Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Rahasia kehamilan Cheril


Tersedia beberapa macam menu ringan yang memang sangat cocok diperuntukkan sarapan di atas meja. Seperti roti tawar lengkap dengan selai untuk lapisannya, aneka buah, sandwich, dan juga terdapat sup kepiting yang menjadi menu favorit Cheril akhir-akhir ini.


"Sayang, ternyata kamu masih Mengrequest menu itu juga? Kenapa akhir-akhir ini kamu selalu sarapan dengan menu ini? Apa tidak merasa bosan?" tanya Elvano tiba-tiba.


Ibu Winda yang mendengar itu sedikit mengerutkan dahinya. Memang selama 2 minggu ini Cheril selalu meminta koki menyiapkan menu yang satu ini sebagai menu sarapannya, hanya saja Ibu Winda berpikir Cheril memang sudah terbiasa selalu mengkonsumsi menu itu sejak dulu.


"Nggak kok, ini enak. Kamu mau coba?" tawar Cheril.


Cheril sedikit mengangkat mangkok sup miliknya hendak menyuapkan sup tersebut kepada Elvano.


"Eh, Nggak mau! Aku mencium baunya saja udah terasa mual. Bagaimana bisa memakan itu?" ungkap Elvano sambil menutup hidung hingga mulutnya.


Sekarang Ibu Winda bertambah bingung dengan tingkah laku kedua orang ini yang sedikit aneh menurutnya. Yang dia tau, selama ini koki di keluarga ini juga sering memasak menu itu. Dan Elvano tidak pernah berkomentar demikian. Biasanya Elvano tetap melahap nikmat sup tersebut. Nah, sekarang Elvano malah sangat tidak suka dengan makanan tersebut. Bahkan hanya mencium aromanya saja bisa membuat Elvano merasa mual. Jelas Ibu Winda merasa sangat heran.


"Ibu, kenapa melihat kami seperti itu?"


Elvano tanpa sengaja melirik ke arah Ibu Winda. Ia segera melempar pertanyaan karena wanita paruh baya itu menatap mereka berdua dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Ibu Winda sontak kaget. Dan memperbaiki sikapnya, lalu menjawab pertanyaan Elvano.


"Ehm? Ehem ... Ibu kok merasa ada yang aneh ya dengan kalian berdua?" ungkap Ibu Winda.


"Aneh bagaimana Bu?" tanya Elvano mengerutkan dahi.


"Aneh saja. Biasanya kamu sangat menikmati menu itu, kenapa sekarang merasa mual?" ucap Ibu Winda.


"Dan Cheril, apa kamu memang baru akhir-akhir ini sangat menyukai menu itu?" tambahnya lagi.


Cheril dan Elvano saling bertatap sesaat lalu menjawab saling bergantian pertanyaan yang diberikan oleh Ibu Winda.


Setelah mendengar jawaban mereka berdua, Ibu Winda semakin merasa yakin memang ada yang aneh terhadap anak dan menantunya ini.


"Cheril, apa kamu mengalami haid yang teratur selama ini? Atau kamu juga merasakan gejala mual-mual di pagi hari? Atau hal lainnya mungkin?" pancing Ibu Winda.


Fokus Ibu Winda saat ini sudah mengarah kepada mencurigai jangan-jangan Cheril dan Elvano sedang mengidam.


Elvano dan Cheril juga jelas tau kemana arah pembicaraan Ibu mereka itu. Mereka saling bertatap cukup lama sebelum Elvano yang pada akhirnya mengambil alih untuk menjawab. Cheril memang tidak berani menjawab karena takut salah memberi jawaban. Sebab sejak tadi saja Elvano masih belum terlihat ingin membeberkan kabar gembira itu.


"Kenapa Ibu menanyakan tentang itu?"


Benar saja dugaan Cheril, Elvano memang masih ingin merahasiakan tentang itu dari ibunya.


"Ya, setelah Ibu pikir-pikir, sepertinya kalian berdua ini sedang mengidam," ungkap Ibu Winda sambil memperlihatkan senyumannnya.


"Ehm? Ibu ini apa tidak sedang mengada-ada? Mana ada seorang laki-laki yang mengidam? Lagian orang ngidam itu kan juga paling hanya sangat menginginkan makanan tertentu saja. Ini kok malah sangat membenci makanan seperti itu. Ah, sepertinya Ibu sedang bergurau ya?" racau Elvano.


