Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Cheril dan Elvano bertemu di Indos Perkasa


Sekeras apapun Elvano berpikir, ia tidak dapat menemukan jawab apapun.


Aaaaaaah


Elvano berteriak.


Untungnya ruangan itu kedap suara, kalau tidak teriakan Elvano pasti akan membuat kaget seisi lantai 11.


Beberapa saat kemudian


Elvano melangkah ke arah pintu, Ia hendak keluar mencari udara segar, karna merasa suntuk didalam ruangan itu sendirian bersama dengan setumpuk berkas dimeja tamu yang belum ia usik sama sekali.


Ketika ia hendak membuka pintu, tiba-tiba pintu itu terbuka seperti ada yang mendorongnya dari depan, membuat Elvano terpojok ke belakang pintu.


Aaaauuuu !


Elvano berteriak kesakitan sambil memegang keningnya yang kejedot pintu.


Seseorang wanita dari balik pintu mencari asal suara tersebut, ia terlihat agak bingung mendengar suara itu.


Loh, memangnya ada orang didalam ruangan ini.


Wanita itu kaget bukan main ketika melihat Elvano, Elvano juga tidak kalah kagetnya melihat wanita itu.


"Kamu?"


"Kenapa kamu bisa ada di ruangan ini?"


Tanya wanita cantik itu yang tidak lain adalah Cheril.


"Ya, aku kerja disini Nona !" Elvano menjawab masih sambil memegang keningnya yang terlihat sedikit merah.


"Eh, ma-maafkan aku ya tadi." Cheril meminta maaf, ia merasa bersalah karena membuat kening Elvano jadi sakit.


"Tidak apa-apa Nona !"


"Oh,iya, lagian Nona kenapa tidak ketuk pintu dulu?"


"Ketuk pintu? Eh, seharusnya aku yang harus bertanya. Kenapa kamu bisa ada diruangan saya?" Ucap Cheril sedikit melototkan mata nya ke arah Elvano.


Sebelumnya ruangan itu memang sering digunakan oleh Cheril karna ruangan tsb adalah satu-satu yang kosong dilantai 11 ini.


Dibalik lemari yang terletak dibelakang meja kerja, jika di sentuh lemari itu akan terbuka layaknya pintu. Disana ada sebuah ruangan khusus yang sengaja didesain untuk pemilik ruangan tersebut beristirahat.


Elvano mengangkat alisnya sambil berkata;


"Benarkah? Tapi Manager Billy bilang ini adalah ruangan ku." Elvano menjawab dengan nada datar.


"Apa?" Cheril melipat kedua tangannya dia atas dada.


'Eh, ternyata dia pelakunya. Apa-apaan Pak Billy, dia seenaknya saja memberikan ruanganku pada orang lain.'


Cheril kemudian meninggalkan ruangan itu menuju ruangan Billy. Ia berjalan dengan sangat cepat menuju ke ruangan Billy.


Tanpa mengetuk pintu ia langsung membuka pintu itu kasar.


Jegreeek


Membuat pemilik ruangan tersebut kaget.


"Eh Nona Cheril? Kenapa membuka pintu ku sekadar itu? Lagian sejak kapan Nona bisa masuk keruangan saya ini dengan seenaknya Nona tanpa diketuk terlebih dahulu?"


Billy melemparkan pertanyaan bertubi-tubi.


Sekali pun Cheril adalah anak dari bos nya, Cheril biasanya juga selalu menghormati nya, tidak semena-mena seperti sekarang ini.


"Pak Billy, aku mau bertanya, kenapa Pak Billy menjadikan ruangan yang biasa aku pakai untuk beristirat sebagai ruangan Elvano?"


Cheril bertanya dengan wajahnya yang jutek dan kedua tangannya menekan pinggang.


'Idiiih.. Sejak kapan Nona belajar bersikap seperti preman begitu?'


"Maaf Nona Cheril, lalu anda mau saya suruh kerja di ruangan mana lagi?" Billy balik bertanya.


Seketika Cheril memindahkan tangan dipinggangnya ke arah keningnya. Ia menggaruk keningnya yang tidak gatal sambil berpikir.


Dia benar juga. Di lantai 11 kan memang tidak ada ruangan lain lagi. Tapi, aku tidak perduli. Pokok nya Pak Billy harus bertanggungjawab.


Cheril kembali memasang wajahnya yang marah.


"Lagian Nona juga sih, pakai acara menambah karyawan seenaknya saja. Padahal kita kan sama sekali tidak kekurangan karyawan. Ini saja saya sudah asal memberinya jabatan." Tambah Billy panjang lebar, sekarang posisinya sudah berdiri didekat Cheril.


"Eh, memangnya Pak Billy memberikan dia jabatan apa?" Cheril sedikit penasaran.


"Kepala Gudang khusus siff malam."


"Hah?"


'Posisi macam apa itu? Kenapa aku baru mendengarnya?'


Hahaha


"Nona pasti ikutan bingung kan memikirkan posisi itu?" Billy berkata sambil memajukan kepalanya mengintip wajah Cheril yang tertunduk seperti sedang memikirkan sesuatu dengan sangat serius.


