Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Episode 254


Satu bulan kini telah berlalu sejak hari itu. Tubuh gagah seorang The Lion King masih tergeletak tak berdaya di atas tempat tidur. Tak ada satupun orang yang dapat memastikan kapan tubuh itu akan bangun kembali. Kini tubuh Elvano tidak lagi berada di gunung Elang Muda, sebab tubuh itu membutuhkan asupan dari infus. Jadi Elvano sudah dipindahkan ke rumah sakit terbesar di kota X.


Dunia mafia mulai menggila mendapat kabar tentang itu. Pencarian benda pusaka berupa teratai abadi masih diperebutkan. Dan Guru Raymon tak bisa lagi tinggal diam. Sebab orang-orang itu mulai menemukan pulau rahasia itu.


Sekumpulan manusia berbadan binatang yang diciptakan oleh Guru Raymon sudah dikerahkan untuk berjaga-jaga di sana. Entah sudah berapa banyak jiwa yang melayang di tangan mereka ketika masih saja memaksa masuk ke area pulau. Mereka meraung hebat, mencabik serta meraup setiap orang yang berani menjajakan kaki lebih dalam ke arah pulau.


Tentang Flo yang tertikam, keadaaan gadis kecil ini sudah pulih total saat ini. Dan Valen juga sudah sembuh seutuhnya. Dia bangun keesokan paginya setelah diberikan teratai putih itu.


Bisnis hitam yang ditekuni oleh Elvano masih berjalan dengan baik di tangan Ken. Sedangkan Astra Investama Group juga semakin maju di tangan Niko. Semuanya baik, semua orang-orang begitu setia pada Elvano. Mereka juga diam-diam mendoakan Elvano supaya cepat sadar.


Mengenai Cheril, tentu saja dia adalah orang yang palig setia mendoakan Elvano. Laki-laki yang ia cintai, sekaligus ayah dari anak dalam kandungannya.


3 bulan sudah kandungan itu saat ini. Untunglah, kedua jiwa ini tidak mengalami masalah yang terlalu serius usai dibius dengan obat tidur yang dosisnya cukup tinggi oleh anggota Blood team waktu itu.


Setiap hari Cheril selalu menemani Elvano di rumah sakit. Dia tak pernah beranjak dari tempat itu kecuali hanya untuk membeli makanan. Rumah sakit sudah menjadi rumah kedua bagi dirinya. Ya, memang ruangan Elvano tidak seperti sebuah rumah sakit, jauh lebih mirip dengan sebuah aparteman. Memiliki dapur pribadi, kamar mandi pribadi, bahkan lebih daripada itu, di dalam ruangan rawat juga masih terdapat 2 ruangan lainnya yang bisa digunakan sebagai tempat bagi keluarga terdekat untuk beristirahat.


Entah sudah berapa banyak tetesan air mata yang dihabiskan oleh Cheril untuk menangisi keadaan Elvano selama ini. Di depan Elvano Cheril selalu berusaha bersikap optimis dan terus menyemangat nya. Sedangkan di belakang, air matanya terus menetes. Tak jarang janin di dalam kandungannya menjadi sangat lemah dan stres yang menyebabkan kondisi Cheril beberapa kali melemah dan harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit ini.


Tok tok tok


Cheril segera menuju ke arah pintu saat mendengar suara ketukan.


Jegrek!


"Eh, Ayah, Ibu, silahkan masuk!"


Kedua orang tua Elvano juga sudah mengetahui semua yang terjadi. Mereka sangat terkejut saat mendapatkan semua kenyataan ini. Tak hanya Elvano, bahkan kedua putrinya juga hampir kehilangan nyawanya. Sementara pada waktu kejadian, mereka berdua malah sedang asyik berlibur karena berhasil dibohongi oleh Elvano waktu itu.


"Bagaimana kondisi Vano saat ini, Cheril?" tanya Ibu Winda lembut.


Saai ini Ibu Winda sedang duduk pada kursi yang berada di samping tempat tidur Elvano. Sedangkan Cheril berada sedikit lebih jauh dari tempat tidur itu memberikan ruang pada kedua mertuanya supaya bisa melihat Elvano lebih dekat.


"Masih seperti biasa, Bu. Belum ada perkembangan apapun," jawab Cheril lalu menundukkan wajahnya.


Kini Ibu Winda beralih kepada Cheril. Ia beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri Cheril dan merangkul menantunya dengan penuh kasih.


"Kamu yang sabar ya. Ibu yakin, Vano pasti akan bangun untuk kita. Apalagi .... "


Ibu Winda mengalihkan pandangannya ke arah perut Cheril dan mengusap lembut di sana. Lalu kembali menyambung kalimatnya yang belum selesai.


