
Sesaat kemudian Elvano sudah berada di rumah sakit. Dan dia bertemu dengan Niko diparkiran, mereka pun begegas memasuki rumah sakit bersamaan.
"Mana Cheril?" Tanya Elvano ketika melihat kedua pengawalnya yang sudah babak belur berada di depan ruang gawat darurat.
"Cheril sudah masuk ruang ICU Tuan Muda !" Jawab salah satu dari mereka, lalu menundukkan wajahnya. Pengawal yang satunya juga ikut menundukkan wajahnya.
"APA? ICU?" Elvano jelas sangat kaget mendengar Cheril masuk ICU.
Ia tidak menyangka separah itu. Yang ia tau Cheril masuk rumah sakit karna tiba-tiba pingsan. Ia juga tidak tau Cheril dipukuli oleh orang suruhan Bos Baron. Karna ia sudah lebih dulu mematikan telfon ketika pengawal belum selesai bicara.
Elvano pun sedikit heran melihat wajah kedua pengawalnya yang babak belur.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Elvano dengan suara keras.
"Maafkan kami Tuan Muda, kami sudah lalai dalam melaksanakan tugas. Nona Muda dipukul oleh anak buah Baron." Ucap salah satu pengawalnya.
"APA?" Elvano kembali berteriak sembari melototkan matanya.
Niko juga ikut melototkan matanya.
"Kalian sungguh tidak BECUS !" Ucap Elvano sekali lagi dengan suara yang tak kalah kerasnya dari yang tadi.
Kedua pengawal itu hanya tertunduk tanpa berkata apapun. Lagian percuma saja menjelaskan disaat-saat seperti ini. Elvano tidak akan mendengarkannya.
"Sudahlah No, lebih baik kita lihat dulu kondisi Cheril." Ucap Niko kemudian.
Mereka berdua pun segera memasuki ruangan gawat darurat tadi untuk menanyakan dimana letak ruangan ICU tempat Cheril dirawat.
Dan salah satu perawat disana pun mengajak kedua pria ini menuju ruangan itu.
"Maaf Pak, siapa disini yang merupakan keluarga Ibu Cheril?" Tanya perawat itu.
"Saya Sus.. Saya adalah suaminya !" Jawab Elvano.
"Oh, kalau begitu hanya Bapak saja yang boleh masuk. Ruangan ini tidak boleh dimasuki 2 orang sekaligus." Ucap perawat itu kemudian.
Elvano lalu melemparkan pandangannya kearah Niko, dan Niko pun mengangguk pelan.
"Masuklah ! Aku tunggu disini saja ! aku tidak apa-apa kok" Ucap Niko.
"Nanti setelah Bapak ini keluar, anda bisa bergantian menjenguk Pak." Tambah perawat itu lagi. Ia bisa mengerti sepertinya Niko juga sangat ingin menjenguk wanita itu.
"Baik Sus !" Ucap Niko sambil mengangguk.
Akhirnya Elvano pun masuk kedalam ICU bersama dengan perawat itu. Sebelumnya ia sudah lebih dulu mengenakan pakaian khusus yang telah diberikan oleh perawat itu.
Alangkah kagetnya Elvano ketika melihat Cheril terbaring tak berdaya dengan segala peralatan yang terpasang ditubuhnya.
Dan disana kebetulan sedang ada Dokter yang bertugas yang sedang memeriksa keadaan Cheril.
"Dokter, bagaimana kondisi istri saya?" Tanya Elvano.
"Eh, Maaf Pak, kondisi istri Bapak sedang kritis, Ia koma saat ini." Ucap Dokter itu lalu sedikit menundukkan wajahnya.
'APA? KOMA?'
Ucap Elvano dalam hati sembari melototkan matanya.
Dokter itu pun menjelaskan, ketika Nona Cheril dibawa kesana keadaannya sudah sangat lemah. Bahkan sesuai dengan keterangan yang diberikan oleh pengawalnya Cheril sempat kehilangan nafasnya untuk sesaat.
Mendengar itu Elvano pun bertambah kaget.
Akan aku hancurkan laki-laki itu.. Berani sekali dia membuat Cheril jadi seperti ini..
"Berdoalah ! Semoga istri Bapak bisa melewati masa kritisnya malam ini !" Ucap Dokter itu lagi sembari menepuk pundak Elvano pelan. Lalu Dokter itu segera berlalu dari ruangan itu.
Saat itu ntah perasaan apa yang muncul di dalam hatinya. Ia merasa sangat ketakutan. Ia takut dirinya akan benar-benar kehilangan Cheril untuk selama-lamanya.
