Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Episode 77


Setelah semua makanan sudah siap, Elvano dan Ibu Anita kemudian makan siang bersama.


"Vano, panggil juga sopirmu itu untuk makan!" perintah Ibu Anita


Elvano kemudian keluar memanggil pak sopir untuk ikut makan bersama mereka. Jadilah ketiga orang itu makan siang bersama-sama di rumah Ibu Anita.


Beberapa menu sederhana tersaji di atas meja, termasuk semur jengkol kesukaan Elvano pun ada di sana. Elvano yang meminta menu spesial itu tadi saat Ibu Anita baru akan memasak. Ibu Anita memang selalu memiliki stok menu yang satu ini. Selain ia sendiri juga suka, menu ini juga sekaligus menjadi persiapan jika tiba-tiba Elvano muncul dan meminta dimasakin seperti sekarang ini.


Sang sopir terlihat tertawa geli, ketika melihat Elvano sangat lahap dengan menu spesial itu, ia tidak menyangka Tuan Mudanya yang sangat tampan dan bermartabat ternyata menyukai menu rakyat kecil yang satu ini. Sang sopir sendiri terlihat sama sekali tidak menyentuh menu itu malah.


"Pak, Bapak tidak menyukai jengkol? Ini enak loh," tanya Elvano yang tidak melihat sopir itu mengambil jengkol ke piringnya


"Maaf Tuan Muda, saya tidak pernah makan itu," jawab pak sopir dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan.


"Oh ya? Sumpah, ini enak banget pak! Cobain deh, enak. Pasti Bapak akan ketagihan," tawar Elvano hendak mengambilkan untuk pak sopir.


"Eh .... Tidak usah Tuan Muda ... Terimakasih!" tolak pak sopir. Ia memang tidak menyukai menu yang satu ini.


"Sudah lah, kamu coba dulu. Saya yakin, kamu pasti ketagihan," paksa Elvano. Dan dia sungguh-sungguh dengan ucapannya, Tuan Muda yang satu ini segera mengambilkan beberapa potong jengkol lalu meletakkannya di piring pak sopir.


"Ta-tapi ...,"


"Ayo makan! Coba dulu,"


Sementara Ibu Anita tertawa kecil melihat kelakuan Elvano yang memaksa sopirnya mencoba menu kesukaannya itu. Jelas-jelas Ibu Anita bisa melihat dari raut wajah pak sopir yang tidak menyukai menu itu.


Dasar kamu ini ...


Gumam Ibu Anita dalam hati sambil tersenyum kecil.


"Ayo makan Pak!" perintah Elvano lagi ketika melihat pak sopir masih belum menyentuh menu itu.


"Eh ... I- iiiya Tuan Muda, baiklah!"


lalu dengan sangat terpaksa pak sopir pun mengambil sepotong jengkol yang ada di piringnya dan memasukkannya kedalam mulut.


Ekspresi pak sopir sudah sangat menggelikan ketika melahap menu itu. Namun ia juga tidak mungkin memuntahkan itu di depan Tuan Mudanya. Mau tak mau, dia tetap menelan menu tersebut sambil membayangkan itu adalah makanan kesukaannya.


Ya, anggap saja saya sedang mengunyah ayam goreng. Ayam goreng ... Ayam goreng ... Ayam goreng ... Enak.


Batin pak sopir yang terus menyebut nama kesukaannya itu.


"Gimana? Enak?" tanya Elvano.


"Ehm? I- iiya Tuan Muda, ueenak!" hehehe.


"Kalau begitu ayo habiskan!" tawar Elvano yang membuat sang sopir kalang kabut.


"Eh, saya sudah merasa kenyang Tuan Muda, terimakasih!" tolak sopir secara halus.


"Yang benar? Nanti menyesal loh. Saya habiskan nih!" ancam Elvano.


"Ah, tentu saja tidak. Silahkan habiskan Tuan Muda! Saya benar-benar sudah merasa kenyang." jawab sopir cepat.


Padahal di dalam hati pak sopir sedang membatin,


Silahkan Tuan Muda ... Habiskan. Saya sangat ikhlas malah Tuan Muda menghabiskan ayam goreng yang sangat enak itu ... Ayo habiskan ... Tidak perlu menawari saya lagi.


"Baiklah kalau begitu! Anda jangan menyesal ya," ujar Elvano yang langsung melahap makanan kesukaannya itu dengan lahap.


Fiiiiiiiiuh


Pak sopir bernafas lega.


Ibu Anita yang sedari tadi memperhatikan nya terus cengengesan melihat tingkah sopir itu yang serba salah.


Vano ...Vano ... Kamu sungguh keterlaluan mengerjai orang seperti ini.


