
~ Mencintai tak selalu bahagia, mencintai terkadang justru sangat menyiksa. Terutama ketika kita tak dapat memiliki orang yang kita cintai. Jika ada yang bertanya, lebih bagus mana? Mencintai atau memiliki? Maka jawaban yang paling bijak adalah mencintai dan memiliki.
----------
Pelukan kedua orang tadi masih berlangsung, kini sudah mulai sedikit melenceng. Sebab Elvano selalu tak dapat menahan diri ketika sedang berada di dekat Cheril. Harap dimaklumi ya, namanya juga pengantin baru. Hehehe. Namun, Cheril tak terlihat ingin melayani Elvano. Ia menahan suaminya untuk menuntut hak nya.
"Jangan sekarang Vano, maaf, aku sedang tak ingin melakukan ini," tolak Cheril.
"Tapi kenapa? Aku ingin mengukir kenangan indah dengan mu," protes Elvano dengan wajah kecewa.
"Aku sedang tak ingin melakukannya. Aku harap kamu bisa mengerti," jelas Cheril. Dan langsung pergi meninggalkan Villa sambil membenarkan pakaiannya.
"Eh ....
"Kenapa kamu pergi Cheril? Apa yang sedang kamu pikirkan sebenarnya?" gumam Elvano pelan yang masih terduduk di tepi tempat tidur. Tak ada tanda-tanda Elvano akan mengejar Cheril. Mungkin Elvano merasa sedang membutuhkan waktu untuk sendiri.
Sedangkan Cheril, ia sedang berlari dengan sangat cepat menuju ke arah tepi pantai. Lalu memilih duduk di atas pasir memandang lautan lepas nan jauh. Cheril duduk seorang diri hingga cukup lama. Tak terasa waktu pun sudah mulai gelap. Namun tak membuat Cheril ingin beranjak dari tempat duduknya.
Sementara dari arah lain, Geraldo sudah kembali beranjak, ia sedang berjalan ingin kembali ke Villa, setidaknya ia berencana ingin mengganggu makan malam Cheril dan Elvano. Yang penting bisa melihat wajah Cheril saja sudah cukup baginya. Sesungguhnya, Geral sangat merindukan Cheril.
Geral terus melangkah tanpa semangat. Ia terlihat begitu lesu. Apalagi ketika membayangkan kemesraan yang mungkin akan ia saksikan di Villa nanti.
"Apa itu Cheril?"
Tiba-tiba Geral menghentikan langkahnya ketika melihat seorang wanita yang sedang duduk di kejauhan. Walau dalam gelap, Geral masih dapat mengenali wanita yang ia lihat. Ia sangat yakin itu adalah Cheril. Sungguh tak disangka, ia malah bertemu Cheril di sana.
Geral berjalan perlahan, menuju ke arah Cheril, sementara Cheril tidak menyadari ada seseorang yang datang menghampirinya. Hingga laki-laki yang pernah menjadi bagian dari hidupnya itu tiba di hadapannya.
"Kenapa duduk sendirian di sini?" ucap Geraldo yang membuat Cheril kaget.
Suara itu ....
Cheril mendongakkan wajahnya yang sedang menunduk, dan tebakannya benar. Suara itu memang milik Geral.
"Dodo .... "
"Ternyata kamu masih mengingat panggilan itu ya?" tanggap Geral tersenyum.
senyuman yang tak bisa diartikan. Sedikit rasa senang, lebih banyak rasa sakit yang ia rasakan.
Dodo adalah panggilan kecil dari Cheril untuk Geraldo. Mungkin bisa dikatakan panggilan sayang.
Kemudian Geral ikut duduk di samping Cheril. Dan melanjutkan berbicara dengan Cheril.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku, kenapa kamu duduk seorang diri di sini? Apa Vano menindas mu?" tanya Geraldo.
"Tidak kok. Vano sangat baik padaku. aku hanya sedang ingin sendiri saja," jawab Cheril sambil tersenyum.
"Kamu sendiri kenapa masih di sini?" sambung Cheril.
"Aku sedang memikirkan tentang kita," ungkap Geraldo sambil menatap Cheril lekat.
Deg
Jantung Cheril berdetak tak beraturan mendengar apa yang diucapkan oleh Geraldo.
"Apa kamu juga melakukan hal yang sama?"
Geral tersenyum kecil melihat ekspresi Cheril. Tanpa dijawab pun ia sudah bisa menebak apa jawabannya.
"Ternyata benar ya? Apa kamu masih mencintaiku?" Geral kembali melempar pertanyaan yang sangat sulit bagi Cheril untuk menjawabnya.
Wanita itu hanya bisa terdiam untuk beberapa detik sebelum Geral kembali bersuara.
Laki-laki ini kembali tersenyum, lalu melanjutkan kembali pembicaraannya.
"Ternyata kamu masih mencintaiku ya? Tapi kenapa kamu bisa menikahi Vano?" sambung Geral lirih.
