Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Usaha Erik


Di hotel Belle tempat sedang berlangsungnya pesta kecil yang diadakan oleh Elvano untuk merayakan hari ulang tahun Cheril, Erik dan Tania masih berusaha keras menciptakan suasana terbaik supaya Niko bisa dekat dengan Nikita.


"Nik, kamu benar tidak mau minum? Ayolah bro .... Santai dong .... Santai ... " Bujuk Erik.


Saat ini Erik duduk berdua dengan Niko. Dan Tania duduk berdua dengan Nikita. Sementara Kak Adriela dan kedua orangtua Cheril sudah beranjak dari tempat itu sejak Elvano dan Cheril meninggalkan ruangan tersebut.


Niko masih saja tidak menggubris ajakan Erik. Dia sepertinya sedang merajuk deh.


"Hei Nik, kamu ini kenapa sih? Kenapa kamu tidak menyukai Nikita? Dia kan lumayan cantik. Biasanya kamu paling heboh soal wanita. Aku jadi heran sama kamu." Ucap Erik panjang lebar.


"Hem ....


Dan hanya mendapat tanggapan berdehem dari Niko.


Perkataan Erik memang benar kan? Masih ingat kan waktu Elvano membawa wanita masuk ke angkotnya? Ya, Erik malah sangat heboh saat itu. Nah, wajar ya jika Erik berpikiran demikian. Memang aslinya itu Niko agak keciciran melihat wanita. Namun sangat berbeda pada saat dia dihadapkan pada Nikita.


"Eh .... Apa jangan-jangan kamu grogi ya dekat dengan Nikita?" Ejek Erik sambil menyenggol bahu Niko.


"Apaan. Tidak. Aku tidak memiliki perasaan apapun pada wanita itu. Paham?" Tanggap Niko akhirnya.


"Ya, tapi kan kamu bisa mencoba membuka diri bro ... Aku dulu juga tidak memiliki perasaan terhadap Tania."


Erik melirik ke arah Tania sejenak. Dan pada saat dia mengatakan hal ini, Niko yang sebelumnya cuek ikut melemparkan pandangannya pada Erik dan Tania bergantian.


"Kamu kan tau sendiri, aku dulu suka sama Cheril, tapi karena Cheril mencintai Vano, begitupun sebaliknya, aku berusaha Move on. Dan waktu itu kalau dipikir aku sangat jahat. Aku malah menjadikan Tania sebagai pelarian."


Erik berhenti sejenak untuk mengatur nafas, lalu melanjutkan kembali pembicaraannya.


"Tapi, sekarang aku benar-benar mencintai Tania. Walaupun diawali tanpa perasaan, lama-kelamaan aku mulai mencintai nya karena perhatian dan cinta yang dia berikan padaku." Jelas Niko panjang lebar. Ketika mengucapkan kalimat terakhirnya, Erik memperlihatkan pada Niko senyuman tipisnya.


"Terus kapan kamu akan menikahi gadis itu?" Tanya Niko tiba-tiba.


"Heh! Aku sedang membahas tentang mu. Malah mencoba mengalihkan topik." Murka Erik.


"Serius, kapan kamu akan menikahi Tania?" Tanya Niko lagi.


Ah .... Malah jadi aku yang dipojokkan.


"Dalam waktu dekat." Jawab Erik singkat dengan wajah jutek.


Kali ini Erik sungguh salah tingkah. Karena memang dirinya belum memiliki rencana untuk hal yang satu ini. Sebuah pernikahan membutuhkan komitmen yang tinggi. Sementara Erik masih berusaha meyakinkan dirinya, bahwa Tania memang adalah cinta sejatinya. Yup, Erik sendiri masih sedikit meragukan hal ini.


"Baguslah. Jangan lupa mengundang kami!" Tanggap Niko sambil menepuk pundak Erik.


"Eh ... Kenapa malah membahas ini? Kita kan sedang membahas Nikita. Jadi gimana bro? Kamu jadian saja dengan Nikita. Kan kita sejoli. 3 sahabat berhubungan dengan ketiga sahabat. Beuh, Mantap." Hahaha.


Erik tertawa ketika menyadari hal ini.


Benar juga ya kata Erik. Dirinya, Elvano dan Niko adalah 3 bersahabat, sementara Cheril, Nikita, dan Tania adalah 3 bersahabat. Sungguh sangat pas jika Niko menikah dengan Nikita. Hehehe.


Sedangkan Niko hanya tersenyum kecil menanggapi perkataan Erik. Dalam hati dia juga sedang membayangkan hal ini.


Benar juga yang diucapkan oleh Erik. Bisa menjadi sejarah jika memang terjadi demikian. Ngedate berenam.


