
Sementara Elvano yang melihat kedua orangtua Cheril segera beranjak dari tempat duduknya dan memberi salam.
"Selamat sore Om, Tante!" Ucap Elvano sopan.
"Selamat sore Vano!" Jawab Tuan Dedy Senjaya.
"Heh! Tak perlu bersikap semanis itu. Katakan, di mana Cheril?" Timpal Ibu Berliana Kasar.
"Eh, Maaf Nyonya, tak seharusnya anda bersikap seperti ini terhadap orang yang sudah menolong anak anda!" Niko ikut berbicara kali ini. Ia sangat tidak terima sahabat yang juga merupakan majikannya itu diperlakukan seperti itu oleh ibu Cheril.
"Heh! Maksud kamu apa? Dia sudah menculik putriku, masih kau bilang dia yang menolong nya?"
"Eh....
Niko sudah mulai murka mendengar itu, namun segera dicegah oleh Elvano.
"Sudahlah Nik.. Biar aku yang menjelaskannya." Ucap Elvano bijaksana.
"Tante.. Saya harap anda dengarkan dulu penjelasan saya!" Pinta Elvano.
"Aku tidak butuh penjelasan mu! Katakan dimana Cheril?" Sahut ibu Cheril masih dengan nada yang sangat tinggi.
"Eh.... Jaga bicara anda Nyonya!
Niko juga semakin emosi dengan cara bicara ibu Cheril yang seperti orang yang tidak berpendidikan itu. Dan Elvano kembali menahan Niko.
"Sudahlah Bu, apa salahnya kita mendengarkan penjelasan Elvano?" Ayah Cheril ikut bicara kali ini. Ia ikut menenangkan hati istrinya. Walaupun masih sedikit memberontak akhirnya ibu Cheril mau juga mendengarkan suaminya.
"Vano, saya percaya padamu, saya sangat yakin kamu tidak mungkin melakukan seperti yang dikatakan oleh Jimmy. Jika kamu memang mengetahui semua tentang Cheril, katakanlah!" Lanjut Tuan Dedy Senjaya.
"Terimakasih Om sudah mau mendengarkan saya!" Ujar Elvano sambil menganggukkan kepalanya pelan. Sikap Elvano yang seperti ini sungguh membuat Niko merasa sangat kagum. Ia tidak menyangka Elvano memiliki sifat yang sangat rendah hati seperti itu.
Jika ayah Cheril memilih memfokuskan dirinya pada penjelasan yang akan disampaikan oleh Elvano, lain halnya dengan ibu Cheril. Ia justru membuang wajahnya ke arah lain. Ia sama sekali tak ingin melihat wajah laki-laki itu. Sesaat kemudian Elvano melanjutkan kembali pembicaraannya.
"Om, Tante.. Memang benar Cheril ada bersamaku saat ini....
Belum juga selesai bicara, baru mendengar Elvano menyebutkan kalimat awal itu sudah membuat ibu Cheril yang sudah tenang kembali murka.
"Tuh iyakan? Memang kamu kan yang menculik Cheril? Ayah masih saja membela laki-laki ini! Di mana Cheril? Katakan! Di mana kau sembunyikan Anak saya? HAH?!" Ucap Ibu Berliana dengan sangat emosi. Ia malah sudah menarik baju Elvano saat itu. Kali ini jelas Niko sudah tidak bisa menerimanya.
Niko pun segera beranjak dari tempat duduknya.
"Heh! Jangan pernah anda menyentuh Tuan Muda kami lagi! Jika tidak aku tak akan segan-segan memberikan pelajaran bagi anda Nyonya!" Ucap Niko tiba-tiba.
'Tuan Muda? Apa maksud laki-laki ini?'
Gumam ayah Cheril dalam hati.
Kelakuannya kali ini tak hanya membuat ibu Cheril kaget. namun Elvano dan Ibu Anita juga tak kalah kagetnya. Mereka tak menyangka, Niko akan membela Elvano sampai sejauh ini. Dalam hati Elvano sedikit bangga memiliki sahabat sekaligus karyawan yang sangat baik padanya. Demikian juga Ibu Anita, ia bisa merasa sangat aman sekarang, jika Elvano terus berdampingan dengan Niko. Dan ayah Cheril juga kaget, namun ia lebih fokus pada kata Tuan Muda yang diucapkan oleh Niko.
