
Setelah suasana sudah sedikit tenang percakapan seputaran baby Elvano pun dimulai kembali.
"Winda, maafkan Ayah dan Ibumu ini karna sudah lalai menjaga bayi kalian !" Ucap Ayah mertuanya membuka pembicaraan.
"Maksud Ayah?"
"Iya Win, Anita tidak sengaja menjatuhkan anakmu !" Jelas kakek Elvano sedang berbohong.
Winda menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak mungkin ! Itu tidak mungkiiiin ! Ayah pasti bohong ! Ayah bohong kan?" Wuaaaaa...
Winda yang sudah tenang kembali menangis meraung-raung sambil berteriak.
Maafkan Ayah Winda. Ayah tau kamu pasti sedih, tapi ayah terpaksa melakukan semua ini demi keselamatan keluarga ini.
"Ayah, mana Anita? Aku mau bicara dengan nya. Panggilkan dia Ayah !" ucap Winda kemudian.
"Anita sudah Ayah usir Win. Setelah dia melakukan kesalahan terbesar, tidak mungkin Ayah membiarkannya tetap disini." Jawab Hendri Setiono lantang.
"Sayang, kamu yang sabar ya, kamu harus merelakan anak kita supaya dia bisa tenang."
William mencoba menghibur Winda, masih memeluk istrinya erat sambil mengusap air matanya yang terus mengalir.
Winda mengatur nafasnya, ia menarik nafasnya sedalam yang ia bisa, kemudian ia hembuskan perlahan, setelah merasa lebih tenang ia kembali melemparkan pertanyaan pada Ayah mertuanya.
"Ayah, lalu kemana jasad anak kami? Aku ingin melihatnya."
Benar juga kata Winda, bagaimana aku bisa melupakan soal ini.
Huuuuuuuuh.
"Ayah, benar kata Winda, dimana jasad anak kami? Kami ingin melihat nya." William ikut bicara.
Seketika wajah Kakek berubah pucat, ia melupakan soal ini. Namun dalam sekejab ia juga menemukan jawabannya.
"Jasadnya sudah kami kuburkan, iyakan Bu?" Kata Kakek meminta dukungan Nenek.
"Hah? Eh, i-iya..." Nenek Elvano sedikit kaget karena kakek tiba-tiba meminta dukungannya tanpa memberikan aba-aba apapun sebelumnya.
"Kenapa tidak menunggu kami Yah? Kenapa harus buru-buru menguburkan nya?" William mengusap wajahnya kasar, ia sangat kesal kali ini.
Sedangkan Winda ia hanya menundukkan kepalanya, sebenarnya dia agak ragu dengan pengakuan kedua mertuanya itu, ia merasa ada yang disembunyikan oleh kedua orang ini.
"Itu karna kata orangtua zaman dahulu, pamali membiarkan jasad anak yang baru lahir terlalu lama tidak dikubur,." Jawab Kakek, ia berusaha mencari alasan yang paling tepat.
Mendengar alasan ini William terdiam, ia memang pernah mendengar pepatah ini dan ia pun tidak dapat berkata apapun lagi.
"Baiklah Ayah, sekarang ijinkan kami untuk melihat kuburnya. Setidaknya kami masih bisa berdoa untuknya mengiringi kepergiannya." Ucap Winda masih berusaha meyakinkan dirinya bahwa mertuanya sedang berbohong.
Wajah Kakek kembali memucat, permintaan Winda kali sungguh membuat nya kalah telak.
"Tapi Win, kondisi kamu masih belum memungkinkan untuk ke sana,." Nenek membuka suara membuat Kakek sedikit lebih lega.
"Iya benar kata Ibumu Win, tunggu keadaan mu stabil dulu, besok baru kita kesana. Tambah Kakek Elvano.
"Tapi aku mau ke sana sekarang juga !" Ujar Winda ngotot.
"Winda, benar kata Ayah dan Ibu, kondisi kamu saat ini masih sangat lemah, tunggu besok kondisi kamu sudah mulai stabil baru kita ke sana. Ya !" William ikut membujuk istrinya, ia merasa khawatir jika Winda ke sana sekarang kondisinya akan drop kembali mengingat tadi ia pingsan cukup lama.
"Tapi sayang...." Winda masih mempertahankan keinginannya. Ia sebenarnya masih belum yakin anaknya sudah meninggal.
"Sayang, untuk kali ini saja, aku mohon kamu dengarkan aku ! Aku takut kamu kenapa-napa. Sudah cukup kehilangan anak kita, aku tidak ingin kehilangan dirimu lagi. Dengarkan aku ya.. Aku mohon !" Ucap William sambil mendekatkan kedua telapak tangannya.
Fiiiiiiiiuh
Kakek Elvano bernafas lega.
