
Epilog
Keesokan paginya,
Pagi-pagi sekali, Elvano kembali menggerak-gerakkan jemarinya. Tak hanya itu. Perlahan kelopak mata Elvano juga bergerak pelan sebelum beberapa saat kemudian dia sungguh-sungguh membuka matanya.
Elvano mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu membuka manik indah itu. Manik indah yang sudah sangat lama tidak ia buka.
Awalnya, penglihatan Elvano begitu buram, dan seiring waktu bertambah terang dan jelas.
Lelaki perkasa ini mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. mesin yang terpasang serta tangannya yang terasa sakit menjadi pusat perhatian untuk pertama kalinya.
Ternyata ini di rumah sakit, mungkin begitulah yang ia pikirkan saat itu.
Lalu pandangan Elvano beralih pada sisi sebelah kanan ranjang. Tentu dia dapat melihat Cheril yang sedang terbaring disampingnya.
Elvano kemudian mengangkat tanganya dan meletakkan tangan miliknya di atas kepala Cheril. Tak lupa ia juga mengusap kepala Cheril lembut.
Merasakan sentuhan itu, Cheril pun membuka matanya. Betapa senangnya dia saat mendapatkan ternyata Elvano telah bangun dari tidur panjangnya.
"Sayang, kamu sudah bangun," ucap Cheril sambil tersenyum lebar.
Sementara Elvano hanya mengangguk pelan. Ekspresi Elvano lebih seperti orang linglung.
"Sayang, kamu kenapa? Apa ada yang tidak nyaman? Bagian mana?"
Ya, melihat ekspresi Elvano yang tidak biasa ini membuat Cheril sedikit panik.
Dan saat itu Elvano hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Maaf, kamu siapa?" tanya Elvano kemudian.
Deg!
Jantung Cheril seakan berhenti berdetak saat mendengar itu. Ternyata karena alasan ini Elvano bersikap seaneh itu padanya.
Ada apa ini? Ternyata dia tidak mengingatku?
Sedih. Tentu saja dia merasa sangat sedih saat ini. Cheril yang paling menantikan kesadaran Elvano, tapi dia malah harus mendapatkan kenyataan pahit ini.
Seketika cairan bening memenuhi matanya yang membuat penglihatan wanita itu begitu buram.
Pada saat yang bersamaan Ibu Winda tiba-tiba muncul.
Wanita paruh baya ini terlihat begitu ceria saat mendapatkan Elvano sudah sadar waktu itu.
"Vano ... kamu sudah sadar, Nak?"
Ibu Winda segera berlarian kecil mendekati tempat tidur Elvano. Dan Elvano melemparkan pandangannya ke arah Ibu Winda saat mendengar suara itu.
"Ya, Bu," jawab Elvano sambil tersenyum saat Ibu Winda telah tiba di dekat Elvano.
Ehm? Jadi dia ingat pada Ibu? Tapi kenapa tidak padaku?
Rasa sedih semakin berkumpul di dalam hati Cheril saat itu.
"Loh, Sayang, kamu kok tidak terlihat senang Vano sudah bangun dari tidurnya?" tanya Ibu Winda heran.
"Ehm? Ng-nggak kok Bu, tentu saja Cheril senang. Hanya saja, sepertinya Vano tidak dapat mengenali ku," lirih Cheril.
Ungkapan Cheril sontak membuat Ibu Winda membulatkan matanya.
"Apa itu benar?"
Ibu Winda berucap sambil melirik ke arah Cheril dan Elvano bergantian. Ia sedang menyelidiki kebenaran yang ada.
Baik Cheril dan Elvano, mereka masih sama-sama diam hingga Ayah William yang juga sudah ikut hadir di sana. Tak hanya Ayah William, sesaat kemudian, Flo, Valen juga ikut hadir di dalam ruangan rawat.
"Kakak ...," panggil Flo
Elvano menoleh ke asal suara dan tersenyum kaku.
