Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Minggu pagi


Monolog


Malam itu Elvano menginap di apartemen Cheril, sementara orang-orang di rumah terus mencemaskan Elvano yang tiba-tiba pergi tanpa pamit.


Ibu Winda mencoba menghubungi Elvano, namun ponselnya tidak aktif karena lowbat. Membuat dirinya semakin khawatir.


Untung saja Ibu Winda masih kepikiran untuk menghubungi Niko.


"Nyonya tidak perlu mencemaskan Tuan Muda, dia sedang bersenang-senang dengan Cheril saat ini. Mungkin Tuan Muda akan menginap di apartemen Cheril malam ini."


Itulah jawaban yang ia dapatkan.


Semua orang pun bisa merasa lega setelahnya. Namun selain lega, tentu saja mereka merasa sangat gemas dengan tingkah Elvano yang sudah sangat keterlaluan itu. Bagaimana tidak, yang mereka tau hanyalah Elvano pergi begitu saja. Mereka tidak tau kejadian yang sesungguhnya seperti apa.


Sementara dirinya bersenang-senang, orang-orang di rumah justru harus merasa sangat cemas memikirkan dirinya.


-------------


~Minggu pagi~


Hari yang dinantikan telah tiba.


Pagi ini Elvano yang lebih dulu terjaga. Tepat pukul 04.00, ia terbangun dari tidurnya. Sedangkan Cheril masih tertidur dengan sangat nyenyak.


Elvano memutuskan untuk segera beranjak lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Dan setelahnya, ia diam-diam meninggalkan apartemen. Namun juga meninggalkan secarik kertas berupa memo di atas meja kecil yang terletak di dalam kamar. Ia sudah cukup kapok dengan kejadian semalam, jadi ia sudah tidak berani lagi meninggalkan Cheril begitu saja tanpa meninggalkan jejak apapun.


Ya, semalam Cheril memang sempat menceritakan pada nya, bahwa ia memang memiliki niat untuk kabur dari apartemen itu, alasannya adalah Elvano yang bersikap seenaknya saja. Datang dan pergi begitu saja. Tanpa memberikan sebuah kepastian kapan akan kembali.


Bisa dibayangkan, semurka apa Elvano saat mendengar ucapan tersebut? Ya, Elvano sungguh marah besar. Cheril saja sudah sangat ketakutan saat itu. Ia belum pernah melihat Elvano semarah itu sebelumnya. Seharusnya sih, Cheril tidak akan memiliki keberanian untuk kabur dari Elvano lagi, namun Elvano tetap mencemaskan hal ini.


Tak cukup hanya memo yang ia tinggalkan, Pengawal yang sebelumnya berjaga di pintu masuk pun diperintahkan oleh Elvano untuk berjaga di depan pintu unit milik Cheril ketika dirinya sudah keluar dari apartemen tersebut.


Sesudah itu, Elvano segera berlalu meninggalkan apartemen menuju rumah.


--------


Pukul 06.45 Cheril terbangun dari tidurnya. Perlahan Cheril membuka mata, pikirannya kembali menuju kepada kejadian semalam. Cheril bisa mengingat dengan sangat jelas apa yang sudah terjadi. Terutama pada kejadian Elvano yang marah besar ketika tau Cheril memiliki rencana untuk kabur. Membuat Cheril sedikit takut untuk membalikkan tubuhnya. Saat itu ia berpikir Elvano masih tertidur di balik punggungnya.


Namun memang ada sedikit kejanggalan, karena biasa Elvano selalu memeluknya, kali ini malah tidak terdapat tangan Elvano yang melingkar di perutnya.


Mungkin Elvano masih marah...


Demikian yang sedang dipikirkan oleh Cheril saat itu.


Karena merasa penasaran, Cheril pun memberanikan diri untuk membalikkan tubuhnya.


"Eh, kemana dia?" Gumam Cheril pelan.


Cheril sangat kaget ternyata Elvano tidak ada di sana.


"Mungkin aku sudah sangat menyakiti nya semalam. Bagaimana ini?"


Cheril merasa sangat cemas, karena Elvano memang belum pernah melakukan hal ini sebelumnya. Elvano belum pernah meninggalkan Cheril begitu saja pada saat dirinya masih tertidur seperti saat ini.