"Baiklah, kalian istirahatlah ! Ayah dan Ibu keluar dulu." Kata Ayahnya kemudian setelah berhasil mengelabui anak dan menantunya.
"Wil, kamu jaga Winda baik-baik jangan biarkan dia bersedih lagi !" Tambah Ibunya sebelum meninggalkan ruangan itu.
"Iya Bu. Ibu tenang saja. Tanpa disuruh pun aku pasti akan menjaga nya !" Jawab William menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
Sedangkan Winda hanya diam saja, tatapannya kosong dengan matanya melihat ke arah plafon namun pikirannya tidak pada tempatnya.
Brak !
Pintu kamar tertutup kembali setelah kedua orang tua mereka keluar dari kamar tsb.
---------------------
Seiring waktu berjalan perlahan Winda dan William sudah mulai melupakan tentang anak pertama mereka yang berjenis kelamin laki-laki itu. Apalagi ketika Winda diketahui sedang hamil kembali.
Keluarga Setiono sangat senang mendengar kabar bahagia itu.
Winda berhasil memberikan dua anak perempuan pada keluarga setiono. 6 bulan setelah kepergian Elvano, Winda sudah hamil kembali. Dan setelah anak kedua mereka lahir 8 tahun kemudian ia kembali diberi anugerah, anak ketiga pun lahir dengan jenis kelamin yang sama yaitu perempuan. Valencia adalah kakak dan Florencia sebagai adik.
Kakek Elvano merasa sedikit kecewa karena ia harus mendapatkan kabar, bahwa Winda tidak akan bisa hamil lagi setelah anak ketiga.
Dikarenakan ketika melahirkan anak mereka yang ketiga Winda hampir kehilangan nyawanya yang disebabkan darah tinggi serta faktor usia Winda yang sudah terlalu berumur saat itu. Dokter pun mengatakan Winda tidak boleh hamil lagi karena resikonya sangat tinggi jika ia kembali hamil. Pada saat itu juga William mengambil keputusan sepihak supaya dokter mengikat rahim istrinya tanpa sepengetahuan istrinya yang saat itu sedang berjuang untuk melahirkan anak ketiga mereka dengan cara Cesar.
Alhasil Winda pun harus menerima kenyataan dirinya sudah tidak bisa lagi memberikan keturunan pada keluarga Setiono, padahal ia masih sangat ingin memberikan keturunan anak laki-laki pada keluarga ini sebagai penerus sekaligus pewaris semua kekayaan Astra Investama Group.
Kakek Elvano juga sangat menyesal sudah terlalu mempercayai kata peramal yang meramal kelahiran Elvano waktu itu, jelas peramal itu tidak bisa di percaya. Ia mengatakan anak ketiga Yang akan dilahirkan oleh Winda adalah laki-laki, tapi kenyataannya cucunya yang ketiga tetaplah perempuan.
Sejak saat itu Kakek diam-diam mengutus orang untuk menemukan Elvano. Namun sayangnya Kakek tidak memiliki satu pun foto cucunya maupun Ibu Anita atau pun Pak Rangga. Alhasil orang suruhannya sedikit kesulitan untuk menemukan orang yang ia cari, lama kelamaan ia pun menyerah.
Sudah sejak lama Kakek ingin memberitahukan pada anak dan menantunya tentang Elvano, namun setiap kali ia sudah berhadapan dengan mereka berdua, ia selalu tidak mampu mengatakannya.
--------------------------
Saat inilah waktu yang paling tepat menurutnya, kakek tidak ingin meninggal dengan membawa penyesalan.
"Wil, carilah anak kalian, dia bernama El_vano Se_tio_no !"
Inilah kalimat terakhir yang diucapkan oleh Tuan Besar Hendri Setiono sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
"Ayah.. Ayah.. Bangun Yah... Bangun !" William mengguncang-guncangkan tubuh Ayahnya yang sudah tidak bernyawa.
"Panggilkan Dokter ! Panggilkan Dokter !" Teriak William.
Valencia bergegas keluar dan mendapatkan Dokter sudah bersiaga diluar, ia pun segera memanggil dokter itu untuk masuk menemui Kakeknya.
Brakk !
Pintu terbuka sedikit kasar karna dokter panik ketika Valencia terlihat sangat syok saat memanggilnya.
William dan Winda menjauh ketika Dokter memeriksa Kakek.
"Maafkan saya Tuan, Tuan Besar sudah tidak ada !" Ujar Dokter setelah memeriksa tubuh Tuan Besar Hendri Setiono yang terbaring diatas tempat tidur ruangan VVIP.
Suara tangisan pun pecah didalam ruangan mengiringi kepergian Kakek. William dan Winda yang seharusnya marah mendengar pernyataan Kakek sudah tidak lagi memikirkan kekesalan mereka.