"Kakak sudah bangun? Syukurlah. Kasihan Kakak ipar setiap hari menangis menunggu Kakak bangun," ungkap Flo sedih.
Cheril saat itu hanya bisa menundukkan wajahnya. Sedangkan Elvano hanya memasang wajah datar seusai melirik Cheril sejak. Dan Ibu Winda yang adalah satu-satunya orang yang tahu akan ingatan Elvano ikut merasa sedih untuk Cheril.
Dia mempercayai ucapan Cheril setelah melihat ekspresi yang ditampilkan oleh Elvano saat itu.
Suasana menjadi hening seketika. Mungkin mereka semua baru mnyadari ada sesuatu yang aneh saat mendengar ucapan Ibu Winda ini.
Elvano tersenyum kecil sebelum menjawab,
"Tentu saja, Bu. Yang laki-laki adalah Ayahku, kedua gadis cantik ini adalah Adik-adikku. Dan yang berdiri di dekat pintu sana Ibu Anita. Ibuku juga," ungkap Elvano dengan jelas.
Yup, Ibu Anita sudah 1 bulan ini tinggal di kediaman keluarga Setiono. Tepatnya sejak Elvano mengalami koma. Dia tak kalah khawatirnya dengan yang lain.
Semua mata kini tertuju pada Ibu Anita. Wanita paruh baya yang satu ini segera melangkah mendekati Elvano. Sudah pasti Ibu anita ikut senang mendapatkan Elvano telah sadar saat ini.
Di kala semua orang merasa begitu bahagia, mungkin hanya Cheril yang murung.
Tamu berdatangan tanpa jeda. Beberapa detik kemudian Guru Raymon, Dirly, ketiga pengawal khusus serta kedua orang yang turut dalam aksi penyelamatan waktu itu juga ikut datang mengunjungi Elvano saat mendapatkan kabar dari Valen yang mengatakan Elvano akan sadar.
Ibu Winda juga meminta pada Elvano supaya ia menyebutkan satu per satu nama orang-orang yang hadir di dalam ruangan rawat. Dan Elvano dapat mengingatnya dengan sangat baik. Hanya Cheril seorang yang tidak dapat ia ingat. Tentu saja wanita itu bertambah sedih saat itu.
Semua orang kini mengarahkan pandangan ke arah Cheril dan Elvano secara bergantian usai mendengarkan penjelasan dari Ibu Winda. Mereka merasa prihatin sekaligus turut bersedih.
Seorang pria yang menyelamatkan Cheril dari tangan kelompok Naga Putih waktu di kastil Red Rose melangkah maju mendekati Cheril.
Lalu mengangkat tangannya merangkul bahu Cheril mencoba menenangkan wanita itu. Melihat hal ini, mata Elvano melotot seketika.
"Hei! Kenapa kamu begitu lancang? Kenapa berani sekali menyentuh Wanitaku? Mau cari mati?" Elvano berkata dengan nada tinggi.
Dalam sekejap ucapan Elvano berhasil membuat bingung mereka semua. Semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut menatap Elvano dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Kenapa kalian melihat ku seperti itu?" tanyanya polos.
Bukannya mengalihkan pandangan mereka, yang ada juga mereka semua menatap Elvano semakin dalam tanpa menjawab pertanyaan Elvano yang seharusnya dia sendiri sudah tahu alasannya.
Kini Elvano yang sedikit salah tingkah memilih mengalihkan pandangannya ke arah Cheril dan laki-laki itu. Tangan laki-laki itu saat ini malah menempel sempurna di bahu Cheril. Tentu saja Elvano kembali membulatkan matanya melihat pemandangan tersebut.
"Geral! Kamu mau cari mati? Lepaskan tanganmu itu!" titah Elvano tegas.
Yup, tepat seperti yang kalian pikirkan. 2 orang yang ikut melakukan aksi penyelamatan waktu itu adalah Geraldo dan ayahnya. Ayah Geral jugalah yang selama ini merupakan pimpinan Blood team putih, Dia juga yang sudah mengirim Rein, Zum dan Jack untuk melindungi Elvano saat mengetahui Elvano memasuki dunia hitam.