"Vano juga pasti sangat menantikan kehadiran anak ini. Dia pasti akan bangun demi anak ini."


Ya, Ibu Winda dan Ayah William memang sudah tahu mengenai kehamilan Cheril beberapa saat yang lalu bersamaan dengan semua kabar tak baik yang mereka terima sekaligus waktu itu. Rasa haru memenuhi lingkup hati mereka saat itu, sedih senang semua bercampur menjadi satu. Sungguh begitu ironis dan tak disangka.


Buktinya, saat Elvano kembali ke rumah, beberpa bulan kemudian keluarga itu mulai mendapatkan masalah. Valen dan Flo ikut terlibat kedalam sebuah masalah yang cukup serius dan mengerikan.


Dan kini, mereka pun merasa harus berterima kasih kepada ayah yang sekaligus merupakan kakek Elvano yang dimana telah menjauhkan Elvano kecil dari keluarga Setiono sejak baru lahir dulunya.


Mungkin saja pikir mereka jika Elvano tidak diasingkan, keluarga mereka sudah hancur saat ini atau bahkan sejak anak-anak itu masih kecil keluarga Setiono sudah akan mendapatkan masalah ini.


Ya, tentu saja demikian adanya. Alasan pertama, jika saja hal buruk terjadi pada masa kecil mereka, sudah pasti Elvano kecil tidak akan memiliki kemampuan untuk melindungi keluarganya.


Dan kalau pun kejadian buruk ini terjadi pada masa dewasa mereka seperti saat ini, Elvano yang tinggal bersama keluarga Setiono sejak kecil juga sudah pasti tidak mungkin memiliki kungfu setinggi sekarang ini. Karena pastinya Elvano tidak akan mungkin mengenal Guru Raymon dan mendapatkan predikat tertingginya The Lion King.


Namun kini semua itu telah berlalu. Ibu Winda dan Ayah William begitu yakin, pasti mala petaka inilah yang dimaksudkan oleh peramal itu. Mereka mensyukuri semua ini sekarang. Setidaknya semua masih baik-baik saja. Flo dan Valen sudah kembali membaik. Hanya tinggal Elvano yang masih terbaring lemah. Namun mereka sangat yakin, Elvano pasti akan bangun kembali. Dan setelah itu, keluarga mereka akan hidup bahagia selamanya.


--


Pada saat yang bersamaan ketika Ibu Winda mengucapkan kalimat terakhirnya mengenai bayi mereka, Elvano terlihat meresponi hal itu. Ayah William yang melihat ini segera memberitahukan pada mereka berdua.


"Win, Ril, kemarilah!" ucap Ayah William tanpa menoleh.


Pandangan Ayah William saat itu tertuju pada tubuh Elvano. Tepatnya pada kedua tangan Elvano yang terlihat menggerak-gerakan jemarinya perlahan.


Cheril dan Ibu winda yang sedang asyik dengan obrolan mereka sedikit heran mendengar panggilan Ayah William. Apalagi ia sama sekali tak terlihat hendak memutar wajahnya.


Mereka merasa yakin, pasti ada sesuatu yang terjadi pada Elvano. Mereka berdua pun bergegas menghampiri Ayah William yang berada tepat di sisi tempat tidur Elvano.


Cheril dan Ibu Winda tersenyum bersama saat mendapatkan jemari Elvano yang masih terlihat tergerak-gerak. Lalu juga saling melempar pandangan satu sama lain sebelum pandangan mereka akhirnya tertuju pada Elvano.


"Vano, kamu pasti bisa mendengar ucapan Ibu tadi kan? Bangunlah Nak! Cheril dan anakmu sangat menantikan dirimu. Mereka membutuhkan mu, Vano."


Ibu Winda menggenggam erat tangan Elvano saat itu. Sesaat kemudian dia juga memindahkan tangan yang ia gengggam itu pada tangan Cheril.


"Vano, rasakanlah tangan ini. Dia adalah Cheril. Wanita yang sangat kamu cintai. Dia juga sedang mengandung anakmu saat ini. Kamu sudah tahu kan mengenai ini?"


Respon kedua akhirnya juga ikut terjadi pada tubuh Elvano. Air matanya tiba-tiba mengalir dari sudut matanya.


Kini Cheril, Ibu Winda dan Ayah William saling melemparkan pandangan satu sama lain. Ekspresi senang bercampur haru terlihat jelas pada wajah ketiga orang ini.


"Will, lebih baik kamu panggilkan Dokter," pinta Ibu Winda.


Ayah William mengangguk dan segera bergegas keluar dari ruangan.


*Bersambun*g ....