
Berawal dari pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh Ibu Berliana yang ditujukan pada Elvano.
"Vano, kenapa waktu Cheril koma kamu sama sekali tidak memberitahukan itu pada Om dan Tante?" Tanya Ibu Berliana.
"Maafkan saya Tante! Waktu itu saya sama sekali tidak terpikir tentang ini. Dan saya juga tidak memiliki nomor telepon Tante dan Om. Ponsel Cheril juga hilang entah kemana!" jelas Elvano secara rinci.
"Oh.. Ternyata ponsel Cheril hilang, pantas saja kami tidak bisa menghubungi dirinya sama sekali. Tapi kenapa dia juga tidak menghubungi kami padahal ia sudah lama menghilang." Ucap Ibu Berliana lagi.
"Saya sudah meminta Cheril untuk menghubungi rumah, tapi sejak kejadian koma, Cheril sangat kesulitan dalam mengingat hal yang agak rumit termasuk nomor telepon. Karena merasa khawatir, saya sudah tidak mengijinkan Cheril untuk mengingatnya lagi hingga sekarang." Elvano kembali memberikan penjelasan atas pertanyaan Ibu Berliana.
Mendengar ini membuat kedua orangtua Cheril sedikit khawatir.
"Apa Cheril mengalami amnesia?" Ayah Cheril ikut melemparkan pertanyaan.
"Eh, tidak Om. Cheril baik-baik saja. Dokter hanya bilang, sebagian pasien koma memang ada yang mengalami kesulitan dalam mengingat sesuatu. Namun akan membaik dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Jadi Tante dan Om tidak perlu merasa khawatir tentang ini."
Kedua orangtua Cheril kembali lega setelah mendengar penjelasan Elvano kali ini.
"Oh iya Vano, kali ini saya ingin bertanya satu hal yang sedikit privasi. Jika kamu tak ingin menjawabnya juga tak apa. Siapa kamu sebenarnya? Dan kenapa temanmu itu memanggilmu dengan sebutan Tuan Muda?"
"Oh.. Soal itu.. Ceritanya panjang Om. Intinya adalah saat ini saya adalah seorang Presdir di Perusahaan Astra Investama Group. Dan saya adalah anak dari pemilik Perusahaan itu." Jawab Elvano menyingkat penjelasan yang panjang itu.
Jika menceritakan semuanya secara detail mungkin akan membutuhkan waktu 2 jam lagi. Bisa-bisa ia malah tidak dapat menyampaikan tujuan sebenarnya kenapa dia datang ke sana. Hanya jawaban seperti ini saja sudah membuat kedua orangtua Cheril melemparkan kembali pertanyaan bertubi-tubi pada Elvano. Seperti, kok bisa, bagaimana ceritanya, kapan kamu pindah ke kota X dan lain sebagainya, dan lain sebagainya. Bagaimana tidak, tidak ada satu orang pun yang tidak tau tentang Astra Investama Group.
Setelah semua rasa penasaran orangtua Cheril terbayar, sekarang giliran Elvano yang berbicara.
"Om, Tante... Sebenarnya tujuan saya datang kemari tak hanya ingin memberitahukan tentang keberadaan Cheril...."
Ucap Elvano menggantung. Ia masih belum menyelesaikan pembicaraannya. Tentu kembali mengundang rasa penasaran yang sangat mendalam di hati kedua orangtua Cheril.
"Lalu apa tujuan lainnya Vano?" Tanya ayah Cheril.
Melihat Elvano terlihat gugup, kali ini Ibu Anita yang mengambil alih.
"Tuan, Nyonya.. Elvano ke sini ingin melamar Cheril.. Apa Tuan dan Nyonya mau menerima lamaran kami?" Ucap Ibu Anita yang membuat kedua orangtua Cheril kembali melototkan matanya. Namun kali ini juga terselip rasa bahagia yang sangat mendalam.
"Kalau soal ini, kami menyerahkan semuanya pada Cheril. Jika ia menyetujuinya, kami pun ikut menyetujuinya!" Jawab ayah Cheril sambil tersenyum juga sambil melirik ke arah istrinya meminta pendapat.
Ibu Anita dan yang lainnya juga ikut tersenyum mendengar jawaban dari ayah Cheril. Ibu Berliana juga sepertinya tidak keberatan sama sekali. Ia memang sudah tidak memiliki alasan apapun untuk tidak menyukai Elvano. Selain Elvano sudah menolong Cheril, ia sekarang juga sudah memiliki segalanya.