Memang hanya sebatas itu sih yang Elvano ketahui tentang ngidam. Demikian juga dengan Cheril. Dia juga memiliki pemikiran yang sama dengan Elvano. Pasangan ini memang sama-sama begitu polos mengenai hal satu ini.


"Siapa bilang hanya seperti itu? Orang ngidam itu beragam, Vano.


Dan banyak kok, istrinya hamil, malah suaminya yang mengidam.


Ada juga yang dua-duanya ikut merasakan proses itu. Seperti kalian berdua ini," jelas Ibu Winda.


Cheril dan Elvano kembali saling bertatap untuk beberapa detik.


Elvano juga sedang berpikir keras harus membongkar rahasia yang mereka simpan itu atau tidak.


Mungkin aku katakan saja deh pada Ibu.


Akhirnya Elvano pun berniat menceritakan semua yang Cheril alami sekitar 3 minggu ini. Juga mengenai perkataan dokter tentang Cheril yang kemungkinan besar memang sedang hamil itu. Hasil testpack (alat yang biasanya digunakan oleh seorang wanita untuk memastikan dirinya hamil atau tidak) seharusnya adalah menjadi bukti paling akurat mengenai kehamilan ini. Hasil testpack milik Cheril waktu itu juga menunjukkan 2 garis.


Elvano sudah berusaha meyakinkan dirinya saat ini. Ia sudah siap menceritakan semuanya pada Ibu Winda mengenai kehamilan Cheril.


"Bu, Sebenarnya Che ...,


Drrrt drrt drrt


Baru saja Elvano hendak membuka suara tiba-tiba ponsel miliknya malah bergetar.


Tertulis di layar ponselnya sebuah nama yang tidak asing di sana.


Niko memanggil ....


Akhirnya Elvano pun memilih menjawab telepon lebih dulu.


Elvano dan Niko on phone


"Hallo Nik, Ada apa?"


"Ini No, aku punya sedikit informasi mengenai laki-laki yang bernama Dirly dan adikmu itu,"


Elvano sedikit melototkan matanya mendengar itu. Awalnya Elvano mengira selama ini mereka berdua sudah tidak saling behubungan lagi. Ternyata dugaanya malah salah.


Sebelum melanjutkan kembali pembicaraan mereka, Elvano memilih berpindah posisi. Ia tidak ingin Ibu Winda mengetahui tentang ini.


"Sayang, kita jalan sekarang yuk!" ajak Elvano lalu segera berpamitan pada Ibu Winda.


Bu, kami pamit ya!" tambahnya berpamitan pada Ibu Winda.


Elvano berpikir, lebih baik sekalian menghindar saja, daripada usai dia berbicara dengan Niko, mungkin ibunya akan bertanya, apa yang mereka bicarakan karena terlihat begitu serius.


Bukan merasa curiga, perasaan yang dirasakan oleh Ibu Winda saat itu lebih kepada rasa kecewa dan penasaran.


Namun ia juga tidak dapat menahan kedua orang itu supaya tetap bertahan.


Sementara Cheril ketika mendapat titah dari Elvano sudah segera beranjak dan ikut berpamitan pada Ibu Winda. Setelah itu, ia juga segera menyusul langkah Elvano yang sudah lebih dulu melangkah pergi.


Sedangkan Niko yang dapat mendengar semua percakapan di balik telepon dapat mengerti dengan baik apa yang sedang terjadi di sana. Niko pun menunggu dengan sabar hingga Elvano berbicara kembali padanya melalui alat penghubung itu.


Dan begitulah, kabar gembira tersebut pun harus kembali tetap menjadi rahasia mereka.


Langkah Cheril dan Elvano langsung tertuju ke arah sebuah mobil mewah berwarna putih.


Elvano lalu membukakan pintu bagi Cheril. Setelah Cheril memasuki mobil tersebut, ia juga ikut mengitari mobil itu menuju ke arah pintu kemudi. Dan kemudian mobil tersebut pun melaju perlahan keluar dari perkarangan rumah mewah milik keluarga Setiono.


Sejak kejadian perihal peta, Elvano memang tidak pernah lagi menggunakan jasa sopir. Ia lebih memilih menyetir sendiri.