"Pak, jangan bersedih.. Bapak harus kuat. Dan berbicaralah pada istri Bapak, berikan dia kekuatan Pak. Walaupun sedang koma, tapi ia tetap bisa mendengarkan Bapak !" Ucap perawat itu menenangkan Elvano sekaligus memberikan dia sedikit penjelasan.
"Jika Bapak bersedih, istri Bapak juga akan bersedih ! Yang kuat ya Pak !" Tambahnya lagi.
Dan Elvano hanya mampu mengangguk pelan tanpa dapat mengucapkan sepatah kata pun lagi.
Kemudian perawat itu juga ikut berlalu meninggalkan Elvano sendirian di ruangan yang sangat dingin itu bersama Cheril. Ia tau Elvano pasti sedang ingin berbicara banyak pada istrinya itu.
Setelah perawat itu pergi, Elvano melangkahkan kakinya mendekati Cheril yang terbaring tak berdaya. Lalu ia duduk dikursi samping tempat tidur dimana Cheril terbaring. Dan mulai mengajaknya berbicara.
Sebelum itu Elvano lebih dulu meraih tangan Cheril, lalu menggenggamnya erat. Tak terasa ia mulai meneteskan air matanya. Untuk pertama kalinya ia menangis dengan sangat deras.
Kenapa bisa begini...
Huh huh huh huh
"Cheril.. Kamu harus bangun.. Aku tidak akan bisa hidup lagi jika kau tidak bangun.."
Huh huh huh huh
"Cheriiiil... Bangun... Bangunlah sayang ! Buka matamu !"
Huh huh huh huh
"Aku berjanji, jika kamu bangun, aku akan mengajakmu pulang ke rumah.. Aku tidak akan membiarkan dirimu tinggal di rumah sewa itu lagi.. Tidak akan..
"Aku tidak akan membiarkanmu sendiri disana.. Maafkan aku Cheril.. Maafkan aku..."
Elvano terus berkata-kata pada Cheril sambil menangis dengan sejadi-jadinya sembari menundukkan wajahnya didekat wajah Cheril.
Sesaat setelah ia mengangkat kembali wajahnya, ia tersentak seketika, karna melihat Cheril sedang meneteskan air matanya.
Ia baru teringat ucapan perawat itu yang mengatakan ketika ia bersedih, Cheril pun bersedih. Karna walaupun sedang koma, Cheril tetap bisa mendengarkan Elvano.
Akhirnya Elvano mengusap pipi Cheril lembut untuk menghapus air matanya yang mengalir dari pinggir matanya secara perlahan.
Dan ia sendiri juga berusaha menghentikan tangisannya. Elvano tidak ingin Cheril merasa sedih lagi jika melihatnya terus menangis. Jadi ia pun berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri.
Elvano kemudian kembali meraih tangan Cheril, menggenggamnya erat dengan kedua tangannya sembari mengecup tangan itu lembut. Sesekali ia juga mengusap rambut Cheril dengan penuh dengan kasih sayang.
"Cheril.. Sayang.. Dengar baik-baik.. Aku sangat mencintaimu.. Lebih dari apapun."
"Aku berjanji padamu jika kamu sudah bangun nanti, aku akan mengajakmu pulang ke rumah kita. Yang juga adalah rumahmu. Rumah kita berdua yang sesungguhnya bersama dengan kedua orangtua kandungku. Dan disana juga ada kedua adikku yang sangat cantik. Tapi tentu saja mereka tidak secantik dirimu. Karna kamu adalah wanita yang paling cantik di dunia ini !" Ucap Elvano sambil tersenyum.
"Aku yakin, kamu pasti akan menyukai keluargaku. Mereka semua sangat baik."
"Kamu cepat bangun ya ! Jangan tidur terlalu lama ditempat ini !"
Elvano terus berkata-kata pada Cheril. Memberinya kekuatan dan juga menceritakan hal-hal yang membuatnya merasa nyaman.
Malam itu Elvano baru menyadari, ternyata dia memang sangat mencintai Cheril. Ia sungguh tak tau harus berbuat apa jika Cheril benar-benar pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
Tentang Cheril yang sudah pernah menikah dengan Jimmy, perlahan ia singkirkan. Ia berjanji pada hatinya sendiri bahwa ia akan benar-benar melupakan tentang itu dan menerima Cheril apa adanya.
Cinta itu harus menerima apa adanya, bukan menuntut untuk harus sempurna~