
Ketiga orang ini berjalan memasuki sebuah restoran yang berada di kawasan pantai tersebut. Niko berjalan lebih dulu untuk membooking meja, sementara Cheril dan Elvano berjalan belakangan saling merangkul mesra. Namun Cheril jelas sangat tidak menikmati kebersamaan mereka. Dia lebih sibuk melirik kesana kemari seperti sedang mencari sesuatu. Membuat Elvano semakin yakin ada sesuatu yang tidak beres pada wanitanya ini.
"Cheril, kamu mau makan apa?" tanya Elvano ketika mereka sudah duduk di salah satu meja yang dipesan oleh Niko.
"Ehm, terserah kamu saja, aku ikut saja," tanggap Cheril masih celingak-celinguk.
"Baiklah, kalau begitu kita makan seafood saja ya, lagian sudah di pantai, biar lebih terasa suasana lautnya," ujar Elvano.
"I-iiya, boleh!" Hehe.
Sebenarnya apa yang sedang dia sembunyikan dariku ....
Elvano mewakili Cheril memesan beberapa macam menu, di antaranya ada ikan bakar, udang goreng tepung, cumi asam manis, kepiting saos tiram, tak lupa juga dengan sayur-mayurnya seperti kangkung dan capcai. Melihat Elvano yang sudah memesan begitu banyak menu, Niko pun tidak memesan apapun lagi, menu yang dipesan oleh Elvano jelas-jelas sudah sangat berlebihan, bahkan untuk makan bertiga pun rasanya terlalu berlebihan. Setelah mencatat semua pesanan, Niko menjentikkan jarinya supaya pelayan di sana mengambil menu mereka.
"Cheril, apa kamu sudah pernah datang ke pantai ini bersama laki-laki lain?
"Hah? Eh .... "
Kenapa dia menanyakan hal ini ... Bagaimana dia bisa tau ...
Tempat itu memang penuh dengan kenangan antara Cheril dengan Geraldo. Kekasih Cheril yang sudah lama hilang itu. Walau bagaimanapun, Cheril pernah sangat mencintai Geral, jadi tempat ini jelas membuat dirinya tenggelam dalam kenangan masa lalunya.
"Kenapa kamu hanya diam saja? Benarkan kamu pernah datang ke sini bersama laki-laki lain? Apa pantai ini mengingatkanmu pada kekasihmu yang sudah lama hilang itu?" Elvano melemparkan pertanyaan bertubi-tubi.
Ternyata kamu sangat peka ya Tuan Muda ... Semua yang kamu katakan memang benar. Ini adalah tempat berakhir yang kami kunjungi sebelum dia benar-benar pamit untuk pergi keluar negeri dan menghilang.
Niko menyimak dalam diam, ia sedang berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Elvano dan Cheril.
Ternyata memang benar ya, sepertinya kamu masih memiliki perasaan terhadap laki-laki itu, jika tidak kenapa masih mengingat dia ....
Ada setitik luka yang tergores di dalam hati Elvano. Ia begitu mencintai Cheril, hingga ia lupa Cheril pernah mencintai dan mengukir nama laki-laki lain di dalam hati nya, jauh sebelum kehadiran Elvano di sisi wanita itu. Walaupun itu hanya sebatas pacaran dan Cheril sendiri belum pernah disentuh sama sekali oleh laki-laki tersebut. Tetap saja perasaan tetaplah perasaan. Rasanya Elvano seperti sedang dibakar api cemburu.
Sementara Cheril masih terdiam, tak dapat menjawab apapun. Dirinya begitu takut, jika ia bersuara, malah akan salah ucap.
"Baiklah, tidak usah dibahas lagi, apapun yang sedang kamu pikirkan, itu semua hanya masa lalu, dan hari ini, aku akan mengubah sejarah hidupmu di sini. Di tempat ini," ucap Elvano bijak.
Cheril dan Niko menyimak dengan seksama. Kedua orang ini sungguh sangat heran melihat sikap Elvano hari ini. Seperti bukan dirinya saja. Hari ini Elvano bertingkah begitu aneh. Elvano masih belum selesai dengan ucapannya itu, ia sudah kembali melanjutkan lagi pembicaraannya.
"Biar kelak, suatu hari nanti, jika kamu dan aku datang kemari, atau dengan siapapun kamu datang, kamu hanya akan mengingat tentang kita." Elvano menyelesaikan kalimatnya dengan wajah yang sangat dingin sambil menatap Cheril lekat. Tatapan dingin yang belum pernah dilihat oleh Cheril sebelumnya. Membuat wanita itu sedikit ketakutan.
