Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Welcome Cheril, please stay with me here forever. I love you so much


Cheril sangat kaget dengan apa yang ia lihat di dalam ruangan itu.


Sebuah kamar mewah dengan berbagai hiasan penuh dengan kelopak bunga mawar dan matanya langsung tertuju pada tulisan yang sangat besar. Kalimat pada tulisan inilah yang membuat Cheril sangat terharu sekaligus terpanah.


"Sayang .... Apa maksud dari semua ini?" Tanya Cheril penasaran.


Melihat ekspresi yang ditampilkan oleh Cheril membuat Elvano mengerti, Cheril senang, namun juga penasaran.


"Apa kamu menyukainya?"


Sekalipun ia sudah bisa melihat dari ekspresi Cheril, tetap saja belum puas jika tidak mendengar dari pengakuan Cheril secara langsung.


"I-iya .... Aku menyukainya ... Ini sangat indah. Tapi ... Aku masih belum mengerti maksud dari tulisan itu. Apa kamu serius dengan itu?"


Mata Cheril masih tertuju pada tulisan penuh kilauan yang berada tepat di hadapannya.


Dengan sebuah kalimat yang berbunyi;


Welcome Cheril, please stay with me here forever. I love you so much.


"Tentu saja aku serius. Maukah kamu tinggal bersamaku di sini? Di rumah ini? Yang juga akan menjadi rumahmu mulai hari ini. Apa kamu mau Cheril?" Tanya Elvano dengan tatapan serius.


Cheril sudah tidak mampu menjawab itu. Yang ada juga Cheril malah berhamburan memeluk tubuh kekar yang berdiri tegak di sampingnya yang masih menunggu jawaban dari dirinya.


Sekalipun kaget, Elvano tetap menyambut pelukan itu. Ia membalas pelukan Cheril dengan kedua tangannya ikut terangkat memeluk Cheril dan mengusap punggung wanita itu lembut.


"Sayang, kamu belum menjawab ku. Apa kamu mau tinggal bersama ku di sini? Selamanya .... " Elvano menuntut jawaban dari Cheril yang masih memeluk nya erat.


"I-iya .... Aku mau." Jawab Cheril di balik punggung Elvano.


Tentu saja jawaban tersebut membuat Elvano merasa sangat senang. Dan sesaat kemudian pelukan mereka pun terlepas. Sudah berubah menjadi sebuah ciuman mesra yang berlangsung singkat.


"Terimakasih Cheril. Terimakasih karena kamu sudah mau menerima permintaanku." Ucap Elvano sambil tersenyum lebar.


"Aku yang harus berterimakasih padamu sayang. Aku tidak pernah menyangka kamu akan melakukan semua ini padaku." Hik*


Cheril sudah mulai terisak karena terharu. Padahal ia masih belum tau, Elvano sudah menyiapkan sesuatu yang lebih daripada ini untuk dirinya.


"Eh .... Jangan menangis."


Dengan sigap Elvano mengusap air mata Cheril yang berjatuhan di pipinya.


Lalu menutup kembali pintu ruangan yang ada di hadapan mereka.


Loh .... kok ditutup ....


Protes Cheril dalam hati. Rasa bahagia yang sebelumnya hadir, memudar sedikit demi sedikit karena Elvano malah menutup kembali pintu ruangan tersebut, bukannya mengajak dirinya masuk ke dalam ruangan itu.


Setelahnya, Elvano menarik tangan Cheril menuju sebuah ruangan lainnya yang berada tidak jauh dari kamar mereka.


Jegrek


Elvano kembali membuka pintu ruangan tersebut. Dan di balik ruangan terlihat ada 2 orang yang sedang mempersiapkan berbagai peralatan makeup. Ya, mereka adalah Perias yang akan mengubah penampilan Cheril menjadi seorang putri siang ini. Dimana acara pernikahan akan digelar dari pukul 13.00 berlanjut hingga malam.


"Selamat pagi Tuan Muda, dan Nona Muda." Sapa salah satu dari mereka yang menghampiri Cheril dan Elvano di depan pintu. Sementara yang satunya masih tetap pada posisi menyiapkan semua peralatan.


Perias itu terlihat menatap wajah Cheril sejenak, walaupun tidak dikenalkan oleh Elvano, ia tau itu pasti pengantin wanita yang harus ia layani. Ia juga berdecak kagum. Cantik, gumam nya dalam hati.


"Pagi. Apa bisa dimulai sekarang?" Tanya Elvano.


Mulai apa .... Aku mau didandan kan ... Tapi untuk apa ....


Cheril dapat menebak dengan baik dirinya pasti akan didandan, setelah melihat berbagai peralatan makeup yang ada di dalam ruangan itu.


"Iya Tuan Muda, sudah bisa dimulai dari sekarang asal Nona sudah siap." Tanggap perias tersebut sambil melemparkan pandangannya ke arah Cheril. Cheril juga menatap perias itu dengan tatapan penuh tanya.


"Eh .... I-iya .... Tapi untuk apa aku didandan?" Cheril bertanya balik.


"Untuk sebuah pesta yang akan digelar siang ini, sayang." Jawab Elvano tanpa memberikan rincian yang jelas.


"Apa hari ini hari ulang tahun Ibu?" Cheril kembali melempar pertanyaan.


Elvano belum menjawab, Cheril sudah melanjutkan kalimat berikutnya.


"Jika iya, aku harus menyiapkan kado. Sayang, kenapa kamu tidak bilang dari kemarin?" Protes Cheril.


"Sudahlah ... Jangan memikirkan hal itu. Ibu tidak membutuhkan kado darimu. Kamu hadir di sini saja sudah membuat Ibuku senang." Tanggap Elvano asal.


Jadi benar, Ibu berulang tahun hari ini .... Kamu sungguh keterlaluan Vano. Kenapa tidak memberitahukan padaku sebelum ini ... Sungguh tidak enak tidak menyiapkan apapun untuk Ibu.


Cheril berargumen di dalam hati.


Setelah mendengar percakapan panjang antara Elvano dan Cheril, kedua perias itu menyadari, ternyata Cheril belum tau bahwa dirinya akan disulap menjadi seorang pengantin hari ini. Mereka pun harus bersikap lebih berhati-hati.


Singkat cerita, Cheril akhirnya masuk ke dalam ruangan itu, dan bersiap untuk didandan. Sementara Elvano telah berlalu dari sana menuju lantai bawah untuk berkumpul dengan yang lainnya sebelum mempersiapkan dirinya sendiri.


Sekitar 5 jam kemudian, Cheril baru selesai dimakeup. Dan Cheril merasa sangat kaget, ketika salah satu dari perias itu memintanya untuk mengenakan sebuah gaun pengantin.


"Loh .... Ini kan gaun pengantin, kenapa aku harus mengenakan ini di pesta ulang tahun Ibu?" Protes Cheril.


"Maaf Nona, ini adalah perintah dari Tuan Muda." Jawab salah satu dari mereka.


Ah .... Memang dasar laki-laki aneh. Apa aku tidak akan ditertawakan oleh para tamu .... Lagian dandanan ini juga sangat berlebihan.


Cheril masih berpikiran dirinya akan menghadiri acara ulang tahun Ibu Winda saat itu.


"Aku tidak mau mengenakan ini." Tolak Cheril.


Pada saat yang bersamaan Elvano muncul di depan pintu.


"Cheril, kamu cantik sekali .... " Ujar Elvano sambil menatap Cheril lekat. Demikian juga dengan Cheril. Ia juga menatap Elvano lekat karena penampilan Elvano juga sangat formal layaknya seorang pengantin pria.


"Eh .... Kebetulan kamu di sini. Aku tidak mau mengenakan gaun ini sayang. Ini sudah terlalu berlebihan." Protes Cheril. Kali ini langsung ia tujukan pada Elvano.


"Tidak, Kamu harus mengenakan itu! Apa kamu tidak melihat penampilanku?"


Tentu saja aku bisa melihat nya. Tapi apa kamu tidak merasa ini sangat aneh ... Kita tidak mungkin kan berpenampilan seperti pasangan pengantin begini, untuk menghadiri pesta ulang tahun Ibu.


Cheril masih melakukan aksi protes dalam hati.


Tunggu dulu .... Apa jangan-jangan pesta ini adalah ....


Cheril mulai curiga. Namun juga merasa tidak masuk di akal sehatnya. Yang membuat dirinya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sayang, kenakan gaun itu. Kita akan merayakan hari pernikahan kita." Ucap Elvano akhirnya. Sepertinya Elvano bisa menebak apa yang dipikirkan Cheril saat itu.


"APA?"


Jadi benar yang aku pikirkan tadi .... Kami akan menggelar pesta pernikahan ....


"Heh! Kamu tuli? Aku bilang kenakan gaun itu. Masih bertanya begitu keras." Murka Elvano.


Ia sengaja memasang wajah galak untuk menggoda Cheril sekaligus menjaga gengsinya.


"Ba-baiklah .... Aku akan mengenakan gaun itu." Jawab Cheril kemudian.


Walaupun Elvano terlihat galak, Cheril tetap merasa senang. Cheril sangat bahagia dengan semua yang diucapkan oleh Elvano. Rasanya begitu sulit bagi Cheril untuk mempercayai semua ini.