tuan Muda mu ini, nikahi Nikita secepatnya, kamu dan Niki sepertinya sangat cocok, lihat saja, nama kalian juga sangat cocok!"
Selalu saja mengancamku ...
Dan Elvano, tertawa puas di dalam hati dengan kemenangan yang selalu ia dapatkan.
Sementara Niko, ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya menyaksikan Cheril yang selalu ditindas oleh suaminya itu.
Sejak Erik memberitahukan tentang Niko yang menyukai Tika, ia jadi sangat bersemangat ingin menjodohkan Nikita dengan Niko, karena Elvano sangat tidak menyukai Tika. Tau sendiri ya, Tika itu sangat licik. Elvano tidak akan pernah merestui hubungan Niko dengan Tika.
Tak terasa perjalanan mereka yang memakan waktu sekitar 1 jam berlalu begitu saja. Dan sekarang mereka sudah tiba di tempat tujuan mereka. Niko kemudian menghentikan laju kendaraan yang sedang ia kendalikan tepat di area parkir.
Loh ... Tempat ini ....
Cheril sedikit tersentak setelah menyadari mereka berada di suatu tempat yang sangat tidak asing baginya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Elvano heran.
"Eh, tidak apa-apa kok, aku hanya agak lapar saja," sangkal Cheril. Dia sedang berbohong.
"Kalau begitu kita cari makan dulu, setelah itu baru jalan-jalan, bagaimana?
"Ba-baiklah!" tanggap Cheril gelagapan. Membuat Elvano sedikit curiga.
Sepertinya ada yang dia sembunyikan dari aku ....
"Ayo kita turun, kamu mau makan apa?"
Elvano berusaha bersikap sebiasa mungkin. Dia memang sangat profesional untuk hal yang satu ini. Bersandiwara.
"Apa saja," tanggap Cheril singkat.
Sekarang mereka bertiga sudah turun dari mobil, dan memasuki kawasan wisata yang mereka kunjungi saat ini. Yaitu pantai.
Awalnya Elvano berpikir Cheril akan menyukai tempat ini, karena yang ia tau wanita sangat menyukai pantai. Sekalipun Elvano tidak pernah berkencan dengan siapapun, bukan berarti ia tidak tau hal apa saja yang disukai oleh wanita. Namun, ia sedikit kecewa melihat ekspresi Cheril yang terlihat terlihat kebingungan. Padahal Elvano sudah menyewa sebuah villa yang terletak di pantai tersebut untuk mereka menginap di tempat itu.