
Cheril masih belum melihat Geraldo, karena lak-laki itu masih menunduk sibuk dengan ponselnya.
"Hei, katanya mau kenalan dengan istriku, tapi malah sibuk main handphone, apa ponselmu itu lebih penting dari istriku?" kesal Elvano.
"Sabar dikit Bro, dasar Tuan Muda ini ... Baiklah aku simpan dulu ponselku, jadi mana istrimu yang can----tik itu?" ucap Geraldo sedikit tersentak saat melirik ke arah istri Elvano yang ternyata adalah Cheril. Dan kata terakhir yang ia ucap pun tidak begitu lancar.
Deg
Geraldo ... Itu sungguh Geraldo kan ...
Cheril juga sangat kaget melihat Geraldo berdiri di hadapannya. Antara percaya dan tidak. Dan kedua orang ini pun saling menatap untuk beberapa detik.
"Cheril ..., "
setelah terdiam sesaat, Geraldo menyebut nama Cheril. Dan pastinya membuat Elvano ikut kaget kali ini.
Jadi istri Elvano adalah Cheril ... Wanita yang sangat aku cintai ....
"Kamu mengenal istriku? Jadi, kalian saling kenal?" Elvano bisa menebak dengan baik karena Cheril juga menatap Geraldo lekat. Itu artinya pasti mereka saling kenal.
"I-iiya, kami memang saling kenal. Cheril ini adalah sahabat dekat aku. Benarkan Cheril?"
ujar Geraldo lalu meraih tubuh Cheril untuk ia peluk.
Geral tak ingin mempersulit Cheril, makanya dia menyebut Cheril sebagai sahabatnya. Dan ada udang di balik batu juga sih, yaitu supaya bisa tetap dekat dengan Cheril. Elvano memang tidak mempermasalahkan soal persahabatan itu, tapi soal perbuatan Geral, jelas membuat Elvano melotot seketika.
"Hei, kau mau cari mati? Lepaskan istriku!" Sergah Elvano yang langsung melepaskan tangan Geraldo dari lengan Cheril.
"Aku bahkan sudah memperingatkanmu di awal, tidak boleh menyentuh tangan istriku, kamu malah memeluk nya, kamu sungguh lancang ya," tambah Elvano yang sudah berhasil merebut kembali Cheril ke dalam pelukannya.
"Pelit amat sih Bro ... Dia kan sahabat aku. Jadi wajarlah hanya berpelukan saja," ucap Geraldo sambil memainkan alisnya atas bawah.
"Enak saja ... Tidak boleh!"
Elvano memeluk Cheril semakin erat, seolah-olah sangat ketakutan wanitanya itu direbut oleh Geral.
Geral tersenyum kecil menyaksikan sikap Elvano yang sangat menggelikan itu. Padahal sesungguhnya di dalam hati, ia merasa sangat kesakitan.
Tak disangka baru meninggalkan mu beberapa bulan, kamu malah sudah menikah dengan orang lain, dan orang itu adalah sahabat aku sendiri. Seandainya itu orang lain, mungkin aku masih bisa merebut mu. Tapi bagaimana dengan sekarang ... Apa yang harus aku lakukan ....
Geraldo sungguh sangat pintar dalam bersandiwara. Ia masih bisa memperlihatkan senyuman tulus sekalipun hatinya begitu sakit.
Sementara Cheril sejak tadi hanya bisa terdiam. Tak tau harus berbuat apa.
Kenapa bisa jadi begini ... Jadi Vano juga mengenal Geral ... Dan bagaimana bisa dia ada di sini ... Bukannya dia sedang kuliah di luar negeri ...
Di satu sisi, Cheril memang belum bisa melupakan Geraldo seutuhnya. Namun bukan berarti nama Elvano tidak terukir di dalam hatinya. Ia juga mencintai Elvano. Sungguh semua ini sudah seperti bermimpi. Cheril benar-benar belum siap dihadapkan dengan situasi seperti ini.
Saat ini Cheril dan Geraldo kembali saling bertatapan. Melihat itu, pastinya Elvano sangat tidak menerima.
"Ayo kita pergi dari sini!" tambah Elvano sambil menarik tangan Cheril sedikit kasar.
"Aaauuu ... Sakit Vano ... Lepaskan!" ucap Cheril sembari menepis tangan Elvano, berusaha melepaskan tangannya dari genggaman laki-laki itu.
Geraldo tersentak melihat perbuatan Elvano yang agak kurang terpuji ini, membuat dirinya merasa tidak tega. Dan sayangnya, ia juga tidak bisa berbuat apapun saat ini selain membiarkan Elvano membawa Cheril pergi dari hadapannya, sebab dia sendiri sedang membutuhkan waktu untuk sendirian. Untuk merenungkan apa yang sudah terjadi saat ini.
Kenapa harus sekasar itu ... Apa Cheril hidup dengan baik bersama Elvano ....
Ada sedikit keraguan yang hadir di dalam hati Geraldo saat itu. Perihal nya, Geral memang tidak pernah memperlakukan Cheril sedemikan rupa. Ia bersikap sangat lembut terhadap Cheril selama ini. Walaupun banyak hal yang ia sembunyikan dari Cheril. Sebenarnya, bukan karena ia tidak menginginkan Cheril, Geral sangat mencintai Cheril, ia sangat serius dengan hubungan mereka, tapi ada satu hal yang membuat Geral tidak dapat terus berada di samping Cheril dalam waktu yang lama. Karena alasan inilah dirinya menjauhi Cheril. Rencananya hanya untuk beberapa waktu saja, tak disangka Cheril malah menikah dengan orang lain yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.
Sekarang harus bagaimana ... Apa aku sungguh harus merebut mu kembali ... Apa kamu masih mencintai ku ...
Saat ini giliran Geraldo yang berdiri di bibir pantai menikmati desiran ombak dengan hati yang hancur berkeping-keping.
Entah apa yang akan dia lakukan setelah ini. Merelakan Cheril pada Elvano, ataukah harus berebut dengan Elvano?
Rasanya ia sangat ingin berteriak pada angin, supaya menyampaikan pada waktu, untuk kembali. Agar tak ada rasa penyesalan yang kini menghampiri nya.
Geraldo merebahkan dirinya, berbaring di tepi pantai, mengenang kembali masa-masa dimana Cheril dan dirinya masih bersama dulu. Betapa indahnya saat itu. Saling bergandengan tangan, menyusuri sudut pantai, menikmati sunset bersama, hingga terakhir mereka duduk berdua di tepi pantai seperti yang baru saja dilakukan oleh Cheril dan Elvano tadi.
Perlahan Geraldo semakin memasuki ruang waktu yang membuat dirinya semakin sakit. Rasa tak rela memenuhi hatinya. Ingin rasanya ia merebut kembali wanita yang sangat ia cintai itu, tanpa memperdulikan siapa yang ada di sisi Cheril saat ini.
"Bagaimanapun aku harus meminta penjelasan pada Cheril, kenapa dia bisa berpaling secepat ini dariku." Gumam Geraldo pelan. Lalu menarik nafas panjang dan membuangnya kasar berkali-kali.
-
-
Sementara di Villa, Cheril dan Elvano masih saling berdiam diri. Elvano masih marah pada Cheril, karena ia menatap Geral seperti tadi. Sedangkan Cheril, ia lebih kepada sedang mencerna apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Rasanya begitu rumit. Ia sungguh tak menyangka bakal terjadi hal seperti ini.
"Sayang, maafkan aku ya, sudah mengasari mu tadi. Aku hanya tidak ingin kamu melihat laki-laki lain selain aku. Karena aku sangat mencintaimu. kamu mengerti kan?" ucap Elvano mengawali pembicaraan. Namun Cheril tidak terlihat merespon sama sekali. Dia memang tidak mendengarkan Elvano.
"Sayang ... Kamu kok diam saja? Apa kamu masih marah? Maafkan aku ya!" ucap Elvano sekali lagi yang langsung memeluk Cheril erat.
"Ehm ... Ah ... I-iiiya, " Cheril berusaha tersenyum.
"Kamu kenapa bengong lagi? Apa kamu masih mengingat laki-laki kekasihmu itu? Atau sedang memikirkan Geraldo, sahabatmu yang kegatelan itu?"
"Eh ....
Mereka adalah orang yang sama Vano. Geral adalah kekasihku waktu itu, dia bukan sahabatku. Entah apa yang akan terjadi jika kamu mengetahui semua ini.
"Jangan-jangan kamu memang sedang memikirkan laki-laki kegatelan itu ya? Apa hubungan kalian begitu dekat?" Elvano merasa sedikit cemburu terhadap Geraldo yang ia tau merupakan sahabat Cheril. Ia sudah melepaskan tangannya yang sedang memeluk lengan Cheril tadinya.
"Tentu saja tidak, jangan berpikir terlalu banyak ya," tanggap Cheril berbohong. Dan berhambur memeluk tubuh suaminya yang kekar itu. Elvano tersenyum puas juga membalas Cheril dengan mengusap punggung Cheril pelan. Satu kecupan lembut ia berikan di area rambut Cheril.
Nyaman sekali tubuh ini ... Biarkan aku merasakan ketenangan untuk sesaat. Melupakan semua yang sudah terjadi. Dan aku sangat berharap ini semua hanyalah mimpi. Dimana ketika aku terbangun, maka semuanya sudah kembali normal seperti biasanya.