Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran

Ternyata Suamiku Adalah Seorang Pangeran
Kekonyolan Elvano yang kesekian kali


~ Cinta sejati itu memandang kelemahan, lalu dijadikan kelebihan untuk saling mencintai.


(** Habibie)


Bicara soal cinta memang tiada habisnya. Apalagi soal cinta sejati. Sangat sulit untuk didefinisikan. Pernahkah anda mendengar kisah pasangan yang sudah puluhan tahun menikah, saling menerima satu sama lain hingga usia senja, namun malah memilih berpisah pada akhirnya?!


Ya. Serumit itulah arti sebuah cinta.


Saya doakan, buat kalian para Readers, jika anda sudah menikah, semoga pernikahan kalian akan seindah cinta Cheril dan Elvano. Hehehe.


Dan jika anda yang masih belum menikah, semoga segera dipertemukan jodohnya. Bagi kalian para gadis cantik, semoga jodoh kalian seperti Elvano, dan bagi kalian para pria tampan, semoga jodoh kalian secantik Cheril.😄🙏


----------


Sekitar 5 menit kemudian, Cheril sudah selesai dengan gaun cantik yang membalut tubuhnya. Membuat wanita yang memang sudah cantik itu semakin cantik dan anggun.


Sangat berbeda dengan gaun dan makeup murahan dari bridal sederhana waktu itu. Cheril terlihat jauh lebih sempurna saat ini.


Bisa dibayangkan, waktu itu saja Elvano sudah sangat terpesona dengan kecantikan yang ditampilkan oleh Cheril, apalagi kali ini.


Elvano sungguh tak dapat mengedipkan matanya hingga 2 menit lamanya.


"Tuan Muda .... Tuan Muda .... Tuan Muda .... Tuan Muda .... "


Lebih dari 10 x, kedua perias ini memanggil Elvano bergantian. Namun tetap tidak mendapat jawaban dari laki-laki tampan itu. Ia terpanah dengan kecantikan yang ditampilkan oleh Cheril. Sungguh sangat terpesona.


Elvano menatap Cheril lekat, tak berkedip sama sekali.


Membuat kedua perias ini tersenyum tipis menyaksikan hal ini.


Ya, mereka juga mengakui, Cheril memang sangat cantik.


"Vano ....Vano .... Sayang .... "


Dan, panggilan Cheril saja tidak disadari oleh Elvano.


Hingga Cheril harus memanggil nya sambil menggoncang tubuh kekar pria tampan itu.


"Heh! Sayang .... " Panggil Cheril sekali lagi sambil menggoncang-goncang tubuh Elvano.


"Eh .... I - iiiya .... " Tanggap Elvano gelagapan.


"Kamu cantik sekali Cheril .... " Ujar Elvano jujur.


"Mmmm .... Apaan sih .... Kamu juga tampan ... " Balas Cheril malu-malu.


"Tapi .... Kalau kamu secantik ini, semua orang akan mengagumi mu. Aku tidak suka itu."


"Eh ....


Tidak hanya Cheril yang kaget, kedua perias itu juga kaget mendengar ucapan Elvano yang tak terduga.


"Heh! Kalian berdua .... Kenapa merias Cheril hingga secantik ini?" Protes Elvano sambil memasang tampang galak.


Ya .... Dia mulai lagi ....


Kedua perias ini malah jauh lebih kebingungan.


Padahal sebelum ini Elvano sendiri yang berpesan supaya Cheril dipermak sesempurna mungkin.


"Jadikan istriku itu secantik bidadari yang turun dari khayangan."


Demikian pesan Elvano saat kedua perias baru tiba di kediaman keluarga Setiono tadi pagi.


"Ma-maaf Tuan Muda!" Ucap salah satu dari perias tersebut.


"Aku tak butuh kata maaf mu itu .... " Murka Elvano membuat kedua perias sedikit ketakutan.


Tolong hentikan kekonyolan mu itu Tuan Muda .... Jika mereka merias asal-asalan apa kamu juga bisa menerima itu ... Ah ... kamu sungguh laki-laki teraneh yang pernah aku temui.


Melihat mereka ketakutan, Cheril mencoba membujuk Elvano.


"Sayang .... Sudahlah ... Ini bukan salah mereka ... Mungkin memang aku sudah cantik dari sananya." Hehehe.


"Benar juga ya .... Kamu memang sudah cantik sekalipun tidak didandan. Baiklah ... Sekarang aku mau kalian berdua hapus dandanan ini!" Titah Elvano.


"APA?" Teriak mereka bertiga bersamaan.


"Heh! Berani sekali kalian meneriaki ku seperti itu .... Mau cari mati? HAH?" Balas Elvano tak kalah keras teriakannya. Bahkan 3x lebih keras, membuat kaget seisi rumah.


"Ma-maaf!"


Sekali lagi ketiga wanita itu berucap bersamaan.


"Eh .... Aku tidak memarahi mu sayang .... " Ujar Elvano ketika melihat Cheril ikut meminta maaf. Lalu mendekap wajah Cheril di dadanya. Puk-puk ... Elvano menepuk pundak Cheril lembut.


Kedua wanita yang berprofesi sebagai perias yang sebelumnya ketakutan karena teriakan Elvano tadi berubah tersenyum geli.


"Heh! Kenapa kalian tertawa? Kalian menertawai ku?" Bentak Elvano.


Bagaimana mereka tidak menertawai mu Tuan Muda .... Sikap mu ini sangat menggelikan ....


"Ada apa sih ribut-ribut begini?" Sambung Ibu Winda tiba-tiba.


Ia datang bersama Ayah William.


Mereka berdua mewakili yang lainnya untuk mencari tau apa yang sesungguhnya sedang terjadi di sana. Yup, semua orang sangat penasaran dengan teriakan Elvano yang sudah berhasil mengguncang ketenangan seisi rumah tadi.


Mendengar suara Ibu Winda, Elvano melepaskan tangannya yang sedang mendekap Cheril. Lalu melemparkan pandangan ke arah Ibu Winda dan Ayah William termasuk juga Cheril.


"Cheril .... Ka- kamu .... Kamu cantik sekali sayang .... " Ucap Ibu Winda kagum sambil menatap Cheril lekat.


Demikian juga dengan Ayah William, ia juga terpanah dengan kecantikan Cheril.


Ah .... Kenapa kedua orangtua ini menatap istriku seperti ini .... Aaaaah ....


Elvano protes keras di dalam hati.


"Ayah, Ibu .... Aku kan sudah bilang tadi, tidak ada yang boleh menatap istriku lebih dari 2 menit!" Tegas Elvano.


"Eh ....


Ibu Winda dan Ayah William saling melempar pandangan, setelahnya, mereka tertawa keras.


Hahahahahahahahaha


"Eh .... Kenapa mereka tertawa?" Gumam Elvano pelan yang hanya bisa didengar oleh dirinya dan Cheril. Sebab Cheril berada sangat dekat dengan Elvano saat itu.


Tentu saja karena kamu sangat menggelikan Tuan Muda ....


Tanggap Cheril dalam hati.


Kedua wanita perias tadi juga ikut senyum-senyum, namun mereka melakukannya dengan sangat hati-hati.


Setelah puas tertawa, Ibu Winda kembali bersuara. Namun ia tidak membahas perihal kekonyolan Elvano.


"Cheril, ayo kita turun!" Ucap Ibu Winda sambil meraih tangan Cheril ingin menuntun Cheril turun ke lantai dasar.


"Eh .... Tunggu!" Cegah Elvano.


"Kenapa lagi Vano? Ibu tidak boleh memegang tangan istrimu?" Canda Ibu Winda.


"Bukan .... " Jawab Elvano menggantung.


"Lalu?" Tanya Ibu Winda lagi.


"Aku mau minta kedua perias ini menghapus dandanan Cheril!" Ujar Elvano to the point.


"APA?"


Kali ini giliran Ibu Winda dan Ayah William yang berteriak bersamaan.


"Kenapa Ayah dan Ibu ikut meneriaki ku seperti itu?" Protes Elvano.


Kedua orangtua Elvano kembali saling pandang, lalu menggeleng-gelengkan kepala mereka.


"Vano .... Apa kamu sudah tidak waras? Cheril menghabiskan waktu selama 5 jam untuk mendapatkan dandanan ini, lalu kamu mau menghapusnya begitu saja?"


Ibu Winda sungguh tidak bisa menerima ini.


"Tapi .... Dia terlalu cantik Bu. Nanti orang-orang pasti akan menatap Cheril lekat. Aku tidak suka itu." Jelas Elvano.


"Ah .... Ada-ada saja kamu .... Memangnya kamu mau Cheril ditertawakan oleh semua orang. Mengenakan gaun pengantin tanpa dirias wajahnya. Iya?" Tukas Ibu Winda.


Benar juga kata Ibu .... Tapi ....


"Baiklah! Bagaimana jika dandanan yang sekarang dihapus, lalu dirias ulang dengan dandanan tipis saja. Pokok tidak boleh secantik sekarang ini!" Tawar Elvano.


Hahahahaha


Ibu Winda kembali tertawa.


"Kamu ini sungguh sangat lucu Vano ... Kamu pikir merias pengantin itu mudah? Waktunya tidak akan cukup ... Sudahlah, Ayo Cheril ikut Ibu turun!"


Ibu Winda sudah langsung menarik pergelangan tangan Cheril, menuntun menantunya turun ke lantai bawah.


Melihat istri dan menantunya melangkah pergi, Ayah William juga ikut mengambil langkah seribu menyusul mereka berdua yang sudah mulai menjauh.


"Eh .... Aaaaaaaaaah .... "


Elvano terlihat sangat kesal. Namun juga tidak dapat berbuat apapun.


"Apa yang kalian lihat?"


Kedua perias pun mendapat imbas.


Padahal kedua wanita tadi hanya melirik Elvano sebentar saja. Mereka sudah kembali menundukkan wajah seketika.


Sesaat kemudian, Elvano ikut menyusul Cheril dan kedua orangtuanya untuk turun ke lantai bawah.