
Elvano berusaha bersikap sewajarnya. Ia terus berjalan dan sekarang ia benar-benar berada dihadapan Cheril yang masih menundukkan kepala tidak berani mendongak sama sekali.
Nona Cindi sedikit memalingkan wajahnya melirik ke arah Cheril dan Elvano.
Sepertinya mereka berdua memang sudah saling kenal, tapi kenapa keduanya kikuk begini ya.
"Hai Nona Cheril, Selamat malam !" Elvano menyapa Cheril sambil tersenyum manis seperti tidak pernah terjadi hal apapun diantara mereka sebelumnya.
Tuh iyakan, mereka memang sudah saling kenal.
Nona Cindi berkata dalam hatinya.
"Nona sudah makan malam?" Elvano memberanikan diri untuk bertanya hal yang mungkin dirasa sangat janggal bagi nya juga Nona Cheril.
Nona Cheril sendiri bahkan belum berani membalas sapaan nya tadi, ia malah melemparkan pertanyaan demikian.
Apa ia sudah gila menanyakan hal itu. Bahkan ia bisa bersikap sesantai itu setelah kejadian semalam.
Sedangkan seisi ruangan kini menujukan pandangan pada mereka berdua. Semua karyawan yang berada di dalam ruangan Desainer tidak menyangka kedua orang ini ternyata sudah kenal begitu jauh. Jika Cheril dan Elvano saling mengenal ya mungkin saja karna Cheril memang anak dari bos mereka. Tapi jika sampai sejauh ini mereka sungguh tidak menyangka.
Para penggemar Elvano juga seketika menjadi hilang semangat, bagaimana tidak ,ternyata saingan mereka sangatlah berat.
Cheril masih belum menjawab, ia bahkan belum juga mengangkat wajahnya. Membuat Elvano akhirnya terpaksa melontarkan satu pernyataan lagi dan mengharuskan Cheril mengIYAkan pernyataannya.
"Nona Cheril, sepertinya anda belum makan, mari ikut saya pergi makan ! Kalau tidak saya akan menci....
Belum selesai mengucapkan keseluruhan kalimat nya Cheril segera mengangkat wajahnya menatap laki-laki dihadapannya itu dengan tatapan membunuh, wajahnya pun sudah merah padam. Dan ia segera berangkat dari tempat duduk nya menutup mulut Elvano.
"Kamu sudah gila? Kamu mau semua yang disini tau kalau kita pernah berciuman?" Cheril berkata dengan sangat pelan ia takut yang lain nya mendengar. Lagian posisi nya dengan Elvano juga sangat dekat jadi Elvano juga pasti bisa mendengar nya dengan jelas.
Elvano menatap Cheril lekat. Ia sudah tidak mampu lagi menahan diri. Tubuh Cheril yang sangat harum membuat jiwa nakal nya bergejolak. Ingin sekali rasanya ia mengulangi perbuatannya yang semalam.
Elvano kembali mendekatkan wajahnya ke arah Cheril, seisi ruangan yang sedari tadi masih memperhatikan mereka seketika melotot, ada yang sampai menganga mulutnya melihat Elvano yang seperti sedang memasang kuda-kuda bersiap untuk memangsa mangsa yang ada dihadapannya.
Cheril pun kaget luar biasa. Wajahnya yang sudah merah karena marah bertambah merah karna malu. Cheril pun segera bertindak.
"Baik elvano, aku akan ikut kamu makan. Ayo kita pergi makan !" Ucap Cheril sambil menarik tangan Elvano meninggalkan ruangan itu dengan secepat mungkin. Ia sangat takut kejadian semalam terulang kembali. Sudah cukup dihadapan Jenika, jangan didepan mereka semua lagi.
Seluruh ruangan kini menjadi sangat ribut, mereka semua membahas soal hubungan Elvano dengan Cheril.
Cindi pun ikut kaget, ia juga tidak menyangka hubungan kedua orang itu sudah sejauh ini.
Setelah merasa posisi mereka sudah lumayan aman, Cheril menghentikan langkahnya di tempat yang cukup sepi.
