Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Istri Tuan Muda?


~Jangan pernah meremehkan kekuatan cinta, karna ia bahkan mampu membawa seseorang yang sudah dinyatakan meninggal oleh Dokter, masih dapat tertolong ketika kekuatan cinta itu bekerja.


Anda pernah mendengar sebuah kisah nyata yang sempat beredar di dunia Maya beberapa waktu yang lalu? Yaitu cerita tentang seorang bayi yang dilahirkan yang tak dapat bernafas, lalu ketika ia didekatkan pada Ibunya dan dipeluk serta dicium dengan penuh cinta bayi itu pun kembali bernafas. Ya, kekuatan cinta memang sangat luar biasa. Walaupun tak selalu begitu adanya.


----------


Setelah tim medis juga Niko keluar dari ruangan ICU khusus itu, sekarang hanya menyisakan Elvano dan Cheril di ruangan tersebut.


Elvano yang sebelumnya berada di kejauhan kembali melangkah mendekati tempat tidur Cheril. Saat itu hatinya merasa sangat senang. Perasaannya sungguh jauh berbeda dari sebelumnya. Ia bisa merasakan cinta yang besar hadir didalam hatinya.


Elvano kemudian kembali merebahkan diri di atas kursi samping tempat tidur Cheril dan meraih tangan Cheril mengusapnya lembut sembari menatap wajah istrinya itu dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.


Elvano sedang merasakan dirinya yang sangat mencintai Cheril. Ia membiarkan semua itu mengalir memenuhi ruang hatinya. Dan jika digambarkan, ia seperti sedang jatuh cinta pada istrinya saat itu, layaknya seorang remaja yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta.


Aku tidak pernah menyangka, ternyata sebesar ini rasa cintaku padamu Cheril.


Aku berjanji, setelah ini aku akan menjagamu dengan baik. Tak akan aku biarkan satu orang pun menyakitimu lagi.


Cheril .... Mulai saat ini, aku juga akan menerima dirimu apa adanya.


Kali ini Elvano memilih berkata-kata didalam hatinya masih sambil menatap wajah istrinya lekat.


Setelah itu ia beranjak dari kursinya dan memberikan kecupan lembut di kening Cheril.


Cup !


Lalu membisik di telinga Cheril,


"Aku mencintaimu Cheril!"


Setelahnya ia kembali duduk di kursi yang tadi dan memilih tetap menemani Cheril di sana hingga ia sendiri tertidur dengan sangat nyenyak di samping Cheril.


--------------------


Kediaman Keluarga Setiono.


Sementara di rumah, Ibu Winda yang terbangun dari tidurnya tiba-tiba melangkah keluar dari kamarnya untuk mengambil minum di dapur. Padahal biasanya dia lebih memilih meminum air putih yang selalu tersedia di dalam kamarnya. Ntah kenapa saat itu ia merasa sangat ingin mengambil minum di dapur saja.


Saat ia melangkah keluar, ia sedikit kaget ketika melihat Pak Didi yang mondar-mandir di depan pintu utama. Ibu Winda pun menyapa nya.


"Pak Didi .... Ada apa? Kenapa sudah selarut ini anda masih mondar-mandir di depan pintu seperti itu?" Tanya Ibu Winda sembari melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari.


"Eh..


Pak Didi sedikit tersentak ketika mendengar Nyonya besar nya memanggil dirinya serta mengajaknya berbicara.


"Anu Nyonya .... Tuan Muda ....


"Tuan Muda kenapa Pak Didi? Apa yang sudah terjadi dengan putra saya?" Winda sudah mulai panik mendengar ucapan Pak Didi yang menggantung dan juga terlihat sedikit gugup.


"Tuan Muda masih belum pulang sejak kembali keluar setelah pulang kerja tadi Nyonya." Ucap Pak Didi kemudian.


"APA? Memangnya dia kemana Pak Didi?" Ibu Winda kembali melempar pertanyaan.


Dirinya memang tidak tau Elvano tidak ada di rumah saat itu. Yang ia tau Elvano sudah pulang dari kantor sekitar jam 7an tadi. Tapi ia sama sekali tak tau Elvano kembali keluar. Karna saat melihat Elvano sudah kembali dari kantor tadi, Ibu Winda sudah kembali masuk ke dalam kamarnya.


"Maaf Nyonya, saya juga tidak tau ... Tuan Muda juga terlihat seperti sangat panik saat itu. Ia juga pergi dengan buru-buru hingga saya tak sempat menanyakan dia hendak pergi kemana." Ucap Pak Didi menjelaskan.


Ibu Winda sudah bertambah panik setelah mendengar penjelasan dari Pak Didi.


Ia tidak lagi bersuara setelah itu dan lebih memilih kembali ke kamarnya untuk mengambil ponselnya.


Jegreeeeek!


Ibu Winda membuka pintu kasar membuat Tuan William terbangun karena kaget. Apalagi lampu kamar juga tiba-tiba menjadi sangat terang.


"Win .... Ada apa? Kamu kok belum tidur?" Ucap Tuan William setelah melirik ke arah jam di kamarnya yang sudah menunjukkan pukul 01.05 Saat itu.


"Eh, Wil .... Maaf aku sudah membangunkanku. Ini tentang Elvano Wil .... " Ucap Ibu Winda menggantung.


