Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Perbuatan nekat Elvano


Huuuuuuuuh


Elvano membuang nafas kasar, ia benar-benar tidak menyangka dirinya bisa dikerjain habis-habisan oleh Nona Cheril.


Padahal memang Elvano yang sudah kelewatan polos. Sudah berapa kali coba ia berbuat hal konyol dihari pertama kerjanya?


"Kenapa saya tidak kepikiran ada ruangan lain dibalik tembok ini?"


Aaaaaaah


Elvano merasa sangat frustasi.


"Ya ampun, mau ditaroh dimana mukaku ini??" Elvano mengusap wajahnya kasar.


"Nona Cheril, anda benar-benar keterlaluan.


Aaaaaaahhhhh


Cheril dan Jenika masih berada didalam ruangan kerja itu, mereka memasang kuping mereka didekat tembok berusaha mendengar apa yang dikatakan oleh Elvano.


Jenika dan Cheril bisa mendengar nya cukup jelas. Mendengar gumaman Elvano kedua gadis itu tertawa kecil saling melepaskan pandangan satu sama lain dan menutup mulut mereka supaya Elvano tidak mendengar tawa mereka.


Buk buk buk ( Suara kaki Elvano )


"Nona, sepertinya Elvano berjalan, mungkin ia menuju pintu keluar. " Kata Jenika menarik Cheril menjauh dari tembok.


Tidak lama kemudian laki-laki itu memang menampakkan wajahnya didepan pintu.


Ia melemparkan pandangan ke arah kedua gadis itu, kemudian fokus pada Cheril.


Elvano masih pada posisinya berdiri tegak ditengah pintu menatap Cheril dengan tatapan membunuh. Wajahnya merah padam membuat Cheril sangat ketakutan.


Sebelumnya Cheril belum pernah melihat Elvano semarah itu.


Kemudian ia mulai melangkahkan kakinya ke arah Jenika dan Cheril.


Deg


'Mau apa dia?'


Cheril mulai sedikit ketakutan melihat Elvano menuju ke arahnya dan Jenika. Jelas-jelas pandangan Elvano memang tertuju pada nya.


Elvano semakin mendekati kedua gadis itu.


Tidak hanya Cheril yang ketakutan saat itu, Jenika juga merasa takut dengan penampilan pria gagah itu. Ia melangkah pelan tapi pasti, sambil memasang wajahnya yang sangat dingin seolah-olah menggambarkan singa yang siap menerkam mangsa nya.


Elvano sudah berada dihadapan kedua gadis itu saat ini, ia melemparkan tatapannya lekat ke arah Cheril. Jenika yang berada disamping Cheril sedikit melangkahkan kakinya menjauh, ia tau kali ini Elvano bukan marah padanya, jadi mendingan menyingkir.


Jangan cari masalah ! Itulah isi pikiran Jenika.


'Eh, dia mau apa sih?'


Cheril semakin ketakutan.


Elvano terus melangkah maju, masih dengan tatapan yang sangat lekat tertuju pada kedua bola mata Cheril, Cheril bahkan tidak berani menatap mata Elvano.


Cheril mulai memundurkan langkahnya, sedangkan Elvano terus maju. Membuat Cheril terus mundur hingga mentok ditembok.


Merasa posisinya sudah benar-benar mentok Cheril pun berhenti.


'Dia mau apa sih? Jangan-jangan dia mau memukulku. Sepertinya aku harus minta maaf.'


"Vano, Aku....


Cup


Belum selesai Cheril melanjutkan kalimat nya, b*b*r Elvano sudah menempel pada b*b*r sexy milik Cheril. Elvano sangat menikmatinya, ia bahkan sedikit menggerakkan b*b*rnya yang masih menempel dib*b*r sexy milik Cheril seolah-olah mereka sedang berciuman mesra.


Sedangkan Cheril hanya bisa diam tak berdaya, wajahnya memerah dan matanya seketika melotot karna kaget. Jantung Cheril juga berdegup tak beraturan.


Ini kan ciuaman pertamaku. Elvano....


Jenika yang menyaksikan semuanya juga tidak kalah kaget nya, mata Jenika juga seketika membesar, spontan kedua tangannya terangkat menutup mulutnya yang menganga.


Adegan mesra itu berlangsung sekitar 3menit, sampai Elvano merasa puas baru ia melepaskan b*b*r nya dari b*b*r Cheril


Plak !


Cheril menampar Elvano reflek dan langsung pergi meninggalkan Elvano serta Jenika.


Ketika Cheril melangkah pergi, Jenika pun ikut pergi dan menutup pintu ruangan kerja Elvano yang dibiarkan terbuka oleh Nona Cheril.


Aaaaaaah


Elvano mengusap rambutnya kasar sambil melangkah ke arah sofa dan menjatuhkan diri di atas sofa.


"Kenapa aku bisa melakukan nya? Apa aku sudah gila?" Ucap Elvano setengah berteriak.


Ia kembali mengusap rambutnya kasar dari arah belakang ke arah depan.


Ia menyesali perbuatan gilanya itu.