Apa kamu memang tidak tau sopir ini tidak menyukai makanan favoritmu itu.


Padahal Ekspresinya sudah menggelikan seperti itu.


Ibu Anita tau, Elvano terkadang memang terlampau polos, ia bahkan tidak bisa menilai seseorang yang sudah jelas bisa dilihat dari ekspresinya. Kekonyolannya inilah yang sering membuat Ibu Anita diam-diam merindukannya.


Setelah makan siang selesai, sekali lagi pak sopir juga dibuat kaget oleh kelakukan Elvano. Tuan Mudanya bahkan mengangkat piring makan miliknya untuk dibawakan ke wastafel untuk dicuci, membuat dirinya sangat sungkan setelahnya.


Kata-kata Elvano yang satu ini sungguh melekat di hati bapak sopir itu. Ia merasa sangat kagum dengan sifat yang dimiliki Tuan Mudanya yang bisa dikatakan sangat bijak itu. Sejak saat itu pak sopir semakin menghormati Elvano, karena baginya, Elvano telah berhasil melakukan motto yang berbunyi "Manusia yang memanusiakan Manusia".


Hal yang dilakukan oleh Elvano memang hanya hal kecil. Namun mampu meninggalkan kesan yang sangat mendalam di dalam hati bapak sopir itu.


Setelah selesai menggelar acara makan siang yang penuh dramatis itu, Elvano kemudian bersantai sejenak di atas sofa ruang tamu.


Sedangkan pak sopir lebih memilih berada di teras dengan alasan ingin mencari ngin segar. Padahal sebenarnya ia sengaja ingin membiarkan Elvano dan Ibu Anita menghabiskan waktu berdua di dalam untuk melepas rindu.


Pak sopir tidak tau Elvano juga sudah akan beranjak untuk bertemu dengan sahabatnya.


Elvano kemudian merogoh saku jasnya yang ia letakkan di atas senderan sofa untuk mencari ponselnya. Setelah ponsel di tangan, ia segera menggerakkan jemarinya mencari kontak yang ingin ia hubungi. Sebuah nama muncul di layar ponselnya dan ia segera menekan simbol telpon berwarna hijau untuk memanggil.


Memanggil Niko ....


"Hallo ...," terdengar suara dari balik ponsel


"Hallo ... Bro, ada di mana?" tanya Elvano


"Biasa bro ... Lagi mangkal."


"Ada apa No? Tumben nih menghubungi ku?"


Ujar Niko merasa heran.


"Nggak, aku mau ketemu Nik. Kangen sama kamu. Hehehe," tanggap Elvano cengengesan.


Hahaha.


Niko malah tertawa mendengar perkataan Elvano yang seperti sedang mengejek.


"Eh ... Jangan bercanda. Yang benar saja, apa kamu akan memintaku mendatangimu? Kamu kan ada di kota X." ujar Niko kemudian.


Kecuali kalau ....


"Vano ... Atau jangan-jangan kamu sedang di kota XX?" pendapat Niko.


"Iya ... Ini aku lagi di rumah Ibu Anita," jawab Elvano jujur.


"Jadi kamu sungguh ada di kota XX?"


"Iya Nik ... Masih belum percaya? Aku ke tempat kamu sekarang ya," tawar Elvano dan langsung mematikan ponselnya


"Eh ....


Tut Tut tut


"Memangnya dia tau aku ada di mana? Malah dimatiin." Niko berkata-kata sendiri.


Benar saja, sesaat kemudian Elvano sudah kembali menghubungi Niko.


"Bro, posisi kamu di mana?" tanya Elvano kemudian.


"Tuh kan, makanya jangan mematikan panggilan seenaknya saja," protes Niko.


"Iya-iya ... Aku yang salah ... Jadi kamu ada di mana sekarang?" tanya Elvano sekali lagi.


"Di depan Mall Z." Jawab Niko kemudian.


"Baiklah, aku segera meluncur!"


pembicaraan tersebut sekaligus mengakhiri pembicaraan Niko dengan Elvano.


Setelahnya, Elvano segera beranjak dari sofa dan meraih jasnya, lalu berpamitan pada Ibu Anita untuk menemui Niko.


"Ayo kita jalan, Pak!" ajak Elvano


"Mau kemana Tuan Muda?" tanya pak sopir.


"Saya mau bertemu sahabat saya di Mall Z. Ayo kita jalan sekarang! ajak Elvano sekali lagi yang langsung ditanggapi oleh pak sopir dengan tindakan.


Sesaat kemudian mobil pun melaju pergi meninggalkan rumah Ibu Anita menuju ke arah Mall Z. Salah satu mall terbesar di kota itu yang merupakan kota milik keluarga Elvano yang belum ia ketahui.