"Memangnya apa yang sudah terjadi terhadap putra kita Win?" Tanya Tuan William panik. Ia malah sudah segera beranjak dari tempat tidurnya saat itu.


"Vano belum pulang hingga sekarang. Aku takut terjadi apa-apa padanya." Ucap Winda sambil mengusap layar ponselnya.


"Bukannya tadi dia sudah kembali dari kantor?" Tuan William kembali melempar pertanyaan.


"Iya .... Dia memang sudah kembali tadi. Tapi kata Pak Didi ia keluar lagi setelahnya." Jawab Ibu Winda mengulangi perkataan Pak Didi padanya tadi. Lalu terlihat dirinya sudah meletakkan ponselnya di dekat telinganya seperti sedang menelfon seseorang.


Sementara yang di telfon saat itu malah tertidur pulas. Dan panggilan dari Ibu Winda pun tak dijawab. Jelas membuat dirinya semakin panik. Ibu Winda mencoba menghubungi sekali lagi dan tetap tidak dijawab.


"Vano tidak menjawab telfonnya Will.. Bagaimana ini? Apa yang sudah terjadi sebenarnya?" Jawab Ibu Winda. Ia sudah tak dapat berpikir dengan baik saat itu.


"Coba hubungi Niko!" Perintah Tuan William kemudian. Walaupun Tuan William juga merasa khawatir, tapi ia masih dapat berpikir dengan jernih.


"O iya, kenapa aku tidak kepikiran tentang Niko?!" Sesal Ibu Winda sembari menepuk jidatnya pelan. Lalu kembali mengusap layar ponselnya untuk mencari nomor Niko.


Setelah menemukannya, ia segera menghubungi nomor tersebut.


Tuuuuuut!


Bunyi panggilan aktif.


Niko yang menyadari ponselnya bergetar segera merogoh saku jasnya. Dan mengambil ponselnya.


Terlihat dilayar tertulis,


Nyonya Besar memanggil ....


Niko pun segera menjawab telfon itu.


Saat itu Niko memang baru saja tiba di depan rumahnya.


"Hallo .... " Ujar Niko menjawab telepon.


"Hallo Niko .... Kamu dimana? Apa Vano bersamamu?" Sementara Ibu Winda malah sudah langsung melempar pertanyaan bertubi-tubi.


"Eh ....


Niko terdiam sejenak, ia baru ingat belum mengabari Ibu Winda soal Cheril. Sementara tadi dirinya memang sudah menghubungi Ibunya memberitahukan akan pulang larut.


"Maaf Nyonya Besar .... Saya ....


"Maaf kenapa? Apa maksudmu? Apa terjadi sesuatu pada Vano?" Tanya Ibu Winda dengan nada yang sangat panik. Padahal Niko belum selesai berucap sudah lebih dulu dipotong olehnya.


Bahkan Tuan William pun ikut panik mendengar pertanyaan Winda yang sangat banyak itu.


"Ada apa Win? Apa terjadi sesuatu pada Vano?" Tuan William ikut melempar pertanyaan.


Sementara Niko yang juga bisa mendengar ucapan Tuan William segera melanjutkan pembicaraannya yang menggantung supaya kepanikan kedua orangtua Elvano bisa segera mereda.


"Eh, tidak kok Nyonya .... Elvano baik-baik saja.. Tuan Muda baik-baik saja Nyonya!" Ucap Niko kemudian.


Fiiiiiiuh


Winda pun bernafas lega. Sementara Tuan William yang juga dapat mendengar suara Niko karna sudah mendekati Winda juga bisa merasa lega.


"Terus, dimana dia? Kenapa belum pulang ke rumah sudah selarut ini?" Ucap Ibu Winda kembali mengintrogasi Niko.


"Tuan Muda sedang berada di Rumah Sakit Nyonya!' Jawab Niko.


"APA? RUMAH SAKIT?"


Niko tidak sadar, jawabannya yang menggantung malah akan membuat kedua orangtua Elvano kembali panik. Bahkan lebih panik dari yang tadi.


"Apa yang sebenarnya terjadi Niko? Apakah sesuatu telah terjadi pada Vano? Dia kenapa?" Pertanyaan bertubi-tubi kembali dilemparkan oleh Ibu Winda.


"Eh .... Tidak Nyonya. Tuan Muda baik-baik saja. Bukan Tuan muda yang sakit." Jawab Niko sesegera mungkin.


Fiuuuuuh


Kedua orangtua itu kembali bernafas lega.


"Lalu siapa yang sakit?" Akhirnya Ibu Winda melemparkan pertanyaan lagi.


"Yang sakit adalah ....


Niko terdiam sejenak, ia merasa ragu mau dikasih tau yang sebenarnya atau tidak.


"Siapa?"


Ibu Winda sudah sangat penasaran membuatnya kembali melempar pertanyaan.


"Istri Tuan Muda yang sakit Nyonya!" Jawab Niko Akhirnya.


"APA?"


Ibu Winda dan Ayah William berteriak bersamaan. Kali ini bukan panik, tapi kaget. Membuat Niko yang mendengar teriakan itu menjauhkan ponselnya dari telinganya. Teriakan itu memang sangat keras, Pak Didi yang berada di luar saja kaget mendengar itu. Ia pikir sesuatu sudah terjadi pada Tuan Muda nya. Dan saat itu Pak Didi sangat cemas memikirkan hal itu.