
Mendengar apa yang diucapkan oleh Tuan Gunawan membuat Elvano melotot seketika.
Termasuk juga Niko. Sementara Tika malah senyum-senyum tidak jelas.
Hmmmm....
"Maaf Tuan, saya tidak bisa menerima perjodohan ini! Ayo kita pergi dari sini Nik!" Ucap Elvano dingin membuat Niko agak kaget, dan Elvano sendiri sudah segera melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana.
Sedangkan Tuan Gunawan terlihat sedikit kecewa dengan jawaban Elvano, begitu pun juga Tika. Namun Tuan Gunawan masih berusaha menahan Elvano saat itu.
"Eh, tunggu Tuan Muda! Kalau boleh tau kenapa anda menolak anak saya?" Tuan Gunawan meminta penjelasan.
Elvano yang sudah menjauh kembali membalikkan badannya.
"Jangan banyak tanya Tuan, jika tak ingin saya tarik semua saham perusahaan kami dari perusahaan ini!" Jawab Elvano ketus. Kali ini Tuan Gunawan benar-benar kaget. Ia tidak menyangka pertanyaan seperti itu malah membuat Elvano semurka ini. Tika juga sedikit tersentak mendengar itu.
Entah kenapa Elvano merasa sangat marah dengan rencana perjodohan yang disampaikan oleh Tuan Gunawan. Mungkin ia berpikir sudah terlalu banyak waktu yang ia habiskan untuk perjamuan itu, dan ternyata ayah Tika sudah memiliki rencananya sendiri. Bisa dikatakan Elvano merasa terjebak kedalam rencananya Tuan Gunawan. Jika hanya ingin menyampaikan hal tersebut, harusnya bisa langsung saja, tak perlu menunggu selama ini. Apalagi ia juga sedikit terbawa suasana hatinya yang sangat kacau saat itu, karna Cheril masih belum membalas pesannya.
"Heh! Nik.. Si*l*n kau.. kamu sengaja kan mau mengerjaiku? Harusnya tadi kamu juga ikut menolak perjamuan itu! Malah kamu terima.." Ucap Elvano kesal sekaligus mengawali pembicaraan mereka saat mereka sudah berada di mobil.
"Eh.. Maaf! Aku kan juga tidak tau Tuan Gunawan ternyata memiliki rencana ingin menjodohkan mu dengan Tika. Tapi kenapa juga kamu harus semarah itu tadi?"
Huuuuuuuh
"Aku sedang memikirkan Cheril Nik! WhatsApp-ku sama sekali tidak dibalas oleh nya. Aku takut terjadi apa-apa pada nya."
Oh.. Ternyata itu masalahnya.. Sepertinya mereka memang sedang bertengkar..
Niko mencoba memutar memorynya kembali ke tadi pagi. Elvano yang pergi begitu saja tanpa menyapa Cheril sama sekali.
"Kenapa kamu tidak coba menelepon dia saja No?" Ujar Niko memberi ide.
"Aku sudah menghubungi nya berulang kali tapi tidak ada jawaban Nik! Jujur aku sangat khawatir."
"Begitu ya.. O iya, kamu sudah coba menghubungi pengawal?" Ujar Niko lagi
Eh, benar juga ya.. Kenapa aku tidak terpikir sama sekali..
Di pintu masuk apartemen memang terdapat belasan pengawal yang diperintahkan oleh Elvano untuk berjaga-jaga di sana sejak Cheril menjadi salah satu penghuni tempat itu. Para penghuni lain saja agak heran kenapa bisa ada sangat banyak pengawal saat ini, selain itu juga untuk masuk ke apartemen pun keamanannya sudah diperketat. Jika dilihat dari sisi keamanannya sendiri, seharusnya sih tidak akan terjadi apapun lagi terhadap Cheril.
Drrt drrt
Baru saja Elvano hendak menghubungi pengawal, malah terdengar notifikasi WhatsApp yang menandakan ada pesan baru yang masuk.
Elvano pun segera membuka pesan itu terlebih dahulu. Dan benar saja itu dari Cheril.
"Maaf, tadi aku ketiduran. Aku sudah makan kok! Kamu lagi apa Vano?"
Demikian isi pesan tersebut.
"Siapa No? Cheril ya?" Tanya Niko. Ia juga mendengar notifikasi yang bergetar itu.