"Bahkan saya tidak tau harus menyuruh nya melakukan apa pada posisi nya itu." Tambah Billy lagi


"Hah ! Lalu?"


Cheril semakin penasaran


"Ya,, aku suruh saja dia mengawasi para Desainer yang sedang bekerja.


"Apa?"


Suara Cheril yang berteriak terdengar sangat jelas diluar karna pintu ruangan Billy tidak tertutup rapat.


Billy memberikan kode pada Cheril dengan menutup kupingnya dengan tangannya dan memancungkan mulut ke arah pintu yang tidak rapat, Cheril pun mengerti maksud Billy, ia spontan menutup mulutnya dengan satu tangannya.


Suara Cheril memang terdengar jelas hingga ruang Desainer samar-samar, apalagi Elvano yang masih berdiri di luar ruangannya jelas bisa mendengar suara Cheril yang sangat kencang itu.


Jarak ruangan Billy dengan ruangan Elvano memang tidak jauh, hanya berjarak satu ruangan saja. Yang membatasi nya adalah ruang kerja yang digunakan oleh karyawan siff satu yang setengah terbuka


Cheril kemudian melangkah ke arah pintu dan menutupnya rapat, ia tidak mau nantinya mungkin saja akan terjadi teriakan selanjutnya yang akan membuat kaget seisi lantai 11 lagi.


"Pak Billy, lagian kenapa anda bisa menyuruh Elvano untuk mengawasi para Desainer?"


"Ya, supaya dia bisa dekat dengan Nona !" Billy menjawab dengan jujur.


"Hah? Maksud Pak Billy?"


"I-iiiya, Nona suka kan sama Elvano?"


"Hah?"


Sekali lagi ia memang berteriak sangat kencang, untung saja ruangan itu sudah tertutup rapat, jika tidak seisi lantai 11 akan berhamburan mencari asal suara itu.


Cheril benar-benar kaget mendengar pernyataan Billy kali ini, membuat nya membisu sesaat sebelum membersihkan semua pikiran di otak Billy.


Ia tidak menyangka dengan menyuruh Billy menerima Elvano bekerja bisa membuat Billy sesalah paham ini.


"Pak Billy, tolong dengarkan saya, saya dan Elvano itu tidak ada hubungan apa-apa


(ya, walaupun memang aku pernah mengajak nya menikah sih, tapi kan belum tau juga bagaimana rencana gila itu nantinya) , Cheril termenung sesaat sebelum melanjutkan,


"Dan tidak ada kata saya menyukai nya atau pun dia menyukai ku."


Billy mendengarkan dengan serius


"Saya meminta Pak Billy menerima nya karna saya kasihan melihat keadaan nya."


"Ibunya saat ini sedang sakit keras Pak, dia sedang membutuhkan pekerjaan. Itu saja alasan nya !"


Cheril menjelaskan semuanya dengan jelas dan tegas.


"Sekarang Pak Billy paham?"


Setelah mndengar penjelasan panjang dikali lebar itu Billy masih belum sepenuhnya percaya.


Billy hanya sedikit mengangkat alisnya menanggapi apa yang dikatakan Cheril. Kemudian ia menatap Cheril lekat.


"Pak Billy, kenapa melihatku seperti itu?"


Cheril merasa aneh dengan tatapan Billy terhadap nya, tatapan yang sangat sulit Cheril artikan.


"Ah.... Nona, apa benar Nona tidak tertarik pada laki-laki tampan itu? Sepertinya semua wanita akan tertarik pada ketampanannya." kata Billy ingin meyakinkan hatinya Skaligus meyakinkan Cheril.


Eh....


'Kalau dipikir-pikir Billy memang benar sih, Elvano memang sangat tampan.'


Sedangkan isi kepala Billy,


'Tuh iyakan? Nona Cheril malah melamun, sepertinya dia memang menyimpan perasaan pada laki-laki itu.'


"Eh, masih menatap ku seperti itu? Sekali lagi menatap ku begitu aku tonjok hidung mu itu !" Ucap Cheril galak.


"Ah Nona, kenapa jadi galak begini? Apakah orang yang sedang jatuh cinta bisa berubah jadi galak ya?" Billy mengejek Nona Cheril


"Eh.. apa-apaan si Pak Billy, sudah saya katakan dengan jelas. Saya sama sekali tidak ada hubungan apapun dengan Elvano, titik."


"Sudah jangan dibahas lagi !" Ucap Cheril sekali lagi sekaligus menutup pembicaraannya.


Cheril keluar dari ruangan Billy, ia membuka pintu secara kasar dan menutup nya juga dengan kasar.


Braaaak !!


"Wah... Orang yang sedang jatuh cinta sungguh akan berubah menjadi sangat galak."


Billy berkata-kata sendiri.


(Billy memang masih jomblo, dan dia sama sekali belum pernah menjalin hubungan dengan siapapun jadi dia tidak tau orang yang sedang jatuh cinta itu seperti apa.)