Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Keluarga Setiono


Hallo Readers, aku ingin berterimakasih pada kalian semua yang masih tetap setia dengan cerita "Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran".


Yang pasti nya akan semakin seru ya, Karna tidak lama lagi Elvano akan segera kembali pada status Tuan Muda nya loh... Wah ga kebayang kan gimana ya Elvano jika menjadi Tuan Muda?


Nah Gaes, diepisode kali ini, kita ngintip keluarga besar Setiono yukkk !!


Selamat membaca kembali🥰🥰


*************


Keluarga Besar Setiono


Rumah mewah bak istana yang memiliki 3 lantai dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas mewah seperti lift, inilah Rumah mewah milik keluarga Besar Elvano.


Sekitar 1 tahun yang lalu keluarga ini telah kehilangan Tuan besar keluarga ini, yaitu Kakek Elvano yang telah meninggal dunia karna sakit tua. Dan disaat itulah sebuah rahasia besar terbongkar sudah.


Pagi itu kakek Elvano tiba-tiba kondisinya semakin memburuk Awalnya beberapa hari ini ia memang sudah menampakkan gejalah sakit tuanya, namun tidak tau kenapa tiba-tiba pagi ini kondisinya menjadi sangat buruk membuat semua penghuni rumah kalang kabut. Sesaat kemudian sudah terdengar suara sirine memasuki karangan rumah mewah tsb siap membawa Tuan besar ke rumah sakit dengan berbagai alat medis yang tertempel ditubuhnya yang sudah mulai lemah.


Ruangan VVIP segera disiapkan oleh rumah sakit swasta milik keluarga itu sendiri. Seisi rumah sakit kini dibuat sibuk untuk bersiap menyambut pemilik rumah sakit itu sendiri.


Dokter yang terbaik serta para perawat profesional sudah siap sedia menunggu ruangan nan mewah itu ditempati oleh tuan besar pemilik utama Astra Investama Group yang pertama yang kini telah diserahkan seluruh pada putra satu-satunya yang ia miliki yaitu Ayah Elvano.


Tuan William saat itu masih berada dikantor untuk menghadiri meeting, ia segera mendapatkan sambungan telpon dari ruang sakit bahwa Tuan besar mencari nya yang segera diberitahukan oleh manager Li, orang kepercayaan Tuan William. Setelah mendengar kabar tersebut, wajahnya seketika memucat, tanpa mengatakan sepatah kata pun ia segera beranjak meninggalkan meeting begitu saja. Suasana ruang meeting yang sebelum nya hening berubah gaduh. Semua yang ada disana tau pasti ada suatu hal besar yang sedang terjadi namun mereka tidak tau apa itu. Manager Li akhirnya membatalkan jadwal meeting saat itu dan menggantikannya di hari lain setelah itu ia segera menyusul tuannya untuk mengantar nya ke rumah sakit.


Saat ini kondisi Tuan besar Hendri Setiono sudah sangat kritis, semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang VVIP tempat Tuan Besar dirawat. Dokter memutuskan untuk menghubungi semua anggota keluarga atas permintaan beliau karna mungkin beliau sendiri sudah mengetahui kondisinya sendiri yang tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Ada hal penting yang ingin ia sampaikan.


Tuan William telah tiba di rumah sakit saat ini, ia segera menuju ruangan VVIP, ketika tiba disana semua anggota keluarga telah berkumpul membuat nya mengerti pasti Tuan Besar dalam keadaan tidak baik.


"Wil_li..." Ayahnya memanggil nya terbata-bata. Ia memang sedang menunggu nya.


"Wil_li, Win_da... Mendekat lah ! Ada yang ingin ayah sam_paikan pada ka_lian."


Tuan William dan Nona Winda pun melangkah mendekati tempat tidur Tuan Besar Hendri Setiono.


"Ayah mau me_minta ma_af pada kali_an ber_dua !"


"Ayah, Ayah tenang dulu, nanti ayah tambah sesak !" Winda mencoba menenangkan Ayah mertuanya karna ia terlihat sangat sulit mengambil nafas.


"Win_da, kamu ha_rus ber_janji untuk me_maaf_kan Ayah."


Sambil menggenggam tangan nya erat.