"Tapi bagaimana dengan hubungan Jimmy dan Cheril yang masih terikat?" Tanya Ibu Anita.
Apa kedua orangtua Cheril juga tidak tau tentang perlakuan Jimmy yang sangat kasar terhadap Cheril selama ini..
Gumam Elvano dalam hati. Buktinya saja mereka bahkan baru satu minggu ini mengetahui putri mereka menghilang. Dan kelihatannya mereka juga sangat tidak menerima itu.
Namun Elvano sama sekali tidak memiliki keinginan untuk membahas soal ini.
"Om, Tante.. Cheril tidak mungkin menolak saya.. Sebenarnya kami diam-diam juga sudah melakukan sesi foto prewedding.. Dan saat ini dia sama sekali tidak tau saya ingin melamarnya secara resmi. Dia berpikir saat ini kami sudah sah sebagai suami istri. Saya bermaksud ingin memberinya kejutan soal ini." Timpal Elvano.
Ya, sekali lagi kedua orangtua Cheril merasa sangat senang mendengar perkataan Elvano. Mereka yakin, jika Cheril bersama Elvano, pasti hidupnya akan berakhir bahagia.
"Baiklah! Kalau begitu kami menyetujui lamaran ini!" Ucap ayah Cheril kemudian
"Iya Vano.. Maafkan saya juga soal pertunangan waktu itu!" Ibu Cheril malah mengungkit perihal pertunangan yang lalu.
"Tidak apa-apa Tante.. Soal itu tidak perlu dibahas lagi!" Elvano memang sudah tak ingin mengingat hal itu lagi.
"Jadi kapan kamu berencana menikahi Cheril?" Ayah Cheril kembali melempar pertanyaan.
"Minggu ini Om.." jawab Elvano singkat.
"Baiklah Vano! Berikan kami alamat rumahmu, nanti kami akan ke sana." Ucap ayah Cheril
"Tidak perlu Om, nanti saya akan kirimkan sopir untuk menjemput OM dan Tante. Tak hanya sopir Om, saya akan mengirimkan pesawat jet untuk menjemput Tante dan Om!" Ujar Elvano menolak memberikan alamatnya tapi menawarkan berbagai fasilitas yang ia sediakan untuk kedua orangtua Cheril.
"Tidak perlu se-repot itu Vano, kami bisa datang sendiri ke sana!" Ucap ayah Cheril lagi.
"Iya benar Vano.. Tidak apa-apa, kamu tidak perlu repot-repot. Biar kami yang datang ke sana sendiri!" Timpal ibu Cheril.
Kedua orangtua Cheril memang tidak kaget mendengar Elvano menyebut pesawat jet, karena mereka sudah tau seberapa kayanya keluarga pemilik Astra Investama Group.
Sementara Elvano sama sekali tak ingin terlibat didalam perdebatan ini lagi. Ia pun membiarkan kedua orangtua Cheril tetap pada pendapatnya. Paling ia hanya akan diam-diam mengirimkan pesawat jet itu pada tepat pada hari H-nya nanti.
Demikianlah akhirnya lamaran Elvano pun sudah diterima oleh keluarga Cheril. Dan mereka tetap mengikuti arahan dari Elvano untuk tetap merahasiakan semua ini dari Cheril.
Akhir pembicaraan mereka adalah mengenai ayah dan ibu kandung Elvano yang tidak ikut kemari. Elvano meminta maaf pada kedua orangtua Cheril karna tidak mengajak kedua orangtua kandungnya untuk datang melamar, dengan alasan kedua orangtuanya sedang berlibur keluar negeri. Ya, ia memang tidak berbohong soal ini, namun tetap saja dia salah karena tidak memberitahukan sama sekali niatnya itu pada kedua orangtua kandungnya. Jika mereka tau pasti mereka akan menunda acara jalan-jalan itu atau mereka justru akan langsung pulang. Namun ya begitulah Elvano. Selalu melakukan segala hal sesuka hatinya.
Untung saja kedua orangtua Cheril sama sekali tidak mempermasalahkan ini.
Setelah semua hal sudah tersampaikan, mereka pun pamit dari rumah Cheril dan segera berlalu dari sana. Tak lupa juga Ibu Anita menyerahkan bingkisan yang sudah mereka beli tadi untuk ayah dan ibu Cheril. Mamang tidak ada yang istimewa sih, hanya beberapa cemilan dan buah-buahan saja.