Demikian juga dengan Niko. Seolah ia sedang melihat Elvano yang dulu, Elvano yang hanya bisa tersenyum di hadapan ibunya saja.
Sesaat kemudian, makanan sudah tersaji di atas meja. Berbagai menu yang sangat memikat mata ada di sana. Namun sama sekali tak terlihat memikat bagi Cheril, karena sesungguhnya, ia sama sekali tidak memiliki nafsu makan.
"I-iiiya, aku makan," tanggap Cheril yang langsung mengambil sendok dan garpu yang terletak di hadapannya. Lalu mengambilkan beberapa macam menu di piring miliknya.
Suasana menjadi begitu hening. Niko sama sekali tidak tau harus bagaimana, makanya ia hanya bisa memilih diam saja.
Selang beberapa saat kemudian, acara makan pun usai. Tepat seperti yang dipikirkan oleh Niko, mereka memang tidak mampu menghabiskan semua menu itu. Apalagi selera makan kedua orang ini juga sangat buruk saat itu.
Setelah acara makan-makan selesai, Elvano mengajak Cheril menuju Villa tempat mereka akan menginap. Elvano memutuskan untuk tetap menginap di sana, karena ia sungguh-sungguh dengan ucapannya yang ingin mengukir kenangan tak terlupakan bagi Cheril.
"Apa kita akan menginap di sini?" tanya Cheril setelah mereka tiba di Villa.
"Iya, apa kamu suka tempat ini?" Elvano ikut melemparkan pertanyaan sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Iya, aku suka kok," jawab Cheril yang masih bersandiwara. Jelas Cheril sedang tenggelam dalam kenangan masa lalunya. Karena Villa yang mereka gunakan itu adalah Villa milik keluarga Geraldo. Waktu itu Cheril dan Geraldo pernah menginap di tempat ini.
Tapi jangan berpikiran buruk ya, hubungan Cheril dan Geraldo memang sangat sopan, jangankan berbuat yang tidak-tidak, Geraldo sangat menghormati seorang wanita, hanya sekedar mencium Cheril saja tak pernah ia lakukan. Paling hanya sebatas mencium kening Cheril saja. Itulah kenapa, Geral sangat berkesan bagi Cheril.
Tak mudah baginya melupakan laki-laki itu. Apalagi hubungan mereka juga tidak bisa dikatakan putus saat itu.
Masih mau berbohong padaku ... Jelas-jelas kamu sangat tidak pandai berbohong.
"Nik, kamu bisa berjalan-jalan di luar sendiri, aku sedang ingin berjalan berdua dengan istriku," seru Elvano.
"Eh, baiklah. Kalian bersenang-senanglah! Berjanjilah untuk bersenang-senang, tau tidak?" pinta Niko. Ia sedang sangat mengkhawatirkan keadaan Elvano dan Cheril.
"Itu pasti. Benarkan sayang?" tanggap Elvano. Dan langsung merangkul Cheril erat.
"I-iiiya ... Hehehe ....
"Baguslah. Aku pergi!" Niko mengakhiri pembicaraan itu, dan segera berlalu dari hadapan pasangan ini.
Setelah kepergian Niko, Elvano mengajak Cheril berjalan di tepi pantai. Menyusuri bibir pantai sambil menikmati desiran ombak bagaikan pasangan remaja yang sedang berpacaran. Namun sayangnya, apa yang terlihat tak seindah dengan yang mereka rasakan. Sebab, Cheril masih terus mengingat wajah kekasihnya di masa lalu. Sekalipun Elvano merangkulnya erat.
Dan Elvano pun mulai meragukan cinta Cheril terhadap dirinya.
Apa kamu sangat mencintai laki-laki itu ... Lalu apa artinya hubungan kita selama ini ... Apa kamu juga mencintaiku, seperti aku mencintaimu ....
---------
Hallo kakak, jangan lupa mampir juga dikarya baru saya yang judul nya My Ghost Women ya. Dari judul memang agak horor, tapi ini sama sekali tidak ada horornya ya kakak. Genre dari novel itu adalah Supranatural yang dikombinasikan dengan cinta yang rumit dan juga disisipkan adegan komedi yang diharapkan dapat menghibur kakak-kakak semuanya.🥰🙏