Awalnya memang ia tidak berencana untuk mencium Nona Cheril, tapi ntah kenapa ketika melihat bibir Nona Cheril yang sangat sexy itu membuat dirinya tidak bisa mengontrol diri.


Itu juga ciuman pertama bagi Elvano.


Elvano duduk cukup lama diatas sofa. Meratapi perbuatan kurang terpuji yang telah ia lakukan terhadap Cheril.


Saat itu jam didinding ruangan kerja Elvano sudah menunjukkan pukul 21.00, arti nya jam kerja telah usai.


Satu per satu para karyawan dan karyawati di ruangan Desainer meninggalkan ruangan.


Ketika melewati ruangan Elvano, beberapa dari mereka melirik kearah pintu yang tertutup itu mencoba mencari-cari keberadaan Elvano, barang kali ia akan keluar. Mereka tau Elvano masih di dalam, karna Jenika juga belum beranjak.


Beberapa karyawati itu memang menyukai Elvano, mereka terpesona dengan ketampanan laki-laki tersebut.


Jenika yang menyadari kelakuan mereka sedikit mengerucutkan sudut bibirnya.


'Seandainya kalian melihat semua kejadian tadi, apa kalian masih akan sangat menyukai laki-laki itu?


'O iya, Apakah sebelumnya Pak Vano dan Nona Cheril sudah saling kenal ya? Sepertinya mereka cukup dekat. Apa jangan-jangan mereka memang ada hubungan spesial.'


'Ah, tapi sepertinya tidak. Jika memang ia tidak mungkin kan Nona Cheril menampar Pak Vano ketika ia mencium nya.


"Sudahlah ! Mendingan beres-beres dan pulang !" Jenika berkata-kata sendiri.


Setelah selesai membereskan semuanya ia pun beranjak dari kursinya bersiap untuk pulang.


"Eh, Pak Vano kok belum keluar juga ya? Apa terjadi sesuatu di dalam?" Jenika mulai sedikit khawatir.


"Atau ia tidak tau ini sudah waktunya pulang?"


Jenika terus membuat persepsi nya sendiri.


Setelah lama mematung, akhirnya Jenika memberanikan diri untuk mengetik pintu raungan didepannya itu.


Baru ia mengangkat tangannya, pintu tiba-tiba terbuka membuat Jenika sedikit salah tingkah dan langsung menurunkan tangannya berpura-pura memperbaiki pakaiannya yang sudah rapi.


"Kamu kenapa Jenika?" Elvano bertanya kepada Jenika dengan nada yang sudah biasa seperti tidak terjadi apapun tadi.


"Eh.... Ti-tidak Pak, sa-saya tadi hanya ingin memanggil Bapak. Saya pikir Bapak ketiduran." Hehehehe


Jawab Jenika asal sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Oh... Terimakasih ya untuk perhatian nya !" Ucap Elvano sambil tersenyum manis.


"Eh.... I-iya Pak !" Jawab Jenika juga berusaha tersenyum manis.


Saya kok merasa ada yang berbeda dengan Pak Vano, sepertinya ia lebih ceria dari biasanya. Apa karna kejadian tadi. Jangan-jangan Pak Vano menyimpan perasaan terhadap Nona Cheril.


"Jeni !"


"Ah... I-iiya Pak...."


"Kamu kenapa malah melamun?"


"Ng-ngga kok Pak.. Saya ga melamun kok Pak. Perasan Pak Vano saja." Jenika menjawab cengengesan, sedikit lagi ia sudah hampir kelepasan memukul pundak laki-laki yang ada dihadapannya itu.


Elvano menaikan alisnya, dalam hati ia berkata;


Jelas-jelas ia sedang melamun, masih bilang tidak. Bahkan ia sampai kaget gitu ketika aku panggil.


"Yasudah kalau begitu, saya duluan ya !" Ucap Elvano mengakhiri pembicaraan.


"I-iya Pak !"


Elvano kemudian melangkahkan kakinya menjauh dari Jenika.


Eh....


"Pak Vano... "Jenika kembali memanggil Elvano karena menyadari ada sesuatu yang salah.


Elvano membalikkan badannya dan bertanya,


"Ada apa lagi Jeni?"


"Pak Vano... Salah arah ! Jalan keluar ada disana Pak !" Ucap Jenika sambil menunjuk ke arah jalan keluar.


"Ah, i-iya.. Makasih ya Jen !"Jawab Elvano sambil menggaruk-garuk keningnya.


Seketika wajahnya pun memerah karna malu.


Sedangkan Jenika hanya tersenyum kecil sambil menggeleng kepalanya pelan melihat kelakuan konyol Elvano yang sudah ntah berapa kali terjadi itu.


Elvano kembali membalikkan badannya menuju ke arah yang ditunjuk Jenika dan berjalan ke arah lift. Ia turun begitu saja tanpa menunggu Jenika.


"Eh.... Tung...."


Belum sempat Jenika berteriak pintu lift sudah tertutup.


"Tunggu saya pak Vano !"


Huuuuuuuuuuh


Jenika membuang nafas kasar.


"Jadi menunggu sendirian begini." Gumam Jenika sedikit merinding mengingat dirinya hanya sendirian dimalam yang sudah semakin larut itu.