"Eh.... Kamu....
"BU! APA KAMU TIDAK BISA TENANG DULU? SETIDAKNYA, HARGAI AKU!" Teriak Tuan Dedy Senjaya. Membuat suasana gaduh berubah tenang seketika.
"Sekarang lanjutkan penjelasan mu Vano!" Ujar ayah Cheril kemudian.
Dan Elvano pun kembali melanjutkan pembicaraannya yang masih menggantung.
"Iya, Cheril memang ada bersamaku, namun saya tidak menculiknya sama sekali. Justru saya yang mengirimkan pengawal dan juga Niko untuk menolong Cheril di salah satu tempat hiburan yang ada di kota X."
"APA? Tempat hiburan? Bagaimana bisa Cheril berada di tempat seperti itu?" Ucap ayah Cheril kaget.
"Jimmy yang sudah menjual Cheril pada Bos Baron Om! Dia meminjam uang pada Bos Baron dan dia tak mampu membayar nya Karan perusahaannya yang bangkrut. Jadi Cheril pun ia jual demi melunasi hutang-hutangnya." Jelas Elvano panjang lebar yang membuat kedua orangtua Cheril melototkan matanya. Dan tentu saja ayah Cheril juga tau siapa Bos Baron. Ia tidak menyangka Jimmy bisa berurusan dengan lintah darat yang satu ini.
'Apa? Jadi Jimmy sudah mengarang cerita palsu untuk mengelabui ku? Kurang ajar sekali laki-laki itu!'
Ibu Cheril berkata-kata dalam hati. Ia juga merasa malu terhadap Elvano karna sudah salah menilainya jika itu semua memang benar.
"Darimana kamu mengetahui semua itu?" timpal ibu Cheril. Ia masih ingin memastikan Elvano sungguh tidak sedang berbohong.
"Saya mengetahui ini dari Erik, Tante. Tania yang memberitahukan pada Erik saat itu bahwa Cheril menghilang. Kejadiannya sudah 1 bulan yang lalu." Jawab Elvano apa adanya.
"Apa? Jadi kejadian ini sudah 1 bulan? Bahkan kita baru mengetahuinya 1 minggu yang lalu.." Ucap ibu Cheril sambil melemparkan pandangannya ke arah suaminya yang juga balas menatapnya.
"Vano, apa Cheril baik-baik saja?" Tanya ayah Cheril.
"Iya Om, untuk saat ini Cheril baik-baik saja." Jawab Elvano.
"Maksud kamu? Apa sebelumnya telah terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada Cheril?" Tanya ayah Cheril lagi.
"Iya Om.."
Elvano menjawab dengan lirih. Saat itu ia sudah teringat kembali dengan kondisi. Cheril yang sangat mengkhatirkan. Elvano pun menundukkan wajahnya sesaat sebelum melanjutkan kembali pembicaraannya.
"Cheril sempat koma!" Tambah Elvano.
Tentu saja kedua orangtua Cheril sudah semakin kaget mendengar itu.
"APA? KOMA?" Ucap kedua orangtua Cheril bersamaan.
"Iya Om.. Tante.. Cheril mengalami koma beberapa waktu yang lalu. Karena dipukuli oleh anak buah Bos Baron." Ucap Elvano lagi dan kembali menundukkan wajahnya sesaat lalu mengangkat nya lagi.
"Maafkan saya Om, Tante.. Karena saat itu saya tidak menjaga Cheril dengan baik!" Tambah Elvano sekali lagi.
"Vano, ini bukan salah kamu.. Kamu tidak perlu meminta maaf. Justru kami lah yang harus berterimakasih padamu karena sudah menyelamatkan Cheril. Dan maafkan kami, sudah memiliki pikiran yang salah terhadap mu!" Ujar Tuan Dedy Senjaya.
"Iya, saya juga minta maaf padamu Vano. Maafkan saya karena sudah menuduh mu tanpa bukti apapun!" Timpal ibu Berliana.
"Tidak apa-apa Tante.. Saya bisa memaklumi itu kok.." Jawab Elvano sambil tersenyum tipis.
Kemudian suasana saat itu pun sudah kembali kondusif. Dan pembicaraan ringan pun dimulai.