Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Rasa penasaran Cheril


Elvano membuka pintu kamar milik keluarga Setiono dengan meletakkan card yang ada pada tangan kirinya. Sementara tangan kanannya masih berusaha memapah tubuh Cheril yang ia tahan di depan pintu yang masih tertutup.


Jegrek! Brak!


Setelah berhasil membuka pintu, Elvano meletakkan tubuh Cheril di atas tempat tidur, lalu menutup kembali pintu kamar.


Setelahnya, Elvano mencoba mengatur kembali nafasnya yang ngos-ngosan dengan menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. Membuat Cheril yang menyaksikan tertawa kecil.


"Hei, kamu menertawaiku ya?" Ucap Elvano ketika melihat Cheril yang sedang tertawa kecil.


"Ya, habisnya kamu sangat lucu sayang." Tanggap Cheril ringan.


"Berani ya sekarang .... Aku akan memakanmu malam ini. Bersiaplah!"


Mendengar ucapan Elvano membuat Cheril merinding. Sedangkan Elvano sendiri sudah menanggalkan jas dan kemejanya. Masih meninggalkan celana panjang miliknya.


Eh, mau apa dia ...


Wajah Cheril sendiri sudah memerah melihat Elvano yang sudah tela**ang dada. Sebenarnya sih Elvano hanya merasa kepanasan saja, makanya dia melepaskan pakaian formal itu. Lagian sudah menjadi hal yang lumrah bagi seorang pria bertela**ang dada di hadapan orang lain. Hanya Cheril saja yang sedang berpikiran tidak-tidak saat itu. Bukan salah dia juga sih, mungkin tepatnya karena ucapan Elvano yang terdengar mesum baginya. Jadi ya, ikut mempengaruhi pikiran Cheril.


"Sayang, kita kan tidak punya pakaian ganti di sini? Kita pulang saja yuk!" Ajak Cheril yang ingin mengalihkan perhatian Elvano.


"Tidak akan. Pokoknya malam ini kita akan tidur di sini. Aku ingin menuntut janjimu," ujar Elvano yang membuat Cheril bingung.


"Maksud kamu? Janji yang mana?"


"Masih berpura-pura tidak ingat rupanya?"


Saat itu Elvano sudah berjalan menghampiri Cheril.


"Eh, aku memang tidak merasa ada berjanji padamu."


Cheril masih berpikir keras, mencoba mengingat kembali apa dia memang sempat mengucap janji pada Elvano atau tidak. Namun sekeras apapun ia berusaha mengingat, tetap saja dirinya tidak menemukan jawabannya.


Hem ....


"Ayo bersihkan diri lebih dulu!" Perintah Elvano.


"Tapi kamu kan belum menjawab aku, memangnya aku berjanji apa padamu tadi?"


Cecar Dira yang sedang penasaran.


"Jangan banyak tanya," tanggap Elvano yang menggendong kembali tubuh istrinya untuk dibawanya ke dalam kamar mandi.


"Eh, turunkan aku! Aku bisa sendiri," berontak Cheril. Namun Tuan Muda yang perkasa itu sama sekali tidak menghiraukan permintaan Cheril. Ia baru melepaskan ketika sudah tiba di depan bathtub. Dan kemudian ia meletakkan tubuh Cheril ke dalam bathtub yang masih kosong tersebut. Lalu ia sendiri juga yang memutar keran untuk mengisi bathtub.


Setelahnya ia menghampiri Cheril.


"Kamu sungguh ingin tau janji apa yang aku maksud tadi?" Tanya Elvano dengan wajah berseri-seri. Membuat wanita cantik itu sedikit ragu untuk menjawab. Wajah Elvano ini jelas membuat dirinya menerka-nerka, sepertinya jawaban tersebut pasti akan merugikan dirinya.


"Tidak perlu deh. Lupakan saja!" Hehehe. Tanggap Cheril kemudian, yang membuat Elvano murka seketika.


"Kamu .... kamu ini sungguh sudah berani ya sama aku ... Sungguh mau cari masalah? Baiklah!"


Lalu laki-laki perkasa itu pun ikut masuk ke dalam bathtub yang sudah mulai terisi dengan air. Dan saat itu Elvano juga sudah menanggalkan celana panjangnya yang masih menyisakan celana pendek yang panjangnya hampir selutut.


"Hei, kamu mau apa ke dalam sini?" tanya Cheril heran.


"Mau menuntut janjimu," jawab Elvano ringan.


Ya, itu lagi .... Janji yang mana sih ... Apa aku sungguh mengucapakan sebuah janji padanya ... Aku sungguh tidak dapat mengingat tentang itu.


Cheril ingin sekali menanyakan itu, tapi juga sangat takut. Bagaimana ini? Cheril sungguh sedang berperang dalam batinnya.