Sesaat kemudian Cheril memutuskan untuk beranjak. Ia ingin mengambil ponselnya yang terletak di atas meja, ia berniat untuk menghubungi Elvano. Dan pada saat yang bersamaan, Cheril juga menemukan memo yang ditinggalkan oleh Elvano di bawah ponselnya.


"Eh, apa ini?"


**Cheril, maaf, aku pergi dulu.... Kamu bersiap-siaplah, aku akan mengirim sopir untuk menjemput mu pukul 07.00.


Love you


TTD Elvano**


"APA?"


"Ah.... Sungguh keterlaluan.... Kenapa dia selalu bersikap seenaknya begini?"


"Aku harus segera bergegas sekarang!"


Dan Cheril pun segera beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri secepat mungkin. Waktu yang ia miliki memang tidaklah banyak, hanya sekitar 10 menit saja.


Cheril masih di dalam kamar mandi saja sudah terdengar suara ketukan pintu. Sang sopir yang dikirimkan oleh Elvano sudah berada di sana.


"Kamu sungguh keterlaluan Vano.... KETERLALUAN...." Teriak Cheril.


Para pengawal juga sopir yang berada di luar juga dapat mendengar teriakan Cheril samar-samar. Mereka jadi merasa khawatir, takut terjadi sesuatu pada Cheril. Ketukan pintu pun semakin gempar.


"Nona Muda, anda baik-baik saja?"


Selain ketukan, mereka juga ikut berteriak untuk memastikan keadaan Nona Muda mereka baik-baik saja.


"Eh.... Ternyata mereka bisa mendengar suaraku tadi ya?"


"Ah, iya, aku baik-baik saja kok! Tunggu sebentar lagi aku keluar!" Jawab Cheril dari dalam ruangan. Saat itu ia sudah selesai mandi dan sedang menyiapkan diri, walaupun tidak sempat untuk berdandan, setidaknya harus tampil lebih rapi. Pikir Cheril.


Sekalipun sudah mendapat jawaban dari Cheril, para pengawal juga sopir masih tetap merasa cemas. Hanya saja mereka sudah tidak meneriaki ataupun mengetuk pintu itu lagi.


5 menit kemudian, Cheril pun keluar dari unitnya. Sekali lagi ia merasa kaget.


Pantas saja suara mereka sangat ramai, ternyata mereka sebanyak ini....


"Eh, kenapa kalian bisa berada di sini? Bukannya kalian berjaga di depan?" Tanya Cheril.


"Kami diperintahkan oleh Tuan Muda untuk berjaga di sini Nona." Jawab salah satu dari mereka.


"APA?" Ucap Cheril setengah berteriak.


Laki-laki itu sungguh sudah tidak waras.... Yang benar saja, pengawal sebanyak ini disuruh berjaga di depan pintu apartemen ini.


Apa yang akan dikatakan oleh para tetangga...


Cheril berkata-kata dalam hati sambil celingak-celinguk melihat kiri kanan. Untung saja saat itu keadaan apartemen masih cukup sepi.


"Nona Muda, mari ikut saya!" Kata Pak sopir kemudian.


"Eh, i-iya." Jawab Cheril singkat.


Lalu Cheril berjalan mengiringi sopir yang berada di depan. Setelah tiba di parkiran, Pak sopir membukakan pintu mobil bagi Cheril. Dan setelah itu mobil segera melaju dengan kecepatan sedang menuju kediaman keluarga Setiono.


"Pak, apa aku boleh bertanya?" Cheril membuka suara ketika mobil baru saja melaju.


"Eh, i-iya, boleh Nona. Apa yang ingin ada ketahui Nona?" Tanya Pak sopir.


"Kita mau pergi kemana Pak?" Ucap Cheril melempar pertanyaan.


"Eh.... Tentang itu.... Maaf Nona, nanti anda juga akan mengetahuinya." Jawab Pak sopir.


"Eh....


Jawaban macam apa itu... Sama saja dengan tidak menjawab...


Huuuuuuuuh


Sopir itu memang sudah mendapatkan perintah dari Elvano, jika Cheril menanyakan sesuatu padanya, ia tidak boleh menjawab lebih dari .... Maaf Nona, nanti anda juga akan mengetahuinya.


Jadi begitulah yang Bapak sopir itu lakukan. Sesuai dengan yang diperintahkan oleh Elvano.