"Kita baru berpisah untuk beberapa saat, tapi kamu malah menikah dengan orang lain. Bahkan tak ada kata perpisahan di antara kita, tapi kenapa kamu malah mengkhianati ku seperti ini?" Geral terdiam sesaat untuk mengambil napas panjang lalu menghembuskannya kembali.
"Apa kamu tau sesakit apa saat aku melihat kamu bersama dengan laki-laki lain? Dan parahnya laki-laki itu adalah sahabat aku sendiri. Jika itu orang lain, mungkin aku masih bisa dengan gampang merebut mu dari nya. Tapi ini .... "
Geral tak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya, ia tertegun, tenggelam dalam perasaannya yang teramat dalam. Isak tangis ia rasakan di dalam hati. Namun tidak ia tampakkan di luar.
Sedangkan Cheril berbeda jauh dari Geral. Dia lebih rapuh. Cheril terlihat meneteskan air matanya perlahan. Dia menangis.
Dan hanya terdiam tanpa menjawab Geral satu patah kata pun.
Menyadari Cheril menangis, Geral perlahan mengangkat tangannya, tangan yang pernah memegang, mengelus wajah Cheril dengan penuh kasih dulunya, saat ini ia juga gunakan tangan tersebut untuk mengusap air mata Cheril yang berjatuhan. Lalu memeluk tubuh wanita itu. Meletakkan wajah Cheril menghadap dada lapangnya.
Cheril yang juga sangat merindukan laki-laki ini hanya bisa membiarkan Dodo melakukan itu semua.
Jika cintamu masih sebesar ini terhadap ku, kenapa kamu bisa menikah pria lain ... Apa kamu juga mencintai laki-laki yang sudah menjadi suamimu itu.
Sebuah pemandangan yang begitu memilukan hati. Mencintai tapi tak mungkin lagi untuk bersatu.
Pelukan penuh luka itu berlangsung sekitar 10 menit sebelum terlepas kembali.
Sekarang giliran Cheril yang menjelaskan semuanya pada Geral.
"Dodo ... Apa kamu tau kesalahan terbesarmu itu apa?" tanya Cheril.
"Hem em, kesalahanku adalah sudah meninggalkanmu terlalu lama," sesal Geral.
"Tidak, tapi kamu meninggalkanku begitu saja, tanpa kabar. Bukankah kamu sedang berada di luar negeri? Lalu kenapa bisa berada di tempat ini sekarang? Bukannya kamu sedang melanjutkan S2 mu di Aussie?"
Cheril melemparkan pertanyaan bertubi-tubi yang sangat sulit untuk dijawab Geral. Setelah mengambil jeda sesaat, Cheril kembali melanjutkan perkataannya yang masih sangat panjang.
"Taukah kamu? Aku terus menantimu tanpa pasti. Berusaha mencari cara agar bisa menghubungi mu. Namun tak satu pun orang yang dapat aku tanyakan tentang keberadaan mu saat itu. Ponselmu tidak aktif, semua media sosial yang kamu punya hanya akun palsu yang tidak pernah update. Apa kamu pernah berpikir bahwa aku sangat mengkhawatirkan dirimu? Apa kamu sungguh pernah memikirkan itu?" ucap Cheril sambil memandang Geral lekat. Terpancar rasa penyesalan yang teramat dalam di mata Geral. Seandainya saja waktu itu dapat diputar kembali, akan aku beli walau harus menghabiskan seluruh hartaku saat ini. Begitulah batin Geral saat itu.
"Maafkan aku Cheril!" hanya kata itulah yang dapat ia ucapkan.
"Cheril, apa sekarang masih ada waktu untuk ku menebus semua kesalahanku? Apa kamu masih menginginkan kebersamaan kita? Jika iya, maka aku akan membawamu pergi dari sini sekarang juga, dan akan aku pastikan, tidak akan ada seorangpun yang dapat menemukan keberadaan kita, termasuk Elvano. Bagaimana menurut mu?"
Cheril sontak kaget mendengar ungkapan Geral yang satu ini. Tidak ia sangka, Dodo yang ia kenal sangat lembut dan baik mampu mengucapkan perkataan sedalam itu. Yang jelas-jelas akan sangat menyakiti hati sahabatnya sendiri.
"Kamu sungguh sudah kehilangan akal sehatmu Dodo. Apa kamu tidak menyadari apa yang kamu rencanakan itu akan menambah satu orang lagi yang akan terluka?" tanggap Cheril.
"Sudah cukup kau dan aku saja yang terluka, tidak lagi dengan Elvano. Aku tidak ingin menyakiti perasaan Elvano lagi," tambah Cheril lirih.
Geral pun terlihat berusaha mencerna apa yang sedang dikatakan oleh Cheril. Ya, dia juga sangat tidak ingin menyakiti sahabat baiknya itu. Namun juga sangat bingung harus melakukan hal apalagi saat ini. Dan mereka berdua kembali terdiam untuk beberapa menit ke depan.