"Apalagi, membantumu melepaskan ini. Memangnya kamu mau mandi dengan berpakaian seperti ini?"


Benar juga yang ia ucapkan. Tapi ....


"Maksud kamu kita akan mandi bersama?" tanya Cheril lagi.


"Iya, memangnya kenapa? Kita kan sudah pernah melakukan ini sebelumnya,"


"Ya, tapi kan .... "


"Sssssttt! Jangan banyak bicara. Cukup diam saja, Ok? Aku sangat pusing mendengar ocehananmu sejak tadi. Heran, kamu kok bisa berubah jadi secewet ini sih?" Pekik Elvano yang membuat Cheril terdiam tanpa suara lagi.


Dan membiarkan Elvano melakukan apa yang ingin ia lakukan terhadap dirinya.


_


_


Ah, kamu Readers, Elvano tidak melakukan hal yang berlebihan kok. Dia hanya membantu Cheril menggosok punggungnya saja. Lalu ya sesekali juga diluma*nya b*b*r mungil itu sih. Hehehe.


Setelah merasa tubuh keduanya sama-sama sudah bersih, Elvano kembali menggendong tubuh Cheril, lalu meletakkan tubuh itu di atas tempat tidur. Dan Cheril juga segera meraih selimut yang ada di atas tempat tidur untuk menutupi tubuhnya.


"Sayang, sekarang bagaimana? Aku bahkan sudah tidak memiliki pakaian. Maxi dress yang tadi itu sudah basah," Cheril mencoba bersuara kembali setelah tadi sempat terdiam.


"Tidak perlu memikirkan itu. Tidur itu tidak harus mengenakan pakaian kan?"


Tanggapan Elvano ini jelas membuat Cheril merasa sangat malu. Namun Cheril masih berusaha bersikap senormal mungkin.


"Tapi kan kita tidak mungkin terus berada di dalam ruangan ini kan? kalau kita akan keluar dari sini, bagaimana?" Cecar Cheril, masih berusaha mencari jawaban yang sangat tidak penting itu.


"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi soal itu, besok aku meminta Niko untuk membelikan beberapa pakaian untuk kita." tanggap Elvano akhirnya. Dan saat itu dirinya sudah berada di balik selimut bersama dengan Cheril.


Elvano kemudian melingkarkan tangannya di bagian perut Cheril, memeluk wanita itu erat. Dan mencoba mengajak Cheril membahas topik yang lebih menarik. Posisi mereka saat itu, Cheril sedang membelakangi Elvano.


"Sayang, apa kamu merasa bahagia hari ini?"


Padahal pertanyaannya yang satu ini juga sudah entah berapa kali dia ucapkan.


Tapi ya sudahlah, memang pertanyaan ini adalah topik yang paling indah bagi Elvano.


Mendengar Cheril menjawab dirinya bahagia adalah hal yang paling indah bagi Elvano.


"Iya sayang, aku bahagia. Terimakasih sayang, kamu sudah melakukan begitu banyak untuk membahagiakan aku dalam 2 hari ini," jawab Cheril sambil mengangguk pelan, dan tersenyum bahagia.


"Kamu harus tau satu hal, tidak hanya hari ini saja, aku akan selalu membahagiakanmu setiap hari, setiap Jam, setiap menit, bahkan setiap detik,"


Kemudian lelaki gagah ini membalikkan tubuh Cheril menghadapnya, sebelum melanjutkan kembali pembicaraannya.


"Cheril, berjanjilah padaku, apapun yang terjadi nanti, tetaplah percaya padaku. Jangan lagi merasa curiga seperti tadi, aku sangat takut kehilanganmu," lanjut Elvano.


"Baiklah, aku berjanji padamu. Maafkan aku, sudah berprasangka buruk padamu tadi," sesal Cheril.


"Cheril, ketahuilah, aku sangat mencintaimu. Aku tidak akan pernah sanggup mengkhianatimu. aku juga tidak akan sanggup jika harus hidup tanpamu. Berjanjilah padaku, kamu juga tidak akan pernah meninggalkanku apapun yang terjadi," pinta Elvano yang tanggapi oleh Cheril dengan anggukan dan sudah langsung berhambur memeluk tubuh Elvano erat.


Hal inilah yang paling disukai oleh Elvano. Ketika istrinya merasa bahagia, dia akan bertindak sangat agresif. Reflek memeluk suaminya, atau bahkan juga reflek mencium suaminya itu.


Jadi ini toh alasan Elvano yang sangat ingin membuat Cheril merasa bahagia? Hem .... Tuan Muda mesum ini sih. Haha.


Saat merasa suasana yang mulai mencair, Cheril mencoba menagih jawaban dari Elvano atas pernyataannya yang tadi. Yang pastinya juga akan membawa dirinya masuk ke dalam sebuah masalah.


"Sayang, memangnya tadi aku mengucapkan janji apa padamu?"