"Eh, iya Nik! Berani sekali dia baru membalas pesan ku. Lihat saja nanti!" Jawab Elvano dengan ekspresi nya yang sudah berubah ceria.
Memangnya apa yang akan kamu lakukan selain memangsa wanita ini.. Haha..
Gumam Niko sembari tertawa geli membayangkan sikap fulgar Elvano yang sudah beberapa kali ia tampilkan di hadapannya.
Setelahnya Niko sudah memilih diam saja, karna Elvano sudah sibuk dengan ponselnya.
"Heh! Kamu harus membayarnya karna sudah membuatku menunggu selama ini! Tunggu saja, ketika aku pulang nanti, akan aku makan kau!"
"Eh, ternyata dia sedang pergi? Pergi kemana?" Cheril berkata-kata sendiri. Kemudian kembali mengetik.
"Kamu sedang ada dimana sekarang?"
Drrt drrt
Notifikasi WhatsApp kembali masuk pada ponsel Elvano.
"Kamu tidak perlu tau soal ini! Apa kamu mau aku minta dibayar lebih banyak?"
Elvano terlihat senyum-senyum sendiri ketika mengetik pesan itu. Entah pikiran apa yang sedang ada di dalam otaknya saat itu.
Sesekali Niko yang melirik nya dari arah spion juga terlihat senyum-senyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Jawaban macam apa ini? Dia memang selalu saja seenaknya."
Wajah Cheril sudah memerah seketika setelah membaca pesan itu.
"Baiklah! Jangan banyak tanya lagi Cheril! jika tidak ingin mendapatkan masalah dari laki-laki gila ini!"
Sehabis berkata-kata sendiri Cheril kembali mengetik sebuah kalimat singkat yang jelas akan membuat Elvano luar biasa senang.
"Baik, aku tidak akan tanya lagi. Kamu hati-hati ya.. I love you Honey.."
Cheril sengaja mengetik seperti itu supaya Elvano merasa senang dan tidak lagi mengungkit hal yang tadi.
Tentu saja sesuai dengan yang dipikirkan oleh Cheril. Elvano memang sudah tidak lagi mengungkit perihal tadi. Dan pesan itu juga sekaligus menjadi percakapan terakhir mereka. Karna Niko sudah menghentikan laju kendaraan mereka tepat di depan rumah Ibu Anita.
Kemudian mereka kedua segera turun dari mobil dan melangkah mendekati Ibu Anita yang sedang duduk di teras.
"Kalian sudah pulang ya?!" Ucap Ibu Anita ketika mereka berdua sudah berada sangat dekat dengan nya.
"Iya Bu!" Jawab Elvano singkat.
"Ibu sudah makan?" Lanjut Elvano.
"Belum! Ibu sedang menunggu kalian untuk makan bersama. Ibu sudah masak sayur kesukaanmu Vano." Jawab Ibu Anita
"Oh.. Jika lapar Ibu bisa makan lebih dulu, tidak perlu menunggu kami Bu!" Elvano sedikit mengkhatirkan Ibu Anita.
"Tidak kok.. Ibu juga belum lapar. Ayo sekarang kita masuk!" Tambah Ibu Anita sembari membuka pintu.
Mereka bertiga lalu segera masuk ke dalam rumah Ibu Anita. Dan sebelum makan Elvano dan Niko memilih membersihkan diri lebih dulu.
Sebenarnya saat itu kedua laki-laki ini belum begitu lapar, mengingat tadi baru saja dijamu oleh Tuan Gunawan, namun mereka tetap memilih menerima tawaran Ibu Anita untuk makan bersama-sama karna tak ingin dirinya kecewa.
"O iya Bu, kita jadi kan pergi ke rumah orangtua Cheril?" Elvano mengawali pembicaraan sebelum makan berlangsung.
"Ya, kalau kamu sudah siap, kita berangkat setelah ini!" Jawab Ibu Anita.
"Tentu saja Vano siap.. Sejak tadi pagi juga sudah siap Bu!" Ucap Elvano penuh semangat.
Melihat ekspresi Elvano yang seperti itu membuat Ibu Anita dan Niko menggeleng-gelengkan kepala mereka.
"Yasudah! Setelah ini kita ke sana!" Ujar Ibu Anita kemudian dan sekaligus menjadi penutup dari pembicaraan mereka.
Lalu segera melahap makanan yang sudah tersedia di atas meja.