Lalu kenapa ayah Gerald sangat memperhatikan Elvano? Jawabannya, karena El Montana Guzman adalah orang kepercayaan kakek Elvano. Dia dikirim oleh kakek Elvano secara diam-diam untuk melindungi Elvano selama ini. Jadi, gerald dan Elvano bisa berteman dekat itu semua bukan karena kebetulan belaka. Semua itu memang sudah disetting dengan baik oleh Tuan Guzman.
Semua orang boleh saja merasa bingung dan tidak mengerti akan apa yang sedang terjadi terhadap Elvano saat ini. Namun pasti tidak dengan Geral. Dia sedang berusaha mengerjai Elvano saat itu. Sebab Geral tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Gerald mempelihatkan senyuman sinis dari sudut bibirnya lalu berkata,
"Cheril, lebih baik kamu bersama aku saja ya. Tidak apa-apa kamu hamil anak dari laki-laki lain, aku akan tetap mencntai anak ini dengan segenap jiwaku," ucap Gerald sambil tersenyum.
Entahlah apa Cheril mengerti apa yang sedang dilakukan oleh Gerald atau tidak? Bahkan mereka semua yang ada di sana semakin bingung mendengar ungkapan Gerald yang satu ini. Namun tentu saja mereka juga dapat menangkap sedikit maksud dari ungkapan tersebut. Ya, pikiran mereka saat itu, "mungkin Gerald mau membantu Elvano mengingat kembali tentang Cheril."
Sudah pasti Elvano normal akan sangat murka mendengar kalimat itu. Yup, dia memang normal. Jarum infus yang ada di punggung telapak tangannya ia cabut seketika. Lalu menegakkan tubuhnya. Bahkan beberapa partikel kecil yang tertempel pada dadanya sudah hendak ia tarik saat itu jika tidak dicegah oleh yang lainnya.
Melihat ini Cheril pub begitu syok, wanita itu lalu segera menghampiri Elvano.
Breg!
"Maafkan aku, Sayang. Aku hanya ingin menggoda mu saja tadi. Tentu saja aku mengingat mu. Kau adalah orang yang paling aku cintai, bagaimana bisa aku tidak dapat mengingat mu?"
Elvano mengungkapkan semua itu sambil memeluk tubuh Cheril erat.
"Jadi kamu?"
"Aaaah ... kamu kenapa tega sekali? Jahat!" lontar Cheril sambil menyeka air matanya yang mengalir.
Dan begitulah. Elvano pun harus mendapatkan pukulan lembut dari Cheril sebanyak beberapa kali.
Sesaat kemudian bibir mereka berdua saling bertautan mesra. Pasangan ini sudah tidak lagi memperdulikan semua orang yang berada di hadapan mereka saat ini. Selain hanya bisa menggelengkan kepala serta membulatkan mata, apa lagi jika bukan segera angkat kaki dari ruangan itu?
Orang banyak ini lalu memilih mengalah dan meninggalkan kedua insan itu begitu saja.
~ Cinta dan kasih saling menyatu dalam satu kesatuan. Mereka tidak pernah dapat dipisahkan. Namun Cinta dan kasih jelas adalah 2 kata yang berbeda dengan 2 makna yang berbeda pula.
Kasih itu mutlak. Dia tidak pernah menyakiti. Sekalipun seseorang menyakitinya, dia akan tetap mengasihi. Lain halnya dengan cinta.
Yang tak pernah menetap pendiriannya.
Hari ini bisa saja kita mencintai satu orang wanita ataupun pria yang rasanya begitu menggebu. Namun tidak menutup kemungkinan, hari esok rasa cinta itu menghilang begitu saja. Karena hal inilah kenapa Cinta dan kasih itu seharusnya saling menyatu. Agar sebuah hubungan dapat terus berlangsung sempurna.
TAMAT