"Kamu sudah gila? Kenapa kamu melakukan hal itu tadi di ruangan Desai....
Cup.
Belum selesai Cheril melanjutkan perkataannya, Elvano sudah kembali mencium b*b*r Cheril untuk yang kedua kali nya.
Cheril memberontak dengan sekuat tenaga, membuat ciuman mereka akhirnya terlepas.
Cheril memaki panjang lebar, sedangkan Elvano hanya terdiam. Ia juga bingung dengan dirinya, ia sama sekali tidak dapat menahan dirinya yang bergejolak ketika melihat bibir sexy Cheril dan mencium aroma tubuh nya. Sejak kejadian kemarin malam ia memang sulit untuk move on dari itu semua.
Dan ada sedikit rasa bahagia yang terselip didalam hati nya mendengar Cheril menyebut ciuman semalam adalah ciuman pertamanya.
Aku sungguh tak menyangka, ternyata ciuman semalam juga merupakan ciuman pertama bagi dia.
"Dasar Laki-laki mur*h*n !" Ucap Cheril dengan suara nyaring sambil melangkahkan kaki nya hendak meninggalkan Elvano.
Namun belum sempat ia berpaling, Elvano sudah berhasil meraih pergelangan tangan Cheril menahan nya untuk pergi.
"Berani sekali kamu berkata seperti itu Nona. Jadi kamu pikir aku sudah sering mencium wanita lain diluar sana? Kamu salah besar Nona. Kamu adalah wanita pertama dan satu-satunya yang pernah aku cium. Itu juga merupakan ciuman pertama bagiku. Paham?" Kata Elvano juga dengan suara yang tidak kalah nyaring. wajahnya juga memerah, marah karna dikatakan mur*h*n oleh Cheril, juga malu dengan ungkapannya sendiri.
Deg
Eh, ternyata itu juga ciuman pertamanya.
"Nona, aku minta maaf. Aku juga tidak tau kenapa bisa melakukan hal itu. Aku sama sekali tidak bisa menahan diriku ketika melihat bibir Nona, Apalagi ketika mencium aroma tubuh Nona. Membuat ku sangat ingin melakukannya." Elvano mengakui semua yang ia rasakan dengan begitu polos.
"Maafkan aku Nona !" Ucap nya sekali lagi. Ia meminta maaf pada Cheril sambil membungkukkan tubuhnya dihadapan Nona Cheril.
Cheril hanya bisa terdiam tak bergeming. Ia tidak tau harus mengatakan apa saat itu.
irama jantungnya berdetak tak beraturan. Ia juga tidak mengerti apa arti dari perasaannya saat ini.
Terlebih ketika mendengar Elvano menyebut ciuman itu juga merupakan ciuman pertama nya membuat perasaan Cheril bercampur aduk.
"Nona, Ayo ikut aku !!"
Tanpa menunggu jawaban Cheril, Elvano menarik tangan nya sambil melangkahkan kakinya pelan.
"Eh, kita mau kemana?"
Pertanyaan yang Cheril lontarkan juga tidak dijawab oleh Elvano.
Karna Elvano hanya diam saja, Cheril pun sedikit memberontak.
"Lepaskan aku ! Kamu mau bawa aku kemana sih?"
"Sudah ikut saja Nona, aku hanya ingin Nona menemaniku makan diruang makan yang ada dilantai dasar !" Jawab Elvano kemudian.
Cheril tak kuasa menolak ajakan Elvano, ia takut laki-laki itu akan melakukan hal yang nekat lagi seperti tadi. Jadi terpaksa ia pun mengikuti Elvano menuju lantai dasar.
Kedua insan yang sepertinya sedang dilanda cinta yang belum mereka sadari itu berjalan menuju lift bersama. Ketika pintu lift terbuka, mereka masuk kedalam bersamaan. Selama didalam lift suasana sangatlah tenang, tidak ada satu pun dari mereka yang bersuara hinggah pintu lift kembali berbuka.
Cheril dan Elvano kmudian melangkah keluar dari lift menuju meja makan.
Cheril sudah tidak memiliki pilihan lain selain menemani laki-laki itu makan malam.