Winda dan William tentu saja merasa kebingungan saat itu, sepertinya Ayah tidak pernah melakukan kesalahan apapun selama ini. Semua yang ada di ruangan itu juga ikut Bingung kecuali Nenek. Ia sudah tau kemana arah pembicaraan itu.


"Yah, memangnya kenapa Ayah harus meminta maaf? Willi tidak merasa Ayah pernah berbuat salah apapun terhadap Willi."


"Benar Yah, Winda juga merasa Ayah tidak pernah melakukan kesalahan apapun."


Nenek tiba-tiba menangis mendengar perkataan anak dan menantunya itu, mata Kakek Elvano juga sudah berkaca-kaca.


"Loh, Nenek kok menangis?" Ucap Valencia sambil merangkul Neneknya erat. Valencia adalah salah satu adik Elvano.


"Ayah telah mela_kukan kesala_han yang sangat be_sar ter_hadap kalian berdua." Ucap Kakek lagi. Kakek Elvano kemudian menyeka air matanya yang sudah mulai mengalir.


Cerita masa lalu pun terngiang kembali.


______________


Hari ketika Elvano dibawa pergi oleh Ibu Anita dan Pak Rangga dimana saat itu William masih sedang dalam perjalanan menuju rumahnya sedangkan Winda masih belum sadarkan diri setelah melahirkan membuat kakek Elvano membuat sebuah rencana untuk mengelabui anak dan menantunya itu.


Ketika Winda bangun dari tidurnya yang panjang, ia melihat suaminya William sudah ada disampingnya. Matanya terlihat sembab karna baru selesai menangis.


"Sayang, kamu sudah disini? Kenapa matamu merah begitu? Apa kamu baru selesai menangis?"


William tidak tau harus menjawab apa, karna ia juga tidak tau bagaimana caranya menjelaskan semuanya pada istrinya tentang anak mereka yang sudah tiada.


"Oh, iya, sayang, dimana anak kita?" Winda baru menyadari anak yang baru saja ia lahirkan tidak ada diruangan itu.


"Kenapa kamu diam saja? Mana anak kita?" Winda mulai panik, ia sudah bisa sedikit membaca raut wajah suami nya.


sepertinya terjadi sesuatu pada anakku.


"Dimana dia Wil? Dimana?? Bawa aku padanya ! Bawa aku padanya !" Ucap Winda setengah berteriak. Winda sudah tidak dapat menahan dirinya.


Kakek Elvano yang sedang mondar-mandir didepan pintu kamar mereka jelas mendengar suara Winda yang setengah berteriak itu. Nenek juga ada disana, waktu itu Nenek juga masih menangis sejak kedua pegawai mereka membawa Elvano pergi dari rumah ini, dia belum sedikit pun menghentikan tangisannya.


Karna merasa sangat khawatir dengan kondisi Winda, mereka pun masuk kedalam kamar yang tidak dikunci itu.


Braak !


Pintu terbuka sedikit kasar hingga menimbulkan bunyi.


"Ayah, Ibu, dimana anak kami?" Winda langsung melemparkan pertanyaannya ketika melihat kedua orantua Wiliam berdiri dihadapannya.


"Anak kalian sudah meninggal Winda." Ucap Kakek Elvano.


Mendengar kalimat itu Winda tak kuasa menahan dirinya. Ia mengamuk seperti orang kerasukan.


"Tidak tidak tidak.. Tidak mungkin... Bu, itu tidak benar kan Bu? Bu tolong jawab aku ! Itu tidak benar kan?"


Winda berusaha bangun untuk meraih tubuh Ibu mertuanya yang berdiri agak jauh dari tempat tidurnya.


"Winda, aku mohon kamu tenang dulu !" Ucap William berusaha menenangkan Winda.


"Bagaimana aku bisa tenang Wil? Anak kita tidak ada di sini. Aku mau anak akuuuu !" Ucap Winda sambil menangis.


"Sayang, sayang, dengarkan aku ! Kamu harus tenang sayang ! Aku tau perasaanmu, aku juga merasakan hal yang sama denganmu Win !" Ujar William menenangkan winda. William memeluk istrinya erat ia juga ikut menangis sekarang.


Semua orang yang berada didalam ruangan itu menangis meraung-raung kecuali Kakek. Kakek bukannya tidak sedih, ia hanya berusaha untuk tegar.