Niko tampak melirik ke arah Nikita sejenak, membuat Erik yang menyadari hal ini tersenyum puas.


Gumam Erik dalam hati.


"Lagian mau sampai kapan kamu terus menjomblo seperti ini?" Sambung Erik lagi.


Dia sedang berusaha keras meluluhkan hati sahabatnya itu.


"Hem ....


Niko kembali menanggapi Erik dengan berdehem.


Namun kali ini disertai kalimat tambahan dibelakangnya.


"Sebenarnya aku sudah mencintai wanita lain." Sambung Niko yang membuat Erik melotot seketika.


Jadi ini alasannya ....


"Siapa orangnya?" Tanya Erik penasaran.


"Mau tau aja kamu. Ada deh. Suatu hari nanti kamu juga akan tau." Tanggap Niko dengan senyuman tipis yang tidak bisa diartikan.


Wah ... Sepertinya dia serius dengan ucapannya.


Melihat senyuman yang ditampilkan oleh Niko membuat Erik yakin, sepertinya Niko serius dengan ucapannya.


Iya, di hati Niko saat ini memang sudah ada nama wanita lain. Tau kan siapa? Dia adalah Tika.


Niko jatuh cinta pada Tika sejak pandangan pertama. Dimana waktu itu Elvano mengajak Tika menaiki angkot miliknya. Dia sudah sangat senang ketika mengetahui Elvano ternyata hanya bermain-main dengan Tika. Namun, Niko masih sangat ragu hendak mendekati wanita itu. Itu semua dikarenakan latar belakang keluarga Tika yang lumayan berada. Apalagi ayah Tika juga sangat berharap anak gadisnya itu bisa berdampingan dengan Elvano. Jadi Niko pun masih berpikir keras bagaimana caranya jika ia sungguh ingin mendapatkan pujaan hatinya itu.


Ya, gagal deh ngedate berenam. Hahaha.


"Ya, kalau kamu memang sudah memiliki pilihan, aku juga tidak bisa berbuat apapun lagi. Tapi aku tetap berharap, kamu jadian dengan Nikita. Dia wanita yang baik kok. Dan itu tadi. 3 serangkai dengan 3 serangkai, bro ... Keren kan?" Hahaha.


Erik masih berusaha meyakinkan Niko ternyata. Semangat Rik. Aku mendukung usahamu. Hehehe.


Mendengar ucapan Erik kali ini Niko menggaruk-garuk kepala bagian belakangnya yang tidak terasa gatal. Masih dengan senyuman tipisnya yang sangat sulit diartikan.


"Ayo kita bergabung dengan mereka berdua. Santai saja bro .... Jangan dibawa tegang. Ajaklah Nikita mengobrol santai." Ucap Erik sembari memainkan alisnya naik turun.


Kemudian Niko dan Erik segera beranjak dari tempat duduk mereka yang agak berjauhan dengan kedua wanita itu. Dan menghampiri mereka berdua. Kali ini Niko berusaha bersikap lebih Welcome terhadap Nikita.


Mereka memilih meminum wine yang sudah tersedia bersama, dan menikmati beberapa jamuan lainnya. Serta juga berkaraoke bersama. Rencana awalnya Elvano memang akan mengajak Cheril bergabung bersama sahabat-sahabat serta keluarganya untuk berkaraoke bersama sambil menikmati semua perjamuan yang tersedia. Namun apa boleh dikata, ternyata semua tidak berjalan sesuai dengan rencana.


Inilah yang dinamakan, manusia bisa berencana, tapi yangmenentukan adalah Tuhan yang maha esa.


Kira-kira bagaimana ya kondisi Ibu Anita saat ini?


Pada saat para sahabat-sahabat mereka bersenang-senang menikmati pesta kecil yang sedang berlangsung, Cheril dan Elvano malah berpacu jantung. Mereka sedang sangat cemas memikirkan kesehatan Ibu Anita, ibu yang sudah sangat berjasa bagi kehidupan Elvano. Jelas mereka cemas, mengingat Ibu Anita memang memiliki riwayat penyakit jantung. Ya, secemas apapun Cheril, memang Elvano jauh lebih mengkhawatirkan keadaan Ibu Anita saat ini. Elvano sangat mencintai Ibu Anita. Yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri. Elvano tampak sangat gelisah di sepanjang perjalanan mereka dari hotel Belle menuju kediaman Ibu Anita. Sementara Cheril hanya bisa mengusap punggung suaminya itu dengan penuh kasih, berharap bisa mengurangi rasa khawatir Elvano.


"Semua pasti akan baik-baik saja sayang."


Hanya kalimat ini yang bisa diucapkan oleh Cheril untuk menenangkan pikiran Elvano yang